Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
Episode 50


__ADS_3

Diva terlihat sangat lesu tak bersemangat dengan wajah ditekuk.


Diva memilih lebih banyak diam dari pada ikut ikut bersama Rafa dan Lani berbuat rusuh sambil menjahili teman-teman kelasnya. Teman-temannya yang melihat seperti Diva itu merasa heran.


"Kenapa tuh muka, lecet banget kek pakaian belum disetrika." Sahut Hera yang duduk disampingnya.


"Laki elu kagak kasih uang jajan?" Jova ikut menimpali ucapan Hera.


"Tidak apa-apa, gue males aja." Jawab Diva malas.


"Div, kalau elu ada masalah, cerita sama kita-kita, siapa tau kami bisa bantu." Sahut Kiki menatap sahabatnya itu.


"Gue bilang tidak ada Apa-apa, Gue cuma kepikiran laki gue." Sahut Diva.


"Laki elu yang mana?" Tanya Jova.


"Woi ... n**rr ... sakit ogeb, ini tu kepala orang, main pukul-pukul aja lu, kalau geger otak lu mau tanggung jawab kasih otak lu ke gue hah." Ujar Jova saat Hera memukul kepala bagian belakang Jova.


"Lagian pertanyaan elu, ada-ada aja, yah jelas Kenan lah lakinya, siapa lagi" Sahut Hera jengah melihat sahabatnya yang centil itu.


"Kan siapa tau Rafa, Rafa kan lakinya Diva juga." Ucap Jova memajukan bibirnya beberapa senti.


"Sudah ... Sudah ... kenapa jadi kalian yang ribut, jelas Kenan lah yang Diva maksud." Lerai Kiki karna sudah merasa sangat jengah melihat perdebatan Jova dan Hera.


"Ngomong-ngomong laki lu kenapa emang ?" Tanya Hera.


"Dia marah, pas tau kalau kemarin gue diantar Rafa pulang naik motor." Jawab Diva.


"Ya masalahnya di mana, toh cuma ngantar doang kan, lagian dia juga tau kalau Rafa sahabat elu." Sahut Hera tak habis pikir sama suami sahabatnya itu.


"Dia cemburu, karena gue dibonceng Rafa, dia marah karena gue deket-deket Rafa." Sahut Diva.


"Jelas deketanlah orang lagi dibonceng, dasar posesif emang suami elu." Ucap Hera sambil memainkan ponselnya.


"Itu tandanya dia sayang elu, dia tidak mau elu dekat-dekat laki-laki lain, karena dia takut kehilangan elu itu." Sahut Kiki menimpali ucapan teman-temannya.


"Ngapa tuh muka, Lecet amat kek pakaian kotor, udah seminggu kagak dicuci." Sahut Lani datang tiba-tiba langsung duduk disamping Jova.


"Ya elah, Saodah bini gue yang paling uwaw... gitu aja galau, ya elu balaik cuekin aja." Sahut Rafa enteng langsung berbaring di atas meja depan para cewek-cewek.


Jadilah Rafa berbaring di tengah-tengah Sahabatnya.


"Rafa Ardian Malik, elu tenang ya di sana, semoga semua kebaikan amal ibadah mu diterima disisinya." Ucap Jova pura-pura nangis.


Dan diamini para sahabat-sahabatnya, juga ikut pura-pura nangis.


" Kalian ngedo'a in gue mati." Sahut Rafa langsung bangun menatap horor kepada sahabat-sahabatnya.


" Iya ... Jawab kelima sahabatnya.


Di Kota Z


Di studio foto tampak sepasang kekasih terlihat sangat bahagia, sedang melakukan sesi foto prewedding.

__ADS_1


Setelah melakukan sesi foto prewedding yang cukup melelahkan karena harus berganti pakaian beberapa kali, ia mengambil background dalam ruangan dan luar ruangan.


Mereka melanjutkan kesebuah Mall untuk membeli cincin pernikahan mereka, saat sudah sampai mereka langsung ke toko perhiasan langganan Bunda Hani, sebelumnya Bunda Hani sudah menghubungi pihak toko.


Saat ini Arka dan Vara sedang di sibukkan mengurus acara pernikahan mereka, mulai dari prewedding, cincin, gaun, beserta undangan dan souvernir.


Arka ingin melakukannya sendiri mempersiapkan semua ini, kecuali tempat dan katrin, ia serahkan kepada orangtuanya.


Arka dan Vara mengusung pernikahannya dengan konsep outdoor.


"Saya mau melihat cincin pernikahan model terbaru." Ucap Arka saat sudah sampai di Toko tersebut.


"Oh, Mas Arka ya ?" Tanya manager toko tersebut, yang tiba-tiba berada dibelakang pegawainya.


Arka hanya menganggukkan kepalanya.


"Keluarkan semua model cincin pernikahan edisi terbaru, dengan kwalitas bagus." Ucap sang menager ke pegawainya.


Vara terlihat sibuk memilih cincin yang sudah dikeluarkan oleh pegawai tersebut.


" Bee, aku mau yang ini." Sahut Vara menunjukkan cincin berbentuk mahkota dengan bermatakan berlian.


Arka yang melihat mencoba untuk protes, ia tidak suka dengan model cincin cowoknya, juga bermatakan berlian, walaupun kecil.


"Tapi bee, liat tuh cincin cowoknya, akuau yang polos-polos saja." Sahut Arka menunjuk cincin tersebut.


"Pokoknya, aku mau yang ini, TITIK." Ucap Vara menekankan kata terakhirnya.


Ia juga sudah merasa jengah dengan kekasihnya itu, dari dia memilih cincin bisanya protes-protes doang, tidak suka beginilah, begitulah.


"Bee, kita makan dulu baru lanjut cari souvernir dan undangannya." Ucap Arka saat sudah keluar dari toko tersebut.


Vara hanya mengangguk karena ia juga sudah merasa sangat lapar.


Mereka segera menuju kesebuah restoran yang berada dilantai Tiga mall tersebut.


Saat sudah sampai Arka telihat sedang makan dengan lahap karena sudah menahan rasa laparnya sedari tadi, sedangkan Vara sedang asyik berselfie disela-sela acara makannya.


"Bee liat sini" Ujar Vara saat ingin mengambil foto mereka lewat Ponselnya.



Arka melanjutkan makannya kembali saat Vara sudah mengambil foto mereka, sedangkan Vara melihat-lihat contoh souvernir di ponselnya.


"Bee, aku mau souvernir seperti ini." Ucap Vara sambil memperhatikan Ponselnya kearah calon suaminya itu.


"Ok, nanti kita cari, sekarang kamu lanjutkan dulu makanan kamu." Ujar Arka sambil menunjuk makanan Vara yang terlihat masih sisa banyak.


Vara menganggukkan kepalanya dan melanjutkan makanannya.


Setelah makan mereka selesai Arka dan Vara segera keluar dari mall tersebut karena tempat pembuatan undangan dan souvernir berada di tempat lain.


Dua puluh menit kemudian mereka sampai di sebuah ruko pembuatan undangan dan souvernir.

__ADS_1


Arka dan Vara segera masuk dan disambut baik oleh pegawai ditempat itu.


"Ada yang bisa kami bantu Mas, Mbak.?" Tanya salah satu pegawai disitu saat Arka dan Vara sudah duduk dikursi yang disediakan.


"Kami mau pesan undangan dan souvernir Pernikahan." Jawab Arka.


"Mas mau undangan dan souvernir seperti apa.?" Tanya pegawai tersebut.


"Apa kami bisa melihat beberapa contohnya." Sahut Arka.


Pegawai tersebut memberikan beberapa katalok contoh undangan dan souvernir, dari yang biasa-biasa saja, sampai ke yang lebih mahal.


"Kalau souvernir seperti ini, ada nggak mbak." Sahut Vara memperlihatkan contoh souvernir di ponselnya.


"Itu bisa kami sediakan mbak, karena ini salah satu souvernir yang termasuk limited, jika sudah ada yang mau baru kita pesan." Terang sang pegawai.


"Baiklah saya mau souvernir seperti itu, nanti saya kirim contohnya ya mbak, dan untuk undangannya saya mau yang seperti ini." Ujar Arka sambil menunjukkan salah satu contoh undangan yang ada di katalog.


"Baiklah mas, silahkan catat apa saja isi undangannya, dan kapan akan di ambil, Untuk biayanya, nanti setelah undangan dan souvernirnya selesai baru akan dilunasi." Terang pegawai tersebut.


Arka segera menyelesaikan uang mukanya, setelah itu, mereka langsung pulang karena sudah malam.


Foto prewedding Arka & Vara






Cincin pernikahan



Undangan pernikahan



Souvernir Pernikahan



*Bersambung....


Mohon beri kritik dan saran.


Jangan lupa tinggalkan jelak


Like


Coment

__ADS_1


Vote


🤗🤗🤗🙏🙏🙏*


__ADS_2