
Kenan berjalan gontai masuk kedalam rumahnya menuju kamarnya, dengan perasaan takut, cemas, dan khawatir memikirkan keluarganya saat mengetahui penyakit yang sedang ia derita, terutama kepada istrinya.
Saat sampai di kamar Kenan langsung merebahkan dirinya di tempat tidur, menutup wajahnya dengan kedua lengannya. Kenan terus memikirkan penjelasan dokter tadi saat di rumah sakit.
Kenan mengeluarkan amplop putih dari saku celananya hasil dari tes laboratorium. Kenan kembali membacanya dengan seksama.
"Kanker Darah atau biasa disebut dengan leukimia adalah jenis penyakit yang menyerang sel darah sumsum tulang belakang. Hal ini di karenakan kanker mempengaruhi tubuh dalam memproduksi sel darah putih (leukosit)." Dokter Bayu menjelaskan tentang penyakit yang di deritanya.
Kenan belum bisa berkata sepata katapun, Kenan seperti masih tak percaya atas apa yang dideritanya, dia hanya bisa mendengar penjelasan dokter Bayu.
"Ciri-ciri leukemia seperti yang sering kau rasakan saat ini, seperti merasa pusing/sakit dibagian kepala, penurunan berat badan, juga mudah lelah." Dokter tampak menjeda ucapannya.
"Dan juga akan rentan terkena infeksi, memar di sekujur tubuh, dan juga nyeri pada persendian, seperti nyeri punggung bagian bawah."
"Apa saya masih bisa sembuh dok?" Akhirnya Kenan angkat bicara setelah mendengarkan beberapa penjelasan dokter.
"Dalam kasus kamu ini, yang masih stadium 2, masih ada kemungkinan besar untuk sembuh, dengan rutin mengonsumsi obat-obatan, dan juga beberapa rangkaian kemoterapi anti kanker baik secara injeksi atau oral, guna untuk menghambat dan menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker dalam tubuh, sebelum sel-sel kanker tersebut menyerang beberapa organ dan mengharuskan melakukan transplantasi sumsum tulang belakang." Jelas Dokter Bayu secara mendetail.
Kenan menghela nafas panjang meletakkan kertas hasil tesnya di sampingnya, Kenan mengingat penjelasan dokter Bayu saat dirumah sakit tadi.
Di tengah-tengah lamunannya ponsel Kenan tiba-tiba berdering tanda panggilan masuk, dengan segera Kenan meraih ponselnya yang ada di dalam saku celananya.
"Ray." Gumam Kenan saat melihat orang yang menelponnya adalah sahabatnya.
"Ya, Hallo..." Ucap Kenan saat menjawab panggilan dari Ray.
"Bagaimana hasil Labnya ?" Tanya Ray to the poin.
"Tidak ada apa-apa, semua baik-baik saja." Jawab Kenan berbohong ia tidak berniat untuk memberitahu kepada siapapun.
"Syukurlah kalau begitu." Sahut Ray terdengar lega di seberang sana.
"Ya sudah, gue mau mandi, Gue baru nyampai." Ucap Kenan langsung mengakhiri panggilan dari Ray sepihak.
Setelah memutuskan panggilan telponnya dengan Ray, Kenan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum ia istirahat, karena dirinya juga sudah merasa sangat lelah.
__ADS_1
🍀🍀🍀
Lima hari berlalu Kenan menjalaninya dengan bersikap seperti biasa, Ia tidak mau menampakkan kalau dirinya sedang sakit. Selama itu juga Kenan rutin mengonsumsi obat-obatan yang di berikan oleh dokter Bayu. Dan hari ini hari terakhir mereka Ujian.
Sore ini, Kenan dan keluarganya bersama keluarga Ray sudah berada di Bandara internasionalnya Kota Xx, mereka akan pergi ke kota Z, karena lusa adalah hari pertunangan Ray dan Lani.
Setelah melakukan perjalanan udara kurang lebih satu jam akhirnya kedua rombongan keluarga tersebut sampai di Bandara kota Z. Mereka berjalan beriringan menuju loby bandara di sana sudah ada sopir Keluarga Salman dan Fikram untuk menjemputnya, dan langsung menuju kediaman keluarga Fikram. Fikram sudah menyiapkan semuanya untuk menyambut kedatangan besan dan sahabatnya.
Setelah beberapa menit kedua mobil tersebut tiba di kediaman besar Fikram.
"Assalamualaikum." Ucap mereka hampir bersamaan saat tiba di depan pintu utama, dan disana sudah ada Ayah Fikram bersama bunda Hani, dan juga Arka beserta Vara, Kecuali Diva.
Bunda Hani langsung cepika-cepiki dengan para ibu-ibu, sedangkan para ayah bersalaman dan saling memeluk, di ikuti Kenan dan Ray mencium punggung tangan Ayah Fikram dan Bunda Hani tidak lupa juga Arka dan Vara.
Setelah salam-salaman, Ayah Fikram memperkenalkan tamunya itu untuk masuk.
"Han, menantuku mana ?" Tanya Bunda Vivian saat berjalan masuk, karena sedari tadi ia tidak melihat menantu kesayangannya.
"Dia ada di kamar, sepertinya masih siap-siap." Jawab Bunda Hani.
"Sabar kenapa sih Nan, kita masih di sini loh." Goda Ray sedikit berteriak saat Kenan sudah agak jauh dari mereka semua.
Kenan tidak lagi menghiraukan teriakan sahabatnya itu, dia terus saja melangkah naik keatas menuju kamar sang istri.
Saat tiba di kamar Kenan tidak mendapati istrinya di dalam kamar, Kenan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dan mendengar percikan air dari dalam. Kenan segera berjalan menuju tempat tidur saat mendengar Diva menyelesaikan mandinya, Dengan cepat Kenan menutupi dirinya dengan selimut. Saat Diva melewati tempat tidur ingin segera masuk ke kamar ganti untuk berpakaian karena Diva hanya menggunakan handuk yang menutupi tubuhnya hanya sebatas dada sampai di atas lutut. Tiba-tiba Kenan menarik tangan istrinya itu masuk kedalam pelukannya, membuat Diva terkaget karena tidak menyadari keberadaan Kenan.
"By'." Ucap Diva membelalakkan matanya melihat Kenan.
"Kamu mau godain aku Yank." Sahut Kenan melihat Diva hanya menggunakan handuk.
Diva langsung menutupi bagian dadanya mendengar ucapan Kenan, ia baru sadar kalau dirinya hanya menggunakan handuk.
"Si... siapa mau godain kamu sih by', orang aku nggak tau kalau kamu di situ." Ucap Diva gugup karena malu, karena dia hanya menggunakan handuk.
Kenan mendaratkan ciuman di bibir istrinya sekilas, gemas melihat Diva masih merasa malu kepadanya.
__ADS_1
Diva ingin segera bangun dari tempat tidur, namun Kenan terus saja menahannya, mempererat pelukannya.
"By' lepasin ih, aku mau pakai baju dulu !" Ujar Diva mencoba untuk melepaskan pelukan suaminya itu.
"Bentar dulu yank, aku masih kangen tau." Sahut Kenan membenamkan wajahnya di celuruk leher Diva, sambil mencium aroma sabun yang masih terasa jelas di penciumannya.
"Nanti yang lain pada nungguin kita by', nggak enak tau." Ujar Diva merasa kegelian karena nafas Kenan terasa sangat jelas di leher Diva.
"Apanya yang nggak enak sih yank, atau mau di enakkin." Ucap Kenan mengangkat wajahnya melihat istrinya itu sambil mengedipkan matanya.
"Mesum..." Sahut Diva jengah melihat suaminya, karena pikirannya pasti tidak pernah jauh dari hal-hal begituan.
"Yank, ayo mau di enakkin nggak, sekarang aja yuk, mumpung aku belum mandi nih, sekalian nanti kamu mandiin aku Yank." Kenan terus saja menggoda Diva.
"Aku sudah mandi, minggir aku mau pakai baju." Ujar Diva mendorong Kenan yang entah kapan berada di atasnya.
Kenan hanya terkekeh karena berhasil menggoda istri bar-barnya itu.
"Semoga kita bisa terus seperti ini Yank." Gumam Kenan menatap punggung Diva saat masuk ke kamar ganti.
Kenan kembali merebahkan badannya di tempat tidur karena merasa sedikit nyeri di bagian belakangnya.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian.
Like
Coment
Vote
Salam sayang dari Author ❤️❤️😘😘
🙏🙏🙏🙏🤗🤗🤗🤗
__ADS_1