
Kini Kenan benar-benar tiba di Bandara internasional kota Z. Tapi sepertinya Kenan tak sendirian melainkan ia bersama seorang wanita, dan wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Sarla. Diva dan baby Khay menunggu di terminal kedatangan suaminya, saat Diva melihat suaminya ia sungguh merasa sangat bahagia begitupun dengan baby Khay yang kegirangan melihat ayahnya yang kini semakin mendekat sambil mengeret kopernya dan membawa ransel yang berukuran sedang.
Diva mengernyitkan keningnya saat melihat wanita yang bersama dengan suaminya, betapa kagetnya Diva saat ia benar-benar melihat dengan jelas wanita itu yang ternyata adalah Sarla, mantan kekasih suaminya yang hampir membuat rumah tangganya hancur yang masih seumuran jagung, bahkan karena gara-gara Sarla pula lah yang hampir membuat Diva meninggalkan dunia ini.
"Sarla." Gumam Diva masih terus menatap Sarla dengan ekspresi terkejutnya.
"Yank.... Yank...." Kenan melambai-lambaikan tangannya di depan wajah istrinya itu namun Diva masih tak bergeming.
"Bunda kenapa bang ?" Tanya Kenan langsung mengambil alih putranya dari gendongan Diva, barulah Diva tersadar saat baby Khay berpindah ke gendongan Kenan.
"By." Ucap Diva kemudian mencium punggung tangan suaminya itu.
"Sudah sadar ?" Tanya Kenan masih menciumi wajah putranya.
"Ah... Ayo kita pulang !!" Ajak Diva masih dengan keterkejutannya.
Kenan yang melihat tingkah Diva langsung menarik Sarla mendekat ke mereka.
"Yank, kamu masih ingat dia kan ? Dia Sarla." Ucap Kenan.
"Hy Div, masih ingat aku kan ?" Sapa Sarla mengulurkan tangannya kepada Diva.
"Iy...Iya...Aku masih ingat, kamu tambah cantik ya sekarang." Balas Diva kemudian menerima uluran tangan Sarla.
"Kalau begitu aku permisi ya, maaf jika menganggu kalian." Ucap Sarla kemudian meninggalkan keluarga kecil itu. Sarla menoleh menatap Diva dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Ayo yank kita pulang !!" Ajak Kenan.
"Siniin kopernya biar aku yang bawa !" Diva mengambil alih koper milik suaminya, karena ia melihat Kenan sedikit kerepotan membawanya karena sambil menggendong baby Khay juga membawa ranselnya.
"Terimakasih yank." Ujar Kenan tersenyum.
Mereka pun berjalan menuju di mana sopir Diva memarkirkan mobilnya yang kebetulan tak jauh dari lobi bandara. Setelah memasuki mobil pak sopir segera menjalankan mobilnya menuju di kediaman pak Salman yang juga berada di kompleks yang sama dengan besannya pak Fikram.
Setelah hampir sejam akhirnya mobil yang di kendarai Kenan pun tiba di rumah, ternyata di sana sudah ada para orangtua menunggu kedatangannya, bahkan pak Regan beserta istrinya orang tua Ray itu juga ada di sana kecuali Arka beserta Vara Istrinya, kalau Raydan memang sering di tinggal bersama Omanya yaitu bunda Hani.
"Assalamualaikum." Ucap Kenan setelah masuk kedalam rumah sambil menggendong putranya di ikuti Diva di belakangnya.
"Walaikumsalam." Balas para orangtua.
"Ya, Bun aku pamit ke kamar sebentar." Pamit Diva seperti kurang bersemangat, ia masih penasaran bagaimana suaminya bisa sedekat itu dengan wanita yang sangat ia benci itu.
__ADS_1
"Iya sayang, kamu baik-baik saja kan ? Tanya bunda Vivian karena melihat menantunya itu tak seperti biasanya.
"Aku baik-baik saja Bun." Jawab Diva tersenyum samar kemudian melangkahkan kakinya menuju lantai atas di mana kamarnya berada.
Bunda Vivian beralih menatap Kenan, sedangkan Kenan hanya menaikkan kedua bahunya.
Setibanya di kamar Diva langsung masuk ke kamar mandi, ia mencuci mukanya, ia mengingat saat Kenan tersenyum ramah dan bersikap baik kepada Sarla, di tambah lagi di saat Diva mengingat tatapan Sarla kepadanya tadi.
Tanpa terasa air mata Diva jatuh begitu saja, ia merasa jika Kenan berubah karena Diva kembali teringat di saat Kenan mengabaikannya di telpon.
"Apa karena gara-gara ini dia berubah, bahkan sejak kedatangannya sepertinya Kenan hanya banyak bermain dengan baby Khay, apa secepat ini ia berpaling." Gumam Diva mengusap air matanya kasar kemudian kembali mencuci wajahnya.
Setelah cukup dirasa lebih baik Diva keluar dari kamar mandi, namun matanya masih sembab. Saat Diva membuka pintu kamar mandi Kenan sudah berdiri di depannya.
"Kamu mau mandi By ? Tunggu aku siapkan airnya dulu !! Diva buru-buru membalikkan badannya ia menyembunyikan mata sembabnya.
Setelah menyiapkan semuanya, Diva pun keluar untuk memberitahu Kenan kalau airnya telah siap.
"Airnya sudah siap by' !!" Ujar Diva langsung berjalan menuju walk in closed untuk menyiapkan pakaian suaminya tanpa melihat kearah Kenan yang sedang duduk di Sofa, Diva tak ingin Kenan tahu kalau ia sudah menangis.
"Terimakasih yank, jangan keluar dulu ada yang ingin aku bicarakan, tapi setelah aku mandi." Ucap Kenan dingin kemudian masuk ke kamar mandi.
Diva yang merasa kalau Kenan bersikap dingin kepada tanpa ia rasa air matanya kembali lolos, Diva buru-buru mengusapnya, kemudian melanjutkan niatnya untuk ingin menyiapkan pakaian suaminya itu.
"Kamu kenapa, apa yang sedang kamu pikirkan ?" Tanya Kenan mengikuti arah pandang Diva.
Diva sedikit tersentak saat tiba-tiba Kenan berada di dekatnya.
"Sejak kapan kamu di sini by' ?" Diva malah balik bertanya.
"Sejak kamu mengusap air mata kamu, apa yang kamu pikirkan ?" Tanya Kenan melihat kearah Diva sejenak kemudian kembali menatap lurus kedepan.
"Aku tidak memikirkan apa-apa, aku hanya kelilipan tadi." Bohong Diva berusaha menahan air matanya agar tak jatuh.
"Apa yang ingin kamu bicarakan ?" Tanya Diva.
"Sarla." Sahut Kenan.
"Emmm...." Diva tak bisa lagi membendung air matanya saat ia mendengar nama wanita yang sempat mengisi hati suaminya, bahkan ia merasa suaminya berubah setelah Kenan bertemu kembali dengan wanita itu.
Diva memalingkan wajahnya ke arah samping agar Kenan tak melihatnya menangis, ia buru-buru menyeka bulir bening yang membasahi wajahnya.
__ADS_1
"Mulai saat ini Sarla bekerja sebagai sekertis aku di kantor." Ucap Kenan.
"Mbak Luci ke....
"Luci aku tugaskan ke Singapore untuk menggantikan ku, karena masih ada hal yang harus di selesaikan di sana, sedangkan Pak Anton juga banyak pekerjaan." jelas Kenan.
"Tapi....
"Kamu tidak perlu khawatir, saat ini Sarla benar-benar sudah berubah, saat ini ia tidak lagi memiliki siapa-siapa, orangtuanya meninggal saat Sarla berada di penjara setelah lima bulan, perusahaannya bangkrut, itu semua aku yang memberinya hukuman yang terlalu berlebihan, aku merasa sangat bersalah kepadanya, makanya aku berniat untuk memberinya pekerjaan, lagian dia sudah banyak berubah ia tak seperti dulu lagi." Kenan menjelaskan lalu menjeda Ucapannya beralih menatap Diva yang hanya diam.
"Kami bertemu di Singapore, kebetulan ia salah satu pegawai klaiyen kami, tapi siapa sangka hari dimana kami mengadakan pertemuan, hari itu juga adalah hari terakhir ia bekerja, karena masa kontraknya sudah berakhir." Kenan kembali menjelaskan.
"Jika itu sudah keputusan kamu, aku bisa apa, toh semuanya juga kamu yang tahu itu, dan aku harap kamu tetap pada niat kamu yang hanya membantunya, dan satu lagi aku tidak mau kejadian di masa lalu menimpah keluarga kita, apalagi saat ini sudah ada baby Khay." Ujar Diva kemudian beranjak dari duduknya, ia ingin meninggalkan tempat tersebut namun Kenan menahan lengannya.
"Apa maksudmu bicara seperti itu, apa kamu tidak mempercayaiku, Hem ?" Kenan menatap Diva kesal.
"Aku percaya sama kamu, aku hanya mengingatkan." Ujar Diva meninggikan suaranya sambil melepas kasar tangannya yang di pegang Kenan.
"Sekarang kamu sudah berani berbicara dengan suara meninggi seperti itu ?" Kenan tersulut emosi.
"Kamu yang sudah berubah, bahkan kamu seolah mengabaikan ku sejak tadi, aku rasa kamu sudah berubah sejak kamu bertemu kembali dengan Sarla." Suasana kamar tersebut menegang, karena pasangan suami istri yang tak pernah bersitegang tiba-tiba saling bertikai dengan volume suara sama-sama meninggi, untung saja kamar tersebut kedap suara.
"Aku tidak berubah sama sekali, kamu saja yang berpikiran seperti itu, dan kamu jangan bawa-bawa wanita lain, dia tidak ada sangkut pautnya dengan ini, kamu saja yang terlalu berlebihan." Sengit Kenan.
Diva tak lagi berkata apa-apa, ia langsung masuk ke kamar mandi lalu menguncinya setelah ia menutup pintu dengan kasar, membuat Kenan terlonjat kaget.
Kenan mengusap wajahnya kasar, lalu keluar kamar, ia juga sedikit membanting pintu kamarnya, untung saja saat ini para orangtua berada di halaman belakang jadi tidak ada yang mendengarnya membating pintu.
Bersambung...
Bagaimana readers, sebenarnya Kenan Kenapa, apa yang merasukimu Kenan, apa hanya sampai segitu iman kamu, sampai kamu tega bersikap seperti itu hanya demi masa lalu kamu..
Tetap pantengin ya readers...
Like
komen
vote
sebanyak-banyaknya, agar authornya tetap semangat buat Up.
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️