Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 68 Season 3


__ADS_3

Malam harinya mereka berbaring dengan posisi saling membelakangi, keduanya sampai melewati makan malam mereka. Enzy terdiam tak bisa memejamkan matanya, ia terus memikirkan pertengkaran dan perkataan Khay sore tadi. Dengan perlahan Enzy membalikkan badannya menghadap Khay yang membelakanginya.


"Khay...." Panggil Enzy, namun Khay langsung memejamkan matanya saat merasa Enzy berbalik menghadapnya.


"Khay, apa kamu sudah tidur ?" Tanya Enzy lembut.


Khay yang mendengar itu tetap menghiraukan Enzy dan tetap berpura-pura tertidur.


"Maafkan aku. Berbalik lah, bicara padaku, Khay !" Seru Enzy, lagi dengan suara memelasnya, namun Khay masih saja menghiraukannya.


"Khay,... Aku tak bermaksud mengatakan itu, aku tak ingin pisah darimu, aku mengatakan itu karena terbawa emosi, tanpa memikirkannya terlebih dahulu." Ujar Enzy dengan suara serak berusaha agar tangisannya tidak keluar.


Khay yang mendengar suara Enzy seperti itu menjadi tak tega, namun ia masih marah dan kesal dengan perkataan dan sikap Enzy padanya.


"Kamu harus tidur ! Aku juga ada jam mata kuliah besok pagi." Akhirnya Khay membuka suara tanpa mengubah posisinya juga masih memejamkan matanya.


Dengan perasaan ragu, dengan perlahan Enzy mencoba memegang bahu suaminya itu.


"Maafkan aku, tolong maafkan aku !" Ucap Enzy memohon, namun Khay masih pada pendiriannya, ia masih belum bisa menerima begitu saja permintaan maaf dari wanita itu, ia benar-benar merasa kecewa dan marah.


Karena tak mendapatkan respon apapun, Enzy kembali menarik tangannya, menatap sejenak punggung pria di hadapannya itu, lalu kembali berbalik saling membelakangi.


Enzy berusaha menahan isakannya dengan sekuat tenaga agar tak terdengar, dengan menggigit bibir bagian bawahnya sambil membekap mulutnya. Tapi Khay tau kalau istrinya itu sedang menangis karena tubuh wanita itu bergetar dan dapat ia rasakan.


Khay membuka matanya, tanpa terasa air matanya juga keluar, ikut merasakan sakit saat ia tahu istrinya itu sedang menangis namun berusaha ia tahan. Sebenarnya Khay ingin sekali berbalik memeluk erat istrinya itu agar tenang, namun egonya lebih besar saat ia kembali mengingat semua perkataan dan sikap Enzy sore tadi.


...----------------...


Sore itu, setelah pulang dari kampus Khay langsung latihan dengan tim sepak bolanya, namun Khay tak pernah fokus, membuat salah satu setimnya kesal.


Khay yang melihat itu, lebih memilih untuk istrirahat sejenak, kemudian ia berjalan ke pinggir lapangan, lalu ia mendudukkan dirinya disana sambil meluruskan kakinya.


Priska yang ikut melihat sahabat-sahabatnya latihan, bingung melihat Khay yang kurang semangat buat latihan, padahal pria itu tak pernah seperti itu, jika menyangkut permainan olahraga terutama sepak bola.


Tak lama Doni dan Leo ikut bergabung dan duduk di samping Priska.


"Ada apa dengannya ?" Bisik Doni pada kedua sahabatnya itu, sambil menunjuk Khay menggunakan dagunya.


"Aku juga tidak tahu, emangnya dia gak pernah cerita ke kalian ? Soalnya akhir-akhir ini aku jarang bersamanya." Tanya balik Priska.


"Khay kamu kenapa lagi ?" Tanya Leo pada sahabatnya itu.


"Yoii Khay, kamu terlihat kacau." Timpal Doni di angguki Priska.


"Tidak ada apa-apa." Sahut Khay santai, kemudian meneguk kembali air mineral botolnya.


"Khay jika kamu ada masalah jangan pernah sungkan bicara pada kami, kamu masih menganggap kami sahabat kamu, kan?" Imbuh Priska.


"Betul tuh Khay." Timpal Doni lagi.


"Gue akan cerita kalau gue ada masalah." Seru Khay kembali bersemangat, ia tak ingin sahabat-sahabatnya itu tahu mengenai pertengkarannya dengan Enzy, apalagi Priska yang belum mengetahui soal pernikahannya.


"Ya sudah ayo ! Kita lanjutkan lagi latihannya." Serunya lagi berdiri lebih dulu dan lari ke lapangan meninggalkan Leo dan Doni.


...----------------...

__ADS_1


Malam harinya


Khay batu tiba di apartemen sekitar jam delapan malam, karena setelah latihan ia mampir ke cafe mengobrol dengan sahabatnya, yaitu Leo, Doni, juga Priska.


Saat masuk Khay mendapati Enzy sedang duduk di meja makan sambil memainkan ponselnya, dengan banyak sekali hidangan makanan yang merupakan makanan kesukaan Khay.


"Apa kamu sudah makan ?" Tanya Enzy beranjak dari duduknya.


"Sudah !" Jawab Khay dingin, kemudian berjalan ke arah sofa yang ada diruang tengah, sebenarnya ia ingin pergi ke dapur untuk mengambil minuman, namun ia urungkan.


Enzy mengikutinya, dan langsung duduk di samping suaminya itu. Sedangkan Khay bersikap cuek dan dingin, sambil mengeluarkan laptopnya dari dalam tas, lalu mengerjakan sesuatu disana.


"Apa kamu tidak ingin makan ?" Cicit Enzy menawarkan.


"Aku sudah kenyang !" Sahut Khay dingin.


Sejenak Enzy terdiam menatap suaminya itu, hatinya terasa sesak dengan sikap dingin Khay padanya.


Kemudian Enzy beranjak, melangkahkan kakinya menuju kamarnya, Khay menoleh sebentar melihat punggung Enzy yang semakin menjauh, kemudian kembali mengerjakan pekerjaannya.


Tak lama Enzy kembali, duduk lagi di samping Khay. Enzy mengulurkan tangannya memberikan kalung Khay yang sudah ia perbaikan kembali, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Khay menatap sejenak kalung tersebut kemudian menggeser tubuhnya sedikit lebih jauh dari Enzy.


Khay menarik kembali tangannya, lalu meletakkan kalung tersebut di atas meja.


"Berapa lama kamu akan marah dan bersikap dingin seperti ini padaku ? Aku sudah bilang padamu, dan kamu tahu itu kalau aku tidak bisa mengontrol ucapanku, aku akui, aku salah karena telah memulai pertengkaran denganmu." Ucap Enzy panjang lebar sambil menatap Khay dari samping.


Khay mengehentikan pekerjaannya, namun masih saja diam tak menanggapi perkataan Enzy sama sekali, ia tetap diam dengan ekspresi datarnya.


"Aku tidak ingin pisah darimu." Ujar Enzy bersungguh-sungguh.


"Pleaseee...!!" Mohon Enzy manja.


Khay yang mendengar rengekan istrinya itu menjadi tak tega.


"Jika kamu tak ingin pisah, kenapa kamu harus mengatakan itu ?" Akhirnya Khay angkat bicara setelah sejak tadi hanya terdiam, namun Khay masih bersikap datar menatap Enzy.


"Maaf, aku salah karena mengatakan itu, tanpa berpikir terlebih dahulu, tanpa memikirkan perasaan kamu, aku egois, aku tak pernah peduli denganmu, maaf..." Ucap Enzy.


"Bagaimana, jika aku yang mengatakan ingin pisah darimu ?" Tanya Khay masih datar, namun tak sedingin tadi.


Enzy hanya diam, tak menjawab pertanyaannya Khay, ia tak tau harus mengatakan apa.


"Lupakan saja ! Kamu tidak akan menderita dan sakit lebih dari apa yang kurasakan." Ujar Khay lagi karena melihat Enzy hanya terdiam, kemudian Khay kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Jika aku tidak merasakan seperti yang kamu katakan barusan, aku tidak akan meminta maaf seperti ini." Sahut Enzy memajukan bibirnya.


"Aku tidak akan bela-belain, masak kesukaan kamu, tak akan memperbaiki kalung kamu, walaupun aku kesulitan mendapatkan tempat yang biasanya memperbaiki kalung, seperti kalungmu itu dalam waktu singkat." Tambah Enzy dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Aku minta maaf, tulus dari hati aku yang paling dalam, karena aku sayang dan cinta sama kamu, hanya saja aku sulit untuk mengekspresikan semuanya." Ujarnya lagi, berusaha menahan tangisnya, bahkan air matanya sudah mulai menetes.


"Kamu...suami yang...jahat !" Serunya lagi dengan suara tersekat-sekat karena menahan tangis.


Khay merasa lucu mendengar ucapan terakhir istrinya itu, tapi ia masih berpura-pura fokus pada pekerjaannya, dan mengabaikan wanitanya itu.


Enzy menggeser duduknya agar lebih dekat, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Khay, mendongak menatap wajah datar pria disampingnya itu.

__ADS_1


"Maaf.... pleaseee...maafkan aku yah suaminku sayang..."Mohon Enzy sambil menggoda prianya itu, tak lupa juga Enzy menampilkan puppy eyesnya.


Khay yang mendengar itu menundukkan kepalanya, menatap wajah imut Enzy, sedangkan Enzy semakin melebarkan senyumannya, ia membuat mimik muka seimut mungkin, berharap suaminya itu luluh, ia sudah tidak tahan lagi di cuekin dan di dinginin seperti itu pada suaminya.


"Kalau begitu, mulai sekarang pikirkan tentang perasaanku ! Aku tak ingin mendengar kata PISAH itu lagi keluar dari mulutmu." Sahut Khay setelah diam beberapa saat melihat tingkah istrinya, ia sudah tak tahan melihatnya, dan akhirnya ia luluh juga.


Enzy hanya mengagukkan kepalanya, sambil tersenyum senang.


"Apa itu artinya kamu sudah memaafkanku ?" Tanya Enzy.


"Aku sudah memaafkanmu." Jawab Khay mengusap pucuk kepala istrinya lembut, membuat Enzy semakin kegirangan, Enzy langsung mencium pipi Khay, kemudian memeluk erat pinggangnya lalu menyembunyikan wajah memerahnya di bawa lengan suaminya itu.


Khay hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah menggemaskan istrinya, saat Khay akan melingkarkan lengannya di pinggang istrinya itu, tiba-tiba Enzy menarik dirinya kembali sambil menatap tajam Khay, membuat Khay bingung mendapatkan tatapan seperti itu, istrinya ini benar-benar ajaib, belum juga lima menit yang lalu bersikap manis, dan dalam sekejap pula wanitanya itu kembali berubah mengerikan, pikir Khay.


"Ada satu hal juga, yang perlu kamu minta maaf kepadaku !" Seru Enzy yang hanya di tanggapi tatapan bingung oleh Khay.


"Itu soal Clarie." Lanjutnya.


Khay menutup laptopnya yang sejak tadi berada di pangkuannya, lalu meletakkan di sampingnya, kemudian menarik istrinya itu agar kembali mendekat.


"Aku sudah bilang padamu, kalau Clarie hanya aku anggap seperti adik, sama seperti Kia."


"Tapi kamu pernah menciumnya kan ?"


"Bagaimana kamu tahu ? Tanya Khay sedikit memundurkan wajahnya.


"Jadi itu benar ? Kamu sungguh pernah berciuman dengannya ?" Seru Enzy menelisik tajam.


"Emmm...." Sahut Khay hanya berdehem sambil menganggukkan kepalanya, ia tak berani melihat tatapan tajam dari wanita dihadapannya yang tampaknya sudah naik tanduk. Sedangkan Enzy langsung memukulnya dengan bantalan sofa cukup keras setelah diam selama beberapa detik, Khay berhasil menahan pukulan istrinya tersebut, dan meraih bantalnya.


"Dasar buaya !" Cibir Enzy kesal berbalik membuang muka dari suaminya itu.


Sedangkan Khay menjadi semakin gemas melihatnya, Khay tersenyum jahil melihat istrinya merajuk, ia semakin mendekat kemudian memeluk pinggang istrinya itu prosesif, membenamkan wajahnya di celuruk leher Enzy sambil sesekali ia menciuminya membuat Enzy kegelian.


"Khay...!! Tegur Enzy menusuk menatap tajam pria menyebalkan itu.


"Aku hanya ingin memelukmu, jangan menolakku !" Ujar Khay membuat Enzy memerah karena perlakuan Khay itu.


"Kamu sungguh pemalu." Ucapnya melihat rona merah diwajah istrinya itu.


"Aku tak gampangan sepertimu." Seru Enzy memutar bola matanya malas, membuat Khay terkekeh mendengar seruan Enzy.


"Ngomong-ngomong, siapa yang memberitahumu soal itu ? Apa Clarie ?"


"Emmm..." Enzy hanya berdehem mengiyakan.


"Berhenti mengucapkan nama itu padaku !"


"Jadi, apa kamu tahu cerita sebenarnya bagaimana aku bisa sampai menciumnya ?


Bersambung.........


Jangan lupa terus berikan dukungan like, Komen, dan Vote sebanyak-banyaknya untuk author.


Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2