Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 72 Season 2


__ADS_3

Tampak Kenan keluar dari lift dengan gayanya yang seperti biasa selalu menampakkan wajah datar plus dingin, namun dengan sikapnya itu terlihat sangat beribawa di tambah lagi kacamata hitamnya menambah ketampanan seorang Kenan Al Fariziq.


Seorang security yang berjaga pada pintu utama atau lebih tepatnya di lobi perusahaan langsung membukakan pintu untuk bos besarnya itu sambil menundukkan sedikit badannya, sedangkan Kenan hanya mengangguk, kemudian mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Pak Toni untuk segere menjemputnya di depan lobi. Sambil menunggu pak Toni Kenan masih berusaha menghubungi kakak iparnya yaitu Arka sambil memasukkan tangan kirinya di saku jelana bahannya. Kenan menarik nafas berat karena lagi-lagi nomor Arka tidak bisa di hubungi, bukannya tidak bisa tapi sepertinya Arka sengaja tak ingin menjawab panggilan darinya.


"Silahkan tuan !" Ucap pak Toni mengagetkan Kenan yang sedari tadi terdiam memikirkan keberadaan istri dan anaknya.


"Ah iya." Ucap Kenan sedikit terkejut lalu masuk kedalam mobilnya yang sudah pak Toni buka pintunya.


Setelah Kenan masuk pak Toni menutup kembali pintu mobil lalu segera menyusul masuk kebagian kemudi.


"Pak sekarang juga kita ke kota Z !" Seru Kenan.


"Baik tuan." Jawab pak Toni kemudian melajukan mobilnya menuju arah jalan tol ke kota Z.


Saat melewati jalanan cukup sepi sebuah sepeda motor sport hitam mengikutinya dari belakang.


"Pak sepertinya ada seseorang yang mengikuti kita." Ucap Pak Toni menyadari akan hal itu sambil memperhatikan lewat spion mobilnya.


Kenan langsung menoleh kebelakang dan benar motor tersebut terus saja mengikutinya.


"Pak sebaiknya kita putar balik saja !" Seru Kenan. Pak Toni pun langsung menuruti majikannya itu.


Pak Toni menambah kecepatan mobilnya, sedangkan Kenan menghubungi Pak Toni dan menyuruhnya untuk segera menyusulnya bersama anak buahnya, ia yakin jika itu adalah suruhan Disti.


"Pak tambah lagi kecepatannya !" Seru Kenan.


Saat tiba di lampu merah Kenan kembali menyuruh pak Toni menambah kecepatan mobilnya, agar tidak dapat lampu merah dan benar saja mobil Kenan melesat tanpa mendapatkan lampu merah sedangkan pengendara motor tersebut terjebak dalam lampu merah.


"Sepertinya motor tadi tak lagi mengikuti kita tuan." Ucap pak Toni melihat kebelakang lewat kaca spion.


"Iya, lebih baik sekarang kita kembali kerumah pak !" Ujar Kenan.


"Kita tidak jadi ke kota Z tuan ?" Tanya pak Toni.


"Lain kali saja pak, sepertinya saya harus menuntaskan masalah disini dulu." Ucap Kenan lalu menghubungi pak Anton untuk segera menyusulnya ke rumah.


🍀🍀🍀


Di sisi lain

__ADS_1


Tampak Disti memukul bagian depan motornya kesal saat ia terjebak di lampu merah dan gagal mengikuti Kenan. Setelah lampu hijau menyala Disti kembali melajukan motornya kembali ke sebuah gedung tua, ia kembali menemui beberapa preman yang bermarkas disana.


"Ada apa nona, sepertinya kau terlihat sangat kesal ?" Tanya bos preman yang ada disana saat melihat Disti masuk dengan raut wajah tak enak di pandang.


"Sepertinya kau dan anak buahmu yang harus turun tangan, saya tidak mau tahu besok pagi saya harus mendengarkan kabar kematian seorang Kenan Al Fariziq." Ujar Disti mendudukkan dirinya disalah satu kursi yang terlihat sudah usang.


"Tapi kami minta DPnya dulu nona." Ujar bos preman.


"Kamu tenang saja." Disti mengeluarkan ponselnya lalu mengetik nominal yang preman itu minta.


"Masukkan nomor rekening mu !" Seru Disti memberikan ponselnya kepada bos preman tersebut, bos preman itupun langsung menerima dan memasukkan nomor rekeningnya.


"Setelah kamu dan anak buahmu berhasil saya akan mengirimkan sisanya, jika pekerjaannya mu memuaskan akan saya berikan bonus untuk kalian, mengerti ?" Ucap Disti memasukkan ponselnya ke saku bagian dalam jaketnya.


"Anda tenang saja nona, semuanya sesuai dengan permintaan nona." Sahut bos preman. Kemudian mereka tertawa bersama.


🍀🍀🍀


Di kediaman Kenan


Kenan dan pak Anton tampak sedang berada di ruang kerja Kenan, keduanya membahas masalah pemotor yang mengikutinya tadi.


"Bagaimana dengan Calista pak ?" Tanya Kenan.


"Baguslah kalau begitu, dan untuk mengenai Disti apakah Calista tidak mengatakan apapun tentang sepupunya itu, apa kita tidak bisa bekerjasama dengan pihak berwajib untuk memintanya mengatakan dimana Disti berada ?" Tanya Kenan.


"Itu yang saat ini pihak berwajib lakukan tuan, sedari tadi pihak penyidik mengintogasi akan hal itu tapi lagi-lagi Calista hanya bungkam." Terang Pak Anton.


"Terus, untuk rencana besok bapak persiapkan semuanya !" Seru Kenan.


"Apakah ini tidak terlalu membahayakan untuk tuan, bagaimana jika wanita ini berbuat nekad ?" Ucap pak Anton tampak khawatir, takut terjadi hal yang tidak diinginkan oleh atasannya itu.


"Insyaallah saya tidak akan kenapa-napa pak, lagian saya ingin secepatnya selesaikan semuanya, saya sudah tidak sabar ingin mencari tahu keberadaan istri dan anak saya." Ucap Kenan menatap lurus kedepan.


"Baiklah tuan, saya akan meminta anak buah saya untuk memperketat keamanan tuan." Ujarnya dan hanya ditanggapi anggukan dari Kenan.


"Kalau begitu saya permisi tuan, saya ingin kembali ke kantor polisi untuk melihat perkembangan kasus Calista dan yang lainnya, karena baru saja saya dapat pesan dari pak pengacara kalau orangtua Calista kembali dari luar negeri dan berusaha mengurus kasusu Calista." Pamit pak Anton setelah membaca pesan yang masuk di ponselnya.


"Upayakan agar Calista tak bisa mendapatkan jaminan, saya yakin pak Afnan akan mengerti jika sudah mendengar kebenarannya." Ucap Kenan.

__ADS_1


"Iya pak, kalau begitu permisi, jangan terlalu banyak berpikir dan jangan lupa makan juga, ingat kesehatan tuan lebih penting untuk mencari kebenaran nona dan tuan muda." Ujar pak Anton lalu meninggalkan tempat tersebut.


🍀🍀🍀


Di sebuah villa yang tidak terlalu besar namun memiliki suasana yang sejuk dan damai, villa tersebut berada di suatu Desa yang terpencil, bahkan jaringan pun susah di tempat tersebut.


Sore itu tampak Diva, Arka dan juga Vara menikmati secangkir teh hangat di halaman belakang villa tersebut dengan pemandangan perkebunan sayur warga desa.


"Kapan kakak dan kak Vara akan kembali kekota Z?" Tanya Diva sambil meletakkan cangkir tehnya.


"Kenapa apa kamu sudah bosan melihat kami disini ?" Arka malah balik bertanya.


"Bukan seperti itu kak, tapi takutnya ayah sama bunda mencari keberadaan kalian, atau bisa saja mereka sudah mengetahui soal masalah aku ini." Ucap Diva.


"Kamu tenang saja aku sudah memberitahukan mereka kalau aku ada pekerjaan di luar kota dan mungkin diwaktu yang lama, makanya aku bawa kakak iparmu dan Raydan." Jelas Arka.


Karena benar ia beralasan seperti itu kepada kedua orangtuanya, pak Fikram juga sudah tidak mungkin juga mengecek perusahaannya karena semuanya sudah ia serahkan pada Arka. Malam itu juga Arka langsung menjemput istri dan anaknya dirumah miliknya, Arka hanya memberitahukan kedua orangtuanya hanya lewat telpon, karena jika ia menemui langsung sudah pasti kedua orangtua itu menahan untuk membawa serta istrinya, atau anaknya karena mereka tidak mau jauh dari cucunya, karena mereka berpikir hanya anak Arka yang selalu dekat dengan mereka, karena Diva berada di kota yang berbeda dan cukup jauh.


"Dan untuk masalah kamu itu sepertinya mereka belum mengetahuinya, karena jika memang sudah mengetahuinya ayah ataupun bunda sudah pasti menghubungiku, namun sampai saat ini jika aku ke kecamatan untuk mengerjakan beberapa pekerjaan ku mereka belum ada menghubungiku, yang ada hanya pria br**""ek itu yang terus menghubungiku." Jelas Arka.


Diva hanya bisa terdiam mendengar kakaknya itu mendengar menyebut suaminya dengan kata kasar seperti itu, namun Diva mengerti dengan kemarahan kakaknya.


Saat sedang bersantai sambil mengobrol ringan tiba-tiba Diva merasakan pusing, dan tak lama ia langsung tak sadarkan diri membuat Arka dan Vara seketika panik.


"Diva, dek bangun !" Seru Vara sambil menepuk-nepuk pipi adik iparnya itu.


"Sebaiknya kita bawa kesalah satu bidan yang ada di desa ini Pi." Ujar Vara.


"Kok bidan sih mi, emangnya dia mau melahirkan?" Tanya Arka bingung.


"Pi kita ini sekarang di desa, biasanya di tempat seperti ini bidan sudah merangkap sebagai dokter umum, jadi sekarang cepat angkat Diva bawa ke mobil, kita langsung saja membawanya !" Ucap Vara.


"Anak-anak bagaimana?" Lagi-lagi Arka bertanya membuat istrinya itu sedikit kesal.


"Papi sayang, ini adikmu lagi pingsan loh, kamu kok jadi oon gini ? Tidak usah mengkhawatirkan anak-anak yang kita khawatirkan itu Diva, kalau anak-anak ada bi Siti yang menemani mereka." Geram Vara.


"Iya sayangku, tidak usah kesal gitu nanti cantiknya ilang !" Ucap Arka masih sempat-sempatnya menggoda istrinya kemudian mengangkat tubuh Diva.


Bersambung......

__ADS_1


Author balik lagi meminta LIKE, KOMENTAR, VOTE sekilas dari para readers.


Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️


__ADS_2