
Semenjak Kavi mendapatkan persetujuan dari opa Salman untuk menemui Kia, pria dewasa itu bisa dikatakan hampir setiap hari berkunjung kerumah opa Salman untuk bertemu dengan Kia, hingga sudah satu minggu ini Kavi tak pernah absen.
Hari ini, hari Senin, Kavi sudah berjanji akan mengantar Kia ke sekolah, walaupun Kia sudah menolaknya tapi sepertinya opa Salman selalu ada di pihak Kavi, jadi mau tak mau Kia harus mendengarkan perkataan opanya.
"Kia, apa salahnya jika nak Kavi mengantarkan mu ke sekolah, lagian opa selalu khawatir jika melihatmu terus-menerus menggunakan motor Segede itu." Begitulah ucapan opa kemarin, saat Kavi menawarkan dirinya untuk mengantarkan Kia ke sekolah.
"Namanya juga motor gede opa, ya gede dong." Ucap Kia jengah.
"Pokonya besok kamu harus di antar jemput oleh nak Kavi." Ucap opa Salman tegas.
Pagi-pagi Kavi sudah berada di rumah opa Salman, bahkan Kavi sampai sarapan disana atas permintaan opa Salman, sedangkan Kia dengan muka di tekuk menuruni anak tangga, karna Kavi benar menjemputnya.
"Wajahnya gak usah di tekuk gitu dek, buruan duduk disamping nak Kavi ?" Seru opa Salman melihat cucunya itu baru bergabung di ruang makan.
Tanpa banyak bicara Kia mendudukkan dirinya di kursi seperti perintah opanya, kemudian langsung memakan roti isi yang sudah di siapkan Oma Vivian sebelumnya.
"Nak Kavi, jadi apa rencana kamu selanjutnya ?" Tanya opa Salman.
"Saat ini saya belum memikirkannya om, yang jelasnya saya harus mendapatkannya dulu." Jawab Kavi di angguki opa Salman.
"Berjuanglah, om yakin kamu bisa mendapatkannya, kelihatannya aja seperti itu, tapi yakinlah di dalam hatinya pasti dia juga akan suka jika dia bersamamu." Ucap opa Salman melirik Kia sekilas.
"Sepertinya begitu om." Timpal Kavi kemudian kedua pria beda generasi itu tertawa bersama, sedangkan Kia merasa kalau yang dibicarakan keduanya itu adalah dirinya.
"Opa, Oma aku berangkat dulu." Pamit Kia berdiri dari kursinya lalu mencium kedua pipi opa dan omanya bergantian.
"Buru-buru banget dek, tuh nak Kavi aja belum selesai." Ucap Oma Vivian.
"Aku harus cepat-cepat ke sekolah Oma, aku ada tugas." Jawab Kia.
"Gak apa-apa Tante, kalau begitu saya juga pamit." Timpal Kavi kemudian beranjak lalu mencium punggung tangan Oma Vivian, dan Opa Salman bergantian.
"Nak Kavi, hati-hati bawa mobilnya ?" Seru Oma Vivian.
"Iya Tante." Sahut Kavi kemudian keluar menyusul Kia yang sudah keluar lebih dulu.
Dalam perjalanan ke sekolah Kia hanya diam seribu bahasa, sebenarnya ia merasa tak nyaman dengan jantungnya yang terus berdetak lebih cepat dari biasanya saat ia bersama Kavi, namun ia masih ragu apakah ia benar jatuh cinta.
Kavi melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya, karena melihat waktunya masih lama Kia masuk, Kavi menepikan mobilnya, membuat Kia langsung beralih menatapnya.
"Om kok kita berhenti, sekolah aku masih jauh loh ini." Protes Kia melihat sekitar jalan disana.
"Aku tahu, lagian ini masih terlalu pagi, kamu gak mungkin telat juga kan ?" Sahut Kavi merubah posisinya sedikit menghadap kearah gadis disembahnya itu.
__ADS_1
"Tapi aku ada tugas yang harus aku kumpul." Alasan Kia.
"Alu tahu Ki, kamu gak ada tugas, itu hanya akal-akalan kamu saja untuk mengindari ku kan ?" Ujar Kavi membuat Kia diam seribu bahasa melihat Kavi bicara sangat serius.
Kavi meraih tangan Kia lalu ia genggam sambil menatap dalam manik mata gadis di depannya, membuat jantung Kia semakin berdegup lebih cepat.
Kia ingin segera menarik tangannya dari genggaman Kavi, namun Kavi semakin mengeratkan genggamannya sehingga Kia tak bisa melepaskannya.
"Kia, entah sudah berapa kali aku mengatakan ini, tapi aku tidak akan ada bosannya dan tak akan pernah berhenti mengatakan ini sampai berapa kalipun, bahwa aku benar-benar sangat mencintaimu, aku sudah mencobanya untuk melupakan dan membuang rasa itu, tapi semakin aku berusaha melakukan itu, semakin besar pula rasa itu padaku terhadapmu, jadi pleaseee, Kia untuk yang kesekian kalinya lagi dan lagi aku minta, jadilah wanita yang kucintai dan akan mendampingiku sampai maut yang memisahkan kita." Ucap Kavi panjang lebar.
Kia yang mendengar ucapan pria dihadapannya itu, hanya bisa diam memberanikan diri untuk menatap dalam manik mata tersebut, terlihah jelas tak ada sedikitpun kebohongan disana, hanya ada ketulusan yang terpancar dari mata kecoklatan itu.
Kia menarik nafas panjang kemudian ia keluarkan dengan perlahan.
"Baiklah aku sudah putuskan, aku akan memberikan om kesempatan, dan mencoba mengerti perasaanku sendiri, karena jujur aku bingung, aku gak tahu perasaan apa yang aku rasakan ini pada om, karena aku sendiri tak pernah merasakan bgaimana rasanya jatuh cinta, jadi aku harap om membantu ku mengerti dengan semua ini, dan aku harap om benar-benar tulus dan tak akan pernah menyakitiku." Ucap Kia panjang lebar.
Kavi yang mendengar itu merasa sangat senang dan gembira, akhirnya gadis yang sangat ia cintai itu mau memberinya kesempatan, juga mau menerimanya. Kemudian Kavi mencium tangan Kia dengan penuh perasaan, membuat Kia hanya bisa menyembunyikan senyumannya, dengan mengalihkan pandangannya keluar lewat jendela mobil.
"Jadi ini artinya, sekarang kamu adalah kekasihku, calon istriku, bukan ?" Tanya Kavi tersenyum bahagia.
"Emmmm,,, tapi sebelum itu om harus mengambil hati ayahku dulu, dan satu lagi aku tidak ingin ada yang mengetahui selain kita berdua, sebelum ayahku menyetujuinya, apalagi jangan sampai teman-teman sekolahku tau, aku tidak mau dihujat sedang mengencani om-om." Ujar Kia masih belum mau melihat ke arah Kavi, karena rasa malunya.
"Baiklah tuan putri kesayangan om Kavi." Sahut Kavi gemes lalu menarik hidung mancung gadisnya itu.
"Gak usah lebay om, buruan jalankan mobilnya sebentar lagi aku terlambat !" Seru Kia berusaha mengembalikan rasa gugupnya sejak tadi menguasainya saat Kavi mulai memegang tangannya.
"Ki..." Panggil Kavi tetap fokus pada jalanan di depannya.
"Ada apa lagi sih om ?" Tanya balik Kia sedikit kesal, bukannya apa jantungnya terus berdegup lebih cepat bahkan serasa mau copot saat Kavi terus mengajaknya bicara.
"Kok kesal gitu sih ! Oh iya gak usah manggil om dong, lagian aku gak setua itu, aku masih cocok kok jadi kakak kamu." Ujar Kavi.
"Ya sudah kalau gitu, om Kavi jadi kakak aku aja !" Sahut Kia.
"Bukan itu maksud aku, Azkia, tapi aku merasa gak enak aja, masa kekasih aku manggil aku om sih, yang ada nanti aku dikiranya pedofil lagi." Protes Kavi.
"Lah bukannya emang gitu ya, kalau udah tua, ya akui sajalah om, lagian aku juga lebih enak dan cocok manggilnya om." Sahut Kia masih gencar menggoda pria dewasa yang kini sudah bisa dikatakan sebagai kekasihnya.
"Aaaisshhhh... Emang kamu mau pacaran Ama sama om-om ?" Tanya Kavi menoleh sejenak lalu kembali fokus ke jalanan.
"Kalau aku gak mau, mana mungkin aku terimah om tadi." Sahut Kia lagi-lagi membuat Kavi kalah bicara.
"Ya sudah deh, susah emang ngomong sama anak kecil." Kavi lebih memilih mengalah dari pada garus melawan anak seumuran Kia yang susah untuk dilawan menurutnya kalau soal beginian.
__ADS_1
"Ki, kira-kira berapa bulan lagi kamu lulus sekolahnya ?" Kini Kavi bicara serius.
"Mungkin sekitar...." Kia tampak berpikir sejenak.
"Sekitar kurang lebih tujuh bulan lagilah om. emang kenapa ?" Ujar Kia kemudian balik bertanya.
"Bagaimana kalau kamu lulus kita langsung nikah aja ?" Ucapan Kavi sukses membuat Kia langsung menatapnya.
"Apa ? Apa kamu gak setuju ?" Tanya Kavi.
"Aku masih mudah om, lagian aku juga mau melanjutkan pendidikan ku." Jawab Kia.
"Aku tahu, orangtua kamu aja menikah lebih muda dari kamu, begitupun dengan kakak kamu, lagian aku sudah tua Ki, kalau aku nunggu kamu lulus kuliah keburu aku jadi aki-aki, Kia." Ucap Kavi membuat Kia menertawakan di akhir kalimatnya.
"Kok ketawa sih, apa ada yang lucu ?" Tanya Kavi.
"Baru nyadar kalau om udah tua, salah sendiri om sukanya sama gadis belia sepertiku." Ejek Kia masih tertawa.
Kavi menggelengkan kepalanya.
"Susah emang bicara sama anak kecil." Gumam Kavi masih bisa di dengar Kia.
"Ya sudah sana turun, ini sudah sampai ?" Seru Kavi jengah setelah mobil yang di kendarainya tiba di depan gerbang sekolah Kia.
"Oh, udah sampai aku gak sadar." Ucap Kia bersiap untuk turun, saat Kia akan turun Kavi menahan lengannya membuat Kia kembali menoleh.
"Ada apa ?" Tanya Kia bingung.
"Tuh, liat teman laki-laki kamu nungguin, awas aja kalau kamu sampai dekat-dekat sama dia kayak dulu !" Peringat Kavi menunjuk Kemal yang sedang duduk diatas motornya di depan gerbang, mungkin sedang menunggu Kia, seperti biasanya.
"Ishh... Terserah aku dong, orang dia sahabat aku, kok jadi om yg repot sih ?" Ucap Kia.
"Sekarang kamu calon istri aku Azkia, ya jelas aku cemburu lah kalau kamu dekat dengan orang lain, apalagi itu pria." Sahut Kavi.
"Ckkk fosesif amat sih, sudahlah aku mau turun, nanti terlambat." Ucap Kia cuek lalu keluar dari mobil.
Bersambung.........
Jangan lupa terus berikan dukungan Like Komen dan Vote setiap membaca setiap episodenya......
Mampir juga ke cerita baru aku DENDAM MEMBAWAH CINTA.....
Sorry kalau cover belum berubah dari cover sebelumnya soalnya aku sudah rivew tapi gak berubah-ubah....
__ADS_1
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...