
Setelah makan malam, Enzy dan Khay kembali ke kamar mereka, keduanya memilih beristirahat dan bersantai di kamar, Enzy duduk di Sofa sambil menonton televisi yang menayangkan drama Thailand, sementara Khay duduk melantai di depan Enzy sambil mengerjakan tugas kuliahnya. Walaupun Enzy sudah menerima Khay sebagai suaminya tapi dia masih bersikap dingin, walaupun sebenarnya perasaannya sudah mulai tumbuh untuk pria yang kini berstatus suaminya itu, tapi Enzy masih belum terlalu menunjukkannya sebelum ia benar-benar yakin kalau pria itu telah berubah, dan membuktikan kalau ia bersungguh-sungguh mencintainya.
Setelah mengerjakan tugasnya, Khay merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena terlalu kelamaan duduk, di depan laptop, kemudian Khay beranjak naik kesofa yang sama dengan Enzy, lalu membaringkan dirinya disana menjadikan paha istrinya itu sebagai bantalnya. Enzy sama sekali tak merasa terganggu saat Khay berbaring di pangkuannya, ia malah tetap fokus pada drama yang sejak tadi ia tonton, Khay ikut memeriahkan posisinya mencoba melihat tontonan apa yang dilihat istrinya itu sehingga membuat istrinya tak menghiraukannya sama sekali, saat ia lihat Khay menjadi pusing sendiri mendengar apa yang dikatakan dalam drama itu karena berbahasa Thailand. Karna tak mengerti dengan apa yang di tonton itu, Khay berbalik menghadap perut istrinya sambil memperhatikan Enzy dari bawah.
"Sayang..." Panggil Khay.
"Emmm...."
"Sayangku...."
"Emm apa ?"
"Istriku..."
"Apa sih Khay ?" Tanya Enzy jengah karena Khay dari tadi hanya terus memanggilnya.
"Kalau di panggil suami, ya nengok, bukan cuma emmm...emmm doang, dosa loh sayang !" Ujar Khay.
Enzy yang tadinya fokus pada dramanya langsung menundukkan kepalanya menatap Khay yang sejak tadi menatapnya.
"Iya ada apa ?" Tanya Enzy.
"Bobo yuk !" Ajak Khay.
"Ya udah kalau kamu ngantuk kamu tidur duluan aja, aku masih mau nonton ini ( Menunjuk televisi berada didepannya ) lagian aku masih belum ngantuk." Ucap Enzy kemudian kembali pada tontonannya.
"Temenin !" Ucap Khay manja.
"Ngapain di temenin, jangan manja ih...! Kemarin-kemarin juga enggak yang nemenin, kan ?" Ujar Enzy melihat sejenak suaminya itu lalu kembali fokus kedepan.
"Tapi sekarang udah beda sayang." Khay melingkarkan lengannya di pinggang Enzy, sambil menenggelamkan wajahnya diperut wanitanya, membuat Enzy kegelian.
"Temenin ya !" Lanjut Khay.
"Khay apa yang kamu lakukan ?" Pekik Enzy saat Khay mendusel-dusel kepalanya di perut Enzy membuatnya semakin kegelian, sambil berusaha menjauhkan kepala laki-laki itu dari perutnya.
"Makanya temenin, sayang ! Pinta Khay mendonggak menatap Enzy memperlihatkan wajah di buat seimut mungkin sambil memainkan pupy eyesnya.
Enzy geleng-geleng kepala melihat sikap manja suaminya itu, Enzy baru tahu kalau suaminya ini benar-benar sangat manja, jauh dari apa yang ia selama ini ia kira saat melihat bermanja-manja dengan ayah Kenan.
"Ya udah deh, yuk buruan ! Seru Enzy dengan terpaksa dari pada suaminya itu terus merengek membuatnya jengah sendiri mendengarnya.
Khay yang mendengar seruan istrinya itu langsung beranjak dari pembaringannya, lalu menarik tangan Enzy agar ikut berdiri.
__ADS_1
"Dasar manja." Cibir Enzy.
"Biarin manja sama istri sendiri mah bebas, enggak ada larangannya, emangnya kamu mau aku manja-manjanya sama perempuan lain ?" Ujar Khay menuntun Enzy ke tempat tidur.
Enzy mendwliy menatap tajam suaminya itu.
"Kamu berani ?" Tanya Enzy dingin.
"Enggak sayang, mana aku berani, macam aku galak banget soalnya, bisa habis aku sayang." Ucap Khay menarik wanita yang kini terlihat kesal itu ikut berbaring dengannya, lalu menarik selimut menutupi tubuh mereka.
"Siapa yang kamu bilang macan, hah ?" Tanya Enzy kesal.
"Enggak ada sayang, kamu bukan macan tapi....
"Tapi apa ? Kamu nyebelin tau enggak, sudah sana tidur sendiri aja." Seru Enzy melepaskan tangan Khay yang sejak tadi melingkar di pinggangnya.
"Maaf.... sini aku peluk lagi, entar kamu kedinginan, terus masuk angin, dari pada masuk angin, mending kemasukan aku sayang." Ucap Khay membuat Enzy langsung menoleh menatapnya tajam.
"Maaf, bercanda sayang..." Ujar Khay cepat sebelum istrinya itu benar-benar meninggalkannya tidur sendirian lagi seperti kemarin-kemarin.
Enzy yang tertidur menyamping menghadap suaminya sambil berbantalkan lengan pria itu, terus memperhatikannya yang sudah mulai memejamkan matanya, Enzy berpikir betapa sempurnanya makhluk ciptaan Tuhan ini, hidung yang mancung, bibir tipis kemerahan bahkan memiliki warna kulit yang cerah, di tambah lagi memiliki hati yang baik Enzy tak bisa pungkiri itu, tapi sifat masa lalu suaminya itu yang tidak ia sukai, dan belum benar merasa yakin jika pria yang kini berada disampingnya itu benar-benar telah berubah.
Tapi di samping itu semua Enzy juga berpikir kalau ia ingin menerima suaminya maka dia tak hanya menerima rasa cinta dan tanggung jawab laki-laki itu, tapi ia juga harus menerima jika suaminya menginginkan kebutuhan biologisnya.
Khay yang belum benar-benar tertidur membuka matanya saat mendengar suara istrinya sedang memanggilnya.
"Ada apa ?" Tanya Khay lembut menoleh menatapnya.
"Ak...ak...aku udah siap kok jadi istri kamu." Sahut Enzy.
"Khay yang tadinya tidur terlentang, langsung mengubah posisinya berhadapan dengan istrinya saat mendengarnya berkata seperti itu.
"Apa kamu yakin, tadi itu aku hanya bercanda doang kok." Ujar Khay tersenyum melihatnya.
Khay sadar bahwa istrinya itu belum siap sepenuhnya, apalagi ia tahu kalau istrinya ada trauma menyangkut hal seperti itu.
Kemudian Enzy menganggukkan kepalanya.
"Aku yakin, aku sadar sekarang aku adalah wanita bersuami, sudah seharusnya aku memenuhi kewajiban aku terhadap suami aku, terutama jika ia menginginkan kebutuhan biologisnya, walaupun aku masih belum sepenuhnya percaya sama kamu, tapi aku ikhlas memenuhi kewajiban aku sebagai istri kamu seutuhnya." Ucap Enzy yakin.
Khay yang mendengar ucapan istrinya itu jadi sangat senang dan terharu, Khay langsung mencium kening istrinya itu cukup lama, lalu memeluknya sangat erat.
"Terimakasih...Aku tidak akan berhenti mengucapkan kata terimakasih ku padamu, karena kamu sudah bersedia menerima dan memberiku kesempatan untuk menjadi istri dari seorang pria br***k sepertiku, aku janji, aku akan membuktikan kalau aku benar-benar ingin berubah, aku juga janji akan membuatmu terus bahagia berada di sisiku." Ucap Khay merasa sangat terharu, ia semakin mengeratkan pelukannya, tak lama Enzy pun membalas pelukan dari suaminya itu.
__ADS_1
Cukup lama mereka berpelukan, dan akhirnya Khay melepaskan pelukannya, ia beralih menangkup wajah mungil istrinya itu, ia tatap lekat manik mata hitam istrinya, kemudian beralih pada bibir tipis memerah Enzy, Khay semakin mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Enzy beberapa kali, lama kelamaan ia mulai me***tnya, Enzy yang sudah terbawa suasana mulai membalasnya, kemudian melingkarkan lengannya dileher khay yang entah sejak kapan Khay berada diatasnya.
"Sayang, apa kamu benar-benar sudah siap ? Jika tidak, aku tidak akan melanjutkannya, aku akan menunggumu sampai benar-benar siap." Ucap Khay di depan wajah Enzy.
Enzy yang merasa diperlakukan sangat lembut oleh suaminya sejak tadi, hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pertanda ia benar-benar sudah siap lahir batin.
"Aku sudah siap, dan ikhlas, lakukanlah !" Sahut Enzy.
"Aku akan pelan-pelan, jika kamu merasa kesakitan dan tidak sanggup kamu bisa menghentikan ku !" Ucap Khay sebelum kembali melanjutkan aktivitasnya, dan dibalas anggukan oleh Enzy.
Enzy merasa deg-degan, ini kali pertamanya melakukan itu, dan ia ingat bahwa saat pertama melakukannya akan terasa sangat sakit.
Saat Khay akan memulainya ke permainan intinya, Enzy me****as kuat lengan suaminya itu, sambil memejamkan matanya.
Khay yang melihat raut wajah istrinya itu, terus m****at bibit istrinya dan sengaja memberikan sentuhan-sentuhan sensual agar istrinya itu tetap rileks.
Khay mulai melakukannya dengan sangat lembut, walaupun seperti itu tetap membuat Enzy kesakitan, terlihat jelas dari raut wajah istrinya dan bulir bening yang keluar dari matanya. Sejenak Khay mengehentikan aktivitasnya, menatap istrinya lalu mengusap air matanya yang keluar.
"Maaf..." Ucap Khay mencium kening Enzy cukup lama.
"Tidak apa-apa lanjutkan saja !" Sahut Enzy serak.
"Aku akan pelan." Ucap Khay kemudian melanjutkan permainan panasnya, ini adalah kali pertama buat Enzy namun bukan untuk Khay, Khay sudah pernah melakukannya dengan kekasihnya dulu, namun itu ia lakukan karena ia tak sadar akibat mabuk.
Tapi berbeda saat ia melakukannya dengan istrinya, ia melakukannya dengan sangat sadar, kini dunianya dirasa benar-benar sangat berwarna.
Khay terus berterimakasih sambil menciumi wajah istrinya berkali-kali, setelah beberapa klimaks, membuat Enzy benar-benar kelelahan.
Khay ikut membaringkan tubuhnya di samping istrinya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya.
"Aku mencintaimu istriku." Ucap Khay menarik tangan istrinya lalu menciumnya.
Enzy hanya mengangguk menanggapi, sambil memejamkan matanya, Enzy benar-benar tak sanggup lagi walaupun hanya sekedar membuka matanya, badannya di rasa sudah remuk hingga ketulang, apalagi di bagian area sensitifnya, yang terasa sangat perih.
bersambung......
Haduhhhh haredang gaesss....🌚🌚🌚🙈🙈🙈
Like, Koment, da Vote...
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏😁😁😁😁
Love you all ❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘
__ADS_1