
Hay...Hay... Readers Author kembali membawa chapter selanjutnya mohon berikan LIKE KOMEN DAN VOTENYA....
...❤️ Happy reading ❤️...
Terlihah Kia dan Kemal jalan beriringan keluar kelas, sekarang sudah tiba waktunya pulang sekolah.
"Ki, kamu pulang di jemput om Kavi lagi ?" Tanya Kemal.
"Kagak, gue di jemput ayah gue." Jawab Kia sibuk dengan ponselnya, Kia sibuk mengirimkan pesan buat Kavi, kalau ayahnya yang akan menjemputnya.
Kemal sudah mengetahui perihal hubungan Kia juga Kavi, Kia sudah menceritakan semuanya, walaupun awalnya Kemal merasa sakit karena ia juga menaruh perasaan kepada sahabatnya itu, namun iya tak pernah memiliki keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya, karena sejak awal Kemal sudah tau dari awal perihal Kavi, tentu saja Raydan yang mengatakan itu semua.
Kini Kemal hanya bisa merelakan dan menutup rapat-rapat perasaannya itu, dia tak akan pernah mau Kia mengetahuinya, biarkan hanya Kemal dan Raydan mengetahui akan hal itu.
"Mal, gue duluan ya, ayah gue sudah ada di depan katanya." Pamit Kia menepuk punggung sahabatnya, saat keduanya tiba di parkiran khusus motor.
Saat tiba di depan gerbang Kia langsung melihat keberadaan mobil ayahnya, Kia segera berjalan lalu masuk ke dalam mobil.
"Ayah sejak tadi disini ?" Tanya Kia sambil memasang seatbeltnya.
"Enggak, Ini ayah baru juga sampai." Jawab Kenan tersenyum kearah putrinya itu.
"Bagaimana sekolahnya sayang ?" Lanjut Kenan bertanya kemudian mulai menjalankan mobilnya.
"Lancar-lancar aja yah." Jawab Kia.
"Yah, kenapa bunda tidak ikut bersama ayah ?" Tanya Kia.
"Bunda gak bisa ninggalin kak Enzy dek, kata dokter kandungannya kembali melemah." Terang Kenan.
"Ohhh, jadi bagaimana sekarang, apa kak Enzy baik-baik saja ?" Tanya Kia.
"Sekarang baik-baik saja, tapi bunda gakau ninggalin, takut terjadi apa-apa yang tidak di inginkan." Jelas Kenan.
"Emmm..." Kia mengaguk-anggukkan kepalanya.
Suasana mobil pun menjadi hening, dikala Kia tertidur, karena jalanan sedikit macet membuat Kia tak bisa menahan kantuknya.
Setelah melewati macet yang cukup panjang, akhirnya mobil Kenan tiba di rumah orangtuanya, terlihah di sana sudah ramai, sepertinya mertuanya juga sedang berada disana.
"Dek...dek.bangun sayang, kita sudah sampai !" Seru Kenan membangunkan Kia masih terlelap.
Karena tak kunjung bangun, Kenan turun dari mobil, kemudian berjalan menuju kursi penumpang, lalu ia menggendong putrinya itu.
"Assalamualaikum." Ucap Kenan disaat ia masuk sembari Kia yang berada di gendongannya ala bridal style.
"Astagaaaa, Kenan kau apakan cucuku ?" Pekik opa Salman melihat Kia berada dalam gendongan Kenan, tak lupa tatapan tajam yang di perlihatkan pria paruh baya itu.
"Astagafirullah yah, aku tidak mungkin berbuat yang tidak-tidak pada putriku, tadi adek tertidur saat diperjalanan, sampai terlelap seperti ini, makanya aku gendong." Jengah Kenan menjawab pertanyaan ayahnya itu.
Saat akan melanjutkannya langkahnya, membawa Kia ke kamarnya, tiba-tiba Kenan menangkap sosok pria yang sangat ia kenali, yang juga tengah menatapnya.
__ADS_1
Ya, Kavi sudah berada disana, tak lama saat kepergian Kenan untuk menjemput Kia.
Kenan maupun Kavi sama-sama terdiam saling menatap satu sama lain, Kenan menatap Kavi dengan tatapan datar, hubungan keduanya menjadi canggung, semenjak Kavi mengakui kalau ia menaruh hati pada putrinya.
"Yah, Bun, aku bawa adek dulu ke kamarnya." Pamit Kenan.
Tak lama Kenan kembali dari kamar Kia, Kenan langsung mendudukkan dirinya tepat di depan Kavi.
"Apa kabar tuan ?" Tanya Kavi berbicara formal kepada Kenan dan sedikit kikuk.
"Kamu masih menanyakan kabar saya, setelah apa yang telah terjadi." Sahut Kenan datar menatap Kavi.
"Maaf, tapi saya sudah pernah katakan sebelumnya pada Anda, apapun yang terjadi saya akan tetap mempertahankan juga memperjuangkan perasaan saya, dan berusaha untuk meyakinkan Anda juga Kia, kalau saya benar-benar serius dengan perasaan saya tuan." Ujar Kavi menegaskan.
"Sudahlah nak Kavi, saya percaya sama kamu, kalau kamu bisa menjaga dan bertanggung jawab atas cucu perempuan kami." Opa Salman ikut menimpali.
"Yah..." Seru Kenan pada ayahnya itu yang sejak kemarin seolah memusuhinya dan lebih berpihak pada Kavi.
"Kamu diam saja !" Opa Salman balik menyeruinya.
"Nak Kavi, bagaimana soal kerjasama antara kita ? Saya sudah menyiapkan dokumennya untuk berinvestasi di perusahaan kamu ?." Opa Salman mencoba mengalihkan pembicaraan.
Dan pengalihannya itulah sukses membuat Kenan kaget, ayahnya bahkan berinvestasi pada perusahaan Kavi, sementara Kenan sudah menarik semua investasinya pada perusahaan Kavi itu.
"Yah, aku mohon ayah jangan mengalihkan pembicaraan dulu, aku belum selesai." Ucap Kenan.
"Lagian buat apa ayah berinvestasi pada perusahaan Kavi, bukannya ayah akan hanya fokus pada perkebunan ?" Tanya Kenan.
"Yah, aku sudah mengambil keputusan perihal hubungan mereka." Ujar Kenan menatap semua orang yang ada disana, dan terakhir ia fokuskan pada Kavi.
"Keputusan apa maksud kamu ?" Tanya opa Salman.
"Saya sudah putuskan untuk menyetujui hubungan mereka." Jawab Kenan dengan wajah yang datar.
"Kavi dan yang lainnya mendengar penuturan Kenan tersebut merasa lega, akhirnya orang yang selama ini yang membentengi hubungan antara Kavi dan Kia sudah roboh.
"Tapi.... Kavi kamu dengan ini baik-baik saya tidak ingin mendengar putri saya yang selama ini saya jaga, merasa tersakiti ataupun bersedih, karena jika itu terjadi saya tidak akan berpikir dua kali untuk memisahkan kalian." Ujar Kenan menatap Kavi.
"Iya, saya berjanji saya akan selalu berusaha membuat Kia senyaman dan sebahagia mungkin, dan saya akan bertanggung jawab akan semuanya, termasuk konsekuensi jika saya sampai membuatnya tersakiti ataupun bersedih." Ucap Kavi bersungguh-sungguh.
"Jadi nak Kavi, karena Kenan sudah menyetujui hubungan kalian, langkah apa yang selanjutnya akan nak Kavi jalankan ?" Kini opa Fikram mulai ikut angkat bicara.
"Saya akan melamar setelah ia lulus nanti om." Jawab Kavi.
"Apa orangtuamu atau keluargamu sudah mengetahui soal ini ?" Tanyanya lagi.
"Tunggu, bukannya ini terlalu cepat, adek bahkan masih sangat muda, adek harus melanjutkan sekolahnya." Sahut Kenan.
"Tapi tuan, Anda tahu sendirikan umur saya sekarang, jika saya harus menunggu Kia menyelesaikan kuliahnya, bagaimana dengan saya." Ujar Kavi.
"Benar apa yang dikatakan nak Kavi, lebih cepat lebih baik, toh Kia walaupun sudah menikah ia tetap bisa melanjutkan kuliahnya." Timpal opa Salman.
__ADS_1
"Tapi yah..
"Apa lagi Kenan, kamu gak ingat kamu menikah diumur berapa, bahkan kamu dan Diva menikah di umur lebih muda dari Kia." Sela opa Salman.
"Tapi dulu dan sekarang beda yah."
"Beda apanya sih, Khay juga Enzy menikah diusia yang muda, apalagi yang jadi permasalahannya ? Lagian nak Kavi sudah cukup dewasa, jadi kamu jangan khawatir pasti nak Kavi bisa membimbing Kia kedepannya." Jengah opa Salman.
Belum sempat Kenan kembali berbicara tiba-tiba seseorang masuk sambil mengucapkan salam.
"Bunda ?" Ucap Kenan melihat istrinya datang.
"Kenapa kamu sekaget itu, apa kamu tidak suka jika aku datang kemari ?" Sinis Diva pada suaminya itu, sebenarnya Diva masih kesal dengan suaminya itu dengan sikap keposesifannya pada putri semata wayang mereka.
"Ehhh calon mantu, rupanya disini juga ternyata, apa kabar ?" Ujar Diva saat melihat Kavi berada disana, kemudian bertanya.
Kavi terkekeh mendengar ucapan Diva kemudian menjawab pertanyaan yang dilontarkan wanita paru baya itu namun terlihah masih sangat muda.
"Alhamdulillah saya baik." Jawab Kavi.
"Syukurlah, ehh... ngomong-ngomong putri kesayangan aku mana nih ?" Tanya Diva tak melihat keberadaan putrinya setelah menyalimi orangtua dan mertuanya, kecuali Kenan suaminya, Diva hanya mencebikkan bibirnya menatapnya.
Sebelum ada yang menjawab pertanyaannya, tiba-tiba Kia datang menuruni anak tangga dengan terburu-buru.
"Bunda." Teriak Kia langsung memeluk bundanya, menyalurkan semua rasa rindunya pada wanita yang telah melahirkannya itu.
"Astaga sayang, kamu hati-hati, bunda hampir saja terjatuh." Ucap Diva, pasalnya Diva masih berdiri di dekat Kenan.
"Aku kangen." Ucap Kia bergelayut manja di lengan bundanya.
"Bunda juga kangen, kangen banget malah, rumah jadi sepi kalau gak ada kamu sayang." Ucap Diva kemudian membawa putrinya itu duduk di apik Kenan dan dirinya, jadilah Kia duduk diantara kedua orangtuanya.
"Eh... ngomong-ngomong kak Enzy gimana Bun, kata ayah kandungnya lemah ?" Tanya Kia.
"Sekarang sudah lebih baik, dia juga sudah mulai masuk kuliah lagi, hanya saja gak boleh terlalu banyak gerak dan kecapean." Jelas Diva.
Mereka semua kembali membicarakan soal kelanjutan hubungan Kia dan Kavi, Kenan dan Kavi pun mulai sedikit lebih menghangat, dan tak secanggung tadi, dan sudah tak berbicara dengan formal lagi.
Bersambung........
Like
Komentar
Vote
Jangan lupa juga mampir di karya baru author
...TERIMAKASIH...
__ADS_1
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...