Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
Episode 84


__ADS_3

Kini menunjukkan pukul 21:00 Waktu Singapore, orangtua Diva dan juga Bunda Vivian sudah kembali ke apartemen 30 menit yang lalu, sedangkan Jova akan menginap di rumah sakit karena malas pulang ke apartemennya.


Diva sempat menolak Jova untuk menginap, ia tidak mau merepotkan Sahabatnya itu, karena jika menginap pasti Jova merasa tidak nyaman, pikir Diva.


Jova tetap memaksa dan merengek kepada Diva supaya Diva mengijinkannya.


Sampai Para Bunda angkat bicara, supaya Diva mau mengijinkan Jova untuk menginap.


"Ada baiknya juga kalau Jova menginap Sayang, soalnya Bunda malam ini tidak bisa untuk menginap, Bunda sedikit merasa pusing, dan tidak enak badan !" Ucap Bunda Vivian.


"Iya sayang, sekalian buat nemenin kamu !" Tambah Bunda Hani.


Mau tak mau Diva terpaksa mengijinkan Sahabatnya itu ikut menginap, bukannya ia tak suka, tapi Diva merasa tak enak hati.


Kini Diva dan Jova duduk di sofa sibuk memainkan ponsel masing-masing, Diva menyandarkan badannya di sofa dengan posisi setengah berbaring sambil meluruskan kakinya. Sedangkan Kenan sudah kembali ketempat tidur setelah kepergian para orangtua.


Tiba-tiba ponsel Diva berdering tanda panggilan video dari Hera.


"Jov, Hera video call !" Ujar Diva kemudian Jova berpindah di samping Diva, lalu menurunkan kaki Diva dari sofa, supaya ia bisa duduk.


πŸ“± Diva & Jova : Assalamualaikum.


πŸ“± Hera : Walaikumsalam, Eh ... Jov, kok elu bisa bareng Diva, bukannya elu Di Singapore ?"


πŸ“± Diva : Iya Her, Gue sama keluarga lagi Di Singapore.


πŸ“± Hera : Ngapain, Cie .... Bulan madu ya ? Hera menggoda Diva.


Diva terlihat ragu menjawab pertanyaan Sahabatnya itu, kemudian melihat kearah Kenan yang ternyata juga melihatnya, Kenan mengagukkan kepala pertanda ia setuju Diva menceritakan yang sebenarnya. Kemudian Kenan segera turun dan menghampiri Diva dan Jova.


πŸ“± Diva : Kami tidak sedang berbulan madu, ya kali... Sudah hampir setahun juga kita menikah. Kami di sini karena Kenan sedang menjalani perawatan. Diva pun menceritakan kepada Hera tentang penyakit yang Kenan derita saat ini.


πŸ“± Hera : Astagfirullah, Gue turut prihatin, dan maaf gue nggak bisa jengukin kalian.


Dan terdengar seorang pria menyapa Hera, dan suara pria itu sangat Diva kenal.


πŸ“± Diva : Her, itu siapa, suaranya seperti tidak asing di telinga gue ?


Hera berpindah duduk ke samping pria tersebut, di sebuah sofa tampak mereka sedang berada di dalam cafe, dan betapa terkejutnya Diva saat melihat sosok pria yang sangat ia kenal.


πŸ“± Diva : Rafa ? Pekik Diva menutup mulutnya tak percaya, dan hanya mendapat senyuman dan lambaian tangan dari Rafa.


πŸ“± Jova : Kok kalian bisa barengan ? Tanya Jova Heboh.


πŸ“± Hera : Iya, ternyata kami satu universitas, dan lucunya, setelah tiga bulan kami berada di universitas yang sama, baru satu bulan ini kami ketemu. Terang Hera.


πŸ“± Diva : Raf, Apa kabar ?


πŸ“± Rafa : Alhamdulillah, seperti yang elu liat Div.


πŸ“± Diva : Sudahlah Raf, jangan terlalu terpuruk dengan masalah yang telah lalu, cobalah mulai menata hati dengan hati yang baru.


πŸ“± Rafa : Gue sedang mencobanya Div.


πŸ“± Diva : Baguslah, sepertinya kalian cocok.


πŸ“± Hera : Apasih Div, jangan ngaco ! Eh ... Jova mana, main kabur aja dia ?

__ADS_1


πŸ“± Diva : Ke toilet, katanya kebelet.


πŸ“± Rafa : Kok elu bisa berengan si Jova, bukannya Jova di Singapore ?


πŸ“± Diva : Iya, gue di Singapore, Kenan menjalani pengobatan intensif. Diva kembali menceritakan tentang Kenan.


πŸ“± Rafa : Gue turut prihatin, terus Laki elu mana ?


Diva berpindah kesamping Kenan, yang sedang duduk di sofa depan Diva.


πŸ“± Kenan : Apa kabar ?


πŸ“± Rafa : Baik, Elu cepat sembuh, dan sorry gue nggak bisa berkunjung kesana !


πŸ“± Kenan : Tidak apa-apa, gimana kuliahnya ?


πŸ“± Rafa : Alhamdulillah lancar bro, Diva sayang sepertinya elu gemukan, liat tu pipi elu mirip bakpao tau nggak.


Kenan langsung memberikan tatapan membunuhnya kepada Rafa, yang berani memanggil istrinya dengan kata sayang.


πŸ“± Kenan : Kagak usah manggil sayang !


πŸ“± Rafa : Hahaha... Masih posesif aja lu Nan.


πŸ“± Hera : Iya Div, elu sekarang gemukan, tidak cacingan lagi seperti dulu." Rafa langsung mengangguk setuju dengan ucapan Hera.


πŸ“± Diva : Enak aja bilang gue cacingan, pengen di Santet online kalian.


πŸ“± Kenan : Jangan bicara sembarangan ! Dia jadi gemuk, dan punya perut buntal, itu karena hasil karya gue.


Dan mendapatkan Jawaban anggukan dari Kenan dan Diva.


πŸ“± Jova : Makanya kalau ada waktu pulang, kita kumpul bareng di nikahan Ray dan Lani, ingat Tiga Minggu lagi mereka nikah ! Timpal Jova di belakang Kenan dan Diva.


πŸ“± Hera : Iya insyaallah, Gue pulang. kalau elu Raf ?


πŸ“± Rafa : Gue akan usahakan juga buat pulang.


πŸ“± Hera : Oh iya, nanti kita telponan lagi, gue ke kampus dulu, soalnya bentar lagi mata kuliah gue "


Saat ini tempat Hera dan Rafa masih pukul sembilan pagi, dan mereka sedang sarapan bersama di sebuah cafe.


Perbedaan waktu antara Singapore dan New York adalah 12 jam.


πŸ€πŸ€πŸ€


Satu minggu kemudian, Kenan masih menjalani kemoterapi, namun ia sudah tidak harus tinggal di rumah sakit, karena pemberian obat-obatan melalui cairan infus sudah tidak lagi, hanya obat-obatan tablet saja yang saat ini ia konsumsi rutin, Dan hanya menjalani kemoterapi tiga kali seminggu.


Kenan maupun Diva saat ini sedang duduk bersantai di sebuah sofa panjang yang berada di balkon kamar apartemennya, sambil menikmati pemandangan kota Singapore di sore itu.


Diva merasa sedikit merasa pegal di bagian pinggangnya, karena Kelamaan duduk dengan perutnya yang semakin membuncit. Walau kehamilannya baru berusia 4 Bulan tapi perut Diva sudah terlihat membesar, kata Dokter karena nafsu makan Diva yang berlebihan sehingga perut Diva lebih besar dari usia kehamilan yang sebenarnya, karena bayinya berkembang sangat baik karena banyaknya nutrisi yang masuk.


Diva membaringkan tubuhnya dengan berbantalkan paha sang suami, Kenan tersenyum kemudian menundukkan kepalanya mencium kening dan bibir Diva sekilas.


"Yank, Kangen ." Ucap Kenan masih menunduk menatap wajah cubby Diva.


Diva memiringkan badannya menghadap Kenan, lalu memeluk pinggang suaminya itu.

__ADS_1


"Aku juga kangen by'. Lirih Diva membenamkan wajahnya di perut Kenan yang sudah tidak sesixpack dulu.


Kenan membalikkan tubuh Diva kembali menghadap keatas untuk melihatnya. Kenan mendekatkan wajahnya ke wajah Diva.


Entah sejak kapan mereka sudah saling me****t saling meluapkan kerinduan mereka.


Kenan melepaskan ciumannya setelah merasa oksigen mereka sudah mulai menipis. dari tatapan Kenan sudah terlihat di selimuti gairah.


"Kita pindah ketempat tidur yuk Yank !" Ajak Kenan.


"Emang kamu sudah bisa by' ?" Diva sedikit ragu, dan juga takut jangan sampai suaminya itu kelelahan.


"Kan bukan itu yang sakit Yank !" Kenan langsung mengangkat tubuh Diva masuk kedalam, dan membaringkan di tempat tidur dengan sangat hati-hati.


Tanpa pikir panjang lagi Kenan langsung melancarkan aksinya, tanpa mereka sadari pakaian mereka sudah berceceran di lantai kamar. Sepasang suami istri muda itu sudah larut dengan permainan mereka di sore itu. Walaupun Kenan sangat bergairah, karena sudah lama tidak melakukannya, tapi dia tidak mau melakukannya dengan tergesa-gesa, karena ia tidak mau sampai menyakiti anaknya yang masih berada di dalam perut istrinya, dan jangan sampai Diva juga merasa tidak nyaman. Kenan melakukannya sangat hati-hati dan lembut.


Setelah meluapkan rasa rindu mereka dengan pergulatan panasnya, Kenan ikut merebahkan badannya di samping Diva yang mencoba menetralkan nafasnya begitupun dengan Kenan.


"I Love You My Wife." Ucap Kenan mencium kening Diva kemudian turun ke perut buncit Diva.


"I Love You To My Hubby." Balas Diva mengusap rahang suaminya.


Kenan sedikit mendudukkan dirinya di samping tubuh polos Diva yang hanya di tutupi selimut, kemudian menunduk di depan perut sang istri.


"Baby maaf jika Ayah menyakiti mu, baby baik-baik ya di dalam perut Bunda, jangan nakal juga, Ayah sayang kalian !" Ucap Kenan mengusap perut Diva kemudian mengecupnya.


Saat Kenan mendaratkan bibir di perut Diva, tiba-tiba ada pergerakan di perut Diva seperti menendang.


"Yank, Perut kamu gerak seperti ketendang gitu." Panik Kenan.


"Iya by', aku juga merasakan tadi." Diva ikut khawatir.


Kenan segera turun dari tempat tidur mengambil pakaian Diva yang berserakan di lantai.


"Yank, pakai dulu pakaiannya, aku panggil Bunda sama Ayah dulu !" Ujar Kenan membantu Diva bengun dan membantu Diva memakai pakaiannya, kemudian menyandarkan Diva di kepala tempat tidur.


"Jangan banyak gerak yank !" Ucap Kenan kemudian keluar dari kamar menuju lantai dua dimana kamar orangtuanya berada.


Diva menatap punggung Kenan sampai menghilang di ambang pintu, Diva sangat khawatir karena kembali merasakan pergerakan di dalam perutnya.


Bersambung.....


Bagaimana Gengs... Sudah puas belum, dan Mohon beri saran untuk kehidupan rumahtangga Kenan dan Diva kedepannya... Jujur Pikiran aku lagi ngeblank banget....πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜Š


Jangan lupa juga jejak dukungan dari kalian para pembaca yang tercinta


Like πŸ‘


Coment πŸ’¬


Vote✨


Favorit ❀️


Terimakasih atas dukungan kalian πŸ™πŸ™πŸ™


FlyKiss buat kalian semua πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜β€οΈβ€οΈβ€οΈ

__ADS_1


__ADS_2