
Kia tiba di rumahnya, saat memasuki gerbang, ia melihat sebuah mobil Jenis sedan BMW berwarna hitam, yang sama persis dengan mobil yang ia tabrak tadi, namun ia tak bisa begitu memperhatikannya, karena ia langsung memarkirkan motornya agak jauh dari mobil tersebut.
"Non, itu motornya kenapa ?" Tanya pak Wawan tukang kebun di kediaman keluarga Kenan.
"Tadi ada sedikit insiden mang, tapi enggak apa-apa kok, dan tolong ini jangan sampai bunda tau, apalagi ayah." Jelas Kia.
"Oh iya mang, itu mobil siapa, apa ada tamu ?" Tanya Kia.
"Oh, itu mobil milik tamu tuan, non." Jawab mang Wawan.
Kia hanya mengangguk, kemudian masuk ke dalam rumah, setelah pamit kepada mang Wawan.
Seperti biasa Kia langsung masuk begitu saja sambil berteriak mengucapkan salam, ia lupa kalau dirumahnya sedang ada tamu.
"Assalamualaikum, bunda, ayah prices kalian udah pul...." Teriakan Kia terhenti saat melihat tamu ayahnya itu, yang kini menatapnya sambil tersenyum menyeramkan.
Sedangkan Kenan diam menatap tajam putrinya itu, begitupun dengan Diva lalu beranjak menghampiri putrinya itu.
"Apa-apaan kamu ini hah, apa kamu tidak bisa liat kalau di rumah sedang ada tamu." Geram Diva berbisik, sambil memegang kuat lengan putrinya itu.
"Maaf Bun, aku...
"Sudah jangan ngeles lagi, sekarang kamu Salim sama teman ayah !" Sela Diva lalu ikut duduk dengan senyum serama mungkin kepada tamunya itu.
"Dia kok bisa disini, dan apa bunda bilang, dia teman ayah, duhhh gimana kalau si tua Bangka ini ngadu ke ayah, bisa habis motor-motor gue..." Batin Kia, ia masih berdiri mematung memikirkan nasibnya jika orang itu cerita kepada orangtuanya soal kejadian tadi.
"Kia." Seru Kenan dingin.
"Ah..iya Yah, ada apa ?" Kia sadar dari lamunannya saat mendengar ayahnya memanggilnya, dan Kia meneguk ludahnya kasar saat melihat tatapan tajam ayahnya itu.
"Salim dulu, dia teman ayah, Om Kavindra Gayland." Seru Kenan lagi.
Kia mendekat, lalu mengulurkan tangannya yang langsung di terima oleh pria yang mobilnya ia tabrak tadi saat pulang sekolah, ia benar-benar tak menyangka orang ini adalah teman ayahnya.
"Hay Om." Ucap Kia menyalimi Kavi lalu mencium punggung tangan pria itu.
"Panggil saja Om Kavi." Sahut Kavi sambil menahan senyumnya, sedikit mengeratkan genggaman tangannya saat Kia menyalaminya.
Kia menarik tangannya, kemudian pamit untuk masuk ke kamarnya. Setelah mendapat anggukan Kia langsung melangkahkan kakinya, namun baru satu langkah tiba-tiba Kavi angkat bicara membuat Kia menghentikan langkahnya, lalu kembali berbalik.
"Oh iya Nan, apa kamu tinggal di luar negeri selama ini ? Tanya Kavi sengaja menyindir Kia.
"Kamu tau dari mana hal itu ? Kami memang sering ke luar negeri terutama Singapore, karena disana juga ada bisnis kami, tapi untuk tinggal kami paling lama hanya beberapa hari saja, paling lama semingguan." Jelas Kenan.
"Oh, saya pernah dengar kalau kalian tinggal di luar negeri." Ucap Kavi lagi-lagi menyindir Kia.
"Kurang asem nih om-om." Batin Kia geram sambil menatap Kavi, yang kebetulan pria itu juga melihatnya sambil tersenyum mengejek.
"Oh iya Nan, saya mau tanya, apa kamu ada kenalan bengkel ?" Tanya Kavi.
"Ada, emang kenapa ?" Tanya balik Kenan.
__ADS_1
"Mobil saya habis kena tabrak saat perjalanan kesini." Sahut Kavi.
"Terus apa urusan kamu dengan orang yang menabrak kamu selesai ?" Tanya Kenan penasaran.
"Sudah saya kantongi nomor ponselnya, tadi saya ingin menghubungi orangtuanya untuk membicarakan masalah ini, namun anak itu mengatakan kalau orangtuanya tinggal diluar negeri." Jelas Kavi.
"Maksud kamu anak, yang menabrak kamu itu masih anak-anak ?" Tanya Kenan makin penasaran.
"Apa-apaan sih ayah pake kepo segala." Gerutu Kia dalam hati.
"Iya, sepertinya dia masih pelajar kalau dilihat dari seragamnya, dan dia juga seorang gadis, tapi dia terlihat seperti bukan gadis, bawanya moge, jenis Ducati lagi." Jelas Kavi sesekali melirik Kia sambil tersenyum mengejek.
"Siapa nama gadis itu, soalnya Kia bawanya moge juga." Imbuh Kenan.
"Apa ? Gadis sekecil ini bawa moge, yang benar ?" Tanya Kavi pura-pura kaget.
"Iya. Oh iya tadi kamu belum jawab pertanyaan saya." Kenan kembali menanyakan pertanyaannya.
"Oh namanya....." Kavi mengantungkan ucapannya berpura-pura mencoba untuk mengingat-ingat, sambil menatap Kia.
Sementara Kia menampakkan wajah memelasnya, meminta agar tak memberitahukan ayahnya, Kavi hanya tersenyum smirk melihat Kia memohon seperti itu.
"Sepertinya saya lupa menanyakan namanya." Ucap Kavi.
"Apa dia ?" Tanya Kenan melihat ke arah Kia sejenak lalu kembali melihat Kavi.
"Bukan." Jawab Kavi membuat Kenan dan Diva mengehembuskan nafas leganya, ia benar-benar sempat khawatir jika yang menabrak Kavi adalah Kia.
Kavindra Gayland, seorang pengusaha di industri pertelevisia nomor satu di negara ini, walaupun umurnya beda jauh dengan Kenan sampai terpaut 8 Tahunan, tapi ia dan Kenan sangat berteman baik, sejak Kenan tampil di stasiun televisi miliknya, sebagai bintang tamu disalah satu acara di reality show, saat itu Kavi masih bekerja sebagai produser acara tersebut, dan ia sangat mengagumi sosok Kenan sebagai pengusaha sukses se Asia apalagi saat Kavi mendengar cerita perjalanan kesuksesan Kenan kalau Kenan sukses di usia yang masih sangat muda, yaitu sejak duduk di bangku sekolah menengah atas, walaupun orangtuanya seorang pengusaha sukses, tapi ia tak pernah mengharapkan apa yang dimiliki keluarganya, Kenan ingin menikmati kesuksesannya sendiri, karena itu memiliki rasa kepuasan sendiri.
Setelah acara reality show selesai Kavi sengaja menemui Kenan di bastect, disanalah mereka banyak mengobrol dan belajar, Kavi menjadikan Kenan sebagai panutannya. Apalagi melihat Kenan sangat terbuka dan mau berbagi ilmu. Hingga ia bisa menggantikan orangtuanya untuk meneruskan perusahaan milik keluarganya. Kenan juga sudah berinvestasi di perusahaan miliknya sejak ia menjabat sebagai CEO.
...----------------...
Sore harinya, Kia duduk di balkon kamarnya, sambil memainkan ponselnya, tiba-tiba ada sebuah notif chat masuk dari nomor yang tidak ia kenal.
💌 "Berterimakasih lah padaku !"
Kia mengerutkan keningnya membaca pesan tersebut, ia bingung siapa yang mengirimkan pesan seperti itu untuknya. kemudian ia membalasnya.
💌 "Siapa ?"
Tak lama pesan kembali masuk.
*💌 "Kavi.
💌 "Maksudnya On Kavi, buat apa saya berterimakasih ?
💌 "Apa kamu sudah lupa saya tidak mengadukanmu dengan ayahmu.
💌 "Jangan Om ! Terimakasih karena tidak mengadukanku.
__ADS_1
💌 "Saya tidak butuh kata terimakasih mu, sebagai rasa terimakasih mu besok kamu datang di kantorku !!
💌 "Buat apa 😒😒
💌 "Pokoknya besok kamu datang saja !
💌 "👍👍😒😒
💌 "Jam setelah kamu pulang sekolah.
💌 "Emm*
Setelah berbalas pesan, Kia beranjak dari duduknya, lalu turun menuju dapur, saat masuk dapur disana sudah ada Diva sedang memasak untuk makan malam mereka.
"Kamu kenapa dek, keknya kesal gitu ?" Tanya Diva melihat raut wajah putrinya itu.
"Enggak apa-apa Bun, hanya saja aku ketemu kakek-kakek gila dijalan, buat mood aku ancur aja." Ucap Kia kesal lalu membuka lemari es, mengambil susu berkemasan kotak.
"Kamu enggak boleh gitu dek." Ucap Diva.
"Oh iya dek, motor kamu kenapa ?" Tanya Diva.
"Emangnya kenapa Bun ?" Tanya balik Kia.
"Tadi pak Nino membawanya di bengkel, katanya kamu yang suru, emang ada apa ?" Tanya Diva.
"Oh...itu..itu mau di service Bun, dan kebetulan ada onderdilnya yang mesti aku ganti juga." Jelas Kia berbohong.
"Biasanya juga di service dirumah aja dek."
"Sekarang enggak bisa Bun, soalnya ada yang mesti di perbaiki juga, dan kebetulan alat-alatnya enggak tersedia dirumah."
"Oh, yasudah mending kamu bantuin bunda masak, daripada nganggur gitu tangannya." Imbuh Diva memberikan beberapa dedaunan untuk di bikin sayur.
"Ini buat apa Bun ?" Tanya Kia mengangkat seikat dedaunan itu.
"Ya buat sayur dong, kamu potong-potong aja, seprti ini !" Seru Diva memberikan contoh cara memisahkan daun dan tangkainya.
Kia pun membantu bundanya itu menyiapkan makan malam, walaupun Kia malah sering buat Diva mengomel karena kesalahan-kesalahan Kia, contohnya saja saat Kia disuruh menggoreng ayam, dan ayam tersebut dibuat gosong.
Bersambung........
Jangan lupa terus like' Komen dan Vote
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏
Love you all ❤️❤️❤️🤗🤗🤗😘😘😘
Visual Kavindra Gayland
__ADS_1