
"Hallo Bu, Andin minta ijin malam ini pulang agak telat bu. Andin masih harus menemani Ricko meeting karena Andit sedang ada kerjaan lain diluar kota. Ibu tidak apa apa kan sendirian dirumah?"
Andin terpaksa menelfon Bu Salma karena jadwal meeting yang seharusnya dilakukan sore hari mendadak dimundurkan karena yang bersangkutan masih berada dalam perjalanan kembali dari luar kota.
"Tak apa nak, Nanti ibu akan tidur lebih awal saja. Kamu jangan lupa untuk makan malam ya nak. Jaga kesehatanmu, jangan terlalu memforsir diri untuk bekerja."
"Iya bu, InsyaAllah Andin akan selalu ingat pesan ibu."
Lega rasanya setelah menghubungi ibu mertuanya. Sejak dua jam lalu Andin berusaha menghubungi nomer suaminya namun nomer tersebut sedang tidak aktif. Akhirnya Andin hanya bisa meminta ijin melalui pesan singkat seperti biasanya. Tak ada tanggapan apapun. Bahkan sampai detik dimana Andin menginjakkan kakinya di salah satu restaurant ternama yang menjadi tempat meeting pun, pesan tersebut belum lah terbaca.
Pada akhirnya Andin memilih fokus pada meeting yang dilakukannya bersama Ricko.
Sementara itu di sebuah meja yang terhalang empat meja dengan meja yang sedang diduduki oleh Andin Dan Ricko. Reza juga sedang melakukan pertemuan dengan rekan bisnisnya. Lelaki itu telah menyelesaikan meetingnya beberapa menit setelah Andin datang.
Reza menatap tak berkedip ke arah istrinya yang nampak cantik dengan balutan blazer yang dia kenakan. Satu hal yang selama beberapa bulan belum pernah dia lihat dari sang istri.
Reza mengalihkan pandangan ketika dirasa Andin akan menoleh ke arahnya. Lelaki itu berusaha profesional dengan rekan bisnisnya. Walau tak dapat dipungkiri, matanya selalu saja mencuri kesempatan melirik kearah sang istri berada.
"Baiklah Tuan Reza, kita sudahi saja pertemuan ini. Senang sekali bisa berbincang dengan anda."
"Sama sama, saya juga berterima kasih atas waktunya Tuan Alexsi."
Reza menyambut uluran tangan rekan kerjanya untuk bisnis restaurant yang sedang dirintisnya diluar perusahaan yang dipegangnya.
Sepeninggal Alex, Reza kembali mendudukkan diri di tempatnya. Matanya masih senang memandang ke arah sang istri berada. Andin yang sedang fokus dengan tablet nya mencatat semua poin penting dalam meeting terlihat sangat cekatan.
Reaza mengusap kasar wajahnya. Dia tiba tiba merasa kesal karena Andin tidak minta ijin padanya untuk pergi keluar rumah seperti biasa. Dengan kasar diraihnya ponsel yang tersimpan dibalik saku jasnya.
"Si@l, ponselku kehabisan daya." Umpat lelaki itu kesal.
"Sepertinya aku akan menunggunya pulang. Awas saja, dia sudah berani keluar rumah tanpa seijin ku bahkan sampai makan malam dengan lelaki lain."
Reza berjalan keluar resto dengan tergesa. Dia akan bersabar menunggu hingga istri kecilnya pulang. Andin yang seperti melihat bayangan suaminya segera mengedarkan pandangan. Namun tak dilihatnya sosok yang dia cari berada disana.
__ADS_1
"Ada apa kak?"
"Ti.. tidak apa apa. Hanya saja aku seperti melihat mas Reza tadi."
Andin menunduk setelah mengatakan hal itu. Ricko tersenyum, pemuda itu tau bahwa kakak iparnya ini selalu menjunjung tinggi keberadaan sang suami.
"Bisa jadi kakak sedang merindukannya." Ucap Ricko seraya beranjak dari duduknya.
Mobil yang ditumpangi Ricko melaju pelan meninggalkan pelataran parkir restauran. Tidak ada percakapan berarti selama perjalanan diantara mereka.
Ricko sendiri tenggelam dalam lamunannya. Tadi sekilas dia melihat keberadaan sepupunya dalam restauran yang sama dengan mereka. Namun dia tidak memberitahukan hal tersebut kepada Andin.
Sementara itu, Reza yang telah sampai dirumahnya segera memasukan mobilnya dalam garasi. Pria itu pun melangkahkan kaki dengan tergesa menuju kamarnya. Di langkahkan kakinya langsung menuju kamar mandi.
Reza menguyur kepalanya dengan air dingin. Beberapa waktu ini banyak sekali masalah yang harus dia pecahkan, dan itu sangat membuatnya pusing.
Perusahaan keluarganya terancam bangkrut jika dirinya tidak segera mendapatkan investor baru. produk andalan yang bahkan belum diluncurkan perusahaannya malah telah beredar lebih dulu dipasaran sebelum dia memulainya. Entah kebetulan atau memang ada pihak yang sengaja menikung nya Reza tidak tau. Namun setahun terakhir ini sering terjadi kebocoran kebocoran yang belum bisa ia pecahkan hingga kini.
Ditambah lagi dengan kebiasaan Jihan sang kekasih yang selalu hoby berbelanja dan berwisata membuat tagihan kartu kreditnya selalu mencapai limit setiap bulannya.
Reza segera menyudahi acara mandinya ketika mengingat keberadaan sang istri. Seharusnya wanita itu telah kembali kerumah melihat jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Dengan hanya memaka badrobe,Reza keluar dari kamar mandi. Langkahnya yang menuju tempat dimana lemari pakaiannya berada terhenti, ketika pendengarannya menangkap suara mobil berhenti didepan gerbang rumahnya.
Di langkahkan kakinya menuju jendela kamar. Dibalik tirai jendela diperhatikan nya interaksi Andin dengan sang sepupu.
Senyum mengembang tersungging indah dibibir Andin saat melangkahkan kakinya memasuki rumah. Keberadaan mobil Ricko yang tak kunjung berlalu dari halaman rumahnya membuat Reza mengepalkan tangannya.
Sementa Ricko. Sesaat setelah Andin melangkah masuk ponsel dalam sakunya berdering.
Setelah mengakhiri panggilannya Ricko bergegas melajukan kembali mobilnya, setelah memastikan bahwa Andin masuk ke dalam rumah.
Andin menghempaskan tubuhnya dikarpet kamarnya. Penat dirasakan bukan hanya dari tubuhnya, otaknya pun terasa lelah. Kepalanya bersandar pada pinggiran tempat tidur, matanya terpejam mencoba merilexkan diri. Gadis itu tidak menyadari keberadaan suaminya, yang sedari tadi memperhatikan gerak gariknya dari sofa diujung kamar.
__ADS_1
Lama Reza terdiam, matanya tetap fokus memperhatikan Andin yang masih terpejam. Andin yang mengubah posisinya menjadi terduduk, menyangga dagunya dengan sebelah lengan. Dia masih memikirkan tentang suaminya, yang diyakini tadi berada dalam ruangan yang sama dengannya.
Reza yang penasaran akhirnya bangkit dan berjalan ke arah Andin yang sontak menoleh karena pergerakannya.
"Lo mas Reza sudah pulang?" Reflek Andin berdiri melihat Reza melangkah kearahnya.
Jujur hatinya berdebar melihat tatapan tajam yang suaminya berikan.
"Kemana kamu sampai jam segini baru pulang?"
"Ak.. aku habis menemani Ricko meeting mas."
"Meeting? perlu sampai selarut ini? apa kamu tak bisa melihat jam?"
Andin menundukkan wajahnya. Dia sama sekali tidak berani menatap kearah suaminya yang berdiri tegak didepannya.
"Kenapa diam?"
"Tadi sehabis meeting dilanjutkan dengan makan malam mas. Aku tidak enak jika harus berpamitan pulang duluan."
Reza menarik nafas, setidaknya dia bersyukur bahwa istrinya tidak berbohong padanya.
"Kenapa tidak meminta ijin padaku?"
"Aku sudah menelfon mas tadi siang. Tapi ponsel mas tidak bisa dihubungi. Aku juga mengirim pesan.. tap.."
Andin tidak mampu berkata kata lagi. Dipandangi nya wajah sang suami yang berada tepat didepannya. Mata yang menyorot tajam kearahnya terlihat sangat menakutkan. Reza yang sedari tadi tidak melepaskan pandangannya pada bibir Andin yang bergerak seiring dia berbicara akhirnya luluh juga.
Diraihnya dengan cepat tubuh sang istri mendekat. Dengan cepat pula disesapnya bibir yang sedari tadi melambai kearahnya untuk disentuh.
Andin yang tak siap dengan gerakan cepat suaminya karuan kelagapan mendapat serangan mendadak itu. Tubuhnya berdiri kaku, tak ada balasan apapun dari Andin karena gadis itu memang tidak terbiasa melakukannya.
Tangan Reza pun tak tinggal diam. Dibukanya blazer yang membalut tubuh sang istri sedikit tergesa. Andin sedikit meronta namun cekalan pada tangan dan tatapan tajam Reza membuatnya kembali terdiam.
__ADS_1
Reza mengangkat tubuh Andin keatas tempat tidur dan kembali memulai serangannya. Andin ingin melawan namun dia juga sadar akan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Aku menginginkanmu" bisik Reza pelan sambil mencium dalam aroma tubuh Andin yang terbaring lemah dalam dekapannya.