PERPISAHAN

PERPISAHAN
Hilang


__ADS_3

Pembahasan ulet dalam rapat dengan relasi dalam kerjasama perusahaan dengan sebuah konveksi sangat menyita energi dan pikiranku.


Sungguh aku sangat lelah, disaat seperti ini aku membutuhkan asupan yang bisa membangkitkan semangat ku. Namun semua tak aku dapatkan karena Jihan yang menjadi tumpuan ku melepas lelah berpamitan pergi berlibur bersama teman temannya, membuatku mengerang frustasi.


Pada akhirnya aku memilih pergi ke club hanya sekedar melepas penat ku.


Tak ada teman yang bisa aku cari hanya sekedar untuk bercerita. Karena aku adalah pribadi yang suka memilih teman.


Ku tegak minuman yang ku pesan, rasa panas segera menyeruak dalam tenggorokanku. Aku tidak berniat untuk mabuk, hanya saja aku ingin menghilangkan penat dan pusing di kepalaku yang seharian ini rasanya mau pecah.


Dalam keadaan begini aku sangat membutuhkan kehadiran Jihan. Biasanya wanita itu akan selalu ada untuk membantu ku mengusir penat ini bahkan akan membuatku melayang dengan segala sentuhannya.


Ku tegak lagi minuman yang mengisi gelasku, entah ini sudah yang keberapa.



Andin



Ku lirik jam yang menggantung di dinding, kembali ku hela nafas berat. Waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam, namun sampai detik ini pun belum terlihat tanda tanda suamiku akan pulang.



"Mungkin dia tidak pulang lagi malam ini" gumamku pelan.



Seharusnya aku memang tak perlu menunggunya. Andin beranjak mengganti bajunya dengan piyama, lalu beranjak naik ke atas kasur.



Walaupun selama ini Reza pulang kerumah namun tak pernah sekalipun dia tidur di tempat tidurnya. Reza akan lebih memilih untuk tidur disofa atau dikasur lantai darurat yang dia beli beberapa hari setelah kepulangannya berlibur bersama Jihan diawal pernikahannya.



Cek lek



Reza yang baru saja masuk kedalam kamarnya tertegun melihat sosok tubuh yang tergolek ditengah ranjang dengan selimut yang menutup hingga atas dadanya.

__ADS_1



Pengaruh alkohol membuat penglihatannya kurang fokus.



Dengan tergesa Reza melangkah mendekat ke arah ranjang. Tanpa berpikir ulang, dia menyergap tubuh yang sedang terlelap itu tanpa ampun.



Adzan subuh berkumandang, alarm dalam ponsel Andin berbunyi memekakkan telinga. Namun sang empunya masih terlena dalam dekapan sepasang tangan kokoh yang semalaman tadi memeluknya erat.


Tubuh yang lemas seakan kehilangan tenaga membuat Andin benar benar tertidur pulas. Reza yang merasa terganggu dengan bunyi alarm mengernyapkan mata, diraihnya ponsel diatas narkas kemudian menekan tombol hingga bunyi dari benda pipih tersebut berhenti.


Reza yang merasakan pening dikepalanya perlahan memijat pelipis nya. Perlahan dia merasakan sesuatu yang berbeda, lengan kirinya yang masih memeluk erat seseorang perlahan memfokuskan penglihatannya.


Suasana dalam kamar yang hanya diterangi lampu tidur, buatnya sedikit kesusahan mengenali dimana dirinya kini berada.


"Astaga apa yang telah ku lakukan?" Gumamnya pelan ketika menyadari bahwa dirinya berada dalam kamar nya sendiri.


Reza kembali tertegun ketika melihat kearah seseorang yang masih berada dalam pulukannya kini.


Wajah imut dengan rambut panjang yang tergerai acak, dengan kulit bersih sempurna terlihat dari bahu hingga ke punggung yang masih lengannya peluk dengan erat.


"Cantik"


Tanpa sadar Reza bergumam, ini adalah kali pertama dia menatap wajah gadis yang dinikahinya hampir dua bulan ini.


Reza mengusap wajahnya kasar, digeser nya lengan menjauhi tubuh Andin yang masih terlelap dalam tidurnya.


Reza melangkah menuju kamar mandi dengan tubuh masih telan jang. Beberapa kali dia menghirup nafas kasar. Rasa bersalah perlahan menyeruak dalam benaknya.


Dalam hati yang kalut terlintas wajah Jihan yang sedang bergelanyut manja di lengannya. Reza berdiam diri dibawah sower yang masih mengalir, kepalanya kembali berdenyut.


Bayangan potongan adegan semalam dimana dia memaksa Andin pun sedikit demi sedikit menari dalam ingatannya. Rasa bersalah bertambah dalam hatinya.


Reza yang sejatinya bukanlah orang jahat merutuki kesalahannya, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri jika dia tak akan pernah menyentuh sang istri sampai nanti waktunya mereka bercerai nanti.


Reza menyudahi mandinya, dengan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya dia melenggang keluar. Memilih kemeja dan ****** ***** lemari kemudian mengenakannya.


Kemudian dia melangkah pergi keluar kamar setelah dirasa penampilannya rapi. Reza memacu kendaraannya menuju sebuah apotik.

__ADS_1


Sementara itu Andin yang merasakan sinar matahari menyentuh wajahnya dari balik tirai mengeryapkan mata dan menggeliat. Rasa sakit di sekujur tubuhnya membuatnya meringis. Andin terpaku sesaat, setelah tersadar sempurna buliran air mata menetes mengaliri pipinya.


"Aku tidak menyesali semuanya, ini memang sudah kewajibanku. Namun kenapa harus dengan cara begini dan disaat kami pun belum bisa menerima kenyataan pernikahan ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang?".


Andin kembali sesenggukan, beberapa saat kemudian dia mencoba berjalan perlahan menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Reza yang kembali ke dalam kamar akhirnya memilih menunggu Andin sambil memainkan ponselnya.


Cek lek


Pintu kamar mandi terbuka menampilkan Andin yang berjalan pelan menuju lemari pakaiannya. Wanita itu tak menyadari keberadaan suaminya yang terduduk disofa. Reza mengalihkan pandangannya pada sang istri yang sedang fokus memilih baju ganti.


Rambut basah sepinggang dengan kulit putih bersih membuat Reza menelan ludahnya. Reza berdehem pelan sebelum kembali menenggelamkan pandangannya pada benda pipi yang masih digenggamnya.


Suara deheman Reza walaupun pelan nyatanya mampu membuat Andin membeku. Dengan gerakan cepat dan rasa gugup nya, wanita itu berjalan cepat masuk kembali ke dalam kamar mandi dengan membawa baju gantinya.


Senyum tersungging di bibir Reza yang sedikit melirik pergerakan Andin. Pria itu menggelengkan kepalanya menyadari apa yang dia lakukan.


"Kita bicara sebentar" Ucapnya ketika Andin kembali keluar kamar mandi dalam keadaan yang sudah rapi.


"Duduklah!" Ulangnya.


Andin hanya menunduk, dia belum berani menatap mata Reza secara langsung. Rasa takut masih menyelimuti nya sampai saat ini.


"Minumlah ini sekarang dihadapanku!" Reza menyodorkan sebuah pil pada Andin yang kemudian membuat wanita itu mengangkat wajahnya menatap Reza dan pil yang dia kasih secara bergantian.


"Obat apa?aku kan tidak sakit?"


"Obat agar kamu tidak hamil, terlebih hamil anakku. Kamu taukan aku sudah mempunyai seseorang yang akan menjadi istri dan ibu dari anak anakku kelak?."


"Apa yang kita lakukan semalam, anggap saja sebagai kewajibanmu padaku dan aku pun akan menganggapnya demikian. Aku harap kamu bisa mengerti, pada waktunya nanti kita akan berpisah. Dan disaat itu aku tidak ingin ada sesuatu yang menghalangi terutama soal anak. Bukan aku tak mau memilikinya, namun aku mau hanya dengan wanita yang ku cintai."


Reza menarik nafas panjang, sebenarnya dia pun tak tega mengatakan ini. Namun semua harus tetap dia lakukan demi menjaga hubungannya dengan Jihan.


"Minumlah!, dan aku yakin kamu bisa mengerti keputusanku.Maaf aku tak bisa menjadi suami buatmu. Dan nanti saat waktunya tiba aku mohon jangan persulit keadaan!". Ucapnya seraya kembali menyodorkan pil itu kedepan sang istri.


Andin yang masih terdiam perlahan mengulurkan tangan menerima pil yang Reza berikan. Tanpa berkata apapun lagi wanita itu meminum pil dengan air yang juga telah Reza persiapkan dalam gelas.


Reza tersenyum, tak ada yang perlu dia takutkan sekarang. Hubungannya dengan Jihan akan tetap berada ditempatnya seperti semula.


" Terimakasih atas pengertian kamu. Aku pergi kekantor dulu, kamu istirahat saja." Reza bangkit meraih ponsel dan berjalan ke arah lemari mengambil jas kerjanya kemudian pergi berlalu meninggalkan Andin yang terisak lirih.

__ADS_1


To Be Continue


Siapa yang mau gabung nimpuk Reza? ayo merapat kita timpuk bareng bareng wkwkkw🤭


__ADS_2