PERPISAHAN

PERPISAHAN
Kebersamaan


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul sebelas siang ketika Andin menyelesaikan masakan terakhirnya. Gadis itu hanya memasak tiga macam masakan saja untuk mereka berdua. Bu Salma semalam sudah berpamitan akan pergi ke rumah Tante Diana pagi pagi sekali dengan diantar pak Anton. Bu Salma mengatakan, jika beliau akan pulang malam. Bu Salma dan Tante Diana memang rutin mengikuti acara arisan setiap bulannya. Hari ini giliran dirumah Tante Diana acara itu dilaksanakan.


Cah brokoli udang, tempe goreng dan telur dadar dipilih Andin untuk menunya siang ini.


Setelah menyiapkan semuanya dimeja makan. Andin bergegas menuju lantai dua memangil suaminya.


Cek lek.


Reza menolehkan wajahnya ke arah pintu yang terbuka. Ditaroh nya ponsel yang tadi dipegangnya keatas narkas.


"Mas, makan siangnya sudah siap."


"Ayo kita makan bersama." Lelaki itu beranjak dari duduknya.


"Ehm, mas duluan saja. Aku mau mandi dulu."


"Kalau begitu mandilah, aku tunggu!" Andin mendongakkan wajahnya ketika Reza menyentuh pipinya lembut.


Hari ini entah dia yang masih berada di dunia mimpi atau memang suaminya telah berubah?. Yang dia tau pasti bahwa hatinya bahagia.


"Kok malah bengong, katanya mau mandi?. Apa mau dimandiin?"


"Ah tidak, mas tunggu saja di bawa. Aku akan mandi dengan cepat." Andin bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Reza tersenyum, setelahnya dia melangkah keluar kamar.


"Huu jantungku kenapa begini dah. Rasanya mau lompat lompat saja. Terimakasih Ya Allah, setidaknya mas Reza hari ini sudah berubah. Sikapnya tidak lagi dingin dan menakutkan."


Senyum bahagia tersungging dibibir manisnya. Andin segera bergegas mandi karena takut jika dia terlalu lama akan membuat Reza kembali marah padanya.


Di balkon kamar Reza berdiri menatap ke arah langit yang cerah. Hatinya masih bergelud dengan segala rasa yang bergejolak selama ini. Hembusan nafas kasar terdengar beberapa kali.


Dengan kedua tangan yang terselip dalam saku celananya. Reza masih terdiam, entah apa yang sedang dia pikirkan.


Ting..


Suara notifikasi pada ponselnya membuyarkan lamunan lelaki tersebut. Reza bergegas melangkah masuk kembali kedalam kamarnya. Diambilnya ponsel yang tadi dia letakkan diatas narkas.


Senyum mengembang terlihat dari bibirnya. Reza puas dengan segala laporan dan pekerjaan yang dilakukan orang orang kepercayaannya.


Andin yang baru saja berjalan keluar dari kamar mandi berjengkit kaget. Gadis itu mengira suaminya telah pergi keluar kamar. Namun nyatanya lelaki tersebut masih bertahan disana. Dada Andin kembali bergemuruh, melihat suaminya tersenyum dengan ponsel yang berada dalam genggaman tangannya membuat hatinya sakit.


Pasti wanita itu yang menghubunginya. Dalam hati Andin mengungkapkan kekesalannya.


Reza menoleh menatap Andin yang masih diam terpaku didepan kamar mandi. Lelaki itu tersenyum devil melihat sang istri hanya menggunakan handuk untuk membungkus tubuhnya.


Dengan perlahan lelaki itu berjalan mendekati istrinya yang masih terdiam ditempatnya.


"Kenapa berdiri disini, kamu sengaja menggodaku?"


Andin tersentak, dia melupakan keadaannya. Tadi, karena tergesa gesa dirinya lupa membawa serta baju gantinya. Alhasil Andin memberanikan diri keluar kamar mandi hanya dengan memakai handuk. Dia pikir sang suami sudah turun ke bawa dan menunggunya dimeja makan.


"Mas, kenapa masih disini?" ucapnya gagap.

__ADS_1


"Memang aku seharusnya ada dimana?" Reza terus melangkah menggoda sang istri.


"Ma.. makan, bukannya mas tadi bilang lapar?"


"Ya, aku memang lapar." Reza berhasil menghimpit tubuh istrinya didinding.


"Kalau begitu mas tunggu dibawa, aku mau ganti baju sebentar nanti menyusul."


Andin berusaha tenang melihat tatapan sang suami. Jantungnya kembali berdentum kencang. Bohong jika dirinya tidak jatuh cinta pada sosok lelaki didepannya yang sudah menjadi suaminya tersebut. Entah kapan rasa itu hadir dalam hatinya.


Sikap dingin dan acuh tak acuh yang Reza perlihatkan padanya selama ini malah semakin membuatnya jatuh hati. Namun Andin sadar akan posisinya didalam hati sang suami.


Perjanjian yang hanya dirinya dan Reza yang tau membuatnya tidak mampu lagi berjuang untuk melangkah lebih jauh. Kehidupan rumah tangga tak normal yang dihalaninya selama beberapa bulan membuatnya pasrah akan segala hal yang akan terjadi nanti.


Andin hanya berusaha melakukan kewajibannya sebagai seorang istri selama rumah tangganya masih berjalan. Perceraian yang seyogyanya dijanjikan Reza setelah setahun pernikahannya tersebut membuatnya tidak bisa berbuat banyak demi mempertahankan ikatan diantara mereka berdua. Ditambah lagi, Reza selalu memintanya memakai alat kontrasepsi untuk mencegahnya hamil.


"Tadi perut ku terasa sangat lapar, tapi sekarang sepertinya sudah berubah pikiran."


Suara Reza membawa lamunan Andin kembali kedalam kesadarannya. Sementara Reza masih bertahan dengan posisinya yang mengunggung Andin didinding. Lelaki itu menatap lekat kearah sang istri. Membuat yang ditatap salah tingkah.


"Mas, ada pekerjaan lain?" Ucapnya polos.


Ada getir yang dia rasakan, Andin sudah mengira bahwa suaminya tersebut akan melupakan makan siang bersamanya setelah menerima pesan dari kekasih nya. Kekasih yang dicintai suaminya.


Perlahan hatinya memenas, sebisa mungkin ditahannya air mata agar tidak jatuh. Setidaknya sampai sang suami pergi meninggalkan nya.


"Ya, pekerjaan lain yang lebih menarik dibandingkan hanya sekedar makan."


Andin menundukkan wajahnya. Sedih menghantam hati dan jiwanya. Dirematnya handuk didadanya demi untuk menahan sesak.


"Kamu kenapa?" Ucapnya sambil memegang kedua sisi wajah sang istri.


"Tidak apa apa, mas sebaiknya segera bersiap. Bukankah ada pekerjaan yang menanti mas."


Cup


Andin membulatkan matanya mendapat ciuman mendadak dari sang suami. Tak hanya itu Reza membimbing kedua tangan Andin agar mengalung indah dilehernya. Reza melanjutkan aksinya tanpa peduli tatapan penuh tanya yang dilayangkan sang istri.




Jihan.



Di sebuah mall, Jihan terlihat duduk di sebuah stand Fast food. Wanita itu memainkan jemari lentiknya diatas keyboard. Mimiknya selalu berubah ubah. Terkadang senyumnya mengembang namun kadang menggerutu sendirian.



Weekend ini sungguh membuatnya bosan. Tak hanya harus lose kontak dengan Reza yang entah sedang berada dimana. Karena sejak kemarin ponsel lelaki itu tidak dapat dihubungi ya hingga saat ini. Sang kekasih pun tidak bisa menemaninya dengan alasan ada pekerjaan yang harus di ceknya keluar kota.


__ADS_1


Game online pun yang akhirya dia pilih untuk mengusir rasa bosannya.



"Selamat siang, maaf apa tempat ini kosong?"



Seorang lelaki tampan berdiri didepan Jihan. Wanita itu memperhatikan tanpa berkedip. Sosok tampan, dengan dandanan yang ok. Sepertinya lelaki itu bukan orang sembarangan. Jihan tersenyum senang dalam hati.



" Yess, tangkapan baru." Batinnya bersorak riang.



"Nona, bolehkah saya duduk disini?" Suara lelaki itu membuyarkan lamunan Jihan. Wanita itu terkesiap dan mengangguk. Diperbaiki letak duduknya agar lebih anggun. Senyum tidak pernah lepas dari bibirnya yang merah mereka.



"Nona sendirian?" Sapa lelaki itu basa basi.



"Iya, semua temanku sedang sibuk jadi aku keluar sendiri untuk menghilangkan suntuk."



"Sudah makan siang? bagaimana kalau sekalian menemani saya makan. Tidak enak rasanya makan sendiri."



"Boleh, kebetulan aku juga belum makan siang." Jihan tersenyum diakhir jawabannya.



Lelaki itu mengangkat tangannya memanggil pelayan. Dengan cepat di pesannya beberapa menu untuk dicatat oleh pelayan tersebut begitu juga pesanan Jihan.



"Kalau boleh tau siapa nama nona? sejak tadi kita mengobrol tapi belum saling mengenal."



"Namaku Jihan, kalau kamu?"



"Namaku Pratama, Agung Pratama tepatnya."



"Em Jihan, aku panggil nama saja tak apa ya. Sepertinya kita seumuran." Lanjut Tama.

__ADS_1



Anggukan kepala dari Jihan membuatnya tersenyum. Sementara Jihan sendiri masih mempertahankan sikap manisnya dihadapan lelaki yang sedang duduk didepannya.


__ADS_2