PERPISAHAN

PERPISAHAN
part 137


__ADS_3

sudah hampir seminggu berlalu, keadaan perusahaan Jordan sudah mulai membaik bahkan media pun juga sudah melupakan insiden kebakaran pada gadung mall


Namun sayang nya, di salah satu ruangan terdapat aura yang menyedihkan. seorang gadis tengah duduk di meja kerja nya sambil merenung tidak karuan.


kerugian perusahaan memang cukup besar, tapi itu sama sekali tidak akan membuat perusahaan Jordan jadi hancur. tapi kan sia-sia juga puluhan uang miliaran rupiah habis terbakar hangus begitu saja.


Hana menijat pelipis nya frustasi, masalah nya ini adalah proyek pertama nya yang gagal tentu saja membuat nya terus kepikiran seperti ini.


Cklekk...


pintu ruangan nya terbuka, seorang wanita paruh baya masuk dengan senyum di jawah nya. siapa lagi kalau bukan Nonya Jia


"Bibi?"


sapa Hana


"bagaimana kabar mu hari ini?"


tanya nya


"aku baik, Bi."


"syukurlah, aku ingin mengajak mu makan siang bersama nanti. kau bisa kan?"


"dengan senang hati, Bi. tentukan saja tempatnya, nanti aku akan datang"


"baiklah, Bibi pergi ke ruangan Jordan dulu"


"iya hati-hati, Bi."


Hana melihat punggung Nyonya Jia yang sudah tertutup pintu. sekali lagi Hana menghela nafas, tiba-tiba pikiran nya teringat akan Morgan. Hana belum pernah bertemu bocah itu lagi setelah hari itu.


Astaga, akhir-akhir ini aku kenapa sih? kenapa tidak fokus bekerja. ayolah Hana! dimana sifat devil mu yang dulu, Sialan!


____________________________________


di sisi lain, Jia berjalan menuju ke ruangan Jordan. namun langkahnya berhenti saat mendengar Jordan yang sedang berbicara di telfon.


"iya sayang"


deg, tiba-tiba Jia merasa jantung nya berhenti berdetak. apa katanya? sayang?


"bagaimana ya, sepertinya malam ini aku akan lembur. kau tidak apa-apa tinggal sendiri di rumah? atau aku akan meminta Wanda untuk menemanimu ke rumah ku?"


"yah, ini hari saptu jadi jadwal ku padat. jadwal sekolah Morgan juga begitu, mungkin dia akan pulang sekitar jam 5 sore."


"apa, kau mau ke sini? tidak boleh! kau masih lemah apa lagi mual-mual di perutmu masih belum hilang kan?"


mual? apa jangan-jangn...


"kau di rumah saja, jaga baby girl kita. oh iya aku sudah mengirimkan susu bumil yang di saran kan dokter, apa kau sudah menerima nya, sayang?"


deg... untuk kesekian kali nya Jia di buat syok, bahkan Jia nyaris hampir terjatuh jika tidak langsung menyender kedinding. kaki nya terasa lemas, untung saja Jia tak langsung masuk keruangan Jordan dan mendengar ucapan nya barusan.


dengan susah payah Jia berdiri dan pergi dari sana secepatnya kemudian senyuruh supir nya untuk ke perusahaan Johan, saaf sudab sampai Jia langsung menghampiri ruangan Johan.


"astaga! Jia ada apa dengan mu!"


Johan segera membawa Jia duduk saat melihat istrinya yang masuk dengan wajah pucat.


"ada apa, sayang?"


tanya Johan lembut.


"A-anak mu! keterlaluan!"


isak Jia mulai terdengar


Johan memilih diam dan menarik Jia ke dalam dekapan nya. Jia mulai menangis dan menyembunyikan wajah nya di dada suami nya itu.


"apa kita ini bukan orang tua nya!"


"sebenar nya ada apa? aku tidak mengerti"


bingung Johan


"kita... kita akan punya cucu satu lagi"


ucap Jia gemetaran.


sedetik setelah nya Johan langsung mengerti.

__ADS_1


"gadis itu mengandung cucu kita untuk kedua kalinya! bagaimana bisa Jordan tidak memberi tahu kita?"


kesal Jia


"aku tahu, bayi itu tidak bersalah! tapi kenapa harus terjadi lagi. bagaimana kalau gadis itu pergi membawa cucu kita seperti dulu? kemudian menghilang dan membuat Jordan gila seperti dulu? bagaimana, Suamiku!"


tangis Jia langsung pecah, Johan kembali mengeratkan dekapan nya untuk memberi kekuatan pada sang istri.


setelah merasa Jia agak baikkan, Johan melepas pelukan nya lalu memegang kedua bahu Jia.


"Sayang, itu artinya Jordan benar-benar sudah memilih wanita yang akan mendampingi nya kelak. Jordan menanamkan benih di rahim nya, Jordan sudah bahagia sekarang. kita hanya perlu mendukung keputusan nya, kita tidak bisa memaksanya lagi. Jordan kita sudah dewasa, bahkan dia sudah menjadi seorang ayah. dia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk"


jelas Johan


"tapi aku masih tidak percaya dengan gadis itu, enam tahun yang lalu dia pergi dan kembali lagi ke sini tanpa memberitahukan kebenaran nya!"


"Jia, apa kau lupa? kita lah yang membuatnya pergi dari sini! insiden itu benar-bener mengenaskan! semua nya belum di ketahui jelas. Jordan yang sudah terbakar amarah karna bukti-bukti yang menunjuk ke arah Sarah bahkan kita juga terpengaruh oleh semua bukti yang di tunjukan Hana tanpa mengetahui kebenaran yang sesungguh nya. Gadis malang itu pergi karna kita, dan kita semua salah di sini"


Johan menatap Jia dalam


"lalu bagaimana dengan Hana, aku sudah banyak menjanjikan hal untuk nya"


Jia mulai frustasi.


"katakan dengan nya secara baik-baik. kau yakin kan jika Hana itu gadis baik-baik pasti dia akan mengerti"


Jia terdiam.


"aku bodoh"


guman nya yang masih terdengar oleh Johan


"istriku tidak bodoh"


Johan kembali menarik Jia kedalam dekapan nya.


Jia menyandarkan wajah nya ke dada Johan, tangan nya mengusap dada suami nya yang masih tegap itu. kemudian Jia merasakan sesuatu yang aneh


"Sayang, jantungmu berdegup kencang."


ucap Jia lalu meraba dada Johan pada bagian jantung nya.


"apa jantung mu baik-baik saja?"


"ah iya, jantung seperti itu karna istriku sedang manja" goda nya.


Jia langsung memukul pelan dada Johan


"hei, itu sakit. Sayang"


rengek Johan.


"Dasar, sudah tua tapi tidak ingat umur ya"


kesal Jia.


setelah beberapa menit berlalu, Jia dan Johan berbincang ringan untuk mengurangi beban pikiran.


"sudah hampir jam makan siang, kita makan siang bersama"


ucap Johan


"tapi aku sudah ada janji lain"


Jia memelas


"oh, jadi aku tidak pentinga ya. ternyata istriku sibuk sekali tampak nya"


cibir Johan


"baiklah, janji nya aku batalkan"


Jia segera mengambil handpone nya lalu memberi pesan kepada Hana untuk mengundur makan siang nya. dan menawarkan Hana untuk minum kopi di caffe.


________________________


Perusahaan P.T J&S


Ruangan Jordan:


"hei, Glen! kau ini pakai parfum apa? kenapa bau nya menyengat sekali!"

__ADS_1


kesal Jordan


"saya tidak pakai parfum Tuan, hanya deodoran saja" sahut Glen dengan sopan.


"aku mual, kau keluar dulu. jangan biarkan orang lain masuk sebelum ku perintahkan"


"baik Tuan"


Glen keluar dari ruangan Jordan, walau sedikit tersinggung tapi Glen tidak terlalu memikirkan nya. Glen sudah biasa dengan sikap Jordan.


dan tak lama kemudian Gara datang dengan sekantong penuh jajan.


"maaf Tuan, Tuan Jordan katanya sedang tidak mau di ganggu" ucap Glen sopan


"ah menyebalkan, biar aku yang menanggung"


Gara dengan kesal langsung masuk ke ruangan Jordan.


"Waw"


Jordan menganga saat Gara masuk dengan sekantong besar jajanan yang ia minta tadi.


"ini"


Gara meletakan nya di atas tumpukan dokumen milik Jordan.


"terima kasih"


"hm"


"bagaimana perkembangan wanita itu?"


tanya Gara saat melihat Jordan yang sibuk mengecek kantong plastik itu.


"kenapa? kau mulai menyukainya ya?"


goda Jordan.


"aku serius"


kesal Gara


"yahh, seperti biasa "


"jika saja Ibumu bisa membantu, mungkin masalah ini bisa selesai dengan cepat"


"itu mustahil"


raut wajah Jordan menjadi serius


"Ibuku orang nya keras kepala, sulit rasanya"


lanjut nya.


Gara diam, dan berfikir sejenak


"ngomong-ngomong kau pakai parfum apa?"


tanya Jordan


"kenapa?"


Gara mengerutkan dahi nya


"baunya tidak enak, terlalu menyengat."


"sial! hidungmu saja yang bau!"


kesal Gara.


Jordan tertawa renyah dan kemudian ia segera berlari ke arah toilet dengan tergesa-gesa. melihat hal itu membuat Gara terkejut dan menyusul Jordan ke pintu toilet.


"kau baik-baik saja?"


tanya Gara dari luar.


Huekk...


Gara mendengar Jordan yang muntah di dalam. ada apa dengan nya? mungkin Jordan sedang mengalami morning sickness, kan Sarah sedang hamil. pikir Gara.


_____________

__ADS_1


tbc


__ADS_2