
"Jika bukan karna ibuku, Wanita itu pasti sudah ku habisi. Ibuku sudah menganggap nya sebagai anak sendiri dan menghabisi wanita itu hanya akan menyakiti ibuku"
.........
Cafe Mawar putih:
Jia menatap dalam Hana yang duduk di depan nya dan menggenggam tangan nya erat. Gadis itu terlihat menyedihkan, hingga membuat Jia tak tega.
"maaf kan Bibi. Bibi tidak bisa berbuat apa-apa, kau tahu kan betapa keras kepala nya Jordan. sekarang tidak ada lagi harapan untukmu, maaf kan Bibi karna selalu memberi harapan palsu untukmu. Bibi merasa bersalah, Bibi ingin kau hidup dengan bahagia, kau sudah Bibi anggap seperti anak sendiri. Bibi yakin kau bisa menemukan orang lain selain Jordan."
Hana mengggigit bibir bawahnya, berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya.
aku tidak boleh melampiaskan emosi ku kepada Bibi. bagaimana pun Bibi telah membantuku sejauh ini, dia menganggapku sebagai anak nya. tahan Hana!
"tidak apa-apa Bibi, aku mengerti"
Hana berusaha membuat senyum indah di wajah nya.
"Aku mau ke toilet dulu, Bi"
Hana segera meninggalkan Jia lalu berjalan secepat mungkin ke toilet.
Bukk..
tanpa sadar, Hana meninju dinding toilet dengan tangan nya. air matanya jatuh seketika, namun dengan cepat Hana menyeka air matanya dengan punggung tangan nya.
ibu, aku merindukanmu
isakan nya mulai terdengar, Hana tak dapat lagi menahan emosinya. untung saja toilet wanita sepi dan hanya ada dirinya sendiri, dengan keadaan duduk sambil memeluk lutut nya.
"anda baik-baik saja, Nona?"
Hana mendongak saat suara bariton itu terdengar. seorang laki-laki ber-jas navi berdiri di depan nya sambil menyodorkan saputangan.
"maaf jika saya lancang karna telah memasuki toilet wanita, tetapi isakan anda terdengar sampai keluar jadi saya pikir anda membutuhkan ini"
laki-laki itu kembali menyodorkan saputangan nya
Dengan ragu, Hana mengambil saputangan itu dengan keadaan yang masih duduk. setelah saputangan nya berada di tangan Hana, laki-laki itu berjongkok di depan Hana.
"tangan anda terluka"
laki-laki itu mengeluarkan plaster bergambar barbie dari saku jasnya lalu memasangkan nya ke punggung tangan Hana yang terluka.
sambil memasang plaster nya, laki-laki itu berkata.
"jika anda merasa sedih, kecewa, ataupun putus asa jangan menyakiti diri anda sendiri. bahagia itu sederhana, Nona. cukup ikuti kata hatimu, jika anda merasa tersiksa maka lepaskan saja"
Hana termenung sambil melihat plaster yang laki-laki itu pakaikan. hati nya mulai tenang saat laki-laki itu berkata demikian.
"maaf, plaster ini punya keponakan saya."
ucap laki-laki itu lalu segera berdiri.
"saya pergi dulu, simpan saja itu sebagai kenangan agar anda tidak melupakan kebaikan dan ucapan saya hari ini. sampai jumpa lagi"
laki-laki itu pergi tanpa mendengar jawaban dari Hana. dan apa katanya? sampai jumpa lagi? akan kah mereka bertemu kembali?
......***......
setelah berbicang cukup lama dengan Jia, Hana memutuskan untuk bertemu dengan seseorang yang sempat menjadi rekan nya beberapa bulan yang lalu.
"apa?"
seorang pria berdiri di hadapan Hana yang duduk di kursi kebesaran nya.
"kita ini rekan bukan?"
tanya Hana basa basi
pria itu mengangguk tanpa ekspresi
"aku butuh bantuan mu, aku ingin kau menghabisi direktur Whusi segera"
mendengengar ucapan Hana membuat pria itu tergelak.
__ADS_1
"tak mudah menghabisi direktur Whusi, memang tampak nya dia berdiri sendiri tapi banyak orang yang mengelilingi nya. aku tidak bisa"
tolak pria itu
Hana mengangkat satu alisnya
"lalu? bukan kah kau ingin menolongku untuk memisahkan mereka? apa kau lupa dengan janji itu?"
"maaf Nona, tapi aku tidak pernah berjanji"
tajam pria itu.
"jadi, ku tidak mau membantuku?"
geram Hana
"iya, dan mulai saat ini kita tidak punya hubungan rekan untuk selamanya"
pria itu pergi dan meninggalkan Hana yang terbakar emosi sendiri.
"Hahaha... aku sudah tahu kau akan melakukan semua ini, Gara. aku sudah tahu semuanya! dan pada akhirnya sama saja, tidak akan ada uang peduli dengan ku atau pun membantuku!"
ucap Hana
"bahkan paman sudah tidak mau membantuku lagi. sekarang apa yang harus kulakukan ibu?"
guman Hana.
"haruskah aku menghentikan ini?"
Hana mengusap kasar wajah nya, kemudian segera pergi mengendarai mobil nya. Hana menghentikan mobil nya di depan sebuah toko roti.
"Bibi Cantik! kita bertemu lagi!"
Hana menoleh saat baru masuk ke koto roti, di sudut toko ada seorang pria kecil yang tersenyum ke arahnya.
anak itu lagi, anak yang Hana temui beberapa hari lalu di tempat ini juga.
"Bibi Cantik, duduk lah bersamaku"
Hana tersenyum tipis lalu menghampiri pria kecil itu
"ya, kita bertemu lagi Morgan"
sapa Hana ramah.
"Bibi hanya sendiri?"
tanya Morgan
"ya, seperti yang kau lihat. Bibi kan tidak punya teman" cuek Hana
"aku akan teman Bibi, boleh aku minta nomor Bibi cantik?"
pinta Morgan blak-blakan
"hei, pria kecil. siapa yang mengajarimu berkata seperti itu hmm?"
"paman Gibran"
deg, Gibran? ternyata benar anak ini adalah anak kandungnya Jordan. anak ini lah yang Sarah lahirkan di Eropa dulu, dan anak ini lah yang hampir aku celakai 6 tahun lalu. anak yang ingin aku bunuh itu adalah anak anak yang ada di depan ku saat ini. apakah ini watunya untuk membalas dendam?
pikir Hana
"Morgan, sebelum nya ada sesuatu yang ingin aku tanyakan" Hana duduk di depan Morgan sambil menagapnya lekat.
"tanyakan saja Bibi"
"Morgan ke sini dengan siapa?"
"dengan paman Han, tapi pama Han sedang ada urusan dan meninggalkan ku dulu di sini sebentar"
jika Jordan meninggalkan anaknya sendiri di sini tanpa siapapun berarti tempat ini adalah milik orangnya. aku yakin ada seseorang yang mengawasiku, atau jangan-jangan dia menggunakan anak nya untuk menjebakku?
"ayah Morgan itu orang sibuk ya?"
__ADS_1
tanya Hana
"iya Bibi, ayah sering sibuk karna pekerjaa nya"
"lalu ibumu?"
"Mami sedang hamil, jadi Mami hanya beristirahat dirumah"
Damnn, dugaan ku benar. pasti Sarah hamil lagi untuk kedua kalinya. ini akan mempersempit peluangku untuk misahkan mereka. pasti Jordan tidak akan melepaskan ku jika aku berbuat sesuatu kepada istrinya. di tambah lagi Gara sialan itu berpihak pada mereka. mereka kira aku tidak tahu apa-apa, tapi sebenarnya aku sudah tahu semua kebenaran nya. haruskah aku memperjuangkan rencana dan tujuan ku sendiri? apa aku sanggup?
"Bibi...."
apa aku kalah?
"Bibi cantik?"
apa semua nya akan hancur?
"Bibi Cantik!"
"Hah... iya"
Hana terbangun dari lamunan nya akibat Morgan yang terus memanggilnya dengan suara yang cukup keras.
"Bibi kenapa?"
"tidak, Bibi baik-baik saja"
"hmm... Apa Bibi punya pacar?"
Hana mengerutkan keningnya.
"Hei, dari mana kau belajar kata-kata itu hm?"
"jawab pertanyaan Morgan dulu. Bibi punya Pacar?"
"tidak, Bibi tidak punya. kenapa memangnya?
Morgan mau jadi pacar Bibi hm?"
tanya Hana
"bukan aku, tapi mungkin orang itu!"
Morgan menunjuk seseorang yang ada di belakang Hana
Hana mengikuti arah tunjuk Morgan, tepat saat itu Hana melihat seorang pria yang sedang membayar roti di meja kasir. Hana merasa familiar dengan pria itu.
astaga, bukankah pria itu adalah pria yang aku temui di toilet wanita tadi? pria itu yang memberiku sapu tangan dan plaster kan?
Hana melihat tangan nya yang masih tertempel plaster Barbie tadi. kemudian beralih kepada pria tadi yang masih berdiri di meja kasir.
Benar, pria itu dia. bagaimana bisa di ada di sini?
"orang itu Paman nya Morgan!"
"Hah?!"
.........
kedatangan karakter baru nih
Nama: Juna Andreas
pekerjaan: CEO
salah satu keluarga Andreas yang selamat dari perampokan rumah Andreas puluhan tahun yang lalu.
Penasaran sama Juna?
Berikan vote nya!
..._______...
__ADS_1
tbc