PERPISAHAN

PERPISAHAN
Part 130


__ADS_3

sudah 2 hari berlalu semenjak kejadian itu, semuanya sudah kembali dengan keadaan normal. selama 2 hari belakangan Morgan dibawa ke psikiater untuk menghilangkan trauma nya, dan untungnya Morgan bisa mengatasi trauma itu dengan cepat. entah itu karna faktor apa pun Jordan juga tidak tahu. mungkin ini karna Morgan bisa mengendalikan emosi dengan baik walaupun masih kecil.


dan hari ini, Sarah juga akan pulang mungkin Sarah akan tiba nanti malam.


sudah hampi jam makan siang, Waktunya Jordan mengajak Morgan makan siang lalu pergi ke psikiater pribadi Jordan, yang tak lain orang itu adalah Vian. Dokter pribadinya Jordan.


selain Dokter pribadi, Vian juga sedikit memahami ilmu psikiater.


"hai Morgan, bagaimana kabarmu? "


Vian menayapa Morgan saat sudah sampai di rumahnya.


"baik paman "


jawab Morgan.


Morgan dan Jordan duduk bersama Vian di ruang tamu rumah nya Vian.


"jadi, apa makan siangmu hari ini? "


"hmm, tadi Morgan makan siang di restoran daging" jawab Morgan antusias.


"waw, restoran daging? pasti sangat menyenangkan bukan? "


"iya menyenangkan, tapi Morgan rindu sekolah"


Morgan jadi sedikit murung.


"ya, paman Juga merindukan rumah sakit"


"kenapa paman tidak ke ruamh sakit? "


"kan paman punya putri kecil"


tiba-tiba istrinya Vian datang sambil membawa bayi di gendongannya.


"putri Bayii"


Morgan segera mendekat ke istrinya Vian lalu bermain dengan bayinya.


ini lah cara Vian untuk menghilangkan trauma yang terjadi kepada Morgan, walaupun tidak hilang dengan sepenuhnya tapi setidaknya Morgan bisa sedikit melupakan kejadian itu dengan bermain bersama putri bayinya Vian.


"terima kasih, kau sudah banyak membantuku "


Jordan duduk di sebelah Vian dan melihat Morgan yang bermain dengan bayinya Vian dan istrinya.


"ah ini bukan apa-apa, Morgan sudah aku anggap seperti anakku sendiri"


Vian menepuk bahu Jordan.


"aku harus kembali ke kantor, aku titip Morgan ya"


"tenang saja"


Jordan menghampiri Morgan


"sayang, Papi mau balik ke kantor duluya. nanti sore Papi jemput"


"oke Papi, nanti sebelum jemput Morgan jangan lupa beliin roti buat Paman Han ya. "


pesan Morgan


"iya sayang"


Morgan mencium kening Morgan lalu pamit pergi.


di kejadian 2 hari yang lalu Paman Han terluka parah, hingga tak bisa melakukan aktivitas di waktu yang lama. dan Jordan menyuruh Paman Han untuk istirahat total selama seminggu.


Morgan selalu memberikan roti, buah-buahan atau yang lainnya untuk paman Han setelah pulang dari rumah Vian. karna paman Han lah yang mengasuh Morgan dari kecil, karna itu Morgan jadi sayang dengannya.


____________


sore harinya


Jordan selesai mengerjakan pekerjaannya, dengan di bantu Gibran dan Glen.


"ayo, kita jemput Morgan "


ajak Gibran.


Jordan, Gibran dan Glen pun pergi bersama ke rumah Vian untuk menjemput Morgan setelah itu langsung pulang ke rumah Jordan dan tak lupa pula mereka membeli roti untuk paman Han sesuai permintaan Morgan tadi.


saat sampai di rumah, Morgan segera berlari menuju ke kamarnya paman Han dengan menenteng kantung plastik yang berisi roti tadi.


Rumah Jordan juga sudah kembali normal, keadaannya masih sama seperti dulu dan bersih rapi. tidak ada satupun barang yang hilang atau rusak, dan bau hanyir darah waktu itupun juga sudah hilang.


Waktu begitu cepat berlalu, hingga senja yang indah sudah berganti dengan malamnya langit yang diterangi bulan.


"Papi! Papi! ayo kita jemput Mami! "


Morgan tidak sabar untuk menjempu Sarah, di terus mendesak Jordan.


"iya sayang, Papi ganti baju dulu"


"cepat ya Papi, nanti bandaranya penuh, nanti Mami udah turun dan kerumah duluan naik taxi"

__ADS_1


Jordan mempercepat geraknya, mengambil kunci mobil lalu pergi bersama Morgan ke bandara.


"paman Gibran gak ikut Pi? "


tanya Mirgan saat di perjalaan


"enggak, paman Gibran capek jadi harus istirahat "


"oh gitu ya"


tak cukup lama Jordan dan Morgan sampai di bandara. mereka segera masuk dan menunggu pesawatnya mendarat.


"Papi pesawatnya udah mendarat! "


Morgan berteriak heboh


dan tak lama kemudian Morgan melihat Sarah yang muncul dari keramaian, Sarah berjalan ke arah Morgan sambil menyeret kopernya.


"Mami! "


Morgan berlari lalu memeluk Sarah.


"Sayang"


Sarah membalas Pelukan Morgan.


Jordan mengerutkan dahinya saat ia melihat ada wanita yang tak asing mengekori Sarah di belakangnya.


"Loh? Bibi Diana ke sini Jugaaa??? "


Morgan terlihat senang lalu bergantian memeluk Diana yang ikut pulang bersama Sarah.


Jordan mendekati Sarah lalu bertanya.


"Sarah ini apa? "


"nanti akan ku jelaskan di rumah"


bisik Sarah.


Jordan menghela nafas lalu mengangguk. dan akhinya Mereka semua pulang bersama. Sesuai dengan permintaan Sarah, Jordan mengantarkan mereka ke rumahnya Sarah tidak kerumah Jordan.


sesampainnya di rumah Sarah, Jordan segera menarik Sarah ke kamarnya.


"bisa kau jelaskan? "


"Jordan, dia adalah temanku. dulu saat di Eropa aku tinggal bersamanya, dia yang merawatku dan memberikan aku tempat tinggal. dia sudah banyak berjasa untukku "


jelas Sarah.


aku juga tahu itu Sarah.


"lalu? "


"dia mengalami masalah, calon suaminya Menghamilinya dan kemudian tidak mau bertanggung jawab bahkan mereka tidak jadi menikah. masalah yang dia alami saat ini sama dengan ku waktu aku pergi ke eropa dulu, kami sama-sama di tinggalkan pria brengsek saat hamil bukankah itu sangat jahat? dan ini waktunya untukku membalas kebaikkan nya"


"heh, kau menyindir ku ya? "


sinis Jordan.


"kenapa? memang benar kan? "


balas Sarah.


"jangan memancingku ya, jangan sampai aku menerkammu malam ini"


"siapa takut? wlee"


Sarah segera berlari dan meninggalkan Jordan.


sementara Jordan hanya terpaku di tempat,


maaf Sarah, kau memang benar aku adalah pria brengsek iya


batinnya.


Sarah menghampiri Diana dan Morgan di ruang tamu lalu Sarah mengajak Diana tidur di kamar kosong yang ada di sebelah kamar Sarah.


"kau tidur di sini ya, pakaianmu besok pagi saja di bongkar. kau pasti lelah, tidur saja dulu"


ucap Sarah


"Mami, Morgan mau tidur sama Bibi Diana boleh kan? "


pinta Morgan


"boleh kok sayang, tapi tidurnya yang baik ya"


"okey Mami"


"selamat Malam"


Sarah mencium kening Morgan.


"selamat malam juga Mami"

__ADS_1


balas Morgan


"aku ke kamar dulu ya"


Diana mengangguk


"Morgan"


panggil Diana.


"iya? "


"Morgan senang ya udah punya Papi?"


tanya Diana.


"iya! Morgan senang banget karna punya Papi. dulu Morgan kira Morgan gak punya Papi, Morgan sedih tapi Morgan berusaha buat cari Papi sampai Morgan ketemu sama Papi Jordan. "


ucapan Morgan membuat Diana sedih, ia memikirkan nasib anaknya nanti. apakah anaknya akan hidup tanpa seorang Papi?


Diana tidak sanggup memikirka hal itu.


kuharap pilihanku pulang kesini adalah yang terbaik untukku


batin Diana.


******


"Sarah, malam ini aku tidur di sini ya? "


tanya Jordan yang berbaring di ranjang Sarah sambil memperhatikan Sarah yang sedang menyisir rambutnya karna baru selesai mandi.


"tidur di kamar mandi juga boleh "


ketus Sarah.


"ya ampun, kenapa istriku ini jadi judes sih"


heran Jordan.


"tidak ada tuh"


Sarah segera mematikan lampu kamarnya lalu berbaring di sebelah Jordan.


"Sarah... boleh tidak... "


"tidak boleh! "


"kenapa? kan kita sudah lama enggak ngelakuin itu"


"aku capek, lain kali aja yah"


Sarah memeluk Jordan dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Jordan.


dengan senang hati Jordan membalas pelukan Sarah, yah walaupun tidak dapat jatah tapi setidaknya Jordan dapat pelukan.


"heh, tangan nya jangan nakal"


seketika tangan Sarah yang sendari tadi mengusap-ngusap perut Jordan jadi berhenti.


"belum tidur? "


Jordan membuka matanya.


"aku cuma mau pegang roti sobeknya saja kok"


ucap Sarah malu-malu


"kan aku kangen, kau juga pegang perut ku yah"


Sarah meraih tangan Jordan dan meletakannya di perut Sarah.


mereka berdua jadi saling meraba perut mereka satu sama lain.


"kok istriku ini tambah buncit ya? "


ucap Jordan.


tapi sayangnya Sarah sudah tidur duluan dan tak mendengar ucapan Jordan. Jordan mengintip sedikit dan melihat Sarah yang sudah terlelap tidur.


Jordan segera duduk dan membuka baju Sarah sampai menampakkan perutnya, Jordan meraba perut yang sedikit buncit itu dengan pelan dan mendekatkan telinganya ke perut Sarah.


apakah benar ada janin di dalamnya?


apa mungkin dugaan Jordan benar?


nak, apa kau mendengar ku?


bisik Jordan ke perut Sarah.


sepanjang malam Jordan sibuk berbicara dengan perutnya Sarah, entah ada janin di dalamnya atau tidak itu sudah tak di pikirkannya lagi.


sepertinya Jordan sudah terbawa suasana Karna stres nya belakangan ini, kejadian itu tidak! itu hanya mimpi buruk. bagi Jordan itu hanya mimpi buruknya yang tidak akan terjadi lagi.


___________

__ADS_1


(nih, author kasi bonus)


tbc


__ADS_2