
Usai makan siang, Ricko kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Demikian pula dengan Andin. Wanita itu selalu nampak profesional dalam segala pekerjaannya.
Reza yang masih bertahan disana pun ikut menyibukan diri dalam pekerjaan yang dikirim oleh sekertaris nya. Senyum tipis terukir dibibir manis lelaki itu manakala pandangannya tertuju pada sang istri yang nampak serius.
"Dia benar benar bisa membedakan waktu, tempat dan suasana. Tau mana harus melakukan tanggung jawab dan tau dimana waktu untuk bersantai." Gumamnya pelan nyaris tak bersuara.
Kembali Reza menenggelamkan dirinya. Rencana keluar kota diurungkan nya, bukan proyeknya yang urung namun orang yang mengurusnya lah yang beda. Awalnya Reza sendiri yang akan berangkat mengajak Jihan. Tapi karena wanita itu tidak bisa menemaninya, dia pun mengutus orang kepercayaannya untuk pergi. Itulah alasan kenapa Reza bisa berada dikantor Ricko saat ini.
"Mas, mau minum kopi atau teh? biar ku buatkan. Sekalian buat Ricko juga."
Andin yang sudah berdiri disamping Reza, membuat lelaki itu mendongakkan wajah nya.
"Boleh, kopi susu aja ya sayang."
"Iya mas, tunggu sebentar ya." Andin berlalu dari ruangan sang sepupu.
Sementara itu Reza segera meraih ponsel nya dan mengirim sesuatu pada orang kepercayaannya. Ricko yang masih berada didalam ruangan itu pun kemudian berdiri dan menghampiri kakak sepupunya.
"Bagaimana bang? apa semua lancar?" Tanyanya langsung setelah mendudukkan dirinya tepat didepan Reza duduk.
"Muda mudahan, sepertinya mereka terlalu waspada. Tapi aku yakin akan berhasil."
"Semoga bang, harga yang dibayar terlalu mahal soalnya. Jadi abang harus benar benar punya persiapan yang matang."
"Kamu benar, untuk itu abang selalu meminta bantuanmu juga Siska. Abang tidak mau ada kesalahan yang akan berakibat fatal nanti."
"Tapi sampai kapan bang? kami berharap, abang bisa segera menyelesaikan segala permaslahan yang terjadi."
"Abang juga menginginkan hal yang sama. Tapi jalannya sangat sulit dan sering kali bertemu dengan jalan buntu." Reza nampak frustasi.
"Bukan karena abang belum mau melepaskannya kan?"
Reza menatap ke arah Ricko. Apa yang diucapkan pemuda itu memang termasuk dalam salah satu hal yang dia pikirkan. Tak muda untuk menentukan jalan demi kebaikan. Karena pasti akan ada satu pihak yang akan dirugikan.
Ketika Reza ingin membuka mulutnya demi menjawab sang sepupu, pintu ruangan terbuka. Senyum Andin terlihat ketika wanita itu melangkah masuk.
__ADS_1
Secara otomatis, baik Reza maupun Ricko menghentikan pembahasan mereka.
Andin meletakkan nampan. Dengan kopi susu untuk Reza, teh hangat untuk Ricko sedang dirinya membuat jus mangga.
"Makasih kak" Ricko meminum teh nya.
"Makasih sayang, ini dapat jus mangga dari mana?"
"Tadi bikin dulu mas, kebetulan tadi pagi pas mau berangkat bertemu pedagang buah dijalan. Mampir deh, kebetulan lagi pengen."
Andin menikmati jus nya, tanpa wanita itu sadari kedua pasang mata lelaki didepannya saling melirik dan terbelalak. Mungkin apa yang kini sedang ada dibenak kedua lelaki itu sama artinya.
"Kalian kenapa?"
Setelah beberapa saat keheningan tercipta. Masing masing dari mereka terhanyut dalam pemikiran masing sendiri. Hingga akhirnya suara Andin membuyarkan lamunan mereka.
"Hemm!!. Tidak ada apa apa, memang kenapa sayang?" Reza malah balik bertanya demi menyembunyikan kegugupannya.
"Tadi sepertinya sedang mengobrol asyik. Apa aku mengganggu obrolan kalian?"
"Tidak kak, tadi kami hanya membahas soal proyek yang sedang bang Reza kerjakan belakangan ini aja sih. Kagak ada yang aneh aneh kok."
"Mungkin hanya untuk menyenangkan ku saja. Dan juga karena ada Ricko dan Siska. Makanya mas Reza bersikap mesra begitu padaku. Andai semua perlakuannya bisa ku nikmati sepanjang waktu, aku pasti akan sangat bahagia." Lirih nya dalam hati.
Andin tersenyum miris dengan takdirnya. Namun dia masih bersyukur karena diberi waktu untuk merasakan kebahagiaan kecil tersebut.
"Kalian akan bekerja hingga sore atau malah lembur ini?" Reza membuyarkan lamunan Andin.
"Kami sebentar lagi selesai bang, hanya tinggal mengoreksi berkas terakhir. Proyek tersebut akan dikebut awal bulan besok." Reza membenarkan letak duduknya.
"Kalau begitu, aku bisa membawa kakak ipar mu ini pulang lebih awal kan nanti?"
"Tentu saja bang, diluar jam kerja. Kakak ipar sepenuhnya milik abang." Ricko menyeringai.
"Baiklah, aku tidak mengganggu waktu kerja kalian lagi. Aku akan diam disini dengan patuh, menunggu hingga waktunya tiba untuk membawa istriku pergi." Reza mencondongkan dirinya dan mengecup pipi sang istri.
__ADS_1
"Ckck, kalian berdua mengotori mata suciku." Ricko berdiri dari duduknya dengan bersungut kesal akan kelakuan sepupunya itu.
Andin yang masih berada ditempat duduknya hanya bisa menunduk dan tersipu akan kelakuan mereka berdua.
"Mas, aku lanjutkan pekerjaanku dulu ya. Apa masih ada sesuatu yang mas butuhkan?"
"Tentu saja ada, beri aku ciuman untuk semangat sayang." Reza mengedipkan sebelah matanya menggoda sang istri yang memerah pipinya.
Hemm!!
Sebuah deheman keras dilayangkan Ricko sebagai bentuk protesnya. Pemuda tampan itu memicing menatap datar kakak sepupunya itu.
Reza hanya mengedikkan bahu menanggapi protesannya. Sementara Andin mengulum senyum sambil beranjak berdiri.
Namun langkahnya terhenti dengan cekalan Reza ditangannya. Dengan isyarat mata lelaki itu mengulang permintaannya. Andin yang mengerti segera menoleh sekilas pada sang boss yang kembali asyik tenggelam dalam laporannya.
Dengan gerakan cepat, wanita itu mendekat dan memberi kecupan singkat dipipi kanan sang suami. Setelahnya dia berjalan tergesah dengan debar jantung yang saling berdendang.
Reza menatap gemas kelakuan sang istri yang lucu dimatanya. Sebuah nyeri menghantam hati nya. Nyeri
Ketiganya kembali menenggelamkan diri pada lembar lembar laporan. Menciptakan ruang hening.
Sementara itu di lantai dasar perusahaan tepatnya di loby.
Seorang wanita cantik berjalan dengan senyum mengembang. Senyum ramah yang selalu dia berikan pada setiap orang yang berpapasan dengannya sebagai bentuk sapaan.
Siska yang baru saja kembali setelah menyelesaikan misi yang diberikan oleh kakak sepupunya. Setelah makan siang bersama tadi.
Siska pergi ke suatu tempat. Disana wanita cantik itu melakukan misinya sesuai permintaan sang kakak sepupu.
Wajah puas terlihat jelas dibalik senyumnya yang menawan.
"Aku hanya bisa melakukan hal kecil untuk membantu kalian. Selanjutnya, kalian harus berjuang sendiri. Aku yakin, jika kalian bersama akan bisa saling menguatkan." Gumamnya sambil terus melangkah.
Langkahnya tidak lagi menuju ruangan sang kakak. Namun langkah cantiknya masuk kedalam ruangan nya sendiri. Gadis itu menghempaskan badannya disofa. Mata lentiknya terpejam namun senyum masih saja tersungging dibibir manisnya.
__ADS_1
"Kau harus menjaga dirimu disana, jangan biarkan hatimu tergoda oleh orang lain. Aku sebenarnya sangat keberatan. Namun anggap saja ini menjadi ujian terberat dalam hubungan dan rasa saling percaya diantara kita."
Siska menghela nafas berat sebelum melangkah ke meja kerjanya.