
hari ini adalah hari dimana Sarah akan pergi ke wilayah minimarket yang akan di hancurkan, Sarah pergi bersama Tuan Hend dan Henry. tapi sebelum itu mereka mengantar anak Henry ke sekolahnya dulu.
saat Sampai di sekolahnya anak Henry, Sarah ikut turun dan menunggu nya di gerbang bersama Tuan Hend dan Henry memasuki pekarangan sekolah untuk mengantar anaknya.
"ah aku jadi teringat Morgan, bagaimana kabarnya sekarang? " tanya Tuan Hend membuka pembicaraan
"Morgan baik-baik saja, dia juga beradaptasi dengan baik" jawab Sarah.
"syukurlah kalau begitu, lalu bagaimana dengan mu? " tanya Tuan Hend membuat Sarah terdiam.
"saya baik-baik saja"
"benarkah? tapi tampaknya kau tidak baik-baik saja melainkan lebih baik dari sebelumnya "
ucap Tuan Hend membuat Sarah tersenyum
"terkadang ada sesuatu yang harus membuat kita pergi dan kemudian datang kembali. namun terkadang kembali adalah kunci dari jalan keluarnya, maka dari itu jangan pergi dan jangan di tinggalkan karna kita akan menyesal seumur hidup karna telah meninggalkan hal yang seharusnya kita gapai" ucap Tuan Hend tanpa melihat ke atah Sarah
Sarah termenung sebentar, mendengar perkataan nya barusan membuat Sarah sadar akan tujuan nya. jika semua itu milik kita maka gapai dan ambillah semuanya, jangan di tinggalkan jika tidak suatu hari nanti kita akan menyesal.
_________
selama di perjalanan, Sarah terus termenung seorang diri. entah kenapa perasaan nya dari tadi tidak tenang, ada sesuatu yang mengganggu hatinya.
akhirnya saat sampai di wilayah Minimarket itu Sarah segera menelfon Jordan, Sarah tetap tinggal di parkiran agar lebih leluasa berbicara dengan Jordan.
"hallo? "
sapa Jordan dari sebrang sana.
"Jordan, kau sudah menjemput Morgan kan? "
tanya Sarah, sekarang di Eropa atau tepat nya di ibukota Swedia masih jam 7 pagi maka 5 jam setelah nya indonesia pasti sudah di waktu siang.
"sudah, kau tenang saja "
"lalu sekarang Morgan dimana? aku mau bicara"
"dia sedang tidur"
"hm baiklah, kalau begitu nanti aku telfon lagi"
"trus kau tidak mau bilang apa-apa untuk ku? "
terdengar suara Jordan yang sedikit sedih
"kau jaga diri baik-baik ya, tidur dan makan harus tepat waktu dan jangan lupa jaga Morgan baik-baik "
"baiklah, aku mencintaimu"
"ya, aku juga mencintaimu"
Sarah mematikan telfon nya, lalu segera menyusul Tuan Hend dan Henry ke area minimarket.
cukup lama Sarah berada di are minimarket selama penghancuran, setelah hari sore proses penghancuran itu selesai dan Sarah, Tuan Hend, dan Henry segera kembali ke peeusahaan untuk mengurus sisa pekerjaan mereka.
sudah hampir senja, langit sudah merubah warnanya. Sarah pulang ke rumah Diana bersama Gerry.
saat sampai di rumah Diana, Sarah tidak menemukan Diana dimana pun. namun saat Sarah melewati ruang kerja yang dulu sering ia pakai, Sarah tidak sengaja mendengar suara tangisan.
Sarah membuka sedikit pintu ruang kerja itu, terlihat Leon sedang memeluk Diana yang menangis tersedu-sedu.
"aku tidak kuat Leon, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan! hiks" ucap Diana.
"bibi tenanglah, jangan seperti ini"
__ADS_1
Leon mengeratkan pelukannya.
"aku tidak bisa menerima anak ini, aku tidak mau anak ini! tapi aku juga tidak mau membunuhnya... hiks"
anak? anak siapa? Diana hamil? tapi anak siapa? apa mungkin Diana dan Leon? tidak! ini tidak mungkin, Leon tidak mungkin melakukan hal ini. tidak mungkin!
pikir Sarah.
"Dasar brengsek! "
pekik Diana
"bibi jangan seperti itu, bibi harus kuat! aku janji akan menjaga bibi! "
Leon menggenggam bahu Diana dengan kuat.
menjaga? Leon apa kau?
Sarah tidak bisa menahanya lagi, tanpa pikir panjang Sarah segera masuk dan menghampiri mereka.
"apa yang terjadi? "
tanya Sarah sambil menatap wajah Leon dan Diana yang kaget karna kedatangannya.
"Leon apa yang sudah kau lakukan kepada Diana? hah! " bentak Sarah kepada Leon.
"kau akan menjaga Diana? memangnya kenapa? ada apa? dan anak? dimana? dimana anaknya? anak siapa itu? katakan dengan jelas, apa yang terjadi pada kalian berdua?! "
ucap Sarah dengan kesal.
Diana memegang bahu kanan Sarah setelah itu Sarah menghadap ke Diana. lalu Diana berkata
"Sarah...a-aku h-hamil"
"aku hamil dengan calon suami ku, t-tapi setelah dia tahu aku h-hamil dia tidak mau m-menikahiku lagi dan dia pergi meninggalkanku! aku harus bagaimana Saraaahhh.... hiks aku tidak tahu harus apa... hiks aku sangat mencintainya t-tapi dia tidak mau menikahiku dan bertanggung jawab. a-aku tidak tahu.... aku takut... Sarah aku takut... "
Diana menangis sejadi-jadi nya, Sarah memeluk Diana dan menenangkannya.
"Leon, buatkan teh hangat"
pintah Sarah lalu Leon mengangguk dan segera ke dapur.
Sarah mengajak Diana ke kamarnya lalu menyuruh Diana untuk berbaring.
"katakan, siapa bule brengsek yang meninggalkan sahabatku yang cantik ini? "
tanya Sarah.
"Sebenarnya dia adalah anak dari pemilik perusahaan tempat aku bekerja"
jawab Diana saat isakan nya mulai berkurang.
"lalu saat kau melakukan 'itu' apa yang kau pikirkan? " tanya Sarah lagi.
"aku tidak tahu, saat itu kami sama-sama mabuk" jawabnya.
"sama sepertiku dong, kau ingat kan saat aku hamil Morgan dulu? aku mengadu kemana? kepada dirimu kan? lalu kenapa kau tidak bilang kepada ku? kita ini saudara kan? "
tanya Sarah dengan senyumannya.
Diana mengangguk lemah, lalu duduk.
"dulu saat hamil aku bersandar padamu, menyusahkan mu dan merepotkanmu. padahal masalah nya sama, sama-sama di tinggal saat bumil yakan? tapi apa? aku tetap bisa tuh hidup tanpa pria brengsek itu sampai pada akhinya aku menemukan pria baik yang mau menyesali perbuatan nya. "
"lalu bagaiamana denganku? bule brengsek itu tidak akan mau menyesali perbuatan nya."
__ADS_1
ucap Diana.
"tidak harus orang yang sama, Diana. kau itu baik dan kau tidak akan kekurangan orang yang sayang dengan dirimu, masih banyak laki-laki diluar sana yang bisa menjagamu. "
"lalu apakah laki-laki diluar sana mau menerima anak ini? " tanya Diana dengan sedu
"pasti, pasti ada yang mau menerima anakmu. aku janji! " Sarah memeluk Diana dengan serat.
aku pasti akan mencarikan laki-laki terbaik untukmu
batin Sarah.
klek
pintu kamar terbuka, kemudian Leon datang dengan segelas teh panas di tangan nya.
drt...
drt...
di waktu yang bersamaan handpone Sarah berbunyi.
"aku mau anggat telfon dulu, jaga bibi mu baik-baik ya" Sarah segera keluar kamar dan pergi menuju kamarnya lalu mengangkat Video Call itu.
"hallo? "
"hallo Mami! "
"Sayang? "
"ini Morgan, Mami. bukan Papi! "
"iya tahu, Morgan kan sayang nya Mami juga"
ucap Sarah sambil tertawa.
"Mami udah tidur belum? "
"belum sayang, disini kan masih sore"
"oh iya, Morgan lupa. hehe"
"Morgan kok belum tidur? "
"belum Mami, Morgan lagi nemenin Papi kerja"
"oh ya? Morgan sekarang diamana? dan Papi? "
"Morgan lagi baring di kasur, kalo Papi lagi kerja tuh" Morgan memutar kamera handpone nya lalu menunjukan Jordan yang sedang sibuk dengan laptop nya di sofa sebelah ranjang.
"oh ya Mami, bibi Diana mana? paman Leon juga, dimana mereka? "
tanya Morgan.
"Bibi Diana lagi mandi, paman Leon juga belum pulang. besok aja ya video call nya lagi. "
"besok? memangnya besok Mami belum pulang? "
"belum sayang, maaf ya Masih ada pekerjaan yang harus Mami selesaikan"
untuk meringankan pikiran, Sarah terus berbicara dengan Morgan. dan sesekali ia berfikir bagaimana caranya untuk mengatasi masalah Diana.
apa lebih baik aku membawanya kembali ke indonesia ya? agar dia bisa melupakan bule brengsek itu.
pikir Sarah
__ADS_1