
Pov Andin
Pagi itu aku berangkat ke warung makan milik Bu Anwar, tempat ku mengais rezeky selama ini. Sejak nenek meninggal, hanya disanalah aku menghabiskan waktu ku setiap harinya.
Berangkat jam delapan pagi dan pulang jam sembilan malam aku jalani dengan semangat yang tak pernah luntur.
Tak banyak yang aku inginkan, aku hanya ingin menjalani hari hariku dengan tenang dan penuh suka cita. Sudah cukup rasanya aku bersedih dengan kisah hidup dimasa lalu dan ditambah kesedihan karena ditinggal nenek.
Aku bertekat untuk membuat diriku bahagia apapun yang terjadi.Ku tekan semua rasa iri ku pada teman dan orang orang sekitar yang memiliki kehidupan lebih sempurna dibanding aku. Karena sebagaimana pun irinya aku pada mereka tak akan bisa merubah takdir yang harus ku jalani, jika bukan aku sendiri yang berniat mengubahnya.
Meski aku terlahir dalam keluarga yang tidak harmonis, namun aku bersyukur karena masih diberi seorang nenek yang menyayangiku. Disaat ayah dan ibu kandungku tak menginginkanku lagi, nenek masih mau merawatku ditengah keterbatasannya.
"Selalu bersyukur apapun yang terjadi dan kamu dapat hari ini. Dengan begitu, kamu akan selalu merasa bahagia dalam kekuranganmu."
Itulah pesan yang selalu nenek sampaikan padaku setiap harinya.
Siang itu, warung sedikit sepi. Setelah membereskan meja dan mencuci piring yang kotor aku duduk bersama dengan Bu Anwar di bangku samping warung. Bu Anwar bercerita tentang sosok ibu yang tak pernah aku tau wajahnya.
Menurut cerita Bu Anwar, ibuku wanita yang cantik. Kulit putih mulus dengan rambut ikal dan mata coklatnya, ditambah lagi dia lesung pipit di kedua pipinya membuat nya menjadi idola di jamannya sekolah dulu.
Aku senang sekali, walau hanya tau ceritanya. Aku tau ibu sebenarnya menyayangiku. Terbukti dia melahirkan ku dengan selamat ke dunia ini. Nenek bilang, aku tidak boleh menyimpan dendam pada siapapun. Harus ikhlas dalam segala hal, walau itu sulit.
Ditengah kami bercerita tanpa sengaja aku melihat ada seorang ibu yang sedang kesusahan di sebrang jalan. Dengan cepat aku berlari kearah ibu tersebut dan mengambil barang yang dibawa nya.
"Maaf Bu, ibu mau kemana? biar saya bantu."
"Mau ke.."
Suara ibu hilang bersama dengan ambruk tubuh nya. Aku yang panik segera berteriak meminta bantuan orang orang sekitar.
Dibantu beberapa warga aku membawa ibu tersebut ke puskesmas terdekat. Menurut dokter yang memeriksanya, ibu tersebut mempunyai hipertensi dan dalam keadaan kelelahan.
Dalam keadaan bingung, aku yang tak tau apapun tentang ibu tersebut memutuskan untuk menjaganya hingga beliau tersadar.
Untuk mengetahui identitas beliau, dokter menyarankan aku untuk membuka tas ibu tersebut. Karena takut aku meminta dokter saja yang langsung membuka tas dan menghubungi keluarga nya.
__ADS_1
Aku hanya mendengarkan saja ketika dokter berbicara dengan seseorang didalam telfon ibu yang akhirnya ku tau bernama bu Salma tersebut. Dokter memintaku untuk menjaga beliau selama menunggu keluarganya datang menjemput.
Dua puluh menit berselang, ada seorang pria datang masuk ke dalam kamar perawatan dimana aku masih duduk menemani Bu Salma yang masih enggan membuka matanya.
"Mbak yang menolong Nyonya?"
"Saya hanya membantu menjaga ibu, oh ya apa Tuan keluarga beliau?"
"Nama saya Anton, saya sopir Nyonya Salma. Saya tadi kehilangan jejak Nyonya ketika dipasar. Beruntungnya tak terjadi apa apa pada beliau."
Ku pandangi lelaki yang mengaku sopir Bu Salma tersebut, nampak kekhawatiran terlihat jelas dimatanya.
Tak banyak yang kami lakukan. Lelaki yang mengaku sudah bekerja selama lima tahun di keluarga Bu Salma tersebut bercerita tentang sakit dan juga sedikit tentang Bu Salma.
Aku menanggapinya dengan tersenyum, karena sejujurnya aku tidak begitu mengerti.
Satu jam kemudian Bu Salma akhirnya tersadar. Beliau nampak tersenyum melihat pak Anton yang mendekat ke arahnya.
"Nyonya, bagaimana keadaan anda sekarang? apa masih pusing?"
"Puskesmas Nyonya, tadi Nyonya pingsan saat menunggu saya membeli bensin. Maafkan saya Nyonya, tak seharusnya saya meninggalkan anda sendirian dalam pasar." Pak Anton menunduk dalam
"Bukan salahmu Ton, tadi aku hanya ingin menunggumu didepan agar kamu tak perlu lagi masuk ke dalam pasar mencariku. Tapi ternyata aku malah merepotkanmu."
"Oh iya, Nyonya kenalkan ini Andin. Dia yang menolong Nyonya ketika pingsan dan dia juga yang membawa Nyonya ke sini." Pak Anton memintaku mendekat
Aku mengulurkan tanganku bersalaman dengan Bu Salma yang sudah merubah posisinya yang tadi berbaring menjadi setengah duduk dengan bersandarkan bantal bantal dibantu oleh pak Anton.
"Makasih banyak, kamu sudah menolong ibu tadi. Maaf ya ibu sudah membuat kamu repot."Bu Salma menggenggam tanganku erat.
"Sama sama Bu, tadi kebetulan saya berada disana. Syukurlah ibu sudah sadar kembali."
Kami berbincang sebentar sebelum akhirnya aku berpamitan untuk kembali ke warung, sudah terlalu lama aku meninggalkan pekerjaanku.
Bu Salma menawarkan beberapa lembar uang yang aku tau banyak jumlahnya. Beliau bilang sebagai tanda terimakasih nya karena aku telah menolong dan menjaganya selama dia belum sadarkan diri tadi.
__ADS_1
Dengan halus aku menolak pemberian beliau, aku menolong ikhlas dari hati. Jika aku menerimanya maka semua keikhlasan ku akan menjadi sia sia belaka.
Aku melihat raut kekecewaan dalam wajah Bu Salma yang masih memucat, tapi aku tetap menyakinkan beliau bahwa aku benar benar tak membutuhkan uang tersebut.
Meski pada kenyataannya aku sangat membutuhkan uang untuk membayar uang kontrakan yang seminggu lagi harus ku bayarkan. Namun aku lebih memilih untuk menolaknya saja.
Aku berlalu meninggalkan puskesmas, menaiki angkot kembali ke warung. Sesampainya disana Bu Anwar menyambutku dengan senyum yang mengembang.
"Bagaimana keadaan ibu tadi Din? apa semua baik baik saja?"
"Kata dokter tadi, beliau punya riwayat hipertensi buk. Ditambah kelelahan makanya pingsan. Tapi sekarang sudah baikan."
" Syukurlah."
Aku kembali melanjutkan pekerjaanku saat ada tamu yang mulai berdatangan ke warung.
Pov autor
Sebulan sudah aku menikah, sebulan juga aku telah tinggal dirumah Bu Salma. Seorang ibu yang pernah aku tolong beberapa waktu yang lalu.
"Nak, nanti siang tante Diana datang. Dia akan mengajakmu berbelanja."
"Kalau saya pergi siapa yang menemani ibu dirumah nanti?" Jujur saja aku takut kejadian ibu mertuaku tiba tiba pingsan terulang lagi. Aku tidak mau mengambil resiko meninggalkannya.
"Sebentar lagi istri Anton datang, tadi aku memintanya untuk membantuku membuat bumbu urap dan sayur lodeh. Jadi kamu tidak perlu khawatir."
"Aku juga kan bisa membuatnya untuk ibu, kenapa ibu tak bilang kalau menginginkannya?."
"Tak apa nak, kamu setiap hari sudah merawat ibu dengan sangat baik. Hari ini bersenang senanglah bersama tante. Ibu tidak mau kamu merasa bosan dirumah."
Akhirnya aku menurut tak mau lagi mendebatnya. Menurut dokter yang memeriksa ibu mertuaku, aku harus menjaga kestabilan emosi beliau dan menghindarkan nya agar tidak mengalami stress yang memicu kambuhnya penyakit ibu.
Beruntung tante datang setelah istri pak Anton datang lebih dulu hingga aku tenang meninggalkan ibu selama aku pergi dengan tante.
Walau ada dilema yang ku rasakan, karena aku pergi keluar rumah tanpa meminta ijin dari suamiku terlebih dahulu. Aku yang tak pernah tau kapan dia pulang dan kembali kerumah hanya bisa pasrah ketika ibu menyarankan untuk berpamitan lewat pesan saja. Karena beberapa kali pun aku maupun ibu mencoba menghubungi nomernya tak pernah ada jawaban.
__ADS_1
To be continue