PERPISAHAN

PERPISAHAN
Reza


__ADS_3

Sebulan sudah usia pernikahan mereka. Namun tak pernah sekalipun terjadi interaksi antara Reza dan Andin. Reza yang selalu pulang larut malam tak pernah melihat ataupun menegur Andin, bahkan lelaki itu selalu berangkat lebih awal ke kantornya tanpa mau duduk bersama sekedar menikmati sarapannya.


Pov Reza


Siang itu aku pulang ke rumah setelah mendapat kabar bahwa ibu sedang sakit. Dengan rasa was was dan khawatir yang ku rasakan, ku pacu mobilku dengan kecepatan tinggi. Ibu adalah duniaku, segala perjuanganku kini hanya untuk kebahagiaan beliau. Setelah ayah pergi tiga tahun lalu, dunia kami berdua berubah. Aku yang biasanya hanya duduk diam dan bersenang senang dengan teman temanku menjadi seorang yang sibuk di kantoran.


Tak pernah terbesit keinginan untuk segera menikah dalam benakku.


Usiaku masih dua puluh enam tahun di januari kemarin. Dengan target menikah nanti diumurku yang ke dua puluh sembilan.


Saat ini aku sedang menjalin kisah dengan seorang gadis yang sangat cantik. Kami bertemu tanpa sengaja diacara ulang tahun Dimas teman nongkrong ku. Setelah berkenalan kami mulai dekat satu sama lain karena seringnya komunikasi antara kami berdua.


Jihan nama gadis itu. Jihan adalah sosok gadis yang enerjik, dia selalu bisa membuat suasana hatiku kembali ceria dan tenang ditengah pekerjaan yang menyita waktuku.


Aku tak pernah tau kenapa ibu dan keluarga besarku tak ada yang menyukainya. Mereka selalu bilang bahwa Jihan bukanlah gadis baik baik.


Bahkan Ricko pernah mengatakan bahwa Jihan adalah cewek panggilan. Ah mana aku percaya semua bualannya.


Semua yang aku dengar tentang nya ku anggap angin lalu saja. Karena dimataku Jihan benar benar wanita sempurna. Dia lembut dan penuh perhatian dan satu lagi dia juga bisa membuatku melayang. Bersamanya aku bisa bebas menjadi diriku sendiri.


Ketika banyak orang menghujat hubungan kami, aku malah tertantang untuk lebih dalam menjalin hubungan ini.


Bukankah masa ini adalah masa moderen? dimana kita semua bebas berekpresi. Begitu juga dengan ku dan Jihan.


Aku tak pernah menyesali apapun yang kami lakukan, termasuk berhubungan badan yang selalu menjadi rutinitas kami dikala ada waktu bertemu. Semua sah sah saja menurutku dan Jihan juga menyetujuinya. Lalu dimana salahnya?

__ADS_1


Toh kami senang melakukannya, lagi pula Jihan lah yang akan menjadi istriku kelak bukan wanita lain.


Mengingat wanita lain aku jadi teringat istriku, ah istri aku bahkan tak ingat namanya, bagaimana rupanya pun aku tak tau. Tak pernah ada minat ku untuk sekedar menatapnya.


Kehadirannya hanya membawa petaka dan kesialan untukku.


Aku heran dengan selera ibu. Bagaimanapun Jihan lebih baik dalam segala hal dibanding dia.


Dengan menahan kesal ku tinggalkan dia dihari pernikahan kami, aku masih berbaik hati untuk menyelesaikan acara yang ibu buat hanya demi menjaga ibuku dari rasa malu.


Tak butuh waktu banyak buatku berada dirumah yang selalu membuatku kesal. Setelah berganti pakaian aku segera meninggalkan rumah. Jangan tanya kemana tujuanku, sudah pasti aku akan menghabiskan hariku bersama wanita yang ku cintai. Lumayan juga cuti kantor yang ku ambil bisa ku gunakan untuk berlibur dan ber cinta dengan Jihan sepuas kami tanpa ada yang mengganggu termasuk pekerjaan.


Selama seminggu aku menghabiskan waktu bersama Jihan. Dalam apartemen yang ku beli khusus untuknya dan akan menjadi rumah kami nanti setelah menikah.


Jika itu terjadi dengan senang hati dan tanpa berpikir aku pasti akan mengabulkannya, karena itu memang tujuanku.


Ck, kenapa waktu terasa cepat sekali berlalu. Tak terasa waktu cutiku pun telah berakhir.


Ku dekap erat tubuh polos yang masih melingkar dalam pelukanku, rasanya tak ingin aku melepaskannya.


Duniaku berwarna bersamanya. Ya hanya Jihan, Jihan dan Jihan yang mampu membuatku menjadi diri sendiri.



__ADS_1


Pov author



Pagi yang cerah, Adin yang sudah terbangun saat subuh tadi melangkah menuju dapur. Sudah menjadi kebiasaan barunya dikala pagi dirumah ini. Memasak sarapan buat mertua dan suaminya, walau tak jarang lelaki itu tak pernah menyentuh apa yang telah dia siapkan untuknya.



"Kamu sudah bangun nak?"



"Iya Bu, sudah terbiasa bangun pagi jadi susah sekali untuk bangun lebih siang dari ini."



Bu Salma tersenyum, wanita baya itu mengusap pundak menantunya dengan lembut. Terbesit rasa bersalah yang teramat dalam dihatinya.



Ke egoisnya membawa gadis manis berlesung pipi itu menjalani kehidupan rumah tangga yang tak muda. Sikap Reza yang tak pernah berubah walau sudah sebulan menikah terkadang membuat Bu Salma pesimis.



Keinginannya untuk melihat sang putra hidup bahagia dengan wanita yang tepat seakan akan hanya menjadi mimpi belaka.

__ADS_1


__ADS_2