
"Sayang, besok aku ada perjalanan bisnis ke luar kota. Kamu mau ikut denganku?"
Malam itu Reza menginap di apartement nya yang ditempati oleh Jihan. Lelaki itu berhasil membujuk sang kekasih yang merajuk setelah beberapa hari dirinya tidak memberi kabar.
Jihan tidak serta merta menjawab. Wanita itu sedang berpikir tentang rencananya sendiri. Pras mengatakan jika dirinya kembali ke Thailand untuk mengurus bisnis mereka yang hampir selesai dibangun.
"Kebetulan aku ada acara sayang. Bagaimana ya?" Jihan pura pura berpikir keras.
Reza yang melihat kegundahan sang kekasih akhirnya memeluknya. Di rengkuh nya tubuh langsung tersebut dengan hangat. Reza memejamkan matanya, menghirup aroma tubuh wanita yang telah menemaninya selama 2 tahun terakhir.
"Penting banget acaranya?" Lelaki itu berucap dibalik ceruk leher Jihan.
"Hem, kami mau berburu kuliner dan mencoba tempat baru. Ada diskon lo sayang, aku sudah lama sekali ingin berkunjung kesana. Tapi bagaimana dengan kamu?" Wanita itu menunduk.
Reza yang masih memeluk tubuh itu beralih menciumi puncak kepala Jihan penuh sayang. Helaan nafas terdengar dari bibirnya.
"Kalau begitu pergi saja sama mereka sayang. Aku tidak apa apa sendiri. Lagi pula tidak akan lama cuma tiga sampai empat hari saja disana."
"Beneran sayang? kamu tidak marah kan kalau aku tidak ikut?" Binar bahagia terlihat jelas diwajah cantik Jihan yang bersorak dalam hati.
Anggukan kepala dari Reza membuat wanita tersebut segera menghambur dan menenggelamkan kepalanya dalam dada bidang lelaki yang memeluknya erat kini.
Tak ada yang Reza pikirkan, kebahagiaan dan senyum sang kekasih lah yang dia utamakan.
"Makasih sayang, aku janji akan beliin kamu oleh oleh yang paling bagus nanti sepulang dari sana.
Tak ada sahutan dari lelaki itu. Namun bibirnya sudah melabuhkan beberapa ciuman diwajah dan bibir wanitanya.
" Sayang mau minta jatah kah?" Jihan mendongakkan wajah setelah aksi berci uman mereka berakhir.
Gelengan pelan lelaki itu membuat Jihan mengernyit. Biasanya, disaat dirinya tidak bisa ikut serta dalam perjalanan bisnisnya. Reza selalu meminta jatahnya diawal. Bahkan tak jarang mereka akan melakukannya berkali kali.
Namun sudah hampir tiga minggu mereka tidak melakukan ritual tersebut.
"Kok tumben sayang."
"Besok aku berangkat sendirian. Kalau kita melakukannya sekarang, aku takut besok dalam perjalanan aku akan mengantuk. Sementara malam harinya aku sudah harus menghadiri meeting dengan beberapa klien. Jadi senang senang nya kita tunda sampai semua selesai ya sayang." Reza membelai pipi sang kekasih lembut.
"Baiklah, baiklah. Kita beristirahat langsung saja sekarang. Besok kamu berangkat pagi kan?"
"Jam sembilan sepertinya aku berangkat. Bagaimana denganmu hem?"
__ADS_1
"Sepertinya siang deh, aku belum konfirmasi lagi sih sama teman teman."
Reza kembali mengangguk. Ditariknya pelan tubuh itu untuk berbaring didalam dekapannya.
"Berhati hatilah nanti disana. Kamu taukan, aku sangat mencintaimu. Jangan membuatku khawatir."
"Aku tau sayangku, tenanglah. Aku janji akan menjaga diriku sebaik mungkin. Aku juga mencintaimu." Jihan semakin menyerukkan kepalanya dalam dada bidang Reza yang mendekap nya erat.
Lain Reza lain pula Andin.
Gadis manis tersebut terus saja membolak balikkan badannya. Kedua matanya tidak mau terpejam walau sejenak. Pikiranya melayang jauh ketempat dimana sang suami berada. Tentu saja tempat itu hanyalah angan yang Andin bangun sendiri dalam alam bawa sadarnya.
Dalam benaknya, Reza kini sedang berada dalam sebuah kamar hotel yang mewah, dengan seorang wanita yang dia yakini adalah kekasih dari sang suami.
"Tuhan, Engkau tau apa yang aku rasakan saat ini. Entah dinamakan apa rumah tangga yang aku jalani. Jika ditanya apakah aku bahagia? tentu saja aku akan dengan lantang berkata bahwa aku sangat bahagia.
Menikah dan berumah tangga adalah impianku. Sejak aku hidup sebatang kara aku mengharapkan hal itu segera datang. Dan Engkau mengabulkan doaku. Engkau memberiku seorang mertua yang baik hati. Engkau juga menghadiahiku dengan menghadirkan sosok suami yang tampan. Bagaimana aku tak bahagia jika demikian?.
Tapi Tuhan, aku bingung dengan keberadaanku kini. Entah aku yang banyak berharap, atau memang nasibku yang masih ingin menguji kesabaranku kini.
Aku berada dalam lingkaran labirin yang membingungkan. Berada diantara dua orang kekasih yang saling mencintai. Dan parahnya, salah satunya adalah suamiku sendiri. Entah bisa disebut apakah aku, istri kah atau akulah pelakor dan pengrusak dalam hubungan mereka.
__ADS_1
Aku harus bagaimana Tuhan. Membiarkan aku tak sanggup. Melepaskan aku pun tak rela. Tapi apa aku masih bisa berjuang? sementara suamiku sendiri meminta perjanjian bersyarat yang telah aku setujui pada mulanya. Aku tidak perna menyangkah akan sesakit ini rasanya. Entah sejak kapan aku memiliki rasa cinta yang mendalam untuk suamiku.
Walau pernikahan ini baru berjalan beberapa waktu. Tak pernah ada penyesalan yang datang menggoyahkan hatiku. Tapi aku tidak akan bisa melawan kuasaMu Tuhan, jika memang engkau mengharuskan pernikahan kami ini berakhir.
Tapi aku mohon, ijinkan aku berjuang sampai batas waktu yang telah kami sepakati.
Kuatkan Aku Tuhan.
Jika memang perpisahan adalah hasil akhir yang harus aku terima aku ikhlas. Setidaknya, beri aku waktu untuk menikmati kebahagiaan semu ini."
Andin menangkupkan kedua tangannya di wajahnya yang penuh dengan air mata. Wanita itu menangis meluapkan segala yang mengganjal dalam hatinya.
Terlintas bayangan wajah Bu Salma yang tersenyum. Andin sangat merasa bersalah pada mertua nya tersebut. Mertua yang sangat menyayanginya, melimpahi semua kasih sayang yang tidak lagi dia rasakan semenjak kepergian sang nenek.
Tak ada niat dirinya untuk membohongi wanita baya tersebut. Baginya semua terjadi begitu cepat.
Aku harus bagaimana? ucapnya sambil mengusap kasar air matanya

Rasa lelah membuatnya terlelap. Kepergian Reza membuatnya kembali terpukul. Andin yang merasakan kebahagiaan kemarin kembali harus terhempas ke alam nyata.
__ADS_1
Menerima kenyataan bahwa dia bukanlah prioritas. Dirinya tak ubahnya sebagai pelabuhan. Sebuah kapal akan bersandar di pelabuhan ketika kekurangan bahan bakar atau sekedar untuk menurunkan penumpang. Namun dikala semua terasa sudah terisi penuh, maka kapal tersebut akan kembali berlayar. Entah sampai kapan teringat waktunya untuk pulang.