PERPISAHAN

PERPISAHAN
part 127


__ADS_3

Malam ini Jordan lembur di kantornya, banyak sekali pekerjaan yang menumpuk di atas mejanya. padahal Jordan tidak pernah meninggalkan pekerjaan nya tapi kenapa pekerjaan nya masih menumpuk.


Hah...


Jordan menghela nafas berat.


"Glen! "


pekik Jordan.


"ya tuan? "


tanya Glen yang dari tadi berdiri diam di samping nya.


"kau sekretaris pribadi ku kan? tolong ambil alih separuh dari pekerjaan ku ini"


"maaf Tuan, tapi ini sudah jadi tugas anda dan saya sudah membantu anda setengah dari ini. anda hanya perlu memeriksa dan menandatangani nya saja"


jelas Glen.


"kau pikir menandatangani berkas sebanyak ini mudah apa? bisa-bisa patah tangan ku ini"


kesal Jordan.


Glen tersenyum.


"oh ya, Morgan sudah tidur kan? "


tanya Jordan


"Tuan muda sudah tidur dengan Paman Han"


jawab Glen.


"hari ini Sarah akan pulang kan? "


"iya, Nyonya akan pulang hari ini. keberangkatan nya dari Swedia malam hari, mungkin Nyonya akan sampai di sini pada siang hari"


"kalau begitu......"


drt....


drt....


drt....


Jordan mengambil handpone nya yang bergetar lalu mengangkat telfon nya


"ada apa Gara? "


"Gawat! ada seseorang yang berhasil membobol keamanan rumah mu! dan mereka menculik Morgan! "


"APA!!! "


"aku akan memeriksa alat pelacak di jam tangan nya Morgan! kau segeralah ke sini"


"baik"


tut....


Jordan mematikan telfon nya.


"Glen! kita pulang sekarang! "


ucap Jordan lalu mengemaskan tas dan jas-nya


"baik Tuan"


Glen mengerti sepertinya ada masalah darurat, jadi Glen tidak mau bertanya dan langsung mengikuti perintah Jordan.


sesampai nya di rumah, Jordan segera masuk dan melihat ke adaan rumahnya. oh sialan, kini rumah Jordan di penuhi dengan darah dan para pengawalnya yang tergeletak di lantai.


Jordan melihat Wanda yang berbering lemah di sofa dan ada paman Han yang duduk sambil memegang lengan nya yang berdarah, dan di sana juga ada Gerry yang sedang di obati oleh Gibran. terakhir, Jordan melihat Gara yang sibuk dengan laptop nya.


"apa yang terjadi?! "


tanya Jordan panik.


"20 menit yang lalu ada sekelompok orang yang menyerbu rumah mu, mereka memakai pakaian hitam seperti ninja. mereka tidak membawa pistol tapi membawa sebuah pedang, aku yakin yang menyerang bukanlah orang sini"


jelas Gibran.


"Gibran, punggung mu berdarah.... "


"tidak masalah Jordan, sekarang kita harus menemukan keberadaan Morgan. mereka membawanya"


"aku akan menelfon Vian terlebih dahulu untuk mengobati kalian"


Jordan mengambil handpnyablalu menghubungi Vian.


"Vian, bawakan 25 unit perawatan ke rumah ku"


Jordan mematikan handpone nya lalu mendekati Gara.


"kau sudah menemukan nya? "


"belum, tapi posisi terakhirnya ada di tempat taman bermain. ku pikir mereka sadar akan pelacak yang ada di jam tangan nya Morgan dan melepaskan nya"


jelas Gara.


"kalau begitu kita ke taman bermain itu sekarang! "


Jordan dan Gara bergegas untuk pergi.


"Gibran, kau tetap di sini bersama yang lain. dan Glen, bagaimanapun caranya undur keberangkatan Sarah kemari selama 3 hari! "


"baik tuan"


balas Glen


"tidak Jordan aku harus ikut! "


bantah Gibran.


"obati dulu luka mu bodoh! "


bentak Jordan lalu pergi begitu saja.


Gibran yang tadinya ingin pergi jadi tidak bisa bergerak karna luka di bahu dan punggung nya. benar kata Jordan, yang ada dia hanya akan merepotkan di sana jika keadaan nya seperti ini.


***


"aku sudah mengirim anak buah ku untuk mengepung taman bermain itu"


ucap Gara sambil menyetir.


Citt...


Gara menghentikan Mobil nya di depan gerbang sebuah taman bermain.


bukan, ini bukan taman bermain. ini adalah tempat seperti sebuah pasar malam/festival yang sudah tidak di gunakan lagi. tempatnya cukup menyeramkan.


"awas! "


Gara menarik Jordan hingga jongkok agar tidak terlihat dari beberapa penjaga yang ada di sana.

__ADS_1


"ini"


Gara memberikan sebuah pistol dan kacamata hitam kepada Jordan.


"kau gila ya! memangnya kita mau melihat sunset apa! "


kesal Jordan


"jangan mengoceh, pakai saja dulu! "


Gara memakaikan kacamata itu kepada Jordan.


"ini? "


Jordan terdiam saat kacamata hitam itu terpasang.


"kau bawa kecoa nya? "


tanya Gara.


"hah aku mengerti"


Jordan mengeluarkan beberapa kecoa dari dalam sakunya. sebelum itu Jordan meng-aktifkan kecoa nya dulu dan baru menyebarkan nya.


perlahan camera yang ada di kecoa itu terhubung di kacamata hitam yang Jordan dan Gara pakai di sebelah kiri nya. dan di sebelah kanan, kacamata itu di lengkapi lapisan untuk bisa melihat di keadaan yang gelap seperti taman bermain ini.


"mudah bukan? "


ucap Gara.


"aku rasa kita hidup di dunia fantasi modern "


"cih, kita memang hidup di dunia modern. orang-orang saja yang belum pandai menggunakan media sekarang"


sinis Gara.


kemudian mereka memulai aksi nya, Jordan dan Gara mengendap-ngendap mendekati bangunan yang ada di tengah taman bermain itu.


Dorr....


suara tembakan itu membuat Jordan terkejut setengah mati.


"upss sorry"


ucap Gara menggigit lidah nya.


Sial, akibat suara tembakan yang di buat Gara membuat orang-orang itu sadar akan kehadiran mereka namun untungnya keadaan di sana gelap dan sulit untuk melihat orang.


"kamera nya sudah masuk! "


ucap Jordan, dari kacamata yang ia pakai baguan mata kirinya bisa melihat rekaman yang ada pada kecoa itu.


"gedung itu! Morgan ada di sana!"


Jordan menunjuk gedung yang ada di tengah-tengah taman bermain.


"menurutku kita harus menghabisi yang di luar dulu, tapi tanpa suara yang keras karna masih ada Bebrapa orang yang menjaga di dalam gedung" ucap Jordan lagi.


"berapa orang yang di dalam? "


tanya Gara.


"sekitar 15 orang"


"hehe, kalau begitu kita gunakan ini"


Gara mengeluarkan sebuah suntik dan sebotol cairan putih bening.


"apa ini? "


"dengar, kita bisa melihat orang-orang dengan jelas dalam keadaan yang gelap ini. jadi kita bisa mengendap-ngendap dan langsung menyuntikan cairan ini ke tubuh musuh, maka tanpa suara mereka akan langsung pingsan. mengertikan? "


jelas Gara


"wah dari mana kau dapat ide berlian ini? "


tanya Jordan lalu mengambil suntik dan botol itu.


"itu tidak penting, kau ini tidak mengkhawatirkan anak mu Apa! "


kesal Gara.


"heii, jangan sembarangan anak ku itu pintar dan cerdas" sombong Jordan.


"Ck terserah"


Jordan dan Gara pun memulai aksinya.


*****


"hey anak kecil kenapa kau diam saja!?"


tanya seorang pria kepada anak kecil yang duduk terikat di depan nya.


"untuk apa berteriak? nanti Papi ku pasti akan kemari dan membawaku pergi kok"


jawab anak itu dengan wajah datar.


"wah, anak ini sombong sekali yah"


kesal pria itu


"siapa yang sombong? "


ketus Morgan.


"hei anak kecil kau tidak tahu sopan santun ya! apa orang tuamu tidak mengajarimu sopan santun? " kesal pria itu.


"heh paman Jelek! jangan bicara sembarang tentang orang tuaku! liat saja, paman pasti akan di cincang habis oleh Papi ku! "


balas Morgan.


"benarkah? kalau begitu, sebelum Papimu itu mencincang diriku aku akan lebih menembak anak manis nya ini terlebih dahulu "


pria itu menyeringai seram lalu menyodongkan pistol nya di kening Morgan.


melihat pistol yang sudah tertempel di kepala nya membuat Morgan ketakutan, tapi Morgan berusaha untuk menghilangkan ketakutan itu.


"aku tidak takut! "


tajam Morgan.


"*sialan! dia mengarahkan pistol nya kepada Morgan! " pekik Jordan yang masih di luar*.


"kau pergi duluan! biar aku dan anak buah ku yang menyelesaikan ini! "


ucap Gara.


dengan cepat Jordan masuk ke gedung itu, Jordan mulai menyuntikan penjaga yang ada di gedung itu satu-persatu.


tinggal 5 orang lagi di ruangan itu, Morgan pasti di sana! batin Jordan.


"Jangan masuk! tunggu dulu mereka punya jebakan! " ucap Gara dari Earpone yang ia dan Jordan pakai.


"lalu bagaimana? "

__ADS_1


tanya Jordan tak sabaran.


"tunggu aku di sana! "


Jordan menunggu Gara di sana sambil mengintai 5 orang yang berada seruang sengan Morgan, dan Jordan bisa melihat kalau pria tadi masih mengarahkan pistol nya ke Morgan.


"ikut aku! "


tiba-tiba Gara datang lalu menarik tangan Jordan dan membawanya kesebuah pintu yang tertempel di lantai. saat Gara membuka pintu itu, ada sebuah terowongan besar, Gara dan Jordan pun masuk kedalam terowongan itu.


saat hampir berada di ujung terowongan, Jordan Gara mendengar suara gelak tawa sekelompok pria. sepertinya mereka sudah dekat dengan Morgan.


"HaHaha... lihat anak malang ini, mukanya sudah sangat pucat! dimana Papi mu itu ha?! "


"HaHaHaha.... "


"dasar anak Papi! "


Jordan mengepalkan tangan nya saat mendengar itu, sampai mereka tiba di ujung terowongan tiba-tiba pria itu berteriak.


"Apa! semua pasukan sudah pingsan! bagaimana bisa?! aku bahkan tidak mendengar suara perkelahian sedikit pun! "


pria itu berteriak.


"sepertinya mereka sudah sadar"


bisik Gara.


Dorrr!


suara tembakan itu membuat denyut jantung Jordan berhenti, Tidak! Jordan harus keluar!


dengan emosi yang memuncak, Jordan keluar dari terowongan itu lalu menghadapi para penculik itu. dengan mata sajam nya, Jordan menemukan Morgan yang masih hidup terikat di kursi.


"bunuh diaa! "


seluruh orang yang ada di ruangan itu mulai menyerang Jordan dan Gara langsung membantu Jordan.


Bukh!...


Dorr!


Dorr!


Arghh!...


Dorr.....


suara yang mengerikan itu memenuhi seluruh ruangan, dan membuat salah seorang anak menjadi takut. dia masih terlalu kecil untuk ini semua, dia belum pantas untuk melihat kejadian yang mengerikan ini. tapi sayang nya anak itu melihat kejadian tersebut dengan mata yang terbuka, dimana darah, pukulan, tembakan ada dimana-mana.


saat pasukan nya mulai berkurang, pria itu membuka ikatan Morgan lalu mengendong nya dan dengan cepat menempel kan pistol nya ke kepala Morgan.


"berhenti! atau anak ini akan ku tembak! "


pekik pria itu.


Jordan dan Gara berhenti sebentar dan itu membuat mereka lengah hingga leher mereka di pukul dan membuat mereka langsung jatuh.


Arghh!...


"bawa mereka dan kurung di ruang bawah tanah! "


pria itu memerintahkan anak buah nya. dan anak buahnya pun segera menyeret Jordan dan Gara yang sudah tergeletak lemah.


"Tidak! Morgan! "


Jordan berusaha untuk menyerang, tapi sayang nya tidak bisa karna anak buah dari penculik itu telah memukul titik fatalnya.


Jordan dan Gara di bawa ke sebuah ruangan kemudian mereka di kunci di sana.


"sialan! "


pekik Jordan


"tenang, aku sudah meminta bala bantuan"


ucap Gara.


dan kemudian pintu itu terbuka.


"Gibran?! "


ucap Jordan tak percaya.


"aku sudah mendapat pesan dari Gara "


Gibran mendekat lalu memberikan Jordan sebuah pil.


tanpa ragu Jordan memakan pil itu dan meneguk air yang di bawa Gibran juga.


"dimana Morgan?! "


tanya Gibran.


"tidak! dia masih bersama penculik itu"


dan kemudian.


Dorr!....


suara nengerikan itu kembali terdengar.


"MORGANNNN! "


Jordan berlari sekencang mungkin dan pergi ke ruangan itu kembali.


Saat Jordan masuk ke ruangan itu, Jordan terkejut setengah mati. Jordan melihat Morgan yang berdiri membelakanginya sambil memegang pistol di tangannya, dan seluruh penculik yang tersisa sudah mati tertembak.


Morgan membalikkan badan nya.


"Papi"


ucap nya gemetar


Jordan yang tadinya mematung di pintu, segera berlari memeluk Morgan.


"Papi"


Ucap Morgan lagi.


"tidak apa-apa nak, Papi ada di sini. tidak ada yang terjadi sayang, tenang lah nak"


Jordan memeluk Morgan dengan erat sembari menenangkan anak itu.


Takk..


pistol yang Morgan pegang terjatuh, kemudian ia membalas pelukan Jordan dengan erat.


tubuh kecil itu bergetar hebat hingga membuat Jordan semakin dalam memeluknya, menyembunyikan nya di balik tubuh besar nya dan melindunginya dengan punggung yang kuat itu, namun sayang nya Jordan sudah memberikan malaikat kecilnya sebuah kejadian yang mengerikan dimana kejadian itu akan membuat rasa takut di hati malaikat kecilnya.


"maaf kan Papi Nak"


______________


tbc

__ADS_1


lanjut?


__ADS_2