
"Morgan, pelan pelan. jangan lari-lari! "
teriak Sarah dari atas.
"iya Mami, Morgan tidak akan lari lari lagi. Maaf" balas Morgan
Sarah menggeleng pelan, lalu ia kembali masuk ke kamar.
Sudah hampir 3 minggu Jordan pergi, tapi Sarah tidak mendapat kabar dari nya lagi. yang ada hanya pesan terakhir Jordan setelah pergi.
____
message
Jordan : aku sudah sampai di Cina, jaga dirimu baik baik. jangan keluar rumah sebelum aku pulang. jika kau ingin sesuatu hubungi saja Gibran. jaga anak kita juga. aku mencintaimu.
sampai nanti.
Sarah : iya, aku juga mencintaimu
Sarah : Apa kau baik baik saja disana?
Sarah : aku merindukan mu, kapan kau pulang?
Sarah : Jordan? kau masih hidup kan? (。-_-。)
_____
Sarah menghela nafas berat, ia melempar handpone nya ke ranjang.
"Aaa... Jordan! kenapa tidak mengabariku sih? "
geram Sarah.
"pesan ku tidak di jawab, telfon ku juga tidak di angkat! menyebalkan! aku kan jadi khawatir! "
"Aaaa... Jordan, aku sangat merindukan mu! kapan pulang?! "
Sarah kesal dan mencak mencak sendiri di ranjang.
"selama 3 minggu ini rasa ny seperti di penjara, tidak bisa keluar, jalan jalan, kalau bekerja pun hanya dari rumah"
guman Sarah.
"hmm.... aku kan jadi sangat merindukam mu, kau harus pulang ya, jangan tinggalkan aku lagi "
Sarah menatap layar HP nya, yang di situ terlihat foto Jordan.
"Mami.. Mami bicara dengan siapa? "
Suara lembut itu membuat Sarah kaget setengah mati.
cepat cepat Sarah mengarahkan HP nya ke telinga nya, dan melihat Morgan sedang berdiri di pintu.
"ah, tidak sayang. Mami sedang menelfon teman Mami "
bohong Sarah dengan senyuman nya.
"oh, kalau begitu Morgan mau ke kamar dulu ya Mami"
"iya-iya. jangan lari-lari ya sayang "
Morgan pun pergi.
Sarah menghela nafas lega,
aish, untung saja tidak ketahuan. semoga saja anak itu tidak mendengarkan nya saat aku berbicara sendiri tadi. aduh kau ini bagaimana sih Sarah!
Sarah segera bangkit, ia pun turun ke bawah untuk memasak makan siang.
Saat berada di dapur, Sarah tersadar kalau beberapa dari bahan makanannya sudah habis.
Sarah pun mengambil HP nya lalu menelfon Gibran.
"ck, kenapa tidak di angkat sih?!"
guman Sarah. lalu mencoba menelfon Gibran lagi.
"tidak di angkat juga, coba sekali lagi saja deh"
Sarah kembali menelfon Gibran
"ya, halo. ada apa? "
Sapa Gibran
"Gibran, bahan makanan ku sudah hampir habis. tolong belikan ya"
"hmm baiklah, apa saja? "
"Beras, tomat, Sarden, daun-daun, Wortel,...."
"eh tunggu, daun daun maksudnya? "
"oh maksud ku seperti daun kunyit, daun jeruk. oh ya jangan lupa bumbu dapur nya ya"
"apa saja? "
"ya seperti kunyit, lada, ketumbar, merica, jahe. dan sayuran nya juga, tapi yang inti nya saja, seperti wortel, brokoli, timun, tomat, kentang juga.oh ya jangan lupa buah buahan, kalau perlu semua jenis buah di beli dan..... "
"aduh Sarah, ini daftar belanjaan atau data keuangan sih? "
protes Gibran dari sebrang sana
"ya mau bagaimana lagi, kebutuhan dapur kan sangat Banyak"
balas Sarah acuh tak acuh
"hmm begini saja, kau buatkan saja dulu daftar belanja nya, nanti jika sudah selesai kirim kewat email ku. "
"ya... baiklah nanti akan ku kirim"
"eh, lebihkan masakan nya untuk ku ya"
"iya, tapi besok"
"kenapa besok? "
"Ck, bahan makanan nya saja belum di beli. Bagaimana mau masak? lagi pula bahan makanan yang akan di beli nanti kan pasti datang nya Nanti sore"
__ADS_1
"ah iya, aku lupa. lalu siang ini kau mau makan apa? biar aku belikan"
"Saefood saja"
"tidak, itu pedas"
"kalau begitu tteokbokki instan. beli yang banyak"
"hei, kau mau Jordan membunuh ku ya? "
kesal Gibran.
"yasudah, terserah saja. yang penting bisa di makan. "
"hmm baiklah"
"oh ya, ngomong ngomong kapan Jordan akan pula.... "
tut... tut...
belum sempat Sarah menyelesaikan kalimatnya, Gibran sudah Mematikan telfon nya dulu.
Ck, Slalu saja menghindar, Dasar!
batin Sarah.
Sarah pergi ke ruang kerja, ia mengambil laptop nya dan segera membuat daftar belanjaan.
"Mami... "
Sarah menoleh ke sumber suara, dan melihat Morgan yang berdiri di pintu.
"kenapa sayang? sini masuk"
ajak Sarah kepada anak nya.
Morgan masuk dengan tatapan polos nya, lalu ia mendekat kepada Sarah dan minta di pangku. Sarah pun dengan senang hati memangku Morgan di atas paha nya
"kenapa? kaki nya sakit? "
tanya Sarah.
Morgan menggeleng
"Lalu? "
"Mami, sampai kapan kita harus di rumah saja? ini kan sudah lama, Mami juga tidak pernah keluar rumah setelah kaki Morgan sakit saat itu. Mami tidak bekerja ya? dan Kaki Morgan kan sudah lama sembuh, tapi kapan Morgan bisa pergi ke sekolah lagi? Morgan bosan kalau belajar dari rumah terus "
keluh nya. Morgan memajukan bobir nya beberapa senti.
Sarah terseyum, lalu ia mengusap pelan kepala Morgan. benar yang di ucapkan Morgan, selama sakit ia hanya belajar dari rumah secara Online dengan guru nya. itu pasti membuat nya sulit untuk belajar.
"sebentar lagi ya sayang, kaki Morgan kan baru sembuh dua hari yang lalu. nanti kalau tiba tiba kaki nya sakit lagi bagaimana? kalau sakit nya saat di sekolah dan tidak ada mami? pasti Morgan akan menangis kan? "
Morgan terdiam sebentar,
"tapi kan luka nya sudah kering"
"tetap saja sayang,kaki Morgan juga terkilir, Mami tidak mau Morgan terluka lagi. Morgan harus janji kalau Morgan tidak akan lari lari lagi sampai kaki nya sembuh total, okey? nanti baru bisa masuk sekolah lagi"
"okey, Morgan janji. tapi terkilir itu seperti apa Mami? "
"hmm.. terkilir itu seperti,...."
"seperti apa Mami? "
Sarah mennggaruk garuk kepala nya yang tidak gatal, ia bingung harus menjelaskan nya bagaimana
tiba tiba Bel berbunyi.
"wah, ada tamu yang datang. coba Morgan lihat, siapa yang datang. "
Morgan menangguk lalu turun dari pangkuan Sarah, ia segera berjalan keluar membuka pintu. Sarah pun ikut keluar dan mengikuti Morgan.
"Paman Gibran?! "
ucap Morgan.
"hai, keponakan ku tercinta "
balas Gibran.
"paman bawa apa? "
tanya nya antusias saat melihat barang bawaan Gibran yang banyak..
"Makan siang, Paman juga belikan buku baru untuk Morgan. "
"wah, terima kasih paman"
Morgan tersenyum bahagia.
"Morgan, makan dulu. nanti baru belajar nya"
teriak Sarah dari dapur.
"iya Mami "
balas Morgan lalu pergi ke meja makan
"ini, tolong bawakan ke kamar nya"
Gibran memberikan beberapa paperbag kepada paman Han. lalu menyusul Sarah kedapur
"kau bawa apa? "
tanya Sarah.
"lihat saja sendiri, oh ya tolong sajikan daging ini untuk ku" Gibran menunjuk salah satu barang bawaan nya lalu pergi ke maja makan.
"enak sekali dia makan daging"
guman Sarah.
setelah menyiapkan nya, Sarah membawa makan siang itu ke maja makan. lalu makan bersama semua orang.
"dimana paman Han dan Gerry? kenapa mereka belum ke sini? "
tanya Sarah.
__ADS_1
"kenapa? memang nya mereka mau makan bersama kita? "
tanya Gibran sinis
"tentu saja, biasanya juga begitu kok"
jawab Sarah.
"apa? kau selalu makan bersana mereka? "
Tanya Gibran tak percaya
"memangnya kenapa? mereka kan tinggal di rumah ku, mereka itu keluarga ku juga"
sinis Sarah.
"hmm... kau ini sama sekali tidak berubah, sudah makan saja. mereka tidak akan datang "
"kenapa? "
"tidak usah banyak tanya, makan saja makanan mu"
"Mami, paman Gibran. kenapa kalian bertengkar terus? " ucap Morgan yang dari tadi diam.
"tidak sayang, Mami dan paman Gibran tidak bertengkar kok"
balas Sarah dengan senyuman nya.
hanya adu mulut saja
batin Sarah.
"paman Gibran, kapan paman Jordan akan pulang? " tanya Morgan membuat suasana tegang
"Apa Morgan sangat merindukan paman Jordan? "
Morgan mengangguk.
"sebentar lagi, Morgan bersabar dulu ya. nanti paman Jordan pasti akan pulang. "
"hmm baiklah"
setelah makan siang selesai, Gibran dan Sarah pergi ke ruang kerja Sarah untuk membicarakan sesuatu
"ada apa? kenapa mengajak ku kemari? "
tanya Gibran
"kapan Jordan akan pulang? apa dia baik baik saja? "
"ternyata tentang Jordan. kau tenang saja, dia itu kuat, dia pasti akan pulang "
Gibran berusaha menenangkan pikiran Sarah.
"tapi, dia tidak bisa di hubungi. aku khawatir"
"tenang saja Sarah, kau percaya kepada nya kan? dan jika memang benar dia tidak akan pulang, aku masih ada di sini. aku akan menjaga mu"
Takkk!...
"hei, kenapa kau menjitak kepala ku! "
keluh Gibran sambul memegangi kepala nya..
"sekali lagi kau mengatakan hal itu, maka aku akan memukul kepala mu dengan pisau dapur "
kesal Sarah.
"hehe, tidak tidak. aku hanya bercanda"
cengir Gibran
___________________
Seorang pria tengah duduk di kursi kebesaran nya, dia sedang menatap Layar komputer nya dengan tajam. ia sedang melihat anak buah nya menyiksa seorang penjahat
"kenapa? aku tidak butuh pengakuan mu. aku juga sudah tahu siapa yang menyuruh mu. kau tidak perlu buka mulut "
ucap pria itu dengan sinis
"lebih baik aku matii! "
ucap seorang pria yang ada di komputer itu.
"kau tidak boleh mati, kau hanya boleh tersiksa. selama bekas luka itu masih ada di kaki anak ku, maka selama itu pun kau tidak akan mati dan akan tersiksa"
"terus siksa bajingan itu, gores setiap tubuh nya dengan pisau dan jangan lupa berikan perasan jeruk nipis pada luka goresan itu"
lanjut nya lagi
"baik tuan"
"andai saja aku di sana, mungkin kau akan lebih tersiksa lagi. berani sekali kau telah menyakiti anak ku"
Jordan segera mematikan komputer nya dan mematikan Video call itu.
"Tuan, sudah saat nya mengganti perban"
ucap Glen yang baru saja tiba.
Jordan mengangguk, lalu Glen pelan pelan membuka perban yang membalut punggung kanan Jordan.
"tuan, hari ini Nyonya menelfon anda lagi"
ucap Glen yang sedang membersihkan luka Jordan.
"jangan diangkat, aku tidak mau mendengar suara nya atau pun melihat wajah nya. jika aku melihat wajah dan mendengar suara nya, maka aku tidak akan bisa menahan diri dan akan langsung terbang untuk pulang "
Wajah Jordan menjadi kusut
"tapi tuan, misi kita di sini sudah selesai. kenapa tidak pulang saja? "
tanya Glen lagi
"aku tidak mau pulang dengan keadaan seperti ini, nanti jika dia melihat ku pasti dia akan menangis. biar luka ku sembuh dulu. baru aku akan pulang "
"baik tuan"
_________________
__ADS_1