PERPISAHAN

PERPISAHAN
Luka diawal cerita


__ADS_3

Acara pernikahan sederhana yang dilangsungkan telah berakhir. Reza telah mengucapkan janji pernikahannya didepan para saksi.


Seusai acara yang memang tidak dilangsungkan pesta atau resepsi sesuai keinginan Reza, kembali nampak sepi. Hanya ada beberapa orang yang sibuk membereskan beberapa peralatan.


Reza berjalan keluar dengan baju yang telah rapi, pemuda dia puluh tujuh tahun itu berjanji akan menemui kekasih pujaan hatinya setelah acara usai.


Bu Salma menghela nafas beratnya, dia yang tak lagi mampu mencegah putranya hanya bisa mengelus dada akan sikap Reza.


Andin yang telah berganti pakaian dan membersihkan diri akhirnya memilih keluar dari kamarnya. Gadis manis tersebut bergabung dengan ibu mertuanya yang sedang bercengkrama dengan beberapa sanak keluarga yang kebetulan masih berada disana.


"Sini sayang, kenalin ini Tante Diana adik mama." Bu Salma membawa Andin duduk disebelahnya.


"Andin tante."


Wanita cantik yang nampak lebih muda dari Bu Salma itu tersenyum lembut dan memeluk Andin hangat.


"Bahagia terus ya, sabar dan jangan lupa berdoa agar semuanya berjalan sebagai mana mestnya." Diana menepuk pelan punggung Andin.


Dia yang tau kelakuan Reza selama ini hanya bisa menarik nafas pelan. Rasa empati dan kasihan dapat dia rasakan kepada gadis yatim yang sang kakak pilih untuk bisa merubah kebiasaan sang keponakan.

__ADS_1


"Makasih tante, InsyaAllah Andin akan selalu ingat."


"Ah iya, kenalin ini Ricko dan Siska. Mereka anak anak tante."


"Salam kenal ya." Andin menjabat tangan mereka berdua.


Siska yang umurnya tak jauh dari Andin merasa sangat senang. Dengan cepat mereka berdua terlibat dalam obrolan. Canda tawa juga terdengar dari bibir mereka berdua


"Semoga ini yang terbaik ya, Kak." Diana menggenggam jemari sang kakak yang mengangguk.


Hampir semua keluarga Bu Salma mengetahui bagaimana Reza saat ini.


Sementara itu di sebuah cafe, Reza yang baru datang disambut dengan senyuman seorang wanita yang segera bergelanyut manja di lengan pemuda tampan tersebut.


"Aku tau kau pasti datang sayang." Jihan memeluk Reza dengan erat. Senyum kepuasan tersungging dibibirnya.


"Tentu saja aku datang untukmu sayangku." Reza membalas pelukan sang kekasih sama hangatnya.


"Kau tau, aku sangat ketakutan. Aku takut kau akan meninggalkanku demi wanita yang ibumu mau itu sayang."

__ADS_1


"Aku tidak pernah mengenalnya, aku menikahinya hanya demi melihat ibu tersenyum. Kamu jangan khawatir, cintaku hanya milikmu seorang."


Senyum Jihan semakin mengembang, sesuai kesepakatannya dengan Reza sebelumnya dia akan bersabar dan mengalah setidaknya untuk saat ini.


"Apa dia cantik?"


"Aku bahkan tak melihat wajahnya seperti apa, bagiku kaulah yang tercantik. Tak ada yang mampu menggantikanmu dihatiku."


Reza mendekatkan wajahnya, ciuman lembut mendarat di bibir Jihan yang semakin mengembangkan senyumnya.


"Kau bisa menikahkan putramu dengan wanita pilihanmu sekarang, tapi kau tak akan bisa membuatnya jauh darimu. Aku pastikan putramu akan menjadi milikku cepat atau lambat."


Jihan semakin tersenyum lebar ketika Reza menarik tangannya untuk pergi dari cafe tersebut.


Sebuah mobil membelah jalan yang sedikit padat. Reza memutar stir mobilnya menuju ke arah hotel terdekat. Sebuah kebiasaan yang selalu mereka lakukan disaat bertemu.


Kebiasaan yang membuat Bu Salma beserta keluarga besarnya tak pernah merestui hubungan mereka berdua.


Bukan karena mereka tak mau Reza bertangung jawab, namun ada hal yang lebih besar membuat keluarga besar tersebut menantang Reza bersama dengan Jihan.

__ADS_1


Sementara itu Andin terlihat merebahkan dirinya dalam kamar pengantin yang seharusnya menjadi saksi kebahagiaannya saat ini.


Gadis berlesung pipi itu tenggelam dalam lamunannya sendiri. Takdir hidup yang dia jalani membuatnya menjadi pribadi yang tertutup. Kesendiriannya selama ini membuatnya selalu nyaman dengan dirinya sendiri, tanpa teman yang menjadi tempat nya berkeluh kesah. Andin hanya menjalani harinya sesuai dengan jalan yang harus dia terima.


__ADS_2