
Sarah pov:
bagi seorang anak, tidak ada yang lebih
bahagia dari pada kasih sayang orang tua nya.
terkadang mereka yang memiliki keluarga lengkap tidak semua nya bahagia. masalah orang tua selalu membuat anak stres dan depresi, dan tidak semua orang tua pandai dalam menyelasaikan masalah mereka tanpa melibatkan anak.
tapi, apa yang aku lakukan ini sudah benar?
masalah ku dengan Jordan pasti membuat Morgan kepikiran. saat di awal, pasti anak itu bertanya-tanya kenapa aku sangat dengan dengan Jordan, dia juga dekat dan nyaman dengan Jordan, Morgan pasti merasakan sesuatu saat bersama Jordan karna bagaimana pun mereka adalah ayah dan anak.
aku juga tidak tega melihat wajah anak ini ketika menangis, saat ini aku sangat ingin memberitahu nya tapi ini bukan waktu yang tepat. saat Jordan kembali nanti, aku bertanya kepada nya dan mengatakan kebenaran nya kepada Morgan.
aku harap, nanti nya Morgan bisa menerima Jordan dengan baik dan tidak akan membenci papi nya sendiri.
_______________
Author Pov
cukup lama Morgan di pelukan Sarah, setelah tangis reda, Morgan segera menarik diri dari Sarah.
Sarah pun hanya tersenyum dan mengelus kepala nya.
setelah itu Gibran datang dengan seorang pelayan yang membawa makanan. Gibran duduk di kursi nya lalu pelayan itu meletakan semua hidangan nya di atas meja.
Sarah mengambil kepiting rebus yang cukup besar dari mangkuk, lalu meletakan jepiting itu di atas piring dan membuka cangkang kulit nya, setelah itu Sarah memberikan nya kepada Morgan agar Morgan tidak kesusahan memakannya.
"hei, kau ini kenapa? dari tadi aku liat kau gelisah saja, ada apaa? "
tanya Sarah, dari tadi dia melihat Gibran yang sibuk mengecek ponsel dan Jam tangan nya.
"tidak, tidak ada apa apa"
jawab Gibran
"Ck, yasudah"
Sarah berdecak kesal, lalu ia mengambil segelas air yang ada di samping nya lalu meneguknnya sampai habis.
Sarah meletakan gelas itu kembali, lalu tiba tiba saja kepalanya terasa berat, pandangan nya kabur dan berputar.
"Mami, Mami kenapa? "
Morgan yang Sadar pun segera menarik-narik tangan Sarah.
Sarah merasa ada yang memanggil nya, ia pun menoleh ke samping dan belum sempat Sarah menjawab, diri nya langsung pingsan tak sadarkan diri.
saat tubuh Sarah akan terjatuh karna pingsan, tiba tiba ada seorang pria yang menagkapnya dari belakang.
"Mami! "
"Sarah! "
Morgan dan Gibran berteriak bersamaan, mereka melihat ke arah pria yang menangkap Sarah dari belakang itu.
"P-paman? "
Morgan terkejut dan tak percaya, ternyata orang yang menangkap Mami nya adalah Jordan.
"cepat bawa Sarah ke rumah sakit! "
pekik Gibran.
"tidak usah, kita pulang saja dan hubungi Vian "
Jordan segera mengangkat Sarah dan mengendong nya.
Gibran mengangguk, lalu mereka segera pergi ke parkiran dan masuk ke mobil, mereka pun pulang bersama.
saat sedang menyetir, Gibran mengambil ponsel nya untuk menelfon Dokter Vian.
tapi sebelum menelfon, Gibran bertanya terlebih dahulu kepada Jordan.
" ke rumah Sarah kan? "
tanya Gibran.
"bukan, tapi ke rumah ku"
jawab Jordan tanpa ekspresi.
Gibran terdiam sebentar, lalu ia pun segera menelfon Dokter Vian.
"Paman, Mami baik baik saja kan? "
tanya Morgan dengan mata yang sudah berkaca kaca.
Jordan melihat nya dengan sedikit terkejut, dia takut kalau Morgan akan menangis. lalu Jordan mengusap Mata Morgan lalu mengangguk
__ADS_1
"Mami pasti baik baik saja"
Sampai nya dirumah.
Jordan turun dari mobil, lalu ada beberapa penjaga yang membukakan pintu Mobil untuk Jordan. Jordan pun keluar terlebih dahulu, ia membawa Sarah ke dalam Rumah lalu meletakan nya di kamar nya.
Setelah meletakan Sarah di kamar, Jordan keluar dan menghampiri Gibran
"Dimana Vian?! kenapa belum sampai?! "
tanya Jordan tak sabaran.
"sebentar lagi dia akan sampai"
ting.....
bel pun berbunyi, dan saat itu lah Dokter Vian datang.
"Jordan, kau baik baik saja? kenapa kau menyuruhku kemari? "
tanya Dokter Vian bingung, karna dia hanya akan datang kerumah Jordan saat Jordan sedang sakit dan membutuhkan nya saja.
"bukan aku yang sakit"
jawab Jordan
"lalu? "
Jordan tak menjawab Vian lagi, ia segera menarik tangan Vian dan membawa nya ke kamar.
Vian melihat ada seorang wanita yang terbaring lemah di ranjang nya Jordan. Vian sedikit terkejut, namun dia segera mendekati wanita itu dan memeriksanya.
"bagaimana keadaan nya? "
tanya Jordan setelah di periksa Vian.
"kau memberinya obat tidur? "
tanya Vian balik
"tidak, maksudmu? "
tanya Jordan tak mengerti.
"dia baru saja memakan obat tidur yang lumayan berbahaya, tapi untung nya dia hanya mengkonsumsi nya dalam dosis kecil, jadi tidak akan ada masalah yang serius nanti nya"
jelas Vian.
"paman, Mami baik baik saja kan? "
tanya Morgan sambil menarik ujung kemeja nya Jordan
Jordan berjongkok di depan Morgan
"Mami baik baik saja, Mami cuma kecape-an "
"Morgan jaga Mami sebentar di sini ya, nanti paman akan kembali lagi"
lanjut nya.
Morgan mengangguk. setelah itu Jordan, Gibran, dan Vian keluar. saat keluar dari kamar, Jordan melihat Gerry, Wanda, dan paman Han yang berdiri di dekat pintu.
"masuk dan temani dia"
suruh Jordan, mereka bertiga pun mengangguk dan masuk.
sementara itu Jordan, Gibran, dan Vian pergi ke kamar yang di sebelah nya.
"buka baju mu! "
suruh Gibran.
"Ck, mau apa kau?! "
tanya Jordan sinis
"Ck, buka saja"
Gibran yang tidak sabaran pun membuka kancing kemeja Jordan.
Jordan menepis kasar tangan Gibran yang akan membuka kancing ke tiga nya.
"tidak usah di tutupi, aku sudah tahu. biarkan Vian melihat luka nya"
sinis Gibran
"dari mana kau tahu? "
tanya Jordan
__ADS_1
"cepat buka, atau aku akan merobek nya! "
ucap Gibran dengan kesal.
Jordan memasang tampang memelas, ia pun segera membuka baju nya. saat baju nya terbuka, Gibran dan Vian melihat ada bekas luka sayatan di punggung nya Jordan.
"ini sudah kering, tidak perlu di obati lagi "
ucap Jordan.
"tunggu dulu, biar ku liat sebentar"
Vian pun mendekati Jordan, dan melihat luka sayatan nya. Vian menyentuh luka sayatan itu, luka nya baru kering beberapa hari yang lalu, dan bekas nya pun masih jelas tertampang.
"dimana kau berkelahi? "
tanya Vian
"luar negri"
"Negri mana? "
Jordan diam, tidak menjawab
"ini sayatan Dao? kau dari Cina? "
tanya Vian menginterogasi
Jordan menghela nafas, lalu mengangguk
"aku tidak tahu apa urusan mu ke Cina, tapi Dao bisa di beri racun dan menyayat orang hingga mati karna racun nya, terlebih lagi senjata jenis itu sangat tajam dan berbahaya. "
jelas Vian.
"aku tahu aku mafia, tapi kau tidak bisa meremehkan senjata mau pun lawan mu. "
lanjut nya lagi.
"ngomong ngomong luka mu belum sembuh total, lengan mu juga terkilir. besok sore kau lebih baik ke rumah sakit ku dan terapi, atau kau mau terapi di sini? "
tanya Vian.
"ke sini saja, aku malas ke rumah sakit"
"oke baiklah, oh iya. wanita yang tertidur di kamar mu tadi itu siapa? "
tanya Vian lagi.
"belahan jiwa nya "
ledek Gibran
"Jangan bercanda, aku sudah lebih 5 tahun menjadi dokter pribadi sekaligus dokter kejiwaan nya. mana ada dia tertarik dengan wanita, kecuali..... "
"iya, dia itu mantan istrinnya"
potong Gibran cepat.
"What the?! jadi wanita cantik itu mantan istri mu? jadi dia yang selama ini kau rindukan? yang kau ceritakan pada ku? "
tanya Vian tak percaya.
Jordan mengangguk.
"hmm pantas saja kau sangat mencintai nya, ternyata dia sangat cantik. aku pun terpesona melihat nya"
cengir Vian.
"INGAT ANAK DAN ISTRIMU DI RUMAH!"
sindir Gibran
"hehe, aku hanya bercanda. lalu anak manis yang memanggil mu paman itu siapa? apa dia..."
"iya, dia anak nya Jordan yang waktu itu dia ceritakan" potong Gibran lagi.
"heh, mau ku jahit mulut mu itu ha?! "
geram Vian.
"coba saja kalau berani. huh berani nya cuma dengan yang muda"
ledek Gibran
"eh, kau dan aku cuma beda satu hari! "
"kalian berdua bisa berhenti?! "
suara Jordan yang berat itu mengalihkan mereka, sontak mereka terkejut saat melihat Jordan yang sedang meremas dan menarik narik rambut nya. terlihat dari wajah nya, Jordan sedang menahan rasa sakit.
__ADS_1
________