
pagi ini Jordan sudah mengantar Morgan sekolah, untung nya suntikan itu tidak terlalu membahayakan Morgan.
setelah Jordan mengantar Morgan sekolah, ia segera pergi ke kantor. saat sampai ke kantor sudah ada Gara yang menunggu di ruangan nya.
"bagaimana? kau sudah dapat informasi? "
tanya Jordan.
"suntik imunisasi ini sebenarnya bukan ke inginan sekolah, tapi pihak pemerintah yang mengatur kesehatan sekolah lah yang mengusulkan. tapi sepertinya dari orang-orang yang menyentik anak-anak di sekolah bukan sepenuhnya dari rumah sakit, pasti ada campur tangan orang lain. tapi mereka tetap memberikan cairan imunisasai, namun masalahnya adalah mereka tidak memberitahukan pihak orang tua dan Anak-anak di paksa untuk di suntik"
jelas Gara.
"lalu? "
"menurutku ini tidak ada kaitan nya dengan musuhmu. tapi aku menemukan sesuatu"
Gara mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisikan cairan.
"ini adalah cairan imunisasi yang mereka suntikan kepada Anak-anak, lihatlah"
Jordan mengambil botol itu, dan tanpa dengaja ia melihat ada gambar lambang Cina di situ. ini berarti, cairan imunisasi ini barang impor dari Cina. tapi bagaimama bisa?
"apa semua Anak-anak mendapat cairan ini? "
Gara mengangguk
"berikan ini kepada Vian, suruh dia meneliti cairan ini" Jordan kembali memberikan botol kecil itu.
"baiklah, oh ya ngomong-ngomong nanti siang kau akan ke wilayah konstruksi kan? "
"iya, kenapa? "
"tidak apa-apa, hanya saja kau harus bersiap-siap karna aku punya kejutan besar di sana"
Gara tersenyum licik.
"terserah"
cuek Jordan.
"tapi kau juga harus hati-hati ya, ingat kuncinya adalah batu bata dan semen "
Gara segera pergi dengan membawa botol kecil tadi.
"batu bata dan semen? "
beo Jordan.
akhirnya lambat laun waktu terus berputar, dengan panas matahari yang terik menembus dinding kaca di setiap ruangan.
sudah siang hari, waktu nya Jordan pergi ke Wilayah konstruksi. Jordan pergi bersama Gibran, sementara Hana sudah pergi duluan.
Setelah beberapa menit Jordan dan Gibran tiba di wilayah konstruksi, Tuan Saga baru datang dengan sekretaris nya.
saat masuk ke dalam gedung itu, Jordan melihat sekeliling dan mencari batu bata sayangnya semua dinding di lantai dasar itu sudah terturupi semen yang mulus.
"ini lift pertama yang sudah bisa di gunakan"
ucap Hana lalu masuk ke lift itu, kemudian semua orang juga ikut masuk.
setelah itu mereka pergi ke lantai berikutnya dan di sana pun semua tembok sudah di tutupi semen. namun ada satu bagian yang belum tertutupi semen dan masih terlihat batu bata nya. Jordan menjauh dari tempat itu untuk berjaga-jaga.
Brrkkk.....
Tiba-tiba ada suara retakan dari atas tepatnya sebagian dinding yang belum di semen.
Bruukkk
seketika saat Hana sedang menjelaskan tiba-tiba bagian yang tidak tertutupi semen itu roboh.
"Awas! "
teriak Gibran.
sementara Jordan hanya diam di tempat karna ia cukup jauh dari tempat itu.
untungnya mereka tidak apa-apa karna Gibran langsung menarik tangan Hana dan Tuan Saga di selamatkan oleh sekretaris nya.
"kau tidak apa-apa? "
tanya Gibran
Hana mengangguk lalu segera menjauhkan diri dari Gibran.
"kenapa bisa runtuh? "
tanya Tuan Saga
"saya juga tidak tahu, mungkin ini kelalain para pekerja" jawab Hana.
"seharusnya kau lebih tegas kepada para pekerja" ujar Gibran
"aku tahu "
jawab Hana.
"lebih baik kita turun sekarang, dan kumpulkan para pekerja preyek" ucap Tuan Saga dengan nada yang agak kesal.
Hana mengangguk setuju lalu mereka menuju lift yang mereka gunakan tadi tapi sayang nya lift itu macet dan tidak bisa di buka.
"lift nya macet"
ucap Hana.
mereka semua menghela nafas kasar
"kalau begitu lewat tangga darurat saja"
__ADS_1
ajak Hana.
saat mereka ke tangga darurat, tangga itu sepertinya tidak ada masalah. tangganya kokoh dan sudah di lapisi semen namun belum di cat.
mereka turun bersama, saat menginjakkan kaki di tangga terakhir tiba-tiba mereka menginjak bagian tangga yang semen nya belum kering, sehingga semua sepatu mereka termasuk Hana jadi terbenam karna menginjak semen yang belum kering.
"arghh... "
geram Tuan Saga, karna sudah kesal akhirnya Tuan Saga melepas sepatunya dan berusaha keluar lalu meninggalkan mereka yang masih terjebak di sana.
setelah itu sekretaris Tuan Saga, Jordan, dan Gibran berhasil keluar tapi Hana belum karna menggunakan sepatu hak membuatnya kesulitan.
karna kasihan akhirnya Gibran membantu Hana untuk keluar.
Gara sialan
batin Jordan.
"kacau! kenapa bisa begini?! kalian di bayar untuk membangun dengan hati-hati! di lantai dua ada bagian dinding yang belum di lapisi semen dan di tangga darurat masih ada semen yang belum kering. seharusnya kalian memberi tanda disana! pekerjaan kalian ini di bayar! "
kesal Tuan Saga kepada para pekerja proyek
"maaf Tuan, kita salah "
ucap Salah satu pekerja
Tuan saga mendengus kesal.
"minggu depan aku akan kembali ke sini, dan aku tidak ingin kejadian ini terulang! "
Dengan kesal Tuan Saga mengajak sekretaris nya pergi, dan kemudian hanya tersisa Jordan, Gibran dan Hana.
"ini salah Direktur Whusi, seharusnya dia yang mengurus wilayah konstruksi ini"
kata Hana.
"kenapa direktur Whusi? bukan kah kita konstruksi nya" balas Gibran.
"kita memang konstruksi, tapi dia yang menggambar desain nya! seharusnya dia ikut bertanggung jawab atas wilayah konstruksi "
balas Hana lagi.
"sudah, tidak perlu di perdebatkan lagi"
Jordan segera pergi lalu disusul oleh Gibran.
"kita ke markas"
ucap Jordan.
***
"Glen, periksa keamanan di Eropa"
ucap Jordan saat sudah sampai di markas
"mempercepat tujuan? "
beo Jordan.
"ya, kau tidak perlu khawatir. percaya kepada ku! " ucap Gara dengan tegas.
"baiklah, kita mulai dengan perlahan"
***
sudah sampir siang hari, ini saat nya Jordan menjemput Morgan ke sekolah. hari ini Jordan menjemput Morgan sendiri dengan mobil, Jordan memarkirkan mobilnya di depan sekolahan Morgan lalu keluar dan masuk ke pengarangan sekolah.
banyak mata yang menatap dirinya karna biasanya paman Han lah yang menjemput Morgan, tapi kini Jordan sendiri yang turun dan menjadi pusat perhatian di sana.
"Papi! "
Jordan mendengar suara anak nya yang berteriak, saat menoleh ke samping Jordan melihat Morgan yang berlari ke arahnya.
"Papi tumben jemput Morgan ke sini? "
tanya Morgan
"hei Morgan "
sapa seseorang
"hai bibi Sandra"
Morgan menyapa balik.
"Morgan, paman itu siapa? "
tanya anak perempuan yang di gendeng oleh wanita yang bernama Sandra itu
"oh, ini Papi nya Morgan. Selin "
jawab Morgan dengan senang hati.
"wah ternyata Morgan punya Papi ya, Papi nya juga ganteng" ucap anak perempuan itu.
"iya kan Morgan juga ganteng"
balas Morgan hingga membuat mereka tertawa.
"Salam kenal Tuan saya Sandra ibunya Selin, saya juga kenal dengan Mami nya Morgan dan saya bukanya ingin ikut campur dalam urusan pribadi anda tapi saya senang melihat Morgan melihatkan Papinya karna selama ini Anak-anak di sekolah selalu bilang kalau Morgan tidak punya ayah, tapi syukurlah anda mau memperlihatkan diri. kalau begitu saya permisi dulu " ucap Sandra
"ya, terima kasih"
balaa Jordan.
"Papi pulang yuk"
__ADS_1
ajak Morgan.
"oh ayuk"
Jordan menggandeng Morgan sampai ke mobil dan membawa nya pulang. sambil menyetir Jordan memikirkan ucapan Sandra tadi.
_______
"Diana, pulanglah bersamaku"
ucap Sarah dengan sungguh-sungguh
"pulang kemana? "
tanya Diana bingung
"pulang ke indonesia "
jawab Sarah membuat Diana terdiam
"ke indonesia? haha rumah ku kan di sini"
Diana tertawa.
"tapi ini bukan tempat asalmu, ayo pulang bersama ku ke indonesia "
ajak Sarah.
"pulang? pulang kemana Sarah? aku tidak punya rumah"
ucap Diana membuat Sarah iba.
"aku, aku adalah rumah mu. aku yang akan mengurusmu, aku akam memberikan semuanya untukmu. ayo pulang bersama ku"
"tidak Sarah, aku tidak mau dan bagaimana dengan Leon? apa kau akan membiarkan nya tinggal sendiri? "
"Leon suda besar, dia bisa menjaga dirinya sendiri dan kita masih bisa berkunjung kemari kapan pun" bujuk Sarah.
"tidak Sarah, aku tidak mau"
tolak Diana.
"ayolah Diana, anggap saja ini balas budi kau dulu yang merawatku dan kini giliran ku untuk merawatmu. tempat ini terlalu kejam untukmu"
bujuk Sarah lagi.
"kalau kau disini terus, apa kau akan bisa melupakan masalahmu? "
tanya Sarah.
Diana Diam.
"aku beri waktu sampai nanti malam, karna nanti malam aku akan pulang ke indonesia "
Sarah pergi dan meninggalkan Diana di kamar.
setelah keluar kamar Diana, Sarah segera ke kamar Leon. Sarah mengetuk pintu terlebih dahulu.
"masuk"
Sarah membuka pintunya.
"kau masih cuti? "
tanya Sarah.
Leon mengangguk
"Leon, duduklah di sini"
Sarah menepuk tepi ranjang di sebelahnya.
"ada apa Kak? "
tanya Leon lalu duduk di sebelah Sarah
"mengengai masalah Diana, aku pikir aku mau membawanya ke indonesia "
ucap Sarah membuat Leon mematung
"Leon, disini tidak ada yang merawatnya karna kau harua hidup untuk dirimu sendiri kau juga tidak bisa mengurusnya setiap saat kan dan jika dia pulang bersamaku dia bisa mengurus anak nyq kelak dengan tenang jika jauh dari negara ini"
ucap Sarah lagi, namun Leon masih mematung.
"dengar Leon"
Sarah menangkup kedua pipi Leon.
"kau adalah adikku dan tidak ada yang bisa mengubah kenyataan itu, meskipun kita terpisah dengan jarak yang jauh, Negara atau bahkan Benua ini sekalipun kau tetap adikku. aku tidak akan pernah melupakan adik yang kubanggakan ini, jangan pernah merasa sendiri karna aku selalu bersamamu"
diam sejenak
"kau bisa terbangkan? kau bisa bawa pesawat kan? bebarti kau bisa terbang pulang ke tempat ku kapan pun yang kau mau. mudah kan? "
ucap Sarah membuat Leon tersenyum
"iya, kakak benar. aku bisa terbang dan menemui kakak kapan pun yang aku mau"
Leon memeluk Sarah, satu satunya orang yang Leon punya.
"oh ya, kau tahu? kak Rudi sangat merindukanmu "
"benarkah? aku juga merindukan nya"
ucap Leon yang masih memeluk Sarah.
____________
__ADS_1
tbc