PERPISAHAN

PERPISAHAN
part 135


__ADS_3

Messenger chat:


...Today...


// 06.45


kembali lah


^^^Aku tidak mau^^^


sampai kapan kau


akan terus di sana?


^^^sampai aku mendapatkan^^^


^^^semuanya^^^


apa kau tidak lelah?


^^^tidak^^^


kau tidak merindukan aku?


ibu, ayah, dan kakak mu?


^^^ya, aku merindukan^^^


^^^mereka^^^


baiklah, kapan


kau akan Pulang?


^^^secepatnya^^^


________________________________________________


Hana mengehela nafas panjang, pagi ini ia mendapat pesan dari seseorang. membuat mood nya hancur pagi ini, Hana menoleh ke jendela luar dan melihat motor yang berlalu-lalang di sebelahnya.


"pak, tolong berhenti di di cafe biasa ya"


ucap Hana pada supir nya


"baik Nona"


Sopir itu memutar balikkan arah jalan nya lalu masuk ke sebuah cafe yang berada dekat dengan sekolah dasar


"saya mau pesan kopi, anda mau saya bungkuskan? "


tanya Hana sebelum keluar dari mobil


"ah tidak perlu Nona, saya sudah minum kopi tadi pagi di rumah"


jawab supir nya ramah


Hana mengganguk lalu keluar mobil dan masuk ke cafe itu, Hana menoleh ke sudut ruangan dan melihat ada sebuah lemari kaca yang penuh dengan roti dan Dessert. Hana memesan kopi nya terlebih dahulu, kemudiam ia menghampiri lemari kaca itu dan memelih sebuah dessert.


saat Hana sudah menemukan dessert yang ia ingin kan Hana tidak sengaja melihat seorang anak sekolah yang berusaha mengambil roti di rak yang cukup tinggi.


Hana tidak jadi mengambil rotinya, lalu berjongkok di sebelah anak itu.


"kau mau yang itu? "


tanya Hana sambil menunjuk salah satu roti


Anak laki-laki itu mengangguk dan tersenyum


"iya Bibi "


Hana segera berdiri dan mengambil roti itu lalu memberikan nya kepada anak tadi.


"terima kasih Bibi cantik"


ucap nya sambil menerima roti itu.


"dimana ibumu? kau tidak bersama keluarga mu? " tanya Hana basa-basi


kemudian anak laki-laki itu menggeleng cepat


"hari ini Morgan pergi bersama Paman Han"

__ADS_1


seketika Hana tersentak dengan ucapan Morgan. Hana melihat dan memperhatikan wajah Anak laki-laki itu dengan seksama.


Benar-benar mirip Jordan, mau di lihat dari sisi mana pun anak laki-laki itu seperti cetakan Jordan saat kecil.


"bibi Cantik! ayo duduk bersama Morgan! "


seru Morgan yang sudah duduk di kursinya


Hana tersadar lalu ikut duduk di sebelah Morgan dan memperhatikannya.


"Morgan tidak sekolah? "


tanya Hana


"iya tapi pagi ini Mami tidak buat sarapan jadi Morgan makan roti dulu di sini"


jawab nya polos


"kalau ayahmu? "


tanya Hana hati-hati


"oh Papi, Papi pagi ini sibuk bekerja jadi tidak bisa mengantar Morgan. tapi Bibi ke sini sendiri? "


"iya, Bibi tidak punya teman jadi ke sini hanya sendiri saja"


jawab Hana asal-asalan


"kalau begitu kenapa tidak jadi teman Morgan saja? "


"hm kau terlalu kecil untuk menjadi teman Bibi "


"tapi aku sudah besar kok! dulu saja Morgan bisa hidup dengan Mami tanpa Papi "


"Benarkah? "


ucap Hana mulai tertarik


Morgan terlihat diam sebentar, sepertinya ada yang ia pikirkan mungkin Morgan ragu untuk menceritakan nya kepada Hana.


"ceritakan saja, mana tau nanti kita bisa jadi teman? "


bujuk Hana


tanya nya polos


Hana terdiam sebentar kemudian tersenyum


"Morgan tidak salah kok, terkadang kita harus melawan untuk membenarkan sesuatu. kalau Morgan hanya bersabar itu akan membuat yang lain nya melunjak tapi harus tetap ingat batasan. Mengerti? "


"iya Bibi, Morgan mengerti"


Morgan tersenyum senang


"kalau Bibi bagaiman? "


"humm... Sebenarnya Bibi bukan berasal dari sini "


"Bibi sebenarnya dari surga ya? soal nya Bibi cantik sekali sih. benarkan? "


Hana tertawa kecil, kata-kata dari anak laki-laki di depan nya ini sangat menyentuh nya. baru kali ini hanya di puji cantik oleh bocah.


"hei Bocah, dari mana kau belajar kata-kata seperti itu hm? "


"ayolah Bibi, Morgan tidak suka di panggil bocah! "


Morgan merengut


"baiklah Morgan sudah besar kok"


"satu hal lagi, Morgan juga ganteng kan? "


"Pftt "


Hana kembali tertawa kecil, melihat bocah itu bertanya tentang wajah nya dengan pedenya. Hana menggeleng-geleng kepala


"ya Bibi tidak bisa bohong sih, Morgan memang ganteng "


"Iya dong, kan Morgan ganteng nya Papi"


ucapnya dengan bangga

__ADS_1


"benar, makanya Bibi suka dengan... "


Hana menggantungkan ucapannya ketika sadar, dan seketika Hana diam tak melanjutkan ucapan nya.


"suka dengan siapa? "


tanya Morgan heran


"ah tentu saja dengan Morgan, karna Morgan ganteng" jawab Hana cepat


"wah berarti kita sekarang jadi teman ya! "


serunya


"iya, kita berteman"


"Morgan, sudah waktunya untuk sekolah "


suara berat itu membuat Hana menoleh ke belakang.


ternyata Paman ada di belakang Hana, Hana juga sedikit terkejut dengan keberadaan Paman Han yang tiba-tiba.


"Morgan harus ke sekolah kalau tidak nanti Mami marah, Morgan pergi dulu ya Bibi cantik Dadah "


"iya Dadah"


Hana melambaikan tangan nya kepada Morgan yang akan keluar cafe bersama Paman Han. dan sekilas Hana melihat tatapan Paman Han yang tak suka dengan nya. lagi pula Hana juga tidak peduli dengan hal itu, ia sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu.


dan kini Hana kembali sendiri di cafe itu, Hana melihat sisa roti Morgan yang belum habis dimakan nya. dan bayangan Morgan kembali muncul duduk di sebelahnya.


Hana menggeleng kepala, apa sih yang dia pikirkan. Hana terus berusaha tidak peduli dengan apa yang terjadi tadi. namun kata-kata dan ucapan Morgan terus menghantui pikirannya.


jika aku mengambil ayahnya apa anak itu akan baik-baik saja? bagaimana nanti dia hidup dengan Sarah? ah tapi kan Sarah sudah jadi direktur dan mereka tidak akan hidup susah. tapi selama ini anak itu hidup terpisa dengan ayahnya, padahal kan mereka memang ayah dan anak kandung dan juga aku yang memisahkan mereka. apa yang aku lakukan ini salah? tapi aku hanya ingin bahagia atau memang caraku yang salah? ahh.. aku tidak bisa tenang kalau terus bagini! kenapa aku malah lemah setelah bertemu bocah itu seharusnya aku mengabaikan nya tadi, sial!


__________________


"Jordan, kenapa kau tidak membangunkanku!"


kesal Sarah


pagi ini Sarah bangun terlambat, kemarin ia sudah pulang dari rumah sakit dan malam nya Sarah bercerita banyak dengan Jordan sampai bangun terlambat saat pagi ini.


"aku tidak tega membangunkan mu yang tertidur pulas seperti tadi" Jordan berjalan mendekat dan duduk di ranjang bersebelahan dengan Sarah.


"aku mau ke kantor"


"hari ini jangan ke kantor dulu, tubuhmu masih lemah" Jordan mengelus puncak kepala Sarah.


"kita tidur lagi saja" Jordan merebahkan tubuh Sarah lalu menariknya kedalam dekapan nya.


"Jordan"


"Hmm?"


"dulu di Eropa, saat aku melahirkan Morgan Dokter bilang hanya ada kemungkinan kecil aku bisa hamil lagi" ucap Sarah lalu menenggelamkan wajah nya di dada bidang milik Jordan


"lalu?"


"karna saat itu aku kecelakaan, meskipun ada seseorang yang menyelamatkan ku tapi perutku terbentur. makanya saat itu Dokter bilang hanya ada kemungkinan kecil kalau aku bisa hamil lagi."


"iya aku mengerti. tapi sekarang kau sudah hamil sesuai keinginan takdir. kita hanya perlu menjaga buah hati kita dengan lebih baik lagi"


balas Jordan.


"tapi Jordan..."


"tidak ada yang perlu di khawatirkan, Sarah. tuhan sudah memberikan kepercayaan kepada kita untuk menjaga nya"


Jordan melepas dekapan nya lalu mengelus perut datar Sarah.


"aku sangat berterima kasih dengan orang yang menyelamatkan ku saat itu. jangan kan Morgan, mungkin aku juga tidak akan bisa bersamamu jika pria itu tidak datang"


Jordan tersenyun senang lalu kembali menarik Sarah kedalam pelukan nya.


Pria itu aku, aku lah yang menyelamatkan mu


____________________


tbc


maaf author baru up yaa

__ADS_1


maklum, sibuk nulis di lapak baru hehe


__ADS_2