PERPISAHAN

PERPISAHAN
part 136


__ADS_3

siang ini Diana duduk sendiri di ruangan Mario, teman Sarah sekaligus boss nya saat ini. Diana baru setengah hari bekerja tapi tiba-tiba Mario sudah memanggilnya keruangan nya.


klek


pintu ruangan terbuka, Mario datang sambil melonggarkan dasinya.


melihat itu membuat Diana merona dan malu, melonggarkan dasi saja sudah membuat Mario tampan apa lagi yang lebih dari itu? astaga apa yang kau pikirkan Diana?


"oh kau sudah datang?"


Diana hanya mengangguk lalu memperhatikan Mario yang berjalan mendekati nya lalu duduk di samping nya dengan jarak yang cukup jauh.


"aku butuh bantuanmu"


"apa?"


"jadi lah istriku"


ucap Mario


Diana diam membisu, ia syok, kaget, tak percaya dengan apa yang Mario katakan.


"Diana, saat melihat mu aku merasa aneh. tiba-tiba pikiran ku terus saja memikirkan mu, aku tidak tahu pasti ini cinta atau apa. Diana, aku bukan tipe pria yang romantis. aku tidak bisa membohongi diriku sendiri."


Diam sebentar


"lagi pula, kita sama-sama di tinggalkan oleh orang yang kita cintai di saat akan menikah kan? mungkin kah kita takdir? dan aku juga seorang CEO, aku membutuhkan istri."


lanjutnya lagi.


Diana masih diam, ia terlalu takut untuk bersuara


"T...tapi aku sudah hamil..."


"aku menerima nya, aku menerima anak mu. Diana" ucap Mario bersungguh-sungguh, Mario mangikis jarak di antara mereka lalu menggengam erat tangan Diana.


"berikan aku waktu"


ucap Diana nyaris hampir menagis


"aku mengerti, sementara itu juga kita bisa saling mencintai dan saling mengenal. aku tahu kau orang yang baik"


Mario menarik Diana kedalam dekapan nya.


tanpa di sadari, air mata Diana jatuh meluncur begitu saja. Diana menahan isakan nya


ini terlalu seperti mimpi bagi Diana, seperti dongeng. Namun Diana masih terlalu takut untuk memulai hubungan baru, terlebih lagi dengan Mario yang baru ia kenal beberapa hari terakhir.


______________________


Hoekkk....


Owekk...


"keluarkan saja semuanya, sayang."


Jordan mengusap-ngusap punggung Sarah dengan hati-hati, baru beberapa menit lalu Sarah makan dengan lahap sekarang ia malah memuntahkan isinya. seolah-olah tak menerima makanan nya, tenggorokan nya terasa mendorong makan tadi keluar.


Sarah jatuh terduduk di depan wastafel kamar mandi nya, dada nya naik turun seakan merasakan sesak, tubuh nya juga terasa lemah tak bertenaga.


Jordan segera jongkok lalu menahan tubuh Sarah agar tidak jatuh. Jordan mengangkat Sarah lalu meletakan nya di atas ranjang dengan hati-hati.


"Mami kenapa? "


di saat yang bersamaan, Morgan yang baru pulang sekolah melihat Mami nya yang terlihat lemah saat memasuki kamar.


"Mami, Mami kenapa? Mami sakit"


Morgan mendekati Sarah lalu menyentuh dahi Sarah dengan punggung tangan nya.


"agak panas"


guman nya yang di dengar Sarah.


"Mami baik kok, Mami cuma kecapean, Sayang"


Sarah membelai pipi putranya.


"Morgan, ganti dulu seragam nya"


ucap Jordan yang dari tadi diam.


"engga mau, Morgan mau di sini nemenin Mami. " rengek nya


"Sayang, Mami kan lagi kurang sehat. "


"humm, Bagaimana dengan dedek nya Mi? apa dedek nya juga ikut sakit? " tanya Morgan polos


mengalihkan pembicaraan


"hmm, mungkin sakit sedikit"


jawab Sarah gemas


"iya Sayang, dedek nya juga ikut sakit. Sekarang Morgan ganti baju dulu ya biar Mami bisa istirahat sama dedek nya, sebentar lagi Morgan ada les bahasa inggris kan?"


bujuk Jordan


"humm iyaa"


wajah nya terlihat cemberut


"yasudah, Morgan ganti baju dulu setelah itu ke sini lagi makan siang bersama Papi. okey?"


"okey!"


seru Morgan. mood ada itu langsung berubah drastis, sebelum berlari meninggalkan kamar Morgan mencium pelan perut Sarah yang tertutupi baju.


"Dada Dedek bayii "


serunya ketika menciumi perut Sarah.

__ADS_1


Sarah dan Jordan menatap punggung Morgan yang menghilang dengan cepat.


"putra kita sudah besar ya"


ucap Jordan


"iya, dia sama seperti Papi nya"


"siapa Papi nya?"


"tentu saja suamiku"


seketika mereka berdua tertawa sambil menggenggam tangan.


"kehamilan mu kali ini sangat berat ya?"


tanya Jordan saat mereka berhenti tertawa


"hmm, dibandingkan dengan kehamilan Morgan dulu rasanya sangat berbeda. saat hamil Morgan dulu aku tidak selemah ini, mungkin karna kandungan ku lemah jadi nya aku sering merasa lemas seperti ini"


jawab Sarah


"andai kan aku bisa menggantikan posisi mu, aku rela mengandung anak kita selama 9 bulan tapi kan tidak lucu kalau aku yang hamil"


umpat Jordan.


pft...


Sarah tertawa kecil.


"jika seandainya kehamilan ku kali ini tidak bertahan..."


"Sstt...jangan bicara yang aneh-aneh, lihat Mami mu itu selalu saja overthingking"


ucap Jordan yang entah sejak kapan sudah masuk ke dalam baju Sarah.


"ahh Jordan, geli "


Sarah mengeliat saat tangan usil Jordan mulai menggelitik perutnya.


"kenapa? aku kan cuma mau main dengan dedek bayi kuu, kira-kira anak kita perempuan atau laki-laki ya? aku aku sih berharap nya dedek bayi kita ini perempuan. "


curhat Jordan yang kepala nya masih berada di dalam baju Kaos Sarah yang besar.


"aku juga begitu"


ucap Sarah setuju.


"baiklah, bagaimana kalau kita memanggilnya Baby Girl? kau suka?"


tanya Jordan lalu keluar dari baju Sarah.


"humm, boleh Baby Gir pasti suka"


"mau nanti anak perempuan atau laki-laki tidak masalah bukan?"


"iyaa sayang"


"Mami! "


"Morga sudah selesai"


Morgan masuk lalu naik ke ranjang Sarah dan memeluk Sarah seperti baru bertemu selama setahun.


"Papi, Morgan mau makan"


pinta nya manja.


"baiklah, Papi ambilkan dulu makanannya"


Wajah imut Morgan yang meminta tak bisa membuat Jordan berkutik, anak itu benar-benar bisa membuat Jordan mengalah.


sementara itu di dalam kamar:


"Mami, Dedek bayi nya masih sakit?"


tanya Morgan


"engga, sayang. Dedek bayi nya udah baikan"


jawab Sarah lemah lembut.


"Mami, Morgan pengen kalau dedek bayi kita perempuan"


"oh ya? kenapa?"


"emm Morgan ingin menjadi seperti Papi. Morgan mau melindungi adik perempuan, sama seperti Papi yang menyayangi Mami. Morgan juga mau menyayangi adik perempuan Morgan. " serunya.


"iyaa Sayang, Mami harap juga begitu"


Sarah mengacak-ngacak rambut Morgan


"eh, kok perut Mami masih kecil? Mami nya Tiara juga hamil tapi perut nya besar, kok perut Mami kecil ya?" tanya nya polos


"sayang, Dedek bayi kita masih kecil jadi perut Mami juga kecil kalau perut Mami udah besar berarti Dedek bayi kita juga udah tumbuh besar di perut Mami" jelas Sarah


"oh gitu yah"


ucap nya mangut-mangut sendiri


"berarti Dedek bayi kita masih kecil ya Mami? kira-kira sekecil apa Dedek bayi kita?"


tanya Morgan lagi


"coba kepalkan tangan Morgan"


dengan patuh Morgan mengepalkan tangan kecilnya.


"mungkin sekecil itu"


ucap Sarah tersenyum

__ADS_1


Morgan dengan polos memperhatikan kepalan tangan nya, seperti sedang mengerjakan soal matematika, Morgan masih memperhatikan kepalan tangan nya.


"Papi datang"


pandangan Morgan beralih saat Jordan datang dengan membawa nampan yang berisikan sepiring masi lengkap dengan lauk-pauk dan dua gelas susu.


Jordan duduk di pinggir ranjang lalu meletakan nampan nya di atas nakas.


"ini susu untuk Morgan, dan yang satu lagi untuk Mami"


Jordan memberikan gelas pertama kepada Morgan lalu gelas kedua untuk istrinya.


"Mami minum susu juga?"


tanya Morgan heran, karna selama ini Sarah lebih sering minum teh dibanding susu.


"iya Sayang, ini juga untuk Dedek bayi kita"


jawab Sarah


"terus, Papi ga minum susu?"


tanya Morgan lagi


"iya nanti Papi minum susu"


ucap Jordan sambil melirik Sarah dan mencolek paha Sarah hingga sang empunya melotot.


"sekarang kita makan ya"


Jordan mengambil piring yang berisikan nasi dan lauk-pauk yang ia bawakan tadi. lalu mulai menyuapi Morgan.


tak hanya Morga, tapi Jordan ikut makan karna nasi yang ia ambil cukup banyak dan Morgan mungkin tidak akan bisa menghabiskan nya sendiri.


"kau mau?"


tanya Jordan ketika melihat Sarah yang dari tadi hanya diam


Sarah mengangguk cepat seperti anak kecil


Jordan tertawa pelan lalu menyuapi Sarah, dan akhirnya mereka bertiga makan bersama dalam satu piring.


"Morgan pergi les dulu Mami, Papi"


Morgan menyalimi Sarah dan Jordan lalu mencium mereka satu persatu. setelah makan bertiga tadi Paman Han datang untuk mengingatkan jadwal les bahasa inggris Morgan.


"belajar yang rajin ya sayang"


pesan Sarah


"siap, Mami"


"setelah pulang les, langsung pulang. mengerti?" tegas Jordan


"Siap Pak!"


balas Morgan tak kalah tegas. membuat Sarah tertawa kecil


"bagus, sekarang pergilah dan hati-hati di jalan"


"baik Pak! Dadah Mami"


"Dah sayang"


"umm Sarah"


panggil Jordan sengan suara serak nya saat Morgan sudah pergi


"kenapa?"


"aku mau minum susu"


"heh"


Sarah segera melayangkan bantal kecil yang ada di dekat nya hingga mengenai wajah Jordan.


"akhh"


Jordan mengusap wajah nya


"ayo lah, hanya minum susu. aku tidak akan minta lebih kau kan sedang hamil"


pinta nya


"hmm baiklah"


Jordan tersenyum senang


"ayo kemari"


dengan semangat 45 nya Jordan menghambur ke pelukan Sarah. kemudian dengan perlahan melancarkan aksinya.


"Uuhh"


"Sstt...Sayang, jangan di tahan teriak saja sekeras mungkin....akhhh"


Jordan mengeliat ketika cubitan kecil terasa di pinggang nya.


"maaf aku sengaja"


goda Sarah


Jordan terlihat kesal lalu mengencup bibir Sarah sekilas dan kembali masuk kedalam baju Sarah.


yang penting minum susu


batin nya kegirangan.


_____________________


hallo Readers

__ADS_1


udah pada minun susu belum?


hayoo minum susu itu penting ya buat kesehatan hehe


__ADS_2