
Waktu berjalan begitu cepatnya. Tak terasa Andin telah melakukan rutinitas yang sama selama sebulan ini. Brangkat pagi dan pulang diwaktu sore membuatnya seakan lupa dengan segala kesedihan yang mengurung rumah tangga nya. Biduk rumah tangga yang nyaris tidak bisa disebut sebagai rumah tangga atau keluarga.
Baik Andin maupun Reza masih bertahan dengan kehidupan masing masing. Reza yang lebih suka menghabiskan waktunya di kantor dan apartemen Jihan, tak pernah tau atau bahkan peduli dengan kegiatan yang dilakukan sang istri.
Reza akan pulang kerumah hanya sekali dalam seminggu. Itu pun dia tidak pernah menegur atau sekedar bertanya keadaan istrinya. Baginya Andin benar benar adalah orang lain yang tak berarti dalam hidupnya.
Di pernikahan yang hampir menginjak empat bulan, tidak pernah ada perubahan yang berarti untuk mereka berdua. Bu Salma sendiri sudah pasrah dengan apa yang dilakukan sang putra.
Sebagai orang tua sudah pasti Bu Salma melayangkan rasa kecewanya pada sang putra. Namun lagi lagi jawaban yang Reza membuatnya mengelus dada pasrah.
"Bukannya Ibu ingin aku menikahinya?Sudah aku lakukan. Sekarang apa lagi yang ibu mau? jika ibu memintaku untuk mencintainya, maaf Bu Reza tidak bisa. Ibu tau bukan kepada siapa cinta Reza berlabu? jadi sampai kapanpun Reza tak akan pernah mencintai wanita itu."
Pagi itu Reza kembali bersitegang dengan Bu Salma ketika wanita baya itu menegur sang putra yang tak pernah pulang beberapa hari terakhir.
"Namanya Andin nak, istrimu punya nama."
Protes Bu Salma.
"Siapapun namanya tidak penting buat Reza Bu. Ibu menginginkan dia menjadi menantu itu, Reza sudah menurutinya. Jadi sekarang tolong biarkan Reza bahagia dengan kehidupan yang Reza pilih dan akan Reza jalani nanti Bu."
Reza melangkah keluar meninggalkan Bu Salma yang masih berdiri ditempatnya. Wanita baya itu mengelus dada dan mengusap air mata yang menetes dipipi nya yang mulai tumbuh kerutan halus.
"Pak, apa ibu salah dalam mendidik anak kita hingga dia mempunyai sifat yang seperti ini. Aku capek pak!, apa yang harus aku lakukan untuk bisa menyadarkan anak itu."
Tangis Bu Salma kembali pecah. Dia langkahkan kaki perlahan menuju kamarnya. Bu Salma tak ingin jika menantunya tau dia menangis.
Andin pov
__ADS_1
Hari ini, menginjak bulan ke dua aku bekerja. Dengan dibantu Adit dan juga Ricko, aku sedikit demi sedikit bisa memahami pekerjaan kantoran. Tak pernah terbesit dalam benakku akan bekerja dalam gedung besar dan bertingkat seperti ini. Dulu menginjakkan kaki di loby pun aku belum tentu bisa melakukannya.
Pekerjaan paruh waktu yang ku ambil hanya berkutat pada warung dan toko kelontong itu pun dipinggiran kota.
Rasanya sangat berbeda, sensasinya juga berbeda. Saat diwarung ketika ada pelanggan yang mengomel karena salah barang atau salah pesanan aku hanya bisa tersenhum, meminta maaf dan mengantinya dengan barang yang mereka pesan.
Namun, semenjak berada dikantor ini, ketegangan selalu aku rasakan hampir disetiap hari. Aku yang memang awam soal pekerjaan kantoran harus banyak menelan kesabaran. Tak jarang ada saja yang membentak jika aku ada sedikit saja kesalahan.
Persaingan dalam dunia kerja dikantor sangat terasa. Pada awalnya aku pernah ingin menyerah saja. Namun, saat kembali mengingat pesan ibu mertuaku semangat pada diriku kembali tumbuh bahkan lebih besar lagi rasanya.
Aku yang sejak kecil harus kehilangan orang tua hanya bisa tergantung kepada nenek. Sekarang disaat nenek pun telah pergi meninggalkanku. Aku berjanji akan menyayangi ibu mertuaku dengan segenap hatiku. Walaupun aku tau, keberadaanku disisinya mungkin tidak akan lama.
Seperti pagi itu, disaat aku baru pulang dari pasar. Tak sengaja aku mendengar perdebatan kecil yang terjadi antara mertuaku dengan suamiku.
Aku yang baru saja melangkahkan kaki ingin masuk kedalam rumah terpaksa mengurungkan nya kembali, di balik pintu aku bersandar dengan dada yang menahan sesak.
Aku melihat wajah itu yang tertunduk sedih dengan air mata dan rematan tangan didadanya sendiri membuat ku ikut merasakan sakitnya.
Jika boleh aku egois, ingin rasanya aku membawa ibu pergi dan tinggal berdua denganku. Tapi aku sadar, aku belumlah bisa membahagiakannya. Karenanya aku akan berusaha untuk bisa melakukan itu semua demi ibu bisa tersenyum kembali.
Pov autor
"Kak, siang nanti kita ada meeting dengan perusahaan RZ, tolong Kakak siapkan semua berkasnya ya. Karena aku menugaskan Adit untuk pergi meninjau lokasi proyek baru di luar kota." Ricko datang pagi ini keruangan dimana aku dan Adit berada.
"Baik" Aku memang sedikit canggung untuk memanggil apa pada Ricko. Namun sebisa mungkin aku akan memanggilnya dengan sebutan yang sedikit formal jika sedang rapat atau bertemu dengan rekan bisnisnya.
"Seminggu ini kayaknya kakak akan sibuk menemaniku. Banyak meeting yang harus kita datangi. Apa kakak tak keberatan untuk itu?"
__ADS_1
"Tentu saja aku tidak akan keberatan, itu sudah menjadi kewajibanku sebagai pegawai dikantor ini."
"Baiklah, terimakasih kak. Aku akan merepotkan kakak dalam seminggu kedepan."
"Baiklah, ehm bolehkah panggil namaku saja? sepertinya kita seumuran. Rasanya sedikit tidak nyaman kamu memanggilku kakak."
Ricko tersenyum seraya mengangguk.
"Baiklah, Ndin. Semangat bekerja ya."
Ricko melangkah meninggalkan Andin yang segera menyiapkan segala berkas yang dibutuhkan dalam meeting nanti.
Andin menoleh kearah pintu ketika mendengar ketukan. Ajeng melangkah masuk dengan senyum yang mengembang. Ajeng adalah rekan kerja Andin yang lumayan dekat selama bekerja dikantor ini.
"Ndin, nanti siang kita makan ketoprak disamping kantor ya. Yang ada di gang kecil itu." Ucapnya antusias seraya mendudukkan diri dikursi depan Andin.
"Hari ini aku tidak bisa menemanimu. Ada meeting diluar bersama pak Ricko. Adit sedang bertugas keluar kota jadi aku yang menggantikannya selama dia belum kembali."
"Ah iya kenapa aku tidak menyadari ketidak hadiran tuh makhluk ya. Pantas saja rasanya sepi sekali pagi ini." Ajeng tertawa diujung ucapannya.
Gadis yang selalu beradu mulut jika bertemu dengan Adit itu menutup rapat mulutnya ketika melihat Ricko melangkah masuk ke dalam keruangan.
"Sudah siap?" Tanyanya dengan senyum yang selalu saja tersungging disudut bibirnya.
"Sudah siap semua pak." Andin berdiri dan merapikan berkas yang akan dia bawa.
__ADS_1
"Pak Ricko, boleh tidak ya kalau senyum bapak itu dititipkan pada saya. Kok rasanya saya ingin terbang terus melihat senyuman bapak."
Andin menggeleng mendengar ucapan Ajeng yang absurd. Sementara Ricko malah tertawa dengan gombalan karyawannya. Satu hal yang sudah sering dia dengar selama ini.