PERPISAHAN

PERPISAHAN
Hari Pertama


__ADS_3

Pekerjaan yang begitu banyak membuat Reza akhirnya memilih menginap di kantornya. Keberadaan Bu Salma yang sedang berada di luar kota membuat Andin akhirnya harus pasra tinggal sendiri dirumah malam ini.


Reza hanya menghubunginya lewat pesan yang terkirim satu jam yang lalu.


Andin menggulingkan badannya ke kiri dan ke kanan. Rasa kantuk belum dirasakannya walau jam telah menunjukkan jam sebelas malam.


Pikirannya masih melayang pada sang suami yang memberitahukan bahwa dirinya akan lembur malam ini dan tak akan kembali ke rumah.


"Beneran lembur atau sedang bersama kekasihnya ya?" Gumamnya pelan.


Jujur dalam hatinya, Andin ingin menjadi seorang istri yang sesungguhnya. Selalu ada disisi sang suami di waktu dan tempat dimana suaminya itu berada.


Walau Reza selalu bersikap dingin padanya selama ini. Andin tak pernah membenci lelaki itu. Rasa kecewa yang pernah dirasakannya pun tak luput dari kata ikhlas. Andin menyadari, kenapa sang suami melakukan hal demikian rupa padanya. Hanya semata karena rasa kecewa nya pada sang ibu kerena telah dijodohkan. Andin yang notaben nya hadir sebagai orang ke tiga dalam hubungan suami dengan kekasihnya tentu tak luput dari amarah dan rasa benci lelaki itu.


Waktu telah menunjuk pukul tiga dini hari ketika Andin mulai menguap pertanda rasa kantuk telah menyerangnya.



Sementara itu di belahan kota lain diwaktu yang sama. Nampak seorang wanita bergelanyut manja di lengan seorang pria.



Wanita itu tersenyum manis. Dengan saling mendekap ke duanya berjalan menuju sebuah hotel yang berada beberapa meter dari tempat mereka berpesta tadi.



"Kau senang lady?"



"Tentu, aku bahagia sekali malam ini. Kau memang terbaik sayang."



"Kita rayakan!" Ucap pria tersebut sambil menaik turunkan alisnya.



Sang wanita yang tak lain adalah Jihan tentu saja menyambutnya dengan anggukan dan senyum manjanya. Tangan yang masih bergelanyut dengan badan yang saling menempel membuat keduanya semakin tertawa lepas.



Ya hari ini, Jihan yang dibantu prianya sudah berhasil mengakuisisi sebuah perusahaan konveksi yang seyogyanya sedang bekerja sama dengan perusahaan Reza namun berhasil di ambil alih oleh Jihan.



Jihan yang selama ini Reza kenal hanya bekerja sebagai asisten merangkap sekertaris bagi Pras seorang pengusaha dibidang kosmetik. Siapa sangka, perusahaan kosmetik yang Pras kelolah hanyalah kedok belaka. Usaha sebenarnya yang sedang mereka jalankan adalah dibidang textil.



Jihan banyak mencuri dokumen atau data data tentang bahan yang berkwalitas dari perusahaan Reza untuk ditiru nya.



Sementara Reza masih terus berkutat dengan pekerjaannya. Pembatalan kerja sama oleh pihak perusahaan yang terjadi kemarin siang membuatnya sangat pusing. Belum lagi pengeluaran bulanan yang membengkak terjadi pada kartu kredit yang dia berikan pada Jihan.



Namun Reza tak pernah mempermasalahkan hal itu. Seperti yang sudah sudah, ketika Reza menegur atau pun sedikit menasehati maka Jihan akan marah. Tak jarang wanita itu akan jatuh sakit, hingga membuat Reza tak pernah lagi menegur ataupun bersikap kasar padanya walau sedikit.


__ADS_1


Alarm pada ponsel Andin berbunyi ketika waktu menunjukkan jam lima subuh. Andin mengernyapkan matanya, rasa kantuk masih membayangi nya. Waktu dua jam tertidur tidaklah cukup membuat rasa kantuk nya hilang. Namun ingatan bahwa hari ini adalah awal dia mulai bekerja maka Andin segera bergegas untuk menyelesaikan segala urusannya sebelum waktunya berangkat kerja.


"Huuaaahhhh." Andin menguap sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.


"Ya ampun, aku masih ngantuk sekali." Gumamnya seraya melangkah menuju kamar mandi.


Setelah membersihkan diri dan sholat Andin beranjak ke dapur untuk membuat sarapan. Dia yang hanya berada dirumah sendirian akhirnya hanya membuat nasi goreng sebagai sarapannya.


Bi Yati, asisten rumah tangga Bu Salma yang kebetulan juga ijin pulang kampung empat hari lalu belum juga kembali.


"Sudah matang, sebaiknya aku bersiap dulu baru nanti sarapan." Monolognya seraya kembali menuju kamarnya



Tiga puluh menit kemudian Andin bergegas untuk keluar rumah menemui Siska yang telah menunggunya.


"Wah kak, kau cantik sekali." Siska bersorak riang melihat penampilan baru ipar sepupu nya tersebut.


"Jangan meledek, bilang saja kalau aku jelek Sis. Ini tak pantaskan?"


Andin kembali melihat penampilannya. Siska terkikik geli dengan kepolosan istri sepupunya tersebut.


"Cantik kok kak, sudah pas dengan riasan nya. Tak mencolok dan elegan."


Siska melajukan kendaraannya meninggalkan halaman rumah Bu Salma.


Andin meremas jemarinya gugup. Terus terang ini adalah waktu yang menegangkan baginya. Dulu bekerja di warung Bu Anwar, Andin hanya mengenakan kaos oblong dengan celana jeans saja sudah cukup. Namun sekarang dia harus mengenakan pakaian mahal dan sedikit berdandan.


"Aku gugup sekali."


"Santai lah kak, lagi pula bos kakak adalah bang Ricko. Jadi kakak tidak perlu terlalu gugup."


"Ah iya aku lupa memberitahu kakak kemarin ya. Kakak itu bekerja dikantor bang Ricko."


Andin sedikit kaget namun dia berusaha tenang. Memang dia tak akrab sama Ricko, pertemuan yang hanya berlangsung singkat diwaktu pernikahannya tak banyak meninggalkan kesan.


Namun melihat sikap Siska dan Tante Diana, Andin yakin jika Ricko pun akan memiliki sikap yang sama seperti mereka berdua.


"Kak, kenapa melamun?ayo kita turun!"


Suara Siska membuyarkan lamunnan Andin.


"Eh, sudah sampaikah?"


"Sudah kak, makanya jangan melamun terus kak."


Mereka meninggalkan parkiran, Andin meremas jemarinya. Perasaan gugup semakin menguasainya ketika melangkahkan kakinya di loby perusahaan.


"Besar sekali." Gumamnya.


"Kak, kakak belum pernah diajak ke kantor Kak Reza?"


Andin terdiam dan hanya celengan kecil yang terlihat sebagai jawabannya. Siska menghembuskan nafasnya kasar, tak habis pikir dengan sepupunya tersebut.


Ting


lift terbuka dilantai 3 gedung. Siska menggandeng lengan Andin berjalan menuju ruangan sang kakak. Anggukan kepala terlihat dari sapaan setiap pegawai yang berpapasan langsung dengan mereka.


Tok tok tok.


"Masuk." Terdengar suara dari dalam

__ADS_1


Terlihat Siska dan Andin masuk ketika pintu ruangan telah terbuka.


"Pagi abangku yang ganteng." Siska langsung bergelanyut manja di lengan sang abang. Kebiasaan yang tak pernah berubah dimanapun mereka berada.


"Sudah datang, ayo kemarilah Kak. Silakan duduk."


Ricko mengusak kepala sang adik hingga membuat Siska merengut kesal. Andin mendudukkan dirinya disofa dalam ruangan Ricko disusul empunya ruangan.


"Kak, kakak bisa menggunakan komputer?"


Tanyanya ketika telah mendudukkan diri di sebuah sofa singgel tepat didepan Andin. Sementara Siska hanya menyimak mereka sambil memainkan ponselnya.


"Bisa, tapi mungkin agak kaku. Sudah lama tidak pernah lagi menggunakannya." Jujur Andin.


"Tak apa kak, bisa sambil belajar. Untuk sementara kakak membantu asisten saya ya. Nanti dia yang akan membantu dan mengajari kakak."


"Baik, aku panggil apa ya? pak atau apa?"


"Senyaman kakak saja mau panggil aku gimana."


"Baiklah, sebentar lagi Adit datang. Aku memintanya membeli sarapan dulu tadi." Ricko tersenyum.


"Abang tidak sarapan dulu tadi?" Siska mendekat ke arah sang kakak setelah dikira obrolan mereka tak lagi serius.


"Kagak sempat dek, tadi kakak keburu buru ada file yang harus kakak kerjakan pagi tadi."


Ricko membelai lembut rambut sang adik yang duduk disebelahnya.


Tak lama pintu terbuka, dengan sosok asisten yang datang membawa paper bag berisi makanan pesanan boss nya.


"Tuan, sarapan anda."


"Ok, makasih ya Dit. Oh ya kenalkan ini kakak sepupu ku, tolong bimbing ya Dit. Soalnya kakak baru kali ini mulai bekerja."


"Baik Tuan." Adit beralih ke arah Andin, menyalami wanita itu kemudian tersenyum pada Siska yang ikut menatapnya.


"Kalau begitu saya mohon diri Tuan, mari non Andin saya tunjukkan ruangan anda."


Andin berdiri dan mengikuti langkah kaki Adit yang membawanya masuk ke dalam satu ruangan. Hanya ada dua meja kerja dalam ruangan besar tersebut.


"Non, meja anda disini dan yang disana itu meja saya. Jika ada yang kurang jelas nanti bisa langsung tanya ke saya."


"Ehm, boleh tidak kalau manggilnya nama saja. Aku kurang nyaman dengan panggilan nona." Andin menampilkan cengiran nya.


"Baiklah sesuai keinginan. Selamat datang dikantor dan selamat bekerja."


"Terimakasih."


Adit melangkah menuju mejanya.


"Mimpi apa aku semalam, bisa bekerja satu ruangan dengan wanita cantik. Sayangnya dia keluarga si boss." Gumamnya sambil menggelengkan kepalanya.


°


°


°


~~


Kita buat Reza cemburu yuk bentar lagi sebelum drama perceraiannya nanti

__ADS_1


__ADS_2