PERPISAHAN

PERPISAHAN
Weekend bahagia


__ADS_3

Andin melangkahkan kakinya keluar rumah. Olah raga pagi dia sempatkan demi kesehatan tubuh dan fisiknya.



Matahari sudah mulai terik ketika Andin mengistirahatkan tubuhnya. Merenungi nasib yang dijalaninya saat ini. Walau terbilang beruntung karena dirinya tak perlu lagi bersusah payah mengais rezeky hanya untuk makan. Namun kehidupan lain membuatnya harus bisa lebih bersabar. Rumah tangga bahagia yang didambakan nya selama ini seakan hanya menjadi angan belaka.


Andin tak pernah letih untuk meminta kebahagiaan, walau hanya sebentar saja. Seperti yang terjadi semalam antara dirinya dan sang suami. Jujur, hatinya begitu bahagia. Semalam tidurnya sangat nyenyak, bahkan jika bisa dia ingin menghentikan waktu. Tertidur dalam dekapan hangat sang suami adalah mimpi baginya.


"Huuft." Helaan nafas berat keluar dari bibir gadis manis itu.


Diusap nya peluh yang sedikit muncul di keningnya.


"Tuhan, bagaimana caraku untuk mempertahankan pernikahan ini?. Sejatinya aku tau, perceraian adalah hal yang paling Engkau benci. Namun aku tak kuasa melawan segala keputusan." Ucapnya frustasi.


Andin menundukkan wajahnya, ditekuk nya kedua lutut untuk menopang wajahnya.


"Capek?" Sebuah suara mengagetkan nya yang sedang melamun.


Bukan hanya kaget, namun lidah Andin seakan keluh melihat siapa yang telah berdiri di hadapannya kini.


Kebetulan kah?.


"Kok malah melamun, ayo kita pulang. Sebentar lagi matahari semakin terik."



Andin masih terdiam ditempatnya. Bahkan uluran tangan sang suami pun hanya dipandangi nya tanpa berkedip.


Antara percaya dan mimpi, wanita itu menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk menghalau halusinasi yang muncul di otaknya. Di pejamkan mata demi mengembalikan kesadarannya ke alam nyata.


Reza tergelak melihat kelakuan absurd istrinya. Lelaki itu berjalan mendekat dan meraih tangan Andin serta membimbing nya untuk berdiri.


"Ayo pulang!" Ulang lelaki itu.


"Andin terkesiap namun tak urung diapun melangkahkan kakinya mengikuti langkah suaminya. Dipandangi nya jemari tangan yang sedang digenggam erat itu.


Mimpi kan! Batinnya membeo.


"Mau sekalian membeli sarapan?"


Andin hanya mengangguk, sungguh dia masih berada dalam dunia nyata dan mimpi.


Andai ini nyata, betapa bahagianya aku. Batinnya melihat Reza berjalan memesan dua mangkok bubur untuk mereka berdua.


Reza berjalan menghampiri sang istri yang terduduk di sebuah bangku yang tersedia di taman.

__ADS_1


"Kamu berolah raga setiap pagi atau setiap akhir pekan saja?"


"Akhir pekan selalu olah raga mas, kalau hari hari biasa pas ada waktu yang cukup baru bisa berolah raga dulu. Tapi kebanyakan sih olah raga ringan dirumah saja."


Andin yang sedikit demi sedikit bisa menguasai hati dan keterkejutan nya diam diam tersenyum. Gadis itu berharap semua akan lebih baik lagi setelah hari ini. Walau semua masih terlihat sangat sulit namun tidak ada salahnya kan untuk berharap?.


"Emm, mas juga suka berolah raga pagi?"


"Sedikit, aku sering tidak punya waktu untuk melakukannya."


Obrolan mereka terhenti ketika mamang tukang bubur datang dengan nampan ditangannya berisi dua mangkok bubur pesanan mereka.


Sarapan diselingi obrolan ringan mereka lakukan. Tidak pernah ada kesempatan seperti hari ini. Baik Reza dan Andin, tidak pernah sekalipun duduk bersama menikmati sarapan mereka jika sedang berada dirumah.


Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menghabiskan bubur hingga tandas tak tersisa.


"Mau langsung pulang?" Tanya Reza ketika mereka kembali melanjutkan berjalan pulang.


Andin mengangguk, selain karena tubuhnya sudah lengket karena keringat juga karena matahari sudah mulai meninggi. Andin tidak terbiasa untuk mampir ke tempat lain setelah berolah raga.


Sedikit kecewa terlihat jelas di raut muka Reza. Namun tak ayal lelaki itu pun tetap melangkahkan kakinya mensejajari sang istri.



Sementara itu di apartement Jihan.




Weekend membuat nya semakin frustasi. Karena bisa dipastikan, kalau Reza tidak akan datang ke kantor hari ini.



"Si@lan kamu Reza, berani sekali kamu mengabaikanku. Tau begini aku tidak akan pulang dari liburanku." Umpat nya kesal.



Baru beberapa hari Jihan pulang dari acara liburannya ke Thailand. Wanita itu pergi dengan alasan berkumpul dengan teman teman sosialita nya.



Namun yang sebenarnya. Jihan bersama sang kekasih sebenarnya tengah mendirikan sebuah usaha disana. Mereka berencana untuk memindahkan usaha mereka ke negara itu. Setelah selesai dengan segala urusan dan berhasil mengambil alih perusahaan Reza mereka akan segera pindah.


__ADS_1


Jihan sengaja berkeliling melakukan liburan semata hanya untuk mengelabuhi Reza. Sebagian banyak waktunya dia gunakan untuk menyelesaikan segala urusannya di Thailand.



Jihan sudah terbiasa memanipulasi penggunaan kartu kredit milik Reza yang dipegangnya. Wanita itu bekerja sama dengan beberapa temannya untuk melakukan itu semua.



"Aku bisa bosan kalau terus berada disini. Sebaiknya aku pergi berjalan jalan." Wanita manis tersebut menyeret langkahnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.



Puas melampiaskan kekesalannya pada barang barang yang berada dikamarnya tadi. Tanpa berniat untuk membereskannya kembali. Jihan mengganti pakaiannya dan mematuk dirinya didepan cermin.



"Aku tidak sabar menunggu waktunya untuk meninggalkan lelaki lemah itu. Setelah semua bisa ku dapatkan aku akan sepenuhnya terbebas dan melakukan apapun sesuka hati."



Jihan meraih tas jinjing mahalnya dan berjalan keluar apartement. Wanita itu memencet beberapa tombol di ponselnya sebelum masuk ke dalam lift.



Seorang wanita muda berjalan masuk kedalam apartement Reza yang ditempati bersama Jihan. Wanita tersebut bertugas membersihkan apartement jika diminta.



Wanita yang bernama Linda itu menghela nafasnya melihat kekacauan yang terjadi dalam kamar utama di apartement tersebut. Sudah menjadi hal umum baginya melihat hal seperti itu terjadi. Perlahan Linda memulai pekerjaannya. Tak lupa dia selalu mengecek sesuatu benda dibalik meja rias yang ada dalam kamar tersebut.



Dikediaman Bu Salma.


Andin yang tidak ada kesibukan seharian ini lebih banyak menenggelamkan dirinya pada beberapa berkas yang sengaja dia bawa pulang untuk dikerjakan.


Sepulang berolah raga tadi, dia bergegas membersihkan diri. Setelahnya Andin menyiapkan segala sesuatu untuk dia masak saat waktu makan siang datang. Sementara Reza, sehabis membersihkan diri. Lelaki itu melenggang pergi ke ruang kerjanya. Sesekali terdengar decakan kesal keluar dari mulutnya.


Lelaki itu serius memperhatikan layar laptopnya. Entah apa yang dilakukannya. Padahal tak ada pekerjaan yang lelaki itu bawa pulang.


Reza berjalan menuju kamarnya yang berada disebelah ruang kerjanya. Dibukanya pintu perlahan karena mengira Andin sedang beristirahat. Tidak disangka sang istri malah menolehkan wajahnya mendengar bunyi pintu terbuka. Dia yang sedang duduk diatas karpet dengan laptop yang berada di pangkuannya segera menghentikan gerakan jemarinya di laptop.


"Mas sudah mau makan siang? biar aku masakan?"


"Boleh kalau tidak merepotkanmu."

__ADS_1


Reza melangkah kearah tempat tidur, diambilnya handphone diatas narkas. Semalam, dia sengaja mematikan kembali ponselnya setelah mengisi daya. Reza hanya membuka pesan dari sang istri pada siang harinya yang belum sempat dibukanya karena ponselnya mati.


__ADS_2