
...Terkadang dalam keraguan ada terbesit sebuah makna....
...Bukan hanya dengan kata cinta....
...Hati hanya akan berdesir dengan sebuah tatapan saja....
...Namun apakah kau tau? desiran itulah yang menjadi penghubung jiwamu....
🌹🌹🌹🌹🌹
Pagi cerah menyapa dengan suara kicau burung yang mulai berisik dibalik rerimbunan dedaunan di ranting ranting pohon. Hembusan udara sejuk menerpa dan mengibaskan tirai yang masih tertutup dibalik jendela yang hanya terbuka sedikit.
Sepasang manusia masih terbuai dalam selimut yang sama. Saling mendekap dan memeluk erat, seolah mereka tidak akan terganggu dengan kicau ramai burung burung diluar sana.
Perlahan mata lentik itu mengernyap. Di bukanya mata secara perlahan, namun masih enggan melepaskan apa yang masih di peluknya erat. Suara deru nafas lembut yang menerpa pucuk kepalanya membuat nya sedikit bergerak mendongakkan wajah.
Wajah tampan dengan hidung lancip. Bibir tipis dan bulu mata lentik. Andin menggerakkan jemarinya menyentuh setiap jengkal wajah itu. Wajah yang membuatnya selalu tersipu.
Andin tidak pernah mengenal cinta. Dia yang selalu hidup sederhana bahkan bisa dibilang kurang itu hanya berpikir tentang bagaimana mendapatkan uang.
Cinta baginya adalah hal mahal yang hanya bisa dilakukan oleh orang orang kaya. Pernah terbesit rasa iri dihatinya. Namun, Andin selalu mencoba menepisnya. Dia sadar akan keadaan nya dan juga akan hidupnya.
Andin terus menggerakkan telunjuknya dengan sangat pelan. Dia tidak mau mengganggu waktu istirahat sang suami, lebih tepatnya wanita itu tidak ingin kehilangan momen yang sangat berharga untuknya.
Terbangun di pagi hari dalam dekapan hangat sang suami menjadi hal paling indah dalam mimpinya selama ini. Senyum masih tersungging dibibir tipisnya.
Jari telunjuk itu berhenti tepat diatas bibir sang suami. Tatapan mata Andin pun terfokus ke sana. Sudut bibirnya terangkat, mengingat bagaimana bibir itu menari indah diatas bibirnya. Wajah Andin merona.
"Ada apa denganmu sayang? kenapa pipimu merah begini?"
Tiba tiba Reza membuka matanya dan mengejutkan Andin. Dengan gugup wanita itu berusaha menjauhkan dirinya. Namun dekapan Reza semakin mengerat, membuatnya tak mampu bergerak.
"Maaf mas, aku mengganggu tidur mas ya. In.. ini sudah pagi, nanti mas terlambat ke kantor."
Kembali Andin mencoba beranjak, namun lagi lagi cekalan tangan Reza menghalangi gerakannya.
__ADS_1
"Aku masih ingin begini" Reza menenggelamkan kepalanya diceruk leher sang istri.
"Tapi kita akan terlambat ke kantor nanti mas."
"Kita tidak perlu ke kantor sayang, aku sudah mengajukan cuti untuk kita berdua. Aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu."
Reza mengeratkan pelukannya, rasa nyeri dihatinya semakin terasa.
Sementara Andin hanya mampu terdiam. Menenggelamkan wajahnya dalam dada bidang sang suami. Bahagiakah dia? tentu saja.
Namun Andin juga menyadari satu hal yang tak bisa dirubahnya, sang suami mempunyai wanita lain yang menempati hatinya. Entah disebut apa dirinya saat ini Andin pun tak tau.
🌹🌹🌹🌹🌹
Dihari yang sama namun ditempat yang berbeda.
Jihan yang sedang menikmati liburannya bersama Tama nampak sudah siap dengan anggunnya.
Pakaian santai yang dikenakannya sangat cocok. Cuaca yang cerah sangat mendukung rencana mereka kali ini untuk berkeliling pulau dengan mengendarai sebuah Speedboat.
"Ji, maaf. Sepertinya kamu harus menghabiskan waktu sendiri hari ini. Aku ada meeting dadakan yang harus dihadiri."
Jihan memanyunkan bibirnya, wanita itu sedikit kecewa. Sejak menginjakkan kakinya di pulau ini, Tama tak pernah sekalipun menemaninya berwisata. Lelaki itu selalu sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan, Tama pun memesan kamar yang berbeda dengan Jihan. Awalnya, Jihan berharap dapat menjerat lelaki itu dengan tubuhnya. Namun sepertinya Tama tidaklah sama dengan para lelaki yang berhasil dijerat nya.
Tama mengambil dompetnya, lelaki itu mengeluarkan sebuah card. Senyum Jihan langsung mengembang.
"Pakai ini untuk membeli apa yang kamu inginkan. Jangan terlalu jauh perginya." Tama menatap lekat wajah cantik wanita didepannya.
"Tentu." Jihan mengangguk seraya menerima card yang diberikan Tama.
"Mungkin aku akan kembali pulang larut malam ini. Jadi kau tak perlu menungguku untuk makan malam dan beristirahat. Kita akan bertemu besok pagi waktu sarapan."
"Apakah pekerjaanmu begitu banyak? hingga kamu tak bisa menikmati liburan kita ini?" Jihan menjebik.
"Maaf, bukannya kemarin aku sudah menjelaskan padamu, jika aku akan disibukkan dengan banyaknya hal yang menyangkut pekerjaan selama disini. Proyek ini harus aku dapatkan bagaimanapun caranya. Lain kali aku akan mengajakmu kembali kesini saat semua urusanku beres." Tama mencoba memberi pengertian pada wanita yang sedang merajuk dihadapannya kini.
__ADS_1
"Baiklah, tapi aku boleh membeli apapun yang aku suka dengan kartu ini kan?"
"Ya, lakukan sesukamu. Bersenang senanglah." Tama mengelus lembut puncak kepala Jihan.
Wanita itu tersenyum bahagia.
Tak masalah bagi Jihan, tujuan utamanya adalah menjerat Tama agar masuk kedalam peragkapnya. Kemudian memanfaatkan lelaki itu demi terwujudnya usaha yang dirintisnya bersama Pras di Thailand.
Jihan benar benar menikmati waktunya. Setelah puas berbelanja, kini dia sedang menikmati pemandangan dengan menaiki sebuah boat yang memang khusus diperuntukkan bagi pengunjung yang datang ke pulau.
Jihan benar benar menikmati waktunya. Sambil bertukar pesan dengan Pras sang kekasih dirinya menikmati pemandangan sejuk disekitarnya.
Terik matahari tak menyurutkan senyum yang selalu memgembang dibibirnya.
Bagaimana dengan Reza? tentu saja Jihan juga berusaha menghubungi Reza. Namun lagi lagi ponsel lelaki itu tak bisa dihubungi nya.
Jihan tak lagi ambil pusing soal itu. Baginya ada pasokan uang yang masuk dalam rekeningnya itu sudah cukup.
🌸🌸🌸🌸🌸
Tama berjalan tergesah, Lelaki itu nampak tersenyum tipis kala melewati beberapa orang yang ditemuinya di jalan.
Wajah tampannya senantiasa menampilkan senyuman. Tama sendiri sebenarnya sosok yang hangat. Karakter tegas dan dingin dia tunjukkan hanya didepan kolega dan karyawannya saja.
Tama tak pernah menunjukkan sikap nya yang sebenarnya kepada orang lain kecuali keluarganya. Kehilangan sang bunda tiga tahun lalu membuatnya menjadi lelaki yang gila kerja.
Hari harinya tidak pernah jauh dari urusan kantor dan kantor. Sampai pada setahun yang lalu dirinya bertemu tanpa sengaja dengan seorang gadis yang mampu membuat hatinya bergetar.
Gadis yang telah dilamarnya beberapa bulan yang lalu. Namun deminya pula dia harus menekan ego dan melakukan hal yang diluar kemauannya.
Tama mengusap wajahnya kasar. Mengingat gadisnya sungguh membuat hatinya bahagia. Namun kala itu juga muncul rasa was was yang teramat dalam padanya, tak kala dirinya menyadari suatu kelemahan yang bisa sewaktu waktu akan goyah.
"Huuft, kau membuatku rindu yank. Namun kau juga membuatku merasakan sport jantung setiap waktu." Tama tersenyum menatap foto dalam hanphone nya.
__ADS_1
"Kau tau, bersama dengannya aku harus benar benar bisa menahan diri dan mataku." Tama mendesah perlahan