
...Kita sebagai makhluk ciptaannya dilahirkan sama bukan?....
...Lalu kenapa harus ada perbedaan?...
...Bukankah bahagia, sedih, tertawa atau berduka itu milik semua orang...
...Namun kenapa hanya kesedihan dan penderitaan yang selalu datang menyapaku...
...Tak adil bukan?...
...Namun aku tak pernah menyesali takdirku...
...Karna inilah hidupku...
Andin yang hari ini berencana untuk pergi berbelanja bersama Siska sudah terlihat rapih. Gadis itu duduk diruang tengah menunggu kedatangan Siska yang mengatakan akan sampai tiga puluh menit lagi.
Tak berapa lama akhirnya Andin keluar, setelah menutup pintu gadis manis berlesung pipih itu melangkah sambil melempar senyum ke arah Siska yang membuka kaca mobilnya.
"Kita langsung belanja apa ada tempat lain yang mau kakak kunjungi?"
Siska memutar setir mobil secara perlahan meninggalkan rumah keluarga Reza.
"Aku tidak mempunyai tujuan sih, jadi ngikut saja." Jawab Andin yang memang hampir tidak pernah bepergian itu.
"Em.. Kakak sudah pamit sama abang?"
"Tadi sempat telfon tapi tidak diangkat, mungkin sedang sibuk. Jadi aku mengirim pesan saja."
"Baiklah kalau begitu kita bisa berkeliling seharian ini, lagi pula kakak pasti bosan sendirian di rumah."
Andin hanya mengangguk, apa yang dikatakan Siska memang benar adanya.
Siska melajukan kendaraannya membelah jalan yang sedikit ramai. Gadis itu akan mengajak Andin ke mall ternama untuk merubah penampilannya.
__ADS_1
Kemarin sore, setelah sang mama mengutarakan niatnya mencarikan pekerjaan untuk sepupuh iparnya itu dia semakin bersemgat. Siska akan meruba penampilan Andin sedemikian rupa, hingga orang yang melihatnya tidak akan mengira jika itu adalah Andin. Sosok gadis sederhana yang hanya tau dapur dan rumah saja.
Terlebih, Siska ingin membuka mata sepupu nya agar bisa melihat dengan jelas bagaimana istrinya yang sebenarnya.
Siska dan Ricko berbagi tugas. Jika Siska sibuk me mekover Andin, maka lain hal dengan Ricko yang tengah menyiapkan pekerjaan untuk wanita itu.
Tentu semua masih atas campur tangan mama dan juga tantenya. Mereka bekerja sama untuk bisa membuat Andin lebih percaya diri dan menonjol.
Sementara itu Reza yang sedang menghadiri rapat pagi telah kembali disibukakan dengan pekerjaannya. Perusahaan yang dibangun sang ayah dari nol itu berdiri mega, Reza yang menggantikan sang ayah pun dengan muda berhasil membangun perusahaan tersebut semakin pesat.
Usaha textil yang keluarga geluti sekarang bisa merambah ke berbagai bidang usaha sampingan. Saat ini Reza juga telah menanamkan modalnya pada usaha fashion dan kuliner tanpa sepengetahuan siapapun termasuk keluarganya maupun Jihan.
Sejak penolakan sang ibu pada sang kekasih waktu itu. Reza mulai berpikir untuk mandiri, oleh karenanya dia memilih menanamkan modalnya ke beberapa usaha yang temannya kerjakan. Sejauh ini usahanya lancar tanpa adanya kendala. Bahkan Reza pun memisahkan hasil keuntungan usaha pribadinya tersebut dalam aset yang berbeda.
Entah apa yang ada di benaknya hingga Reza memilih jalan sejauh itu.
Waktu masih menunjukkan jam sepuluh pagi, ketika dia meraih ponsel yang tadi disimpannya. Reza mengecek kalau kalau ada yang telfon atau mengirim pesan padanya dari sang kekasih yang belum juga kembali liburan.
Helaan panjang terdengar saat tak ada satu pun telfon atau pesan yang dia tunggu. Hanya ada beberapa pesan yang dikirim Andin untuknya.
Istrinya itu sedang meminta ijin atau lebih tepatnya berpamitan jika hari ini dia akan keluar rumah bersama Siska. Andin juga memberitahukan jika mungkin dia akan pulang sore.
Reza tersenyum tipis, merasa dihargai. Senyumnya memudar ketika menyadari bawa itu bukanlah dari orang yang dia harapkan. Dalam enaknya berharap jika Jihan lah yang akan memperlakukannya demikian.
Tak berniat membalas pesan sang istri, Reza kembali menaruh benda pipih tersebut diatas meja kerjanya. Lelaki itu kembali tenggelam dengan pekerjaan.
__ADS_1
Mall xx
Siska memarkirkan mobilnya di halaman salah satu mall di kotanya. Dia yang memang telah terbiasa berbelanja terlihat biasa saja ketika keluar dari mobil dan berjalan memasuki pelataran mall.
Berbeda dengan Andin yang baru pertama kalinya menginjakkan kakinya ditempat seperti ini.
"Santai aja sih, jangan tegang begitu." Siska menarik lengan Andin memasuki sebuah butik langganan nya.
Dengan senyum dan anggukan kepala mereka masuk ke dalam butik setelah disambut pegawainya.
Siska sibuk memilih dan memilah baju yang kira kira cocok untuk dipakai Andin saat mulai bekerja esok.
Andin hanya mengekor saja kemana Siska melangkahkan kakinya. Wanita itu sedikit bingung, melihat harga yang tertera di tiap helai pakaian yang diambil oleh Siska.
Tabungan yang dimilikinya tak cukup walau hanya untuk membayar sehelai baju. Andin tersenyum miris pada dirinya sendiri. Ketidak mampuan nya di bidang ekonomi membuat dirinya minder. Oleh karenanya dia jarang sekali keluar rumah walau hanya sekedar jalan jalan.
"Hey, kenapa bengong? ayo pilihlah mana baju yang kamu suka. Nanti dicoba, mana yang cocok dan pas untukmu baru itu yang kita ambil."
"Aku tidak memiliki uang banyak Siska. Hanya cukup membeli satu baju saja, jadi aku rasa ini cukup." Tunjuk nya pada baju yang terlihat paling sederhana disana.
"Aduh Kak, kamu ini istri direktur lo. Masa iya cuma belanja satu baju. Apa Kak Reza tak memberikanmu uang?"
Siska menatap Andin serius, sementara yang ditatap hanya terdiam kemudian merogoh tas kecil yang dibawanya. Dia mengambil sebuah cart yang diberikan Reza bulan lalu. Namun hingga kini dia tak pernah tau isi didalam cart tersebut apalagi menggunakannya.
"Itu kan ada, astaga kak. Ku kira Kak Reza bakal setega itu juga, hingga tak memberimu uang bulanan. Sudah sekarang ayo jangan banyak berpikir."
Dalam hati Siska tersenyum senang, setidaknya abang sepupunya itu tak mengabaikan semua kewajibannya memberi nafkah pada Istrinya.
Sebenarnya, walau tak ada uang yang Reza berikan. Siska memang sudah bertekat untuk me makover Andin.
"Sudah ayo kita pergi ke ruang ganti dan mencobanya."
Kembali Siska menarik Andin. Dia mendorong kakak sepupunya itu untuk masuk ke ruang ganti dan mencoba semua baju yang tadi dia pilihkan untuk wanita itu.
"Ini harus semuanya ku coba? punya mu mana?" Andin melongok kan kepalanya dibalik tirai.
Pertanyaan yang hanya dijawab anggukan kepala dan gedikan baju oleh Siska membuatnya pasrah dan kembali masuk ke ruang ganti.
Baju pertama dicoba nya kemudian keluar memperlihatkan nya pada Siska yang duduk manis disofa depan ruang ganti.
Ada sebanyak 4 stel pakaian yang dipilih oleh Siska. Dua pakaian khusus untuk bekerja dan dua lagi untuk dia kenakan jika keluar rumah.
Setelah dari butik, Siska menggiring Andin menuju sebuah salon. Makover benar benar dia lakukan pada sepupu iparnya itu.
Sementara itu Reza yang menerima notifikasi jumlah belanja yang berasal dari kartu yang diberikannya pada sang istri beberapa waktu lalu mengernyit. Jumlah tagihan yang diluar dugaannya membuatnya kembali tersenyum.
Andin hanya membelanjakan uangnya sejumlah satu juta lima ratus rupiah saja. Semua diluar ekpetasinya, pada awalnya Reza mengira jika Andin akan sama seperti perempuan lain yang senang berbelanja.
Kepalanya kembali menggeleng, dia membuang pikirannya tentang sang istri dan memilih kembali fokus dengan pekerjaannya.
To Be Continue
__ADS_1
~~Masih belum feel ke part bucin, mau di part nyebelin dulu aja ya nanti bucin nya menyusulđ¤