PERPISAHAN

PERPISAHAN
Perpisahan


__ADS_3

#Rintik hujan yang turun,mengingatkanku pada dirimu. Yang hanya bisa ku kenang dalam angan#


Andin berjengkit lirih. Beberapa kali dimengernyapkan matanya. Bayangan suaminya yang datang menjenguknya seakan nyata. Tapi pada kenyataannya, pagi ini dirinya masih berada diatas kasur empuk dengan selimut tebal yang membalut tubuhnya. Semalam hujan turun begitu derasnya hingga membuat Andin bergelung manja dalam selimut. Menciptakan rasa hangat dari benda yang membungkus seluruh tubuh lelahnya.


Kembali suara ******* terdengar dari bibir mungil tersebut.


Dalam mimpinya semalam. Andin sedang bergumul mesra dengan sang suami. Reza datang dengan pakaian basah dan langsung memeluknya mesra.


"Mungkin aku terlalu merindukanmu mas. Entah dimana dirimu kini, aku sungguh kangen padamu mas." Gumamnya pelan.


Di liriknya jam yang menggantung didinding. Waktu masih menunjukkan jam 6 pagi. Itu artinya, masih ada waktu satu jam setengah untuknya bersiap.


Bukannya bergegas. Andin malah semakin menenggelamkan tubuhnya sembari mendekap bantal yang biasa digunakan Reza. Aroma sang suami yang tertinggal di bantal menimbulkan senyum samar yang terbit di bibir mungilnya.


Katakan lah dia sudah gila.


"Kamu dimana mas? aku rindu." Liriknya sambil membenamkan wajahnya dalam bantal Reza.


Sementara itu dikamar sebelah, tepatnya diruang kerja Reza. Lelaki itu menyandarkan tubuhnya dibalik pintu. Saat pagi tadi, sebelum subuh dirinya keluar dari kamar. Tepat jam dia belas malam Reza pulang ke rumahnya dengan diantar Tama. Lelaki itu sudah tidak lagi bisa membendung rasa rindunya pada sang istri.


Namun tentu saja, dirinya juga tidak mau mengambil resiko yang lebih fatal. Sekuat hati Reza menahan rasanya. Dua pilihan yang sulit telah menghimpitnya. Entah dengan cara apa dirinya nanti menjelaskan kepada sang ibu dan istrinya. Satu satunya harapan yang tersisa adalah pengertian dan maaf dari mereka berdua nantinya.



Reza merebahkan tubuhnya di ubin ruang kerjanya. Dirinya kembali merenung akan jalan yang dilalui nya. Usahanya akan sia sia selama hampir dua tahun mengorbankan harga diri dan hatinya jika dia menyerah sekarang.


Kehadiran Andin benar benar membuat kacau balau semua usahanya. Awalnya dia tak ingin peduli pada wanita itu. Dalam benaknya Reza selalu berpikir akan menceraikan Andin secepatnya, agar dia bisa kembali tenang dengan segala rencananya.


Namun tekatnya kalah dengan hatinya. Semakin Reza mengingkari semakin tertarik pula dirinya pada sang istri.


"Bicaralah padanya, jangan sampai dirimu menyesal nantinya. Tapi tentu saja ada konsekuensi yang harus kau tanggung dengan melakukan hal itu. Berpikir dan bertindak sesuai dengan kata hatimu."


Ucapan Tama semalam sejenak saat mengantarkan nya pulang membuat Reza terhenyak.


Dalam sebulan lebih kepergiannya, Reza membulatkan tekatnya untuk meneruskan rencananya sesuai dengan apa yang telah dirinya rencanakan.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Tama


Lelaki jangkung itu turun dari mobilnya. Hari ini rencananya akan ada pertemuan penting dengan seorang pengacara. Tama yang selama ini menjadi orang kepercayaan Reza dalam memgelolah usaha restoran yang masih dirahasiakan kepemilikannya.

__ADS_1


Bahkan sebagian besar masyarakat mengira dialah pemilik restoran yang mulai terlihat kemajuannya tersebut.


Tama berjalan masuki restoran dengan senyum yang selalu tersungging diwajahnya. Supel, ramah, kaya dan rajin, itulah beberapa image baik yang melekat padanya.


"Inar, kalau ada tamu yang mencari saya atas nama pak Danu. Segera antar keruangan saya ya." Pesannya pada salah satu pegawainya.


"Baik bos, InsyaAllah nanti diantar." Inar adalah gadis manis dengan rambut lurus sepinggang.


Gadis yang ditemukan oleh Reza disaat dirinya meninjau lokasi dimana Proyek usahanya yang lain sedang dalam proses pembangunan pada saat ini.


Tak banyak yang tau. Reza telah memiliki 2 buah restoran dan sebuah penginapan. Penginapan nya sendiri belum selesai dibangun. Sementara restoran nya, selain yang dipegang oleh Tama. Ada restoran yang hanya khusus bagi penikmat vegetarian, yang dikelola oleh Pitaloka. Adik perempuan Tama.


Tama dan Reza sendiri berteman sejak dibangku SMA. Mereka dipertemukan kembali ketika Tama sedang mencari pekerjaan.


Pada saat itu, keluarga Tama dalam krisis ekonomi setelah sang ayah divonis lumpuh. Ayah Tama yang hanyalah seorang pegawai negeri tak mampu lagi mencukupi kebutuhan keluarganya.


Dengan tak pantang menyerah, Tama melanjutkan pendidikannya sambil bekerja. Bekerja paruh waktu yang diambilnya mengantarkan Tama bertemu dengan Reza.


Reza yang kebetulan membutuhkan orang orang yang bisa membantunya tentu saja sangat senang. Disaat keputusasaan menerjang nya ada dewa penolong yang datang padanya secara tidak disengaja.


Tama menghempaskan tubuhnya dikursi kebesarannya. Diraihnya ponsel dalam saku jas nya.


"Aku rindu yank, huuft!!" Helaan nafas berat terdengar seiring dengan usapan jemarinya pada foto dibalik layar benda pipihnya.


🌸🌸🌸🌸🌸


Tok tok tok


Ketukan pintu membuyarkan lamunan Tama pada gadisnya. Gadis manis yang selalu ceria. Gadis yang membuatnya selalu tersenyum.


Tama meletakkan ponselnya diatas meja. Sebelum mempersilakan sang tamu masuk.


Sesaat setelah pintu terbuka, muncullah Inar dengan senyum lembutnya.


"Permisi pak, Pak Danu sudah datang." Ucapnya sambil menunduk sopan.


"Baiklah, suruh masuk Inar. Setelah ini, jangan ijinkan siapapun mengganggu pembicaraan kami nanti."


"Baik pak, saya undur diri." Inar kembali membungkukkan badannya sedikit sebelum berbalik dan mempersilahkan pak Danu masuk.


Tama segera bangkit dari duduknya. Berjalan menghampiri pak Danu yang telah masuk ke dalam ruangannya. Setelah pintu tertutup rapat, dan saling menyapa. Mereka mendudukkan diri di sofa.

__ADS_1


"Ada sesuatu yang penting Tam? hingga kamu memintaku segera datang kemari."


Danu adalah sepupu Tama dari sang ayah. Mereka tubuh dewasa bersama.


"Aku mendapat perintah, untuk membuat wasiat dan juga pengalihan nama atas semua akses kepada wanita itu."


"Semua? termasuk proyek yang sedang dalam proses sekarang ini?"


"Benar semuanya." Tama menegaskan


"Baiklah, aku akan merubah semuanya."


"Aku harap semua segera selesai." Lanjutnya.


"Kamu benar!!. Bagaimana dengan bukti bukti yang mendukung? apa semua sudah didapat? "


Danu hanya mengangguk, namun jemarinya sudah sibuk dengan tablet yang di bawa nya.


Perbincangan mereka lakukan hingga waktu menjelang makan siang. Danu meninggalkan ruangan Tama.


"Huuft, aku harap semua sesuai dengan rencana."


Sementara itu di kantor Reza, seorang wanita sedang marah marah dihadapan meja resepsionis. Dirinya tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh dua resepsionis dihadapannya itu.


"Aku akan membuat kalian berdua dipecat dari sini." Tudingnya dengan hidung yang sudah memerah menahan amarah.


Sudah selama sebulan dirinya tidak mendapat kabar apapun dari lelaki itu. Bahkan ponselnya tidak pernah lagi bisa dihubunginya. Karuan saja Jihan uring uringan, bagaimana tidak? Reza adalah pensuply segala kebutuhan mewahnya.


Sudah sebulan ini dirinya tidak lagi bisa berfoya foya. Membuatnya nekat mendatangi kantor Reza. Tak tanggung tanggung, ini terhitung hari ke tiga dirinya datang.


Namun hasilnya tetap sama. Dirinya dilarang masuk dengan alasan Reza tak berada di kantornya.


"Maaf nona, kami mengatakan yang sebenarnya. Jika anda tidak percaya juga, itu adalah hak anda nona. Kami tidak akan memaksa."


Jihan kembali bersungut-sungut. Mau tak mau dirinya harus kembali dengan tangan kosong.


"Sial lan kau Reza. Kalau bukan karena proyek akhir yang sedang Pras kerjakan membutuhkan dana darimu. Aku sudah tak sudi mencarimu lagi." Jihan berjalan sambil menggerutu demi meluapkan kekesalannya.


Ditutupnya pintu mobil dengan keras.


"Ckc, aku tidak bisa lagi berbelanja. Apa aku pergi ke kantor Tama saja ya? sepertinya bukan ide yang buruk."

__ADS_1


Senyum terbit disudut bibir nya, seperti mendapatkan ide yang briliant. Segara dihidupkan nya mobil dan melesat ke arah kantor Tama.


__ADS_2