
"Jordan.... "
"Jordan.... "
seorang pria yang tertidur mengeliat karna suara yang menganggunya, cahaya terang menembus kelopak matanya.
"Jordan, bangun"
seorang wanita yang berbaring menyamping di sebelahnya membelai lembut kepalanya.
"Sarah... "
Jordan berguman saat matanya masih tertup dengan setengah kesadaran.
"Papi! "
Jordan terkejut dan membuka matanya lebar-lebar.
"ini Morgan, Papi! "
seorang anak laki-laki menatap Jordan dengan kesal. Jordan tertawa miring lalu memperbaiki posisi tidurnya, Jordan pikir ada bidadari yang membangunkannya ternyata seorang malaikat kecil yang membangunkannya.
"Ada apa Nak? "
tanya Jordan dengan suara khas bangun tidur nya.
"hari ini Morgan boleh sekolah? "
tanya Morg dengan wajah polosnya.
Jordan terdiam sebentar, ia mengingat ada Sarah disini dan jika Morgan tidak sekolah pasti Sarah akan bertanya-tanya. tapi disisi lain Jordan juga khawatir apakah Morgan sudah siap.
"Morgan gak papa Papi, Morgan udah bisa kok"
ucap nya dengan sungguh-sungguh.
Jordan menatap anaknya dengan sedu, Jordan bangga dengan anaknya sungguh beruntung nya Jordan bisa memiliki anak yang hebat ini.
"yaudah, Morgan siap-siap gih. nanti Papi yang antar ke sekolah"
"okey"
"oh iya, Mami mana? "
"lagi mandi "
"Morgan, handuk Mami! "
teriakan itu membuat Jordan dan Morgan menoleh kearah pintu kamar mandi secara bersama.
"Morgan ambilin handuk Mami dulu ya, sekalian Morgan mau mandi sama Mami"
Morgan segera mengambil handuk baru untuk Sarah di kamar ganti lalu membawanya ke kamar mandi.
"sayang, aku juga mau ikut mandi bersama"
Jordan mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi
"tidak boleh! "
balas Sarah dari dalam.
"kan aku juga mau seperti Morgan"
ucapnya lagi.
"gantian Papi, sekarang giliran Morgan! "
kali ini Morgan yang berbicara di dalam, kemudian Jordan mendengar suara Morgan dan Sarah yang tertawa di dalam kamar mandi sana. ya mereka menertawakan Jordan.
__________________
"Tuan, Nyonya besar sedang di perjalanan menuju kemari" lapor Glen
Jordan menghela nafas panjang, setelah mengantarkan Morgan dan Sarah seharusnya kini Jordan bisa fokus untuk pekerjaannya. namun status nya membuat dirinya menjadi sibuk di setiap saat, laporan menumpuk dan banyak tumpukan dokumen yang belum ia periksa dan tanda-tangani.
"hm, kau boleh keluar"
"baik Tuan"
beberapa menit kemudian, Jia muncul dari balik pintu ruangan Jordan tanpa mengetuk terlebih dahulu. dengan santai Jia duduk berhadapan di meja kerja Jordan.
Jia memberikan dokumen yang ia bawa, Jordan mengambilnya lalu membacanya.
__ADS_1
dokumen itu berisi sebuah kertas hasil DNA yang menyatakan hubungan ayah dan seorang anak, dan ada beberapa lembar lagi yang berisi tentang riwayat rumah sakit di eropa yang berisi tentang perawatan persalinan di eropa lalu kwintansi nya di bereskan atas nama Jordan. Jordan membaca setiap lembar surat itu dengan raut wajah yang sulit di artikan.
"6 tahun yang lalu, sebelum ayahmu sakit. kau ada dimana? "
tanya Jia menginterogasi
Jordan terdiam sebentar, ia bingung harus mengatakan apa dan menceritakan nya dari mana.
"di eropa, aku melakukan perjalanan bisnis kesana"
"apa dari awal kau sudah tahu mantan istrimu tinggal di sana?"
"ah maaf, maksud ibu istrimu! kau memang tak pernah bercerai dengannya kan? perceraikan kalian tak pernah di ajukan di pengadilan"
lanjut Jia
"Tungguh!.... Hosh...Hosh..."
seorang pria paruh baya datang dengan nafas yang tak teratur, pria itu seperti habis berlari dari jarak yang jauh. pria itu adalah Johan, ayahnya Jordan.
"Jordah... ayah tak bisa menghentikan ibumu"
ucap Johan.
Jordan segera berdiri dan memapah ayahnya untuk masuk dan mendudukan nya di sofa, tak lupa Jordan memberikan segelas air kepada ayahnya.
"ayah sudah baikan? "
Johan menganguk.
"ibu butuh penjelasan! "
tajam Jia yang masih setia dengan duduknya.
"ibu tahu kalian semua bersekongkol! kalian merahasiakannya dariku! apa aku ini bukan ibumu? "
Suara Jia mulai serak, sepertinya ia akan menangis.
Jordan berjalan mendekati ibunya lalu berjongkok di hadapan sang ibu. Jordan menggenggam tangan ibunya lalu mengusapnya.
"ibuku hanya satu, yaitu ibu yang ada di depanku ini, ibu yang sedang aku genggam tanganya."
butiran bening lolos begitu saja dari mata Jia, ucapan Jordan membuatnya ingin memeluk putranya ini. siapa yang mengajarkannya menggunakan kata-kata seperti itu?
jelas Jordan.
"ibu benar, aku tidak pernah bercerai dengan menantu ibu... "
"dia bukan menantuku! "
"... tak pernah sekalipun ibu, aku mencintainya seperti ayah mencintai ibu. aku menyayanginya seperti ibu menyayangi ayah, dia istriku, dia cintaku, dan ibu adalah duniaku. bagaimana aku harus memilih? di sisi lain ada orang-orang yang ingin keluarga ini hancur, cukup keluarga Andreas saja yang hancur Bu. jangan sampai kejadian itu terulang lagi di keluarga kita, bukankah kita ingin membangun martabat untuk Andreas lagi? "
"T-tolong... jangan menyebut n-nama itu lagi"
Suara Jia gemetar.
"bukankah ibu sudah tahu semuanya? ya ibu, semua informasi yang ibu dapat memanglah kebenarannya. saat itu istriku memang hamil dan anak yang ada di kandunganya adalah anakku, aku baru mengetahuinya saat ia melahirkan. aku memang pergi ke eropa untuk melihatnya dan memastikan anaknya lahir dengan selamat, pergi kesana dan meninggalkan dunia ku disini yang hampir saja hancur. maaf ibu, maaf karna aku baru mengatakannya sekarang. ibu sudah terpengaruh dengan perlakuan dan kata-kata wanita itu, tidak kah ibu sadar ada yang aneh dengan wanita itu? dia bukan wanita yang baik Bu. "
"jadi maksudmu Hana itu jahat? "
Jordan mengangguk.
"dia mencintaiku, namun tidak dengan keluargaku. Dia hanya menginginkan ku, hanya aku" jelas Jordan dengan manatap manik mata ibunya.
"ibu tak percaya "
"baiklah, jika ibu tak percaya akan aku buktikan. tapi ibu harus ikut dalam rencanaku untuk membuka kedok aslinya"
Jia tampak sedang memikirkan ucapan Jordan hingga akhirnya Jia mengangguk. Jia ingin ingin tahu apakah Hana adalah gadis yang benar-benar baik atau tidak.
"tapi dengan satu syarat"
ucap Jia
"apa? "
"jika Hana terbukti sebagai wanita yang baik-baik, kau harus menikahinya di saat itu juga! "
"aku terima "
"Jordan! "
pekik Johan yang sendari tadi diam.
__ADS_1
"tak apa ayah, akan aku buktikan kebenarannya"
ucap Jordan bersungguh-sungguh.
"satu hal lagi, mengenai anak mu... "
"ibu tak perlu khawatir, anakku baik-baik aja. ibu boleh menemuinya tapi ibu tidak bisa mengambilnya"
"kenapa? "
kesal Jia.
"anak itu adalah hak Sarah, dia adalah ibunya, dia yang melahirkannya dan membesarkannya sendiri"
"tapi kau punya hak atas anak itu! "
"iya ibu benar, aku punya hak atas anak itu tapi anak itu juga punya hak untuk memilih"
jelas Jordan lagi.
"Mata ibu sembab, ibu istirahat saja, ibu pasti lelah" Jordan mengusap bagian bawah mata Jia yang menghitam dengan ibu jarinya
"ibu mu ini sudah tua, Jordan. ibu hanya ingin melihat mu bahagia" Jia menjauhkan tangan Jordan dari nya.
"aku akan bahagia ibu"
Jordan memeluk ibunya dengan erat, Jordan memeluk ibu perinya yang sangat polos dan keras kepala dan Jordan menyayanginya. mau seperti apa ibunya, Jordan akan tetap menyayangi ibunya.
"kenapa aku seperti orang asing disini? "
Suara berat itu membuat Jordan dan ibunya tertawa kecil lalu melepas pelukan mereka, Jordan mendekati ayahnya lalu menarik ayahnya untuk ikut berpelukan bersama.
"ayah dan ibu adalah duniaku, kebahagiaan kalian juga kebahagiaanku"
"aku juga mau ikutt! "
seorang wanita muda tiba-tiba datang dan menyambar mereka bertiga, wanita muda itu juga ikut memeluk mereka dengan senang.
"ada apa ini? seperti nya ada sesuatu yang spesial? " tanya Wanita muda itu saat melepas pelukannya.
"tidak ada apa-apa sayang"
Jia mengusap rambut wanita muda itu, yang tak lain adalah putri bongsu nya.
"kau masih kecil, tak perlu mengetahui masalah orang dewasa " ucap Jordan
"ayah! lihat kakak, aku kan sudah besar. aku bukan lagi Jingga si bocah ingusan! "
kesal Jingga.
"iya-iya, putri ayah memang sudah besar kok" Johan memeluk putrinya dengan senang.
mereka tertawa bersama, dan Jingga mulai berceloteh dan mengeluh kembali tentang hari-harinya. ya itu sudah biasa dilakukan Jingga, selain bekerja anak itu juga suka mengeluh tapi tetap optimis. yah cukup aneh si tapi tidak bagi seorang Jingga.
----------
Andreas, kalian ingin tahu tentang itu?
baiklah, Andreas adalah sebuah nama kelurga kolongmerat yang dulunya disegani oleh semua orang. saat Jhony Andreas menjadi kepala keluarganya, mereka hidup dengan bahagia layaknya orang kaya lainnya. Jhony Andreas sebenarnya adalah ayah kandung dari Jia Andreas, mereka semua ber-empat saudara dan Jia adalah Satu-satu nya anak perempuan nya. di saat itu, Jia menikah dengan Johan yang merupakan anak dari pemimpin Mafia di negaranya kemudian mereka melahirkan seorang putra yang tak lain adalah Jordan. bisa di bilang Jhony Andreas adalah kakeknya Jordan.
awalnya semua nya berjalan dengan Baik-baik saja. namun suatu insiden terjadi, dimana saat itu adalah hari kehancuran keluarga Andreas. dan saat itu pula Jordan berusia 6 tahun. di kediaman keluarga Andreas terjadi perampokan saat tengah malam, perampokan itu bukanlah perampokan yang biasa. orang-orang menyerang keluarga Andreas dengan memgepung mereka di seluruh penjuru rumah, saat itu keluarga Andreas belum punya persiapan apapun karna waktu yang tidak tepat. hingga pertarungan hebat terjadi di rumah itu. Andreas menyuruh Johan untuk membawa Jia dan Jordan pergi dari rumah untuk menyelamatkan diri, namun tak semudah itu Mereka bertiga bisa keluar.
Johan menghajar satu-persatu orang yang mengahalanginya, namun Johan hanya sendiri dan tak bisa menghabisi orang-orang itu. keluarganya juga sibuk memngabisi orang-orang itu di ruang tamu.
"ayah! Akan Jordan tolong! "
dan di saat itulah Jordan mulai belajar menggunakan pistol, Jordan mengambil pistol dari orang-orang itu lalu menembaknya
Jia yang saat itu ketakutan setengah mati hanya bisa duduk dan berlindung dibalik Jordan saat itu.
disaat mereka bertiga keluar, tiba-tiba rumah itu meledak begitu saja. bagaikan petasan yang di arahkan kelangit,, Rumah itu meledak dan menyipratkan hamburan api ke jalanan.
si saat yang bersamaan, seorang wanita menangis terduduk melihat rumahnya yang terbakar. tidak, bukan rumahnya tapi orang-orang di dalam nya. Ayah...! batin Jia.
dalam sekejap mata mereka kehilangan semunya, namun masih ada kuarga kecil yang masih tersisa. ya, tentu saja mereka sendiri. sehari setelah kejadian yang mengerikan itu, Media mulai mengkorek hal tersebut, mereka mengatakan jika keluarga Andreas hangus terbakar beseta properti, harta, dan orang-orang didalam nya. bahkan ada sebagian media yang bilang bahwa kejadian iti adalah Karma untuk kelurga Andreas.
karna itu, Johan, Jia, dan Jordan mencoba untuk memulai hidup yang baru. walau sangat sulit, mereka tidak pernah menyerah hingga sampai di titik ini. jatuh bangun sudah dilewati oleh mereka bersama dengan kelahiran seorang putri yang menambah keberuntungan bagi mereka.
Namun sayang, Jia tak mau memakai Nama Andreas lagi di belakang namanya. Jia takut jika memakai nama Andreas akan membuat keluarga yang sekarang mengalami hal yang sama seperti yang di masa lalu. karna itulah, saat ini Jordan dan Jingga tak memakai nama belakang itu.
(cerita dikit tentang masa lalunya Jordan)
_________
__ADS_1
tbc