
pagi hari telah datang, setelah matahari benar-benar bersinar seorang wanita bangun dari tidurnya. Wanita itu mengusap matanya lalu melihat jam yang ada di atas nakas.
"ya ampun, aku terlambat"
Sarah segera berjalan ke kamar mandi, membersihkan diri lalu memakai pakaian kantor yang sudah ia siapkan tadi malam.
"oh iya, aku harus segera menyiapkan sarapan. sebentar lagi Morgan.... " ucapan Sarah terputus saat ia sadar.
"ah iya, aku kan di eropa"
ucap Sarah sembari melihat kamarnya yang dulu ini.
Sarah menggeleng pelan lalu tertawa kecil, setelah itu Sarah segera turun dan pergi ke dapur.
Sarah mendengar seperti ada seseorang yang memasak di dapur.
"Diana? "
ucap Sarah tak percaya, ia melihat Diana yang memasak.
"oh kau sudah bangun? tolong susun piring nya di meja, nanti sarapan nya akan ku bawa"
Sarah terdiam
"apa lagi? ayo cepat sebentar lagi Leon pasti bangun" Diana membawa nasi goreng buatannnya ke atas meja makan.
Sarah mengambil beberapa piring lalu menatanya di atas meja, dengan keaadaan yang linglung Sarah duduk di kursi.
kemudian Leon datang bersma Gerry yang sedang berbincang. melihat itu membuat Diana tersenyum
"wah... sudah akrab ya"
sindir Diana.
Leon dan Gerry hanya tersenyum.
"hei Leon liat tuh kakak mu, sepertinya dia kemasukan " ucap Diana
Leon segera mendekati Sarah.
"kakak kenapa? "
"apa itu tadi bibimu? "
tanya Sarah
"dia kan memang bibiku "
jawab Leom bingung.
"haha, tidak usah hiraukan dia. ayo kita makan"
ucap Diana lalu mengambil sepiring nasi goreng untuk Leon.
"oh ya, pak Bodyguard kau juga harus ikut makan. ayo duduk" ajak Diana.
"namaku Gerry" balas Gerry lalu mengambil duduk di sebelah Leon.
saat Sarah mencoba nasi goreng buatan Diana membuatnya kembali mematung.
"bagaimana? enak kan? "
tanya Diana dengan bangga.
"kau belajar dari mana? "
"bibi ikut kursus"
jawab Leon seadanya.
"ya mau bagaiamana lagi, kau kan sudah pergi jadi aku sendiri harus belajar masak dong untuk Leon dan keluarga ku nanti" ucap Diana, dan tanpa sadar hati seseorang sedikit sedih mendegar ucapan nya.
"pantas saja"
Sarah kembali memakan nasi goreng nya.
"hari ini kau libur? "
tanya Sarah kepada Leon saat sudah Sarapan.
"iya, dan besok kembali bekerja"
jawab Leon.
"hm, kalau begitu aku berangkat duluan ya karna hari ini ada pekerjaan penting dengan Tuan Hend "
"oke hati-hati "
"bibi"
panggil Leon saat Sarah dan Gerry sudah pergi
"ya? "
"apa bibi baik-baik saja? "
tanya Leon dengan raut wajah khawatir
"Leon, bisakah kau menjaga rahasia? "
__ADS_1
ucap Diana mengalihkan pembicaraan
"tolong jangan beritahu Sarah, kau tidak perlu memberi tahunya dia sudah cukup menderita. aku tidak mau menyusahkan nya lagi. cukup kita berdua saja yang tahu, Okey? " ucap Diana lagi.
kemudian Leon mengangguk.
"aku mengerti"
Leon segera memeluk Diana.
_________________
di Indonesia
drt...
drt...
handpone Jordan bergetar di dalam sakunya, Jordan menggoroh saku lalu mengeluarkan handpone nya yang bergetar.
"halo? "
sapa Jordan.
"Halo Tuan, ini saya Paman Han. Tuan Muda pingsan setelah di suntik saat di sekolah dan sekarang saya akan membawa Tuan Muda ke rumah sakit"
"pingsan!? bawa Morgan ke rumah sakit Mega yang ada di jalan***** aku akan menyusul ke sana"
"baik Tuan"
pangiilan itu terputus, kemudian Jordan memanggil Glen untuk mengundur semua rapat nya hari ini.
Jordan segera ke parkiran untuk mengambil Mobil nya, setelah ia melajukan mobil nya Jordan segera menghubungi Gibran.
"ke rumah sakit Mega sekarang! bawa catatan kesehatan Morgan yang pernah di berikan dokter Chu"
ucap Jordan di telfon, setelah itu tanpa menunggu jawaban dari Gibran Jordan langsung mematikannya lalu menaikkan kecepatan pada mobilnya.
dengan kecepatan tinggi Jordan berhasil sampai duluan di rumah sakit, saat sampai Jordan langsung menuju ke meja resepsionis
Jordan menyerahkan sebuah kartu pada penjaga resepsionis itu.
"siapkan ruang VVIP dan tolong panggilkan Dokter Vian segera"
penjaga resepsionis itu melihat kartu dan nama Jordan di kartu yang Jordan berikam tadi. setelah ia membaca nama Jordan dengan cepat ia menghubungi Dokter Vian.
sementara itu Jordan masih mundar-mandir di depan meja, menunggu kedatangan Pamam Han dan Morgan.
setelah beberap detik kemudian, muncullah Paman Han dari pintu masuk yang menggendong Morgan yang sudah tak sadarkan diri. dengan sedikit berlari Jordan mengahampiri Paman Han lalu mengambil Morgan dari gendongan Paman Han.
Jordan melihat Morgan yang sudah pucat dan tubuh nya terasa dingin, dengan keringat dingin yang ada di dahinya membuat Jordan bertambah khawatir.
Jordan segera membawa Morgan keruang yang sudah ia pesan tadi, di ruangan itu sudah ada Dokter Vian yang menunggu.
tanya Dokter Vian.
Jordan melirik Paman Han untuk menjawab.
"7 menit yang lalu Tuan Muda baru saja di beri suntik imunisasi dari sekolahnya "
jawab Pamam Han.
"dia punya kelainan pada pembuluh darahmya, karna itu tidak bisa di suntik sembarangan. maupun itu oleh dokter ataupun bidan meskipun itu suntik imunisasi tetap saja tidak bisa karna cairan suntikan yang masuk ke tubuh nya bukanlah cairan imunisasi bisa saja menjadi sebuah racun untuk tubuh nya. "
jelas Vian sambil memeriksa Morgan.
kemudian pintu ruangan itu terbuka dan muncullah Gibran dengan nafas nya yang ngos-ngosan.
"karna dosis tidak terlalu tinggi jadi tidak akan membahayakan nya, aku sudah memberinya obat untuk mengeluarkan cairan itu. jadi saat bangun segera bawa dia ke kamar mandi untuk memuntahkan nya, mungkin sebentar lagi dia akan bangun"
jelas Vian.
"terima kasih, oh iya ini catatan kesehatan nya Morgan " Jordan memberikan sebuah surat kepada Dokter Vian.
"ah tidak usah, aku sudah punya catatan kesehatan nya" tolak Vian
"dari mana kau mendapatkan nya? "
tanya Jordan
"beberapa minggu yang lalu istrimu sudah datang ke sini, dan melakukan pemeriksaan kepada anaknya"
"baiklah "
setelah itu Vian segera pamit lalu pergi.
Jordan duduk di tepi ranjang Morgan sambil menggenggam tangan anak nya.
"bisa jelaskan kejadian ini? "
tanya Jordan dengan dingin
Paman Han menghirup udara di sekitar nya dengan cukup banyak, dengan mengumpulkan keberanian nya Paman Han mulai menceritakan nya.
"tadi di sekolah nya Morgan ada suntik imunisasi bagi seluruh Anak-anak dan Morgan juga termasuk di antaranya, tapi aneh nya pihak sekolah tidak memberitahukan orang tua dari Anak-anak kalau mereka akan di suntik. saya juga tidak tahu karna saya tidak di ijinkan untuk menjaga Tuan Muda di dalam sekolah, setelah suntik imunisasi itu di laksanakan saat pulang sekolah para orang tua mendengar keluhan anak mereka yang di suntik, alhasil itu membuat para orang tua marah dan mereka langsung demo kepada pihak sekolah. begitu juga dengan saya, saat saya ingin menjemput Morgan saya tidak melihat Morgan yang keluar dari gerbang lalu saya bertanya kepada satpam yang ada di sana. katanya seluruh Anak-anak baru saja selesai di suntik dan para orang tua demo karna pihak sekolah tidak memberitahukan mereka. oh ya ada juga beberapa anak yang pingsan setelah di suntik. setelah mendengar itu Saya segera pergi menuju uks yang ada di sekolahnya Morgan, dan saya melihat Morgan yang sudah terbaring lemah di ranjang uks lalu saya membawa Morgan ke mobil lalu menelfon anda Tuan "
jelas Paman Han.
"dalam kasus ini pihak sekolah lah yang salah dan para orang tua di rugikan, apa perlu kita jerat mereka dengan jalur hukum? "
__ADS_1
ucap Gibran setelah mendengar penjelasan dari Paman Han
"tidak hanya pihak sekolah, tapi seluruh guru dan sekolahan itu pun harus hancur di tanganku" geram Jordan.
"hei sabar dulu, kalau kau hancurkan sekolahnya bagaimana Anak-anak yang lain akan sekolah? jangan mengambil tindakan saat sedang emosi, oke? "
ucap Gibran.
"kalau begitu hubungi Gara, suruh dia menyelidiki kasus ini. jangan lepaskan orang-orang biadab itu"
Engh...
tangan Morgan bergerak, dan kemudian dengan perlahan matanya sedikit terbuka.
"Mami mana? "
tanya Morgan dengan lesu
"sayang, Mami kan lagi ke Eropa nanti pasti Mami pulang. Morgan kan mau tinggal sama Papi, yakan? "
bujuk Jordan dengan lembut.
Morgan mengangguk lemah.
"Sayang, kita ke kamar mandi dulu yuk. Morgan harus... "
"enggak mau"
potong Morgan dengan cepat.
"kenapa? "
"Morgan capek Pi, Morgan mau baring aja"
tolaknya.
"hmm yaudah deh "
setelah beberapa detik kemudian, Morgan merasa perutnya sedang di guncang. ada sesuatu yang naik ke tenggorokan nya hingga seperti tercekik, akhinya Morgan menuntahkan isi perutnya.
Owekk....
Morgan memuntahkan nya saat berbaring di kasur, dengan cepat Jordan memiringkan tubuh Morgan lalu menampung muntah Morgan dengan tangannya.
"berikah tisu! "
pintah Jordan.
dengan cepat Gibran memberikan tisu ke tangan Jordan.
Owekk...
sekali lagi Morgan memuntahkan nya dan tangan Jordan sudah penuh dengan muntahan Morgan.
"apa masih ada yang tersisa? ayo keluarkan semuanya" ucap Jordan, lalu Paman Han segera menggosok-gosok punggung Morgan.
"tidak"
Morgan menggeleng lemah lalu kembali berbaring.
Gibran hanya diam mematung, yang membuatnya seperti itu adalah tangan Jordan. melihat tangan Jordan yang di penuhi muntahan Morgan membuatnya jijik. baunya saja sudah membuat Gibran mual apalagi menyentuh cairan itu.
Jordan dengan cepat berlari ke kamar mandi lalu mencuci tangan nya tanpa sabun, kemudian ia kembali dengan handuk basah di tangan nya. Paman Han segera membuka baju Morgan yang cukup banyak terkena muntahan Morgan tadi, lalu Jordan mengelap tubuh Morgan dengan handuk basah itu.
Kemudian Jordan memberikan sebuah kartu kepada Paman Han.
"tolong belikan satu set pakaian untuk Morgan, di depan rumah sakit ada beberapa toko baju. "
"baik Tuan"
Paman Han segera pergi.
"Papi Morgan mau pulang, Morgan gak mau di sini Morgan mau ketemu Mami" Rengek Morgan.
"Morgan sayang, Mami kan lagi kerja. gimana kalau nanti malam kita video call sama Mami? "
bujuk Jordan.
Morgan mengangguk lemah dan rengek nya mulai reda.
aku belum bisa memberitahu Sarah untuk masalah ini, kalau aku beritahu sekarang pasti Sarah akan khawatir dan langsung terbang ke sini batin Jordan.
setelah beberapa menit Kemudian Morgan terlelap dalam pelukan Jordan, lalu Jordan membaringkan nya lagi ke ranjang setelah itu Pamam Han datang membawa baju yang sudah ia beli.
"pakaikan"
Paman Han segera memakaikan baju itu kepada Morgan dengan perlahan karna Morhan sedang tidur
saat Paman Han sedang memakaikan pakaian Morgan, tiba-tiba handpone nya berbunyi.
Jordan menggoroh saku celananya untuk mengambil handpone.
Jordan tediam kaku saat melihat nama di penelpon di Handpone nya.
"SarahKu"
insting seorang ibu benar-benar kuatya, bagaimana ini?
pikir Jordan.
__ADS_1
_________________
tbc