PERPISAHAN

PERPISAHAN
Andin


__ADS_3

Dengan isakan tertahan Andin meremas ujung bajunya demi menahan segala gejolak yang menghantam jiwanya. Kecewa dan sakit pun dirasa semakin perih dengan kata kata yang diterimanya dari sang suami.


Suami.. kata yang sungguh indah dalam bayangannya dulu. Dalam benak Andin selama ini meyakini, jika nanti dirinya menikah maka akan ada seseorang yang akan menemani, menjaga dan melindunginya dari segala macam bentuk kekejaman hidup yang harus dia lalui. Namun kenyataan adalah kenyataan, tak akan bisa berubah semanis khayalan.


"Tak apa Andin, yang penting kamu sudah menghindari dosa besar menolak suamimu. Apa yang terjadi padamu sudah benar dan sudah seharusnya memang kamu lakukan semenjak dua bulan lalu. Jangan menyesal karena dia adalah suamimu, yang berhak atas diri dan semua yang ada padamu. Tersenyumlah karena semua akan baik baik saja seperti sebelumnya."


Andin menyemangati dirinya sendiri. Gadis itu bangkit menuju kamar mandi. Kembali mencuci mukanya kemudian memoleskan sedikit bedak tipis agar pucat dan sembab diwajahnya sedikit tersamarkan.


"Semua baik baik saja, aku bisa melewatinya."


Ucapnya sebelum melangkahkan kaki keluar dari dalam kamar.


"Ibu maaf, Andin bangun kesiangan".


Bu Salma tersenyum, wanita baya itu melambai ke arah menantunya dan menepuk kursi sebelah tempatnya terduduk saat ini.


"Tak apa nak"


Bu Salma menggenggam jemari Andin.


"Nanti sore, ibu mau berkunjung ke rumah tante Dinda di luar kota. Apa kamu tak apa apa tinggal dirumah sendiri?atau kamu mau ikut ibu saja?".


Andin terdiam, sendiri dirumah akan membuatnya jenuh, namun jika harus ikut mertuanya pergi itu artinya dia akan meninggalkan suaminya sendiri tanpa ada yang mengurus. Meskipun Reza bersikap dingin padanya selama ini, dia tetaplah seorang suami yang harus diperhatikan nya.


Paling tidak Andin masih bisa menyiapkan pakaian dan segala kebutuhan suaminya. walau tak jarang apa yang dilakukannya berujung kesia siaan belaka.


" Em Andin tinggal dirumah saja bu, kasihan mas Reza tidak ada yang menyiapkan segala kebutuhannya jika Andin juga ikut pergi."


Bu Salma tersenyum, dia sungguh bahagia melihat Andin yang tak pernah berubah.


"Semoga Reza segera dibukakan mata hatinya dan bisa melihatmu yang begitu tulus ini nak" Gumam Bu Salma dalam hatinya.


"Apa ibu mau bersiap siap, biar Andin bantu".


" Semua sudah siap, tinggal nunggu Siska menjemput nanti."


"Siska juga ikut pergi bu?"


"Tidak, ibu hanya pergi berdua dengan tante Diana. Siska dan Ricko tetap tinggal, mereka bilang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal"


"Ehm Nak, bagaimana kalau kamu mencari kesibukan. Kerja atau kursus misalnya. Supaya kamu tak bosan berdiam diri dirumah, bukan maksud ibu melarangmu untuk bersantai. Hanya saja ibu tak ingin kamu merasa bosan apalagi kalau dirumah sedang tak ada orang begini".


"Apa mas Reza akan mengijinkan nya bu?".


"Dia tak akan keberatan, nanti ibu bantu bicara padanya ya. Yang terpenting kamu mau apa tidak?".


"Mau bu, saya sudah terbiasa bekerja. Dua bukan ini hanya berdiam membuat tubuh saya tak nyaman bahkan terasa sakit semua".


Bu Salma tersenyum


Diraihnya ponsel yang tadi dia taruh diatas meja. Ditekannya beberapa angka kemudian menempelkan benda pipih itu di telinganya.


Andin beranjak ke dapur membuat teh hangat untuk ibu mertuanya dan jus mangga kesukaannya.

__ADS_1



Diana



"Ya kak, ada apa?".



" Di, coba kamu tanyakan pada Siska atau Ricko. Apa di tempat mereka bekerja ada tempat kosong?."



"Lowongan maksudnya kak? tapi buat siapa?".



" Andin".



"Maksud kakak Andin mau mencari pekerjaan? apa Reza tak akan marah nanti kak?".



"Aku yang akan bicara pada Reza nanti, yang terpenting sekarang carikan pekerjaan yang baik untuk Andin. Agar dia ada kegiatan, kamu tau kan bagaimana Reza memperlakukannya selama ini. Setidaknya dengan bekerja Andin sedikit punya kesibukan." Ucap Bu Salma menyakinkan




"Baiklah kak, aku coba bicara sama Siska dan Ricko." Putusnya kemudian.



"Baiklah, makasih banyak ya Di". Bu Salma mengakhiri telfonnya.



Nyonya Diana kembali menghela nafas.



Bu Salma yang memang merasa kecewa pada sang putra, tentu saja ingin berbuat sesuatu demi mengurangi rasa bersalahnya pada sang menantu.


Dengan sadar dia telah merusak masa depan gadis baik seperti Andin. Harapan nya yang semula demi merubah tabiat buruk sang anak perlahan pupus. Tak ada perubahan apapun diantara anak dan menantunya tersebut.


Reza tetap menjadi Reza yang dingin dan enggan pulang kerumah walau ada seorang istri yang tiap hari menunggunya.


Dipencet nya tombol pesan dalam ponselnya. Bu Salma memutuskan untuk memberitahu niatnya pada sang putra untuk mencarikan pekerjaan bagi Andin.


Bu Salma enggan berdebat lebih lama dengan sang putra. Dia sangat tau jika Reza tak akan pernah peduli dengan apa yang istrinya lakukan. Sebab itulah, Bu Salma lebih memilih menulis pesan pada Reza.

__ADS_1


" Seandainya kau bisa berubah, ibu pasti akan sangat senang nak".


Buliran bening itu luruh dipipi yang sudah mulai terlihat sedikit kerutan.


Sementara itu di dalam kamar Andin sedang berguling kesana kemari ditengah kasurnya. Banyak hal yang berkeliaran dalam benaknya.


Gadis itu mengikhlaskan segala hal yang terjadi padanya, hanya saja dia masih harus kebingungan dalam menentukan jalan kehidupannya nanti.


Setelah mendengar penuturan Reza padanya tadi pagi. Mau tak mau Andin harus kembali memikirkan nasibnya setelah nanti dicerai Reza.


Andin juga memikirkan baik buruknya dia menerima tawaran dari mertuanya. Jika menilik masa depannya, tentu Andin ingin memperjuangkan masa depannya.


Namun sebagai seorang istri, dia juga tidak bisa mengabaikan statusnya sebagai seorang istri. Kebimbangan juga melanda nya jika nanti Reza tak akan memberikan izin untuknya bekerja.


Pikirannya yang terbang tanpa tujuan membuatnya pusing. Bagi Andin yang biasanya tidak memusingkan apa yang akan terjadi dihari esok dan lusa, semuanya sangat gampang dalam pandangannya. Namun sekarang Andin tak lagi bisa bersikap demikian, status yang akan melekat padanya nanti setelah bercerai akan menjadi beban terberat untuknya.


Diluaran sana, walau secuek apapun Andin banyak melihat dan mendengar desas desus omongan orang tentang status yang akan disandangnya nanti.


Ketukan dipintu membuyarkan lamunan nya. Andin beranjak berdiri dan melangkah ke arah pintu.


Wajah Siska yang tersenyum lebar nampak didepan pintu kamarnya ketika pintu itu terbuka lebar.


"Kak, masih siang begini kenapa suka sekali mengurung diri dikamar. Ayo kita keluar!".


Ditariknya lengan Andin pelan.


" Ini mau kemana Sis?".


"Hanya ke taman samping kak, aku membeli rujak buah tadi dijalan. Temani aku makan rujak disana ya kak".


Andin mengangguk, setelah menutup kembali pintu kamarnya mereka melangkah beriringan menuju taman samping.


" Kenapa banyak sekali Sis?".


Terlihat ada tiga buah bungkusan yang sudah tergeletak diatas meja taman.


"Ada rujak buah yang dipotong, ada rujak serut ada juga rujak sayur kak. Ayo cicipi semuanya".


" Emang habis?"


"Habis lah, kan enak kak ahahah".


Siska membuka bungkusan berisi rujak sayur, bau segar menyeruak dalam hidung Andin. Irisan mentimun, tahu tempe serta irisan lontong bercampur sayuran tampak sangat menggugah seleranya.


Siska yang sudah terlebih dahulu menyendok makanan khas Jawa Timur itu menikmati suapannya.


" Enak kak, cobain deh!. Tenang saja ini tidak pedas sama sekali".


Suapan ke dua masuk ke dalam mulutnya.


Andin yang masih terbengong akhirnya mengikuti jejak Siska menikmati rujak sayur tersebut.


Diselingi obrolan ringan mereka menghabiskan bungkusan berbagai rujak tersebut. Gelak tawa mereka berdua terdengar setelah saling meledek mereka lakukan

__ADS_1


__ADS_2