
Bulan ke 8.
"Andin, temenin aku yuk?" Ajeng bergelanyut manja di lengan Andin. Baru saja wanita antik itu melangkahkan kakinya menampakkan diri di kantornya.
"Anterin? kemana?" Andin bertanya namun tak menghentikan jalan mereka.
"Makan pecel pincuk di warung sederhana yang ada digang 11 itu." Ajeng menjawab sambil terus mengekor pada Andin hingga wanita itu sampai ke ruang kerjanya.
"Kenapa harus yang digang 11? didepan kantor kan juga ada Jeng?"
Andin yang sudah meletakkan tasnya menoleh kearah sahabatnya itu.
Deretan gigi putih nampak berjejer rapih ketika Ajeng hanya nyengir menjawab pertanyaan Andin. Kalau sudah begitu, pasti Andin tak akan tega menolak ajakannya.
"Huu..,kapan? tidak mungkin sekarang kan ya?" Andin menarik kursi kebesarannya. Kursi nyaman yang telah didudukinya selama setengah tahun ini.
"Nanti, pas makan siang ya." Ajeng menjawab antusias. Gadis itu bahkan telah duduk di kursi depan meja Andin.
"Ya, baiklah. Nanti kita kesana." Andin merapikan meja kerjanya.
Dengan cekatan dia menyiapkan apa yang harus dikerjakan dari pagi hingga nanti jam pulang kantor pada hari ini. Tak lupa, diperiksa nya jadwal kerja Ricko.
Tak banyak kegiatan hari ini, membuat senyum Andin mengembang.
Andin beralih pada sahabatnya yang masih setia duduk manis ditempatnya. Wanita itu mengernyit bingung.
"Ada apa lagi sih?" Tanyanya ketika melihat Ajeng yang tersenyum ke arahnya.
"Kalau si boss diajak kira kira bakal mau kagak ya Ndin?" Ucapnya malu malu
"Lah mana aku tau, coba saja kamu ajak. Siapa tau kalau kamu yang mengajaknya langsung dia tidak akan menolak."
"Bagaimana kalau dia menolak?"
"Kalau kamu tidak mencobanya bagaimana bisa tau, sudah sana kembali keruangan kamu. Sebentar lagi jam kantor sudah mulai."
"Baiklah, nanti aku akan mencobanya. Doakan aku ya Ndin."
__ADS_1
Ajeng tersenyum lebar, kemudian melangkah keluar ruangan Andin masih dengan senyum yang mengembang. Andin menggeleng kan kepalanya. Sejak menginjakkan kakinya dikantor milik keponakan iparnya, dirinya selalu disuguhi dengan pemandangan para karyawan wanita yang berebut mencari perhatian dari sang pemilik perusahaan,Ricko.
Ditatap nya ponsel diatas meja kerjanya, ******* pelan keluar dari bibirnya.
"Ada apa?"
Adit yang baru saja melangkah masuk ke dalam ruangan mereka berdua menatap ke arah Andin. Sementara yang ditatap hanya tersenyum canggung.
"Tak apa, baru datang? tumben agak siang."
Ucap Andin demi mengurangi kecanggungan nya.
"Bagun ku kesiangan. Semalam benar benar tidak bisa tidur, hingga hampir subuh barulah rasa kantuk datang menyapa."
Gerutu Adit sambil mendudukkan dirinya dikursi dibalik meja kerjanya.
Andin menggeleng, mengulum senyum. Di liriknya kembali ponselnya, sudah terhitung tiga minggu suaminya Reza pergi keluar kota. Namun seminggu terakhir, Reza jarang sekali memberi kabar walau hanya sebuah pesan.
Apa ini adalah kemungkinan yang pernah suaminya itu katakan? mengingat itu sungguh membuat Andin kembali gelisah.
"Sayang, jika nanti aku pergi dan tak kembali dalam waktu yang lama. Kamu harus berjanji untuk menjaga dirimu dengan baik." Reza mendekap erat tubuh yang masih berada di pelukannya.
"Mas mau kemana? mas mau ninggalin aku?"
"Mas kan bilang jika sayang."
Andin mengerutkan keningnya. Ucapan ambigu yang keluar dari mulut suaminya membuat otaknya berpikir keras.
Haruskah dia kembali kehilangan kebahagiaannya?. Rasanya baru sebentar dirinya merasakan dicintai oleh orang lain selain nenek dan tentu saja ibu mertuanya. Bu Salma tak pernah sedikitpun marah padanya.
Reza menarik nafas dalam. Dan itu dapat Andin rasakan. Namun dia masih tetap terdiam, hanya pikirannya saja yang terus berkelana.
Apa mas Reza memikirkan kekasihnya itu?. Hanya dengan memikirkan hal itu membuat hatinya sakit. Namun Andin masih menyimpan rasa sakitnya. Dia tau, kehadirannya yang tiba tiba dalam hubungan sang suami dan kekasihnya membuat nya sadar diri akan posisinya. Jika boleh Andin ingin egois, dia menginginkan lelaki yang sedang mendekapnya kini menjadi miliknya seutuhnya.
Flasback off.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
Di sebuah apartemen di pinggiran kota. Seorang lelaki dengan lekat menatap ponselnya. Sesekali lelaki tersebut tersenyum menatap layar benda pipi tersebut.
Tepukan pelan di bahunya membuat lelaki tersebut menoleh sesaat. Hanya sesaat, karena setelahnya pandangannya kembali tertuju pada layar ponselnya.
"Apa yang akan kau lakukan dalam waktu dekat ini. Semua harus cepat kau hentikan, jika tidak maka apa yang ayahmu perjuangkan dan jaga sejak lama akan hancur ditanganmu."
Lelaki itu tak menoleh. Namun tarikan pelan nafasnya terdengar begitu jelas.
"Aku tau, hanya saja aku harus mengumpulkan segenap rasa ego ku untuk menyiapkan mental ini. Kau tau, aku sudah jatuh cinta pada istriku. Namun sayang kedatangannya diwaktu yang tidak tepat."
Helaan itu semakin nyata. Rasa sakit dan keputus asaan terselip didalamnya.
"Aku harap kau bisa melewati ini dan kalian bisa berbahagia nanti."
"Thanks Tam, kau sudah banyak membantuku. Kau bahkan bersedia terlibat dalam masalah ku." Tama hanya tersenyum tipis, ditepuk nya pundak sahabatnya sebelum berlalu pergi meninggalkan Reza yang masih setia berada ditempatnya sambil terus menatap layar benda pipih nya.
Ya, lelaki itu adalah Reza. Kepergiannya kali ini demi menyiapkan segala sesuatunya untuk bisa keluar dari segala masalah yang selama ini menimpahnya.
"Maafkan aku, hanya dengan cara ini aku bisa keluar dari segala masalah yang terjadi dalam keluargaku. Aku tau, aku terlalu egois dan mengorbankan perasaanmu. Tapi aku harap kamu bisa bertahan."
Reza mengusap lembut foto Andin yang berada di ponselnya. Tak pernah terbayang dalam benaknya akan jatuh cinta pada wanita yang dinikahinya atas paksaan sang mama. Wanita yang dia paksa untuk menandatangani surat perjanjian pernikahan. Perjanjian yang hanya berlaku dalam waktu satu tahun pernikahan.
Reza mengepalkan kedua tangannya. Rasa sesak dalam jiwanya kembali terasa. Entah cara yang ditempuhnya kini benar atau salah. Reza hanya berani bertaruh tanpa mampu berharap.
Pertaruhan yang membuatnya berdiri di dua pilihan sulit.
🌸🌸🌸🌸🌸
Tersenyum adalah cara termuda untuk menyembunyikan luka. Tersenyum pulalah yang akan membuat kita terlihat kuat didepan orang lain.
Hati yang terluka masih bisa menerima maaf. Namun rasa kecewa yang tertoreh didalamnya lah yang tak akan mampu terhapuskan oleh sebuah pelukan dan ribuan kata maaf.
Disaat dirimu bersedih. Janganlah sekali kali melukai hatimu sendiri. Dia akan bertambah rapuh dengan rasa ketidak berdayaan mu sendiri. Tak akan ada yang mampu menguatkan dirimu selain dengan usaha mu sendiri.
Kau tau. Hati adalah bagian yang paling rapuh dalam diri manusia. Hati akan merekam rasa sakit dan kecewa dalam satu waktu yang sama.
Berdiri tegak menyongsong waktu. Kuatlah dengan segala coba. Luka itu akan sembuh dengan bergulirnya waktu.
__ADS_1