
Seorang wanita keluar dari pusat perbelanjaan ternama. Ditangannya nampak menenteng paper bag. Senyum terukir diwajah cantiknya, ketika bisa mendapatkan benda yang sudah beberapa waktu lalu diburunya.
Jihan yang berjalan sendiri melenggang keluar pelataran toko dengan mengedarkan pandangan. Beberapa menit yang lalu dirinya menerima telfon dari Tama. Lelaki tampan yang dua hari lalu ditemuinya di mall.
Dengan langkah anggun nan pasti. Jihan melangkah ke arah sebuah mobil mewah yang tadi dikatakan Tama. Kaca mobil terbuka ketika wanita cantik tersebut sudah mulai mendekat.
Wajah tampan itu tersenyum dan membuka pintu mobil. Mempersilahkan Jihan untuk masuk.
Mobil melaju perlahan meninggalkan parkiran toko. Tak ada pembicaraan yang terjadi diantara mereka, hanya ada deru suara mobil yang membelah jalan.
"Makan siang dulu atau langsung ke sana?" Tama berbicara dengan menolehkan wajahnya sebentar, sebelum kembali fokus pada jalanan yang sedikit padat.
"Emm, kamu sudah makan?"
Bukannya menjawab, Jihan malah balik mengajukan pertanyaan.
"Belum sih, tapi tadi sempat sarapan sandwich"
Jawab Tama sambil tetap fokus ke stir mobil yang diputarnya secara perlahan.
"Kalau kita makan dulu gimana?"
Tama hanya mengangguk dengan usulan Jihan. Jihan yang menangkap perubahan sikap Tama hari ini tidak ambil pusing. Baginya yang penting Tama sudah ada dalam genggamannya semua akan aman aman saja.
Sementara itu dikantor Andin.
Gadis manis yang sering terlibat dalam beberapa kali pertemuan dengan beberapa pemegang saham mendampingi Ricko. Adit yang masih belum kembali dari tugasnya diluar kota, membuatnya semakin sibuk.
Siska juga terkadang ikut membantu pekerjaannya. Seperti hari ini, Siska datang dengan menenteng paper bag dengan tulisan sebuah nama resto. Gadis berparas ayu dan selalu menebar senyum itu berjalan menuju ruangan sang kakak. Sambil sesekali melempar sapaan dari orang orang yang melintas.
Cek lek
Siska melongok kan kepalanya ke dalam ruangan. Senyumnya terbit melihat sang kakak sedang serius dengan berkas berkas diatas mejanya. Begitu pula dengan Andin yang duduk didepan sang kakak, dengan jemari yang bergerak lincah diatas keyboard.
"Hemm."
Sontak baik Andin dan Ricko menoleh ke arah suara.
"Dek!"
"Serius sekali. Sampai sampai kalian tidak menyadari keberadaanku" Siska memanyunkan bibirnya.
"Jangan manyun begitu! jeleknya kagak ketulungan lo." Bukannya merayu, Ricko malah sengaja meledek sang adik.
"Abang!!"
"Apa sih?, berisik tau tidak. Mending sini bantuin kami ngerjain ini kek biar cepat kelar. Dari pada berdiri manyun disana kayak bebek."
Ricko berujar tanpa senyum kepada sang adik. Lelaki itu hanya menatap datar ke arah adiknya yang berdiri sambil menghentakkan kakinya.
"Astaga, punya kakak kok kebangetan banget. Masa aku yang cantik begini disamain kayak bebek sih."
"Terus, kalau bukan bebek apaan? bibir dah maju begitu. Sepertinya bisa deh dikuncir atau dijepit. Sini ku bantu jepit dengan penjepit kertas nih."
"Abang!!. Kak Andin, kok betah sih berlama lama dengan beruang kutub seperti dia." Sungut nya.
__ADS_1
Andin hanya bisa menggeleng melihat kelakuan kedua sepupu suaminya tersebut. Sebuah kehangatan yang selama ini tak pernah dia rasakan.
"Sini, biar ku bantu menyiapkan nya. Kebetulan sudah lapar ini perut, sudah demo minta diisi." Andin merangkul Siska, kedua wanita itu menyiapkan makan siang yang dibawa Siska ke atas meja.
"Banyak banget dek?"
"Cukup untuk kita berempat kak" Ucap Siska tanpa beban.
Andin mengerutkan keningnya. Mereka hanya bertiga karena Adit belumlah kembali.
"Berempat? Adit kan belum kembali dari tugas luar kotanya dek?" Andin kembali menggelengkan kepalanya, gadis manis tersebut mengira Siska melupakan hal tersebut.
Siska hanya tersenyum lebar, memperlihatkan gigi putihnya yang tertata rapi. Membuat Andin menggelengkan kepalanya.
"Kak, maaf. Tadi Siska lupa menyuruh OB untuk membawakan minum untuk kita."
"Biar aku saja yang ambil ya."
"Makasih bayak kak, maaf merepotkan."
"Tak masalah, sebentar ya." Andin lagi lagi tersenyum sebelum melangkahkan kakinya keluar ruangan Ricko.
Langkah kakinya terhenti diruangan pantri. Dengan sigap para OB yang melihat kedatangan Andin berdiri.
"Tidak usah mbak, cuma ambil air minum saja kok. Kalian terusin saja makannya, biar saya ambil sendiri saja."
"Baik bu."
OB yang berjumlah empat orang itupun kembali duduk dan menikmati makan siang mereka. Andin yang dikenal ramah sangat populer dikalangan pekerja. Wanita itu tak segan membantu jika mereka sedang sibuk.
Andin yang tidak pernah membedakan pekerjaan apapun menjadikan dirinya banyak disukai para pekerja lain. Sifatnya yang murah senyum dan ramah itu membuatnya terkenal.
Dengan nampan ditangan yang berisi 3 buah gelas air itupun, Andin kembali melangkahkan kaki menuju ruangan Ricko, sepupu sekaligus bos nya.
Cek lek
"Sini kak. Ayo kita mulai makan, aku sudah sangat lapar sekali." Siska berseru sambil mendudukkan diri diatas sofa.
Ricko berdiri dari meja kerjanya. Pemuda itu melangkah menuju sofa dimana sang adik dan Andin sudah menunggunya dengan berbagai makanan yang terhidang diatas meja.
"Silakan, kita mulai makan kak." Ucapnya.
Ditengah tengah keasyikan mereka menikmati makan siang, pintu kembali terbuka.
"Maaf saya terlambat ya." Sosok tampan berjalan memasuki ruangan.
__ADS_1
Senyum yang terbit dibibirnya membuat Andin beberapa kali mengernyapkan matanya tak percaya.
"Hemm." Sebuah deheman membawanya kembali ke alam sadar.
"Lo mas, kok ada disini? bukannya bilang ada pekerjaan diluar kota ya?" Andin berdiri bingung. Dipandangi nya Reza yang masih berdiri itu.
"Ada perubahan jadwal, apa aku mengganggu makan siang kalian?"
Ucapnya tanpa mengalihkan pandangan pada sang istri yang terlihat cantik hari ini.
"Silakan duduk kak, kita makan siang bersama. Kebetulan kami juga baru mulai." Ricko menimpali.
Reza melangkah dan mendudukkan diri disofa bersebelahan degan Andin. Siska yang sibuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya hanya tersenyum tanpa menghentikan kunyahan nya tersebut.
"Kebetulan aku juga belum makan siang." Reza melepas jas nya dan menggulung lengan sampai sebatas siku.
"Ak.. aku ambilkan piring dulu ya mas." Andin berdiri, namun gerakannya terhenti dengan cekalan di lengannya oleh sang suami.
"Tidak usah, duduklah."
"Tapi mas kan belum makan siang?"
Ricko dan Siska hanya saling pandang sambil mengulum senyum. Mereka berdua kembali menikmati makannya. Seolah tidak terganggu dengan keberadaan suami istri dihadapan mereka.
"Ini saja, kita makan berdua ya."
Reza mengambil sendok dan menyendokkannya ke piring Andin yang baru beberapa suap dinikmati itu.
Andin kembali tercengang, diperhatikan nya sendok yang berada didepan bibirnya. Bergantian dia menoleh ke arah sang suami yang tersenyum dengan isyarat mata menyuruhnya memakan makanan yang dia pegang.
"Makanlah sayang, kenapa bengong begitu sih. Hemm?"
"Ah, i.. iya mas." Andin pun menerima suapan Reza.
Senyum mengembang dibibir Lelaki itu. Di sendok kan lagi makanan yang kemudian dia makan sendiri. Sampai makanan tandas tak tersisa Reza menyuapi Andin bergantian dengan dirinya.
Walau canggung, Andin merasa sangat bahagia. Berbeda dengan Ricko dan Siska yang hanya bisa mengulum senyum.
°
°
°
Cinta itu tidak selamanya harus diungkapkan dengan kata kata. Dengan sedikit perhatian dan perbuatan sudah cukup memberikan makna tentang cinta.
Bohong jika aku tak merindukanmu, bohong juga jika aku tak peduli.. tapi...
Ah sudahlah..
__ADS_1