Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
berkunjung kerumah ayah


__ADS_3

Part10


Pemandangan yang asri udara yang sejuk membuat Raka dan Rania melihat pemandangan yang begitu indah, di balik kaca mobil terlihat senyum merekah dari kedua anaknya Mitha, mereka tak sabar berjumpa dengan sang kakek yang telah lama tak mereka jumpai.


Mobil terparkir dialamat yang Anisa pegang, tiga bulan lalu saat terakhir kali bertemu sang Ayah pindah ke kota nganjuk, rasa bahagia ketika alamat sang Ayah sudah ia ketemukan.


Halaman yang luas penuh bunga-bunga jarak antara rumah penduduk masih beberapa meter, 200 meter dari rumah sang ayah terlihat akses jalan Rel kereta api.


Rumah yang nyaman dan indah dengan perabot bercorak kayu membuat mata tak bosan memandang.


Assalamu'alaekum


Waalaekum'salam


"Ayah...," dengan takzim Mitha mencium punggung sang ayah dan memeluknya,


Raka dan Rania menghampiri sang kakek lau memeluknya, suasana haru pertemuan antara kakek dan sang cucu, juga sang anak.


Pak Ferdi mempersilahkan masuk semua yang datang. Sementara Mang kardi dan Mbok Darmi istirahat dikamar yang telah disediakan.


"Ayah gimana kabarnya sehat?" Tanya Mitha pada sang ayah.


"Alhamdulillah ayah sehat nduk," jawab sang ayah pada putrinya.


"Ayah gimana critanya tiga bulan yang lalu ayah pindah kesini?" tanya Mitha Mitha curiga ini ada campur tangan dan kaitannya dengan Siska.


"Ndak papa nduk, Ayah memang pengen cari suasana baru," jawab sang ayah ragu.


"Ayah tolong jujur sama Mitha? Jangan ada rahasia Mitha sudah tau semuannya dari si mbok.


"Ayah diancam kalau resto ndak diberikan pada Siska, Ayah mau dihabisi sama Jarwo.


Untung yang mengurus rumah juga resto ayah sekarang istrinya pamanmu seorang Aparat kepolisian coba kalau tidak ayah ndak tau nduk." ucap ayah pada mitha.


"Jadi alasan pindah ayah juga karena ini, maafin Mitha ayah, Mitha ndak ada saat-saat sulit ayah.


"Ndak papa Mitha, kan ada masmu Pram yang jagain ayah,"


Ternyata ayah pun diancam sama Siska, dasar wanita itu hatinya menjadi rakus akan kekuasaan dunia, bahkan dia tega menyakiti hati seorang ayah yang telah merawatnya dari kecil hingga ia tumbuh jadi sebesar itu, menyekolahkanya, menyayanginya sama sepertiku, Terbuat dari apa hatinya hingga begitu tega berbuat sekeji itu.


Ponsel Mitha bergetar


[Sudah sampai sayang dirumah ayah?]


[Alhamdulillah sudah mama.]


[Syukurlah, kalau tiba disana dengan selamat.]


[Jangan kaget ya? Mobil kamu diikuti oleh dua pria bermotor, Mang Usep menabrak trotoar setelah tau yang didalam bukan kamu mereka pergi lagi kata mbok sari,]


[Ya Allah Ma, bagaimana keadaan mang Usep?]


[Mang Usep ndak papa Tha, hanya mobilnya yang lecet.]

__ADS_1


[Syukurlah ma kalau gitu,]


[Inget pesen mama jangan keluar sendirian]


[Baik Ma]


Shelomitha tidak ingin merahasiakan hubunganya yang diambang kehancuran, ia lalu menceritakan pada sang ayah semua yang dialami Mitha, sang ayah mendengarkan cerita dari sang anak, beliau menghela nafas panjang dan itu sudah diduganya, karena waktu itu Siska mengancam akan merebut menantunya.


"Ayah kenapa tidak memberi tau Mitha dari dulu, kalau ayah bilang setidaknya mitha akan berhati-hati." mitha bertanya pada sang ayah.


"Ayah takut kalau kamu terbebani, ayah juga menyesal sudah merahasiakannya dari kamu." jawab ayah pada Mitha.


"Sudahlah ayah nasi sudah menjadi bubur, yang penting kita sekarang masih dilindungi oleh Allah."


Hari berganti malam, hanya terdengar hembusan angin dan dingin yang masuk kedalam tubuh melalui pori-pori, Mitha berada diluar rumah bersama si mbok, medeka menikmati pemandangan yang hijau dadi sorot sinar lampu dalam kegelapan malam.


Pagi hari tiba mereka berencana untuk pergi ke perkebunan milik sang ayah, mereka berjalan kaki menelusuri jalan pinggir kereta api, embun pagi masih terlihat jelas di sepanjang jalan Rel, menuju persawahan petani bawang merah, Area sawah yang terbentang luas, pemandangan yang ndak pernah dilihat anak-anak selama ini.


"Kakek bawang merahnya sudah mulai panen belum kek?" tanya Raka pada sang kakek.


"Belum Raka mungkin masih sekitar dua minggu lagi," jawab sang kakek.


"Memang masa panennya berapa hari Yah?" tanya Mitha


"Kalau musim kemarau bisa sampai 60 hari ada yang 62 hari tergantung lihat kondisi bawangnya, kalau musum hujan ya cuma 52 atau 55 hari nak."


"Oh gitu yah," tanya Mitha pada sang Ayah


Mereka mampir diwarung nasi pecel milik salah satu warga, semua memesan nasi pecel, mereka menyantapnya hingga habis, selesai makan mereka kembali berjalan melewati rel kereta api, dan kembali kerumah kakeknya.


Mereka merasakan suasana desa yang begitu indah, terlihat wajah Raka dan Rania yang tak henti-hentinya tersenyum senang.


Bram menatap kosong rumah mewahnya, sepi dan sunyi, biasanya suara istrinya yang selalu ia dengar ketika pagi hari tiba, dan juga anak-anaknya yang selalu meramaikan rumahnya, kini hanya tinggal kenangan. Ponselnya berdering sang mama menelpon.


[Hallo, iya ma]


[Bisa kerumah mama sekarang]


[Iya, Ma]


Bram melajukan mobilnya menuju rumah sang mama, mobil terparkir dihalaman rumah mamanya, mamanya sudah menunggunya didalam, Bram masuk kerumah sepi kemana anak-anaknya juga Mitha.


"Kemana anak-anak kok sepi ma?" tanya Bram pada sang mama.


"mereka liburan ke bali," jawab mamanya berbohong.


Mama wulan menceritakan kejadian, mang Usep yang diikuti oleh dua pria bermotor, sang mama takut jika Raka dan Rania dilukai oleh mereka. Bram terlihat geram wajahnya memerah.


"Kenapa Bram terperangkap dalam permainan Siska Ma?" tanya Bram pada mamanya, ia tak kuasa menahan beban kesalahannya.


"Semua sudah terlanjur nak, kamu harus jalani ini, kalau bisa rubahlah sifat jahat Siska." nasehat mama pada Bram.


"Urus perceraiaanmu dengan Mitha nak, Agar anak-anak kamu aman. menikahlah dengan Siska, dan ceraikan Mitha, itu akan menyelamatkan anak-anakmu dari gangguan wanita itu.

__ADS_1


Tapi Ma....


"Kau adalah ayah dari bayi itu Bram, kamu harus bertanggung jawab, percaya sama mama.


Sang mama menceritakan semua kejadian bahwa Siska bukan adik kandungnya dan tentang paman jarwo yang begitu kejam dan licik. Bram akhirnya menyetujuhi permintaan sang mama, dan ia harus hati-hati terhadap paman Jarwo yang telah mengendalikan Siska untuk balas dendam.


Sang mama meminta sementara Bram untuk pindah ke apartemen, biar rumah yang Bram tempati ditutup, sang Mama akan menelepon pihak bank, untuk menyita rumahnya itu. Bram pun menyetujui apa yang mamanya rencanakan.


Sang Ayah membuka cabang di kota ini soto babat dengan dibantu oleh Kakakku yang pertama Mas pramono dan istriya mbak Ana. Warung Ayah lumayan ramai pengunjung, jarak dari rumah ke warung sekitar 1 km. Alhamdulillah Ayah masih sehat. Sejak ibu meninggal beliau tidak ingin menikah lagi.


"Ayah, betah dikota ini?" tanya Shelomitha.


"Alhamdulillah nak, Ayah akan menghabiskan sisa umur Ayah disini, Ayah kan juga ada Masmu disini rumshnya juga disamping Ayah lagi." jawab sang ayah.


"kalau Ayah merasa nyaman disini ya ndak papa Yah,"


"Bagaimana dengan kamu sendiri? apa rencanamu mau tinggal disini sama ayah?"


"Mitha belum tau Ayah, sebenarnya tanpa sepengetahuan Mas Bram, Mitha disana punya usaha butik ayah. Alhamdulillah sudah banyak pelanggannya."


"Alhamdulillah butik apa nak?" tanya sang Ayah.


"Baju syari Ayah." jawab Mitha.


"Iya bagus nak, ndak takut sama Siska?" tanya ayah Mitha


"Ayah, Ayah kenapa harus takut jodoh, maut rezeki semua sudah ada yang ngatur, tinggal Mitha berusaha dan berdo'a semoga semua baik-baik saja, lagian ada Ayah yang selalu do'ain Mitha."


Meraka berdua ngobrol di depan rumah sambil di temani dua gelas wedang jahe. Mitha menanyakan kakaknya Pram kemana ko ndak kelihatan, kata sang ayah lagi di madiun kerumah mertuanya, sang ayah sudah menelepon katanya besuk akan pulang.


Mas Pram memang sedikit pendiam, dari kecil ia selalu menjaganya kalau Siska merebut mainannya, Mitha sadar bahwa Mas Pram, sudah mengetahui rahasia itu, kalau Siska bukan lah sedarah dengan kami.


Sebenarnya usaha butiknya Mitha di buka bersama ibu-ibu wali murid tempat Raka sekolah, yang kadang mengeluh tentang ekonomi mereka, Mitha yang kasihan akhirnya punya ide untuk bikin butik.


Akirnya Mitha menawarkan untuk bekerja di tempatnya, Mitha bahagia bisa membantu ibu-ibu untuk membantu pendapatan suami mereka. Tiba-tiba ponsel Mitha bergetar.


[Mbak Mitha gimana kabarnya? Jadi mbak di kampung]


[Alhamdulillah baik Fiko.]


[Jadwal Fiko terakhir besuk disolo kalau sempet Fiko mampir.]


[Boleh, jangan lupa oleh-olehnya buat Raka dan Rania, sekarang Fiko dimana]


[Dibandara Palembang mbak, mau ke Solo.]


[Ya sudah hati-hati ya Mas juara]


Mitha melangkah masuk ke dalam Rumah, ia membayangkan Fiko, ia jauh perhatian dibanding Bram kakaknya, Malam semakin dingin, Angin yang trdengar begitu menakutkan, tapi itulah memang kota ini terkenal dengan sebutan kota angin.


Kesunyian malam membuat seisi rumah terjaga dari mimpinya. Suara kereta api tak membuat mereka terusik dalam tidur malamnya.


Next.....

__ADS_1


__ADS_2