
Fazril mendekap erat tubuh Lani yang saat ini berkontak berusaha untuk mengejar sang adik. Tangis anak itu terdengar menggelegar. Dia menatap tubuh sang ayah yang kian menjauh hingga akhirnya menghilang di balik tembok.
Putri sulung dari Alena itu sepertinya tidak ingin berpisah dengan sang adik. Entah mengapa rasanya berat sekali melihat kepergian Lian yang terkesan secara tiba-tiba, padahal dirinya pernah berpisah dengan sang adik kala itu, tapi rasanya tidak sesakit ini. Apakah ini semacam firasat? Entahlah, hanya Tuhan Yang Tahu.
"Dede! Kaka Mohon jangan pergi. Mom ... Kenapa Mommy diam saja? Om Alvin juga kenapa diam saja? Kalian semua yang ada di sini kenapa tidak ada yang mencegah adikku pergi sama Daddy? Hiks hiks hiks!" teriak Lani memekikkan telinga.
"Sayang, dengarkan Om. Dede akan baik-baik saja, dia itu Daddy kalian. Tidak mungkin Daddy akan menyakiti Dede Lian. Percaya sama Om, Dede Lian akan baik-baik saja," ucap Alvin mencoba untuk menenangkan.
"Kenapa Om tidak mengejar Dede Lian? Katanya Om Daddy baru aku?"
"Sayang, Om memang sudah jadi ayah baru kamu, tapi Om tidak bisa melakukan apapun karena Dede Lian memang sangat merindukan Daddy Alviano. Kamu tahu lebih dari siapa pun kalau adik kamu itu ingin sekali bertemu dengan Daddy Alviano. Gini deh, kalau Dede gak pulang-pulang nanti kita jemput dia ke sana?"
"Om beneran gak akan bohong?"
"Tentu saja tidak, sayang. Untuk apa Om bohong sama kamu? O iya, karena sekarang Om sudah menikah dengan Mommy kamu, panggil Om dengan sebutan Daddy, boleh?"
Lani menganggukkan kepalanya. Bibirnya pun mencoba untuk tersenyum, meskipun hanya sebuah senyuman kecil, karena sejatinya gadis kecil itu sedang tidak baik-baik saja saat ini.
Telapak tangan Alvin seketika bergerak mengusap kedua pipi putri sambungnya, mencoba untuk membersihkan buliran air mata yang membasahi wajah cantik Lani. Alvin mencoba untuk tersenyum di tengah perasaannya yang sebenarnya dilanda rasa kecewa.
Kenapa laki-laki bernama Alviano harus datang di hari pernikahannya dan merusak kebahagiaan yang sedang mereka rasakan? Apakah laki-laki itu sengaja melakukan hal ini hanya untuk merusak moment sakralnya dengan Alena? Alvin berkutat dengan pikirannya kini.
__ADS_1
"Kita masuk ke dalam? Sebentar lagi acara akan selesai," ucap Alvin menyudahi lamunan panjangnya.
"Aku mau di gendong."
"Boleh, Daddy gendong ya."
Lani merentangkan kedua tangannya. Seketika itu juga tubuhnya di raih dan di gendong oleh laki-laki yang telah sah menyandang status sebagai ayah tirinya itu.
Alena yang melihat dan menyaksikan hal itu hanya bisa meratapi kepergian Lian juga melihat betapa terpukulnya Lani saat dipisahkan dengan adik kesayangannya, meskipun tidak ada air mata yang menetes dari kedua mata Alena. Dirinya tidak ingin merusak hari bahagianya, satu harapannya saat ini, semoga saja Alviano tidak main-main dengan ucapannya bahwa dia akan segera mengantarkan sang putra ketika mereka sudah puas menghabiskan waktu bersama.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Fazril menatap lekat wajah sang adik.
"Aku baik-baik saja, Bang."
"Terima kasih karena Abang sudah mencoba untuk menahan diri. Aku hanya berharap bahwa laki-laki itu tidak berbohong dan benar-benar memulangkan Lian kembali."
"Semoga saja. Sekarang kita masuk ke dalam, tamu undangan pasti terheran-heran karena mempelai pengantin tiba-tiba pergi begitu saja."
Alena menganggukkan kepalanya, dia pun berbalik dan berjalan masuk ke dalam ruangan menyusul Alvin suaminya yang telah terlebih dulu masuk ke dalam ruangan bersama Lani sang putri.
* * *
__ADS_1
Berbagai rangkaian acara pun selesai diadakan. Tamu undangan satu-persatu mulai meninggalkan ruang resepsi menyisakan keluarga inti saja. Lani terpaksa di bawa pulang oleh Fazril, sedangkan Alena dan Alvin spesial memesan satu kamar untuk mereka bermalam pertama.
Akan tetapi, sepertinya mereka harus menunda keinginan untuk bermalam pertama, karena Lian sang putra masih belum kembali sampai saat ini. Alena benar-benar dilanda rasa gelisah, apa mungkin mantan suaminya itu membawa Lian untuk tinggal bersamanya seperti yang dia lakukan kepada Lani kala itu?
"Kamu baik-baik saja, sayang?" Tanya Alvin yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, dia berjalan menghampiri istrinya yang saat ini nampak sedang melamun seraya duduk di tepi ranjang.
"Aku tidak baik-baik saja, Mas. Kenapa Lian masih belum pulang sampai sekarang?" jawab Alena terlihat sedih.
"Benar juga, tapi kamu tidak usah khawatir, saya yakin Lian baik-baik saja. Eu ... Coba kamu telpon ibu di rumah, siapa tahu Lian sudah di antar pulang ke rumah, acara di sini 'kan sudah selesai. Si Alviano gak mungkin mengantarkan Lian kemari, dia 'kan gak tau kalau kita nginap di kamar nomor berapa?"
"Bisa jadi, coba aku telpon ibu dulu ya," jawab Alena, dia pun meraih ponsel hendak menelpon sang ibu. Namun, Alena seketika mengurungkan niatnya ketika ada satu pesan dari nomor yang tidak kenal masuk ke ponselnya.
"Ada pesan, Len. Coba di baca dulu," pinta Alvin.
Klik!
Pesan pun di buka. Alena membaca pesan tersebut dengan nada suara lantang.
'Selamat atas pernikahan kamu. Saya kecewa jujur saja, saya berharap kamu bersanding di pelaminan dengan saya, bukan dengan laki-laki lain, tapi apalah daya nasi sudah jadi bubur. Tidak mungkin menyatukan kembali sesuatu yang sudah hancur. Saya mau mengatakan satu hal lagi sama kamu, saya akan membawa Lian untuk tinggal di luar negeri. Sekarang kami sudah berada di dalam pesawat dan sudah siap tinggal landas. Kamu pasti terkejut bukan? Namun, ini sesuatu yang adil menurut saya, karena kita sama-sama akan membesarkan satu anak.'
prank!
__ADS_1
Ponsel yang sedang di genggam oleh Alena seketika terjatuh ke atas lantai.
BERSAMBUNG