Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Titik Terendah


__ADS_3

Alena berteriak histeris. Dia mengguncangkan pintu pagar yang sudah di kunci dari dalam seraya memanggil nama sang putri. Wanita itu benar-benar telah hilang akal. Dia hampir saja memanjat pagar tersebut jika saja tidak di tahan oleh Alvin.


"Kamu mau apa, Lena? Jangan nekat seperti ini," ujar Alvin meraih tubuh ramping Alena, mendekapnya erat, menahannya sekuat yang dia bisa.


"Lepaskan aku, Mas. Aku mau mengambil Lani, aku gak bisa hidup tanpa dia. Lebih baik aku mati dari pada harus dipisahkan dengan anakku!" teriak Alena, mencoba untuk berontak dan melepaskan diri dari dekapan Alvin.


"Hey! Sadar, Lena. Kamu harus sabar. Ingat, anak kamu bukan hanya Lani, ada Lian juga yang membutuhkan kamu, dia lagi sakit sekarang, Lian sedang menunggu kamu, Lena. Jangan pernah berkata seperti itu, saya mohon."


Tubuh Alena seketika melepas. Dia yang semula menggerakkan tubuhnya sedemikian rupa mulai terlihat tenang. Kedua tangan Alena melingkar di punggung Alvin kini, suara tangisnya semakin lirih terdengar. Rasa pilu terasa menusuk ulu hati, rasanya sakit sekali. Rasa sakit yang dia rasakan saat ini bahkan lebih sakit dari apa yang pernah dia rasakan saat dirinya mengetahui pengkhianatan suaminya. Seluruh dunianya terasa runtuh saat dirinya dipisahkan dengan sang putri.


"Lani, maafkan Mommy, Nak. Mommy tidak bisa membawa kamu pulang. Mommy benar-benar minta maaf," lirih Alena diiringi dengan suara isakan yang terdengar pilu.


"Kamu tidak usah khawatir, jika mantan suami kamu melayangkan banding atas anak-anak kamu, maka kita akan melaporkan hal ini kepada Komnas Perlindungan Anak. Selain itu, kita juga akan memberikan bukti-bukti atas perselingkuhan suami kamu. Saya yakin pengadilan tidak akan menjatuhkan hak asuh kepada si brengsek itu."


"Tapi aku takut Lani kenapa-napa, Mas. Kamu lihat tadi, dia begitu kesakitan."


"Alviano itu ayahnya, dia tidak mungkin menyakiti putrinya sendiri. Kamu harus yakin itu, ada neneknya juga di sana, lebih baik sekarang kita beristirahat di hotel, besok pagi baru kita pulang ke kota."

__ADS_1


"Aku mau pulang sekarang, Mas. Kasian Lian pasti menunggu aku, dia pasti cariin aku."


Alvin perlahan mulai mengurai pelukan. Dia pun menatap wajah Alena seraya mengusap kedua sisi wajahnya, mencoba untuk membersihkan buliran air mata yang kini membanjiri wajah cantik seorang Alena.


"Malam sudah semakin larut, tidak baik berkendara malam-malam begini. Kita tunggu sampai pagi, setelah itu kita langsung pulang. Lagi pula, kondisi kamu sedang tidak baik-baik saja, Len. Kalau kita memaksakan pulang malam-malam begini, saya takut kamu akan jatuh sakit nantinya."


Alena akhirnya mengangguk pelan. Suara isakan itu pun sudah tidak lagi terdengar, tapi wajah Alena benar-benar terlihat mengenaskan. Perasaanya tertekan, batinnya tersiksa tentu saja. Wanita itu seketika menoleh dan menatap rumah mantan mertuanya sejenak lalu berjalan menuju mobil dan masuk ke dalamnya.


'Mommy janji akan menjemput kamu lagi, Lani. Sekali lagi Mommy benar-benar minta maaf,' batin Alena menahan rasa sesak.


* * *


Ceklek!


Pintu kamar hotel di buka. Keduanya masuk ke dalam kamar lalu menatap sekeliling. Hanya ada satu ranjang dan sebuah sofa di dalam kamar tersebut.


"Maaf, Len. Sebenarnya saya mau memesan kamar dengan 2 ranjang, tapi kamar yang seperti itu tidak ada, semuanya terisi penuh. Kamu bisa tidur di ranjang. Saya akan tidur di kursi," ucap Alvin merasa tidak enak sebenarnya.

__ADS_1


Dirinya pun merasa gugup sekali, ini adalah kali pertama baginya berada di kamar hotel bersama seorang wanita. Hal yang sama pun di rasakan oleh Alena. Rasanya aneh sekali berada di dalam satu kamar bersama laki-laki yang bukan suaminya. Namun, dia tidak ada pilihan lain lagi.


"Sekarang kamu istirahat, Len. Kamu pasti lelah banget," pinta Alvin, dirinya pun seketika berbaring di atas sofa. Tubuhnya benar-benar merasa lelah.


"Apa tidak sebaiknya Mas Alvin yang tidur di ranjang? Biar aku yang di kursi, Mas 'kan sudah menyetir seharian ini."


"Gak apa-apa, saya baik-baik saja. Kamu saja yang tidur di ranjang."


"Terima kasih, Mas. Aku gak tahu bagaimana jadinya aku jika tidak ada Mas Alvin," lirih Alena mulai naik ke atas ranjang lalu meringkuk dengan menghadap tubuh Alvin kini.


"Saya melakukan ini karena saya pun pernah berada di posisi anak-anak kamu, saya tahu bagaimana rasanya dipisahkan dari kedua orang tua saya. Selain itu, saya juga suka sama kamu, Lena. Saya sayang sama kamu, Lani dan Lian."


Alena seketika merasa tertegun. Dia tidak tahu apakah dirinya harus bahagia dengan pernyataan cinta Alvin di tengah masalah pelik yang saat ini sedang menimpa hidupnya. Namun, jika boleh berkata jujur, dirinya merasa sangat bersyukur karena dia tidak sendirian, ketika dirinya sedang dalam keadaan tertekan dan berada di titik terendah di dalam hidupnya itu.


'Aku juga suka sama kamu, Mas Alvin,' batin Alena tanpa sadar.


BERSAMBUNG

__ADS_1


...****************...


__ADS_2