Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Syok


__ADS_3

Alena perlahan mulai menggerakkan bola matanya menatap wajah Alvin kian sayu. Raut wajahnya terlihat memendam kesedihan yang mendalam. Wanita itu benar-benar sangat tertekan.


"Kamu kenapa, Lena? Apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya Alvin lembut juga balas menatap wajah Alena kini.


"Lani hilang, Mas."


Alvin mengerutkan kening.


"Mas Vian baru saja menelpon aku, katanya Lani menghilang. Dia tidak ada di sana? Bagaimana ini, Mas? Kalau Lani sampai kenapa-napa, gimana?" lemah Alena, air matanya tidak menetes sedikit pun, hanya bola matanya saja yang terlihat memerah, semerah darah.


Grep!


Alvin seketika memeluk tubuh Alena, menyandarkan kepala wanita itu di dada bidangnya seraya mengusap rambut panjangnya lembut merasa sedih tentu saja. Alena nampak mengigit ujung kuku jari jempolnya. Bibirnya pun terlihat gemetar. Sepertinya dia benar-benar syok dan diliputi berbagai penyesalan.


Seharusnya dia bisa membawa Lani pulang. Seharusnya dirinya merebut tubuh kecil Lani dari dalam dekapan Alviano. Seharusnya dia kembali lagi ke sana sebelum dirinya pulang ke kota. Hati seorang Alena benar-benar merasa hancur sehancur-hancurnya.

__ADS_1


"Lani hilang, Mas. Dia ada di mana sekarang? Apa mungkin dia sedang mencari aku? Apa mungkin putriku mengira bahwa aku masih berada di sana? Ya ampun, Lani. Putriku yang malang, haaaaaa!" Alena seketika berteriak histeris, membuat sang ibu yang berada di dalam ruangan seketika merasa terkejut mendengar teriakan putrinya.


"Tenang, Alena. Kita cari Lani sekarang juga, saya akan menemani kamu untuk mencari dia. Kalau perlu kita segera lapor polisi, membuat poster dan iklan tetang anak hilang, tapi kamu harus tenang dulu, kendalikan emosi kamu, sayang. Saya tahu bagaimana perasaan kamu, saya paham betul. Kamu yang sabar, Lena. Kamu yang kuat, Lani pasti ada di suatu tempat dan dia baik-baik saja," lirih Alvin mencoba untuk menenangkan. Jujur, hatinya kembali merasa sakit saat melihat wanita yang dicintainya dalam keadaan tersakiti.


"Alena?! Ada apa? Lani kenapa?" Tiba-tiba saja terdengar suara sang ibu keluar dari dalam ruangan membuat Alvin sontak mengurai pelukan.


Ibu berjalan menghampiri lalu berjongkok tepat di depan putrinya. Dia meletakan kedua telapak tangannya di kedua sisi wajah Alena sama seperti yang Alvin lakukan sebelumnya.


"Jawab ibu, tatap mata ibu, Alena. Kamu kenapa? Apa yang terjadi dengan cucu ibu?" tanya ibu penuh penekanan.


"Astaga, Lani cucunya ibu," decak ibu seketika ambruk dalam posisi duduk. Dada wanita paruh baya itu seketika terasa sesak. Di saat satu cucunya masih dalam keadaan sakit, cucu lainnya malah hilang entah kemana akibat ulah mantan menantunya yang tidak bertanggung jawab.


"Saya akan membantu Alena mencari Lani, bu. Saya akan menemukan dia, saya akan melakukan adapun agar Lani bisa kembali di tengah-tengah kita," ujar Alvin mencoba untuk menenangkan kedua wanita itu.


"Tolong cari cucu Tante, Alvin. Tante mohon, bawa dia kembali dengan selamat," lirih Nyonya Inggrid penuh harap.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan, bu? Lani di mana, dia ke mana? Ya Tuhan, Lani putriku malang sekali nasibmu, Nak. Maafkan Mommy, hiks hiks hiks!"


"Alena, Alena sayang putrinya ibu. Kamu harus kuat, Nak. Kamu tidak boleh seperti ini. Ibu yakin kamu bisa melewati ini semua. Lani pasti ketemu, ibu yakin itu."


Alena menggelengkan kepalanya seraya menggigit bibir bawahnya keras. Hatinya seolah berkata, dia tidak akan sanggup untuk bertahan jika Lani sang putri sampai tidak diketemukan. Hidupnya akan benar-benar berakhir jika Lani terluka apa lagi sampai tiada. Otaknya terus saja di penuhi oleh hal yang tidak-tidak.


"Kamu tidak boleh seperti ini. Lihat ke dalam sana, lihat putra kamu yang sedang sakit itu. Dia juga membutuhkan kamu, sayang. Bagaimana nasib dia kalau kamu terpuruk seperti ini. Kamu tidak sendirian, ada ibu, ada ayah, ada Abang dan ada Alvin juga yang akan menemani kamu. Kuat, Nak. Bangkitlah, kita cari Lani sama-sama. Dia pasti sedang menunggu kamu di suatu tempat," ujar ibu tegas dan penuh penekanan. Wanita paruh baya itu mencoba untuk bersikap tegar di tengah perasaanya yang sebenarnya merasa hancur.


Alena seketika mengusap wajahnya kasar. Dia pun menoleh dan menatap ke dalam ruangan yang memang pintunya dalam keadaan terbuka lebar. Tubuh Lian nampak tertidur di atas ranjang. Ya ... Dia masih ada Lian yang membutuhkannya saat ini, Alena berjanji akan kuat demi putra bungsunya yang masih dalam keadaan sakit. Wanita itu pun seketika bangkit dan berdiri tegak. Dia menatap wajah sang ibu sekejap lalu mengalihkan pandangan matanya menatap wajah Alvin kini.


"Aku ikut sama kamu, Mas. Mari kita cari Lani sama-sama. Terima kasih karena kamu masih berada di sini bersama aku," ucap Alena sudah terlihat tenang.


BERSAMBUNG


...****************...

__ADS_1


__ADS_2