
"Jadi kamu seorang janda?" tanya Tuan Irawan seketika merubah raut wajahnya. Dia yang semula memasang wajah ramah seketika terlihat dingin. Senyuman yang semula mengembang dari bibir laki-laki paruh baya itu pun seketika lenyap.
"I-iya, Om," jawab Alena menunduk sedih. Dia bisa melihat raut wajah kecewa dari wajah Tuan Irawan.
"Memangnya kenapa kalau dia janda, Dad?" tanya Alvin.
"Tidak apa-apa, silahkan lanjutkan ngobrol kalian. Om mau istirahat dulu."
Tuan Irawan tiba-tiba saja bangkit dan berdiri lalu pergi meninggalkan mereka berdua di susul oleh istrinya kemudian. Alvin meraih telapak tangan Alena, dia pun mengusap punggung tangannya lembut dan penuh kasih sayang. Bibirnya nampak tersenyum seraya menatap wajah wanita yang dia cintai itu.
"Sepertinya Om Irawan tidak suka dengan aku, Mas," lirih Alena, masih menunduk terlihat sedih.
"Kata siapa? Daddy tidak bilang kalau beliau tidak suka dengan kamu."
"Tapi jelas sekali, beliau tidak suka setelah mendengar aku seorang janda."
"Tidak, sayang. Kamu lupa kalau ibu kandung saya juga seorang janda? Janda atau bukan tidak ada bedanya bagi saya saya. Yang terpenting itu saya sayang kamu sama kamu, Lena. Sama halnya seperti saya menyayangi ibu kandung saya. Kalian berdua adalah wanita yang paling berharga di dunia ini, jadi jangan pernah merasa rendah diri hanya karena kamu menyandang status sebagai seorang janda."
__ADS_1
"Seorang wanita menjadi janda itu bukan sebuah pilihan, tapi karena keadaan. Satu hal yang pasti, semua ini adalah takdir, kamu memang sudah di takdir-kan untuk saya, meskipun harus bersama laki-laki lain dulu sebelum kamu bertemu dengan saya. Paham apa yang saya katakan?" jelas Alvin panjang lebar.
Alena menganggukkan kepala lalu menoleh dan menatap wajah Alvin kemudian. Senyuman manis pun dia perlihatkan. Jujur, apa yang baru saja diucapkan oleh kekasihnya ini benar-benar membuat hatinya merasa tenang.
"Terima kasih karena telah mengatakan hal ini, aku percaya dengan takdir dan aku juga percaya bahwa takdir-lah yang telah mempertemukan kita," jawab Alena merasa lega.
.
Setelah mengantarkan Alena pulang, Alvin pun kembali ke kediamannya. Dia nampak sedang berjalan menuju kamar hendak masuk ke dalamnya. Namun, laki-laki itu seketika menghentikan langkah kakinya saat mendengar suara sang ayah memanggil namanya dengan nada suara lantang.
"Alvin! Daddy ingin bicara sama kamu," ujar sang ayah berjalan menghampiri.
"Daddy gak suka dengan pacar kamu, lebih baik cari wanita lain. Atau, ikuti saran Mommy kamu untuk dicarikan wanita yang cocok untuk kamu nikahi!" Tegas sang ayah penuh penekanan.
"Apa karena dia seorang janda?"
"Betul, masa usia 24 tahun sudah menjadi janda dengan 2 anak? Itu artinya dia menikah di usia 18 tahun lho. Jangan-jangan si Alena itu hamil duluan lagi."
__ADS_1
Kedua tangan Alvin seketika mengepal menahan rasa geram. Rahang laki-laki berusia 32 tahun itu pun mengeras merasa tidak terima dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh ayahnya. Semua itu terdengar seperti sebuah hinaan dan dia merasa tidak terima wanita yang dicintainya di hina sedemikan rupa.
"Apa Daddy lupa kalau ibu kandung aku juga seorang janda? Apa menjadi janda itu sebuah pilihan? Baik Alena maupun ibu tidak ingin menjadi seorang janda. Mereka hanya melakukan kesalahan karena telah menikahi laki-laki yang salah," tegas Alvin hendak masuk ke dalam kamar.
"Ini tidak ada hubungannya dengan ibu kamu, Alvin. Alena dan ibumu 2 orang yang berbeda!"
"Apa bedanya? Mereka sama-sama janda!"
"Pokoknya Daddy tidak suka sama si Alena itu, titik."
"Aku juga tidak akan pernah memutuskan Alena, titik! Kalau Daddy masih menolak Alena menjadi menantunya Daddy, maka saya akan pulang ke rumah ibu. Saya cukup mendapatkan restu dari beliau, kasian ibu tinggal sendirian di kampung. Saya berpikir untuk menemani ibu dan tinggal bersamanya." Tegas Alvin, membuka pintu kamar lalu masuk ke dalamnya kemudian.
Tuan Irawan seketika diam mematung. Dia tidak mungkin membiarkan sang putra tinggal dengan mantan istrinya.
"Dasar keras kepala. Apa yang harus Daddy lakukan agar kamu mau mendengarkan Daddy sekali saja?" gumam Tuan Irawan terlihat kecewa.
BERSAMBUNG
__ADS_1
...****************...