Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Mas?


__ADS_3

"Kenapa? Ada yang aneh dengan sebutan Mas? Katanya saya lebih tua dari kamu?" tanya Alvin tersenyum cengengesan.


"Ya, gimana ya? Masa aku harus memanggil Dosen aku sendiri dengan sebutan Mas? 'Kan aneh," jawab Alena seketika merasa salah tingkah.


"Itu 'kan kalau kita lagi di luar kampus, kalau lagi di kampus kamu tetap harus memanggil saya dengan sebutan Pak Alvin, itu wajib hukumnya."


"Dih!" Alena memalingkan wajahnya mencoba untuk menyembunyikan senyuman di bibirnya.


"Ya udah saya pulang dulu. Gak baik berlama-lama berada di dalam kamar seorang wanita, rasanya panas sekali di sini."


"Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih karena Mas Alvin sudah mengantarkan kami pulang."


Alvin seketika tersenyum lebar, akhirnya wanita ini bersedia memanggilnya dengan sebutan Mas juga. Jujur, hatinya merasa berbunga-bunga. Perasaannya itu terasa bahagia entah mengapa, sepertinya dia telah benar-benar jatuh cinta kepada wanita bernama Alena, adik dari sahabatnya sendiri.


"Ko malah bengong? Katanya mau pulang?" tanya Alena seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Alvin.


"Hah? O iya saya lupa, saya pulang dulu, Lena. Sampai ketemu besok di kampus, ingat kamu tidak boleh terlambat datang ke kelas saya. Satu lagi, kamu juga tetap jadi asisten saya di kampus, oke?"


Alena menganggukkan kepalanya seraya tersenyum manis. Senyuman yang berhasil membuat hati seorang Alvin klepek-klepek. Laki-laki itu pun berbalik lalu berjalan keluar dari dalam kamar.


"Aku antar Mas sampai ke depan," ujar Alena mengikuti laki-laki itu dari arah belakang. Keduanya pun akhirnya berjalan secara beriringan menuju pintu depan.


Ckiiit!


Mobil milik Fazril berhenti tepat di samping mobil Alvin bertepatan dengan mereka berdua yang baru saja sampai di halaman depan. Fazril keluar dari dalam mobil tersenyum menatap kebersamaan adik juga sahabatnya yang terlihat begitu serasi sebagai pasangan.


"Cie-cie ... Serasi banget dah kalian," goda Fazril berjalan menghampiri seraya tersenyum cengengesan.


"Abang apaan sih, gak jelas banget," decak Alena memalingkan wajahnya.


"Saya pulang dulu, Zril. Makasih untuk hari ini," pamit Alvin dan segera di jawab dengan anggukan oleh sahabatnya.


Laki-laki itu pun masuk ke dalam mobil dan benar-benar meninggalkan halaman. Sepeninggal Alvin, kini tinggallah Fazril dan juga sang adik di sana. Fazril menoleh dan menatap wajah Alena, raut wajahnya pun nampak serius tidak seperti sebelumnya membuat Alena merasa heran tentu saja.


"Abang apaan sih? Mukanya serius banget," tanya Alena berbalik dan hendak masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Tunggu, Len. Ada yang ingin Abang tanyakan sama kamu."


"Nanya apa? Ngomong saja." Alena seraya berjalan.


"Apa kamu pernah ada masalah dengan si April?"


Alena sontak menghentikan langkah kakinya. Sepertinya dia harus memberitahukan wanita seperti apa si April itu sebenarnya. Dia adalah orang yang telah memporak-porandakan rumah tangganya bersama Alviano. Meskipun wanita bernama Aprilia itu tidak sepenuhnya salah, karena sejatinya perselingkuhan itu tidak akan pernah terjadi jika saja mantan suaminya pandai dalam hal menjaga hati dan komitmen di dalam pernikahannya.


"Aku akan menceritakan semuanya sama Abang, tapi Abang janji tidak akan terkejut dengan apa yang akan aku ceritakan ini," jawab Alena kemudian.


"Kita duduk di sana, Abang ingin kamu menceritakan semuanya, jangan ada satu pun yang di tutup-tutupi dari Abang."


Alena menganggukkan kepalanya. Dia pun berjalan bersama sang kakak menuju kursi yang berada di ruang santai lengkap dengan televisi berukuran besar yang bertengger di depannya. Keduanya pun duduk secara berdampingan. Alena menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan sebelum akhirnya mulai menceritakan wanita seperti apa April sebenarnya.


"Sebenarnya bukan aku yang mengenal si April itu, tapi Mas Vian," lirih Alena memulai pembicaraan.


"Maksud kamu?" Fazril sontak mengerutkan kening.


"Wanita itu adalah orang yang telah menghancurkan rumah tangga aku, Bang. Meskipun Mas Vian juga salah di sini, perselingkuhan itu tidak akan terjadi jika suami aku pandai menjaga hatinya, tapi tetap saja jika dia wanita baik-baik si April itu gak akan menjalin hubungan dengan laki-laki beristri."


Fazril menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi, kepalanya terkulai lemas dia antara ujung kursi. Laki-laki itu mengusap wajahnya kasar seraya memejamkan kedua matanya. Jadi dia, wanita itu yang telah menghancurkan pernikahan adiknya? Wanita yang sempat dia taksir kala itu, wanita yang akan dia kejar lagi cintanya. Namun, harus berakhir dengan sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan.


"Abang baik-baik saja?" tanya Alena melihat perubahan raut wajah sang kaka yang terlihat begitu kecewa.


"Kamu yakin wanita yang menjadi selingkuhan mantan suami kamu adalah Aprilia? setahu Abang dia wanita baik-baik."


"Aku yakin betul, bang? Mas Vian sendiri yang mengakui hal itu. Apa Abang benar-benar mencintai dia?"


Fazril tidak mengatakan apapun lagi. Dia berdiri dan hendak pergi dengan hati dan perasaan kecewa.


"Maafkan aku, Bang. Seharusnya aku tidak menceritakan hal ini kepada Abang," ujar Alena seketika merasa bersalah.


"Kenapa kamu harus meminta maaf kepada Abang? Kamu gak salah, Abang yang salah karena telah mencintai wanita yang salah," jawab Fazril lalu melanjutkan langkah kakinya.


'Kenapa harus wanita itu yang Abang cintai? Ada banyak wanita di dunia ini. Dari sekian banyaknya wanita cantik yang ada di kota ini, kenapa harus si April yang Abang cintai, ya Tuhan,' batin Alena seraya menatap kepergian sang kakak.

__ADS_1


* * *


2 hari kemudian.


Dret! Dret! Dret!


Ponsel yang tergeletak di atas meja kerja Alviano seketika bergetar membuat laki-laki itu menyudahi pekerjaannya. Dia menatap layar ponsel lalu tersenyum lebar karena nama mantan istrinya terpampang nyata di layar ponsel miliknya itu.


📞 "Halo, Alena. Ada apa? Tumben kamu nelpon?" Alviano mengangkat telpon dengan perasaan senang.


📞 "Ini aku, Dad. Lian, aku pakai ponsel Mommy," samar-samar terdengar suara khas putra bungsunya nan jauh di dalam telpon.


📞 "Lian? Astaga, putranya Daddy. Ko kamu bisa nelpon menggunakan ponsel Mommy? Mommy kamu tahu kalau kamu nelpon Daddy?"


📞 "Tidak, Mommy lagi mandi."


📞 "Katakan ada apa kamu nelpon Daddy? Kamu kangen ya sama Daddy?"


📞 "Aku kangen banget sama Daddy, aku ingin pulang. Aku ingin kita kumpul bareng lagi, aku juga ingin jalan-jalan sama Daddy sama Mommy juga," rengek Lian dengan nada suara berat.


Alviano sontak memejamkan kedua matanya, menahan berbagai rasa yang sulit dia ungkapkan dengan kata-kata. Rengekan putra bungsunya membuat hatinya benar-benar merasa terluka, tapi dia pun sadar menyesal pun tidak akan mampu memutar kembali waktu.


📞 "Dad? Kenapa Daddy diam saja? Daddy gak kangen sama aku?"


📞 "Maaf, sayang. Daddy melamun tadi, eu ... Begini saja, nanti Daddy coba bicara sama Mommy kamu supaya kita bisa jalan berempat, tapi sayang. Bisakah kamu membantu Daddy juga?"


📞 "Membantu apa? Katakan saja, Dad."


📞 "Bisa kamu katakan sama Mommy kamu bahwa kamu gak mau punya Daddy baru? Kamu hanya punya satu Daddy, yaitu Daddy Alviano, selamanya."


Tut! Tut! Tut!


BERSAMBUNG


...****************...

__ADS_1


__ADS_2