Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Maaf


__ADS_3

"A-ada apa ya, Den Azril memanggil saya? Saya ndak bermaksud untuk membicarakan Aden," tanya Nuri merasa enggan untuk mengikuti sang majikan.


"Jadi benar kamu sedang membicarakan saya?"


"Ti-tidak, eh ... I-iya, tidak-tidak ... Aduuuuuh," jawab Nuri terbata-bata merasa gugup juga dengan nada suara gemetar.


"Jadi iya apa tidak?!"


"I-iya, hanya sedikit, hehehehe!" Nuri tersenyum dipaksakan.


'Astaga, ko gadis ini lucu juga sih? Dia tetap bicara jujur meskipun tubuhnya terlihat gemetaran,' batin Fazril, diam-diam dia menahan senyuman di bibirnya.


"Ikut dengan saya sekarang."


"Hah? Sa-saya 'kan sudah bicara jujur, Den. Kenapa saya harus mengikuti Den Azril segala?"


"Nama saya Fazril, F A Z R I L ... Fazril, bukan Azril," tegas Fazril penuh penekanan.


"Iya, saya minta maaf, Den Fazril."


"Ya sudah, tunggu apa lagi. Ikut dengan saya sekarang."


Nuri seketika menoleh ke arah Bibi, menatap wajah wanita paruh baya itu dengan tatapan mata sayu. Bibi balas menatap wajah gadis itu, beliau pun menganggukkan kepala seolah mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Fazril mulai berbalik dan berjalan meninggalkan ruang makan. Mau tidak mau Nuri pun terpaksa mengikuti laki-laki itu dengan perasaan enggan dan merasa ketakutan. Dia menatap punggung lebar seorang Fazril dan berharap bahwa laki-laki itu tidak memarahi dirinya lagi. Nuri pun menundukkan kepalanya seolah sedang menatap pijakan demi pijakan kakinya yang terasa berat sebenarnya.


Bruk!


Tubuh Nuri seketika menabrak punggung majikannya karena Fazril tiba-tiba saja berhenti tanpa di sadari oleh gadis itu. Dia pun sontak meringis kesakitan seraya mengusap keningnya kasar. Sementara sang majikan lagi-lagi menahan senyuman di bibirnya merasa gemas. Namun, laki-laki itu segera merubah ekspresi wajahnya dan berbalik lalu berdecak seolah merasa kesal.

__ADS_1


"Ck ... Ck ... Ck ...! Kamu sengaja menabrak saya?" tanya Fazril kemudian.


"Hah? Ti-tidak, Den. Sumpah deh, Den Azril yang tiba-tiba saja berhenti tanpa pemberitahuan jadinya ketabrak 'kan?"


"Kamu menyalahkan saya?"


"Lha wong kenyataanya seperti itu."


"Terus kedua mata kamu itu fungsinya apa?"


"Untuk melihat, Den."


"Nah itu tahu, terus kamu gak lihat saya berhenti di depan kamu?"


Nuri menundukkan kepalanya. Apa yang dikatakan oleh majikannya ini benar juga. Salahnya karena berjalan dalam keadaan menunduk sampai-sampai dirinya tidak menyadari bahwa sang majikan berhenti tepat di hadapannya.


"Nama saya Fazril, bukan Azril! Astaga, kamu ini. Apa perlu kita kenalan dulu agar kamu tidak salah memanggil nama saya?"


"Hah?" Nuri mengerutkan kening.


"Lupakan, tidak penting!" Lagi-lagi Fazril bersikap ketus.


"Eu ... Anu, Den Fa-Faazril. Anda memanggil saya ke sini untuk apa ya? Saya ndak akan di marahi lagi 'kan?"


'O iya, saya 'kan mau minta maaf. Kenapa jadi ngobrolin hal-hal yang gak jelas kayak gini sih?' batin Fazril seraya memejamkan kedua matanya kini.


"O iya, saya sampai lupa. Saya memanggil kamu karena saya mau minta maaf karena sudah marah-marah gak jelas sama kamu," jawab Fazri akhirnya, membuat Nuri yang semula menunduk sontak mengangkat kepala lalu menatap wajah laki-laki itu.


"Mi-minta maaf?"

__ADS_1


Fazril menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil. Kedua mata mereka pun seketika saling bertemu dan menatap satu sama lain. Untuk beberapa saat keheningan pun tercipta, keduanya seperti larut dalam rasa kagum akan paras masing-masing. Tanpa sadar, debaran aneh terasa di dalam jiwa masing-masing. Rasa yang asing bagi mereka, karena baik Fazri maupun Nuri sudah lama tidak pernah lagi merasakan yang namanya jatuh cinta.


'Ya Tuhan, saya baru tahu ada wanita secantik dia dunia ini? Meskipun pakaian yang dia kenakan sangat sederhana, wajahnya juga polos tanpa make up sedikit pun. Kenapa jantung saya berdetak kencang sekali ini? Apakah saya benar-benar jatuh cinta sama dia? Astaga!' batin Fazril.


'Den Azril tampan juga kalau lagi baik kayak gini. Ups ... Sadar, Ri. Dia itu siapa? Dia majiakan kamu, jangan sampai--' Nuri menahan ucapan di dalam hatinya.


"Hayo kalian lagi ngapain? Om Fazril ko ngeliatin Mbak-nya sampai kayak gitu? Ehem ... Ehem ..." celetuk Lani berjalan menghampiri seraya tersenyum cengengesan.


Buyar sudah lamuanan keduanya, suara Lani tiba-tiba saja terdengar menggelegar juga mengejutkan. Keduanya sontak memalingkan wajahnya ke arah samping. Mencoba mengatur detak jantung mereka yang sempat berdetak tidak beraturan juga berusaha menetralisir pikiran masing-masing yang baru saja larut dalam lamunan panjang.


"Saya permisi, Non, Den," pamit Nuri membungkukkan tubuhnya sopan dan ramah.


"Tunggu, Mbak," pinta Lani dengan nada suara khasnya.


"I-iya, Non."


"Nama Mbak siapa? Mbak pembantu baru di sini ya? Ko cantik-cantik jadi pembantu? kenapa tidak jadi artis aja."


Nuri tersenyum cengengesan seraya menggaruk kepala yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali. Dia tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan gadis kecil ini.


Fazril yang menyaksikan hal itu hanya bisa tersenyum kecil seraya menatap wajah sang asisten rumah tangga yang terlihat gelagapan menanggapi pertanyaan keponakannya itu. Lani mendongakkan kepala menatap wajah Om kesayangannya dengan kening yang dikerutkan. Bibir gadis kecil itu pun seketika tersenyum lebar.


"Hayoo! Om suka ya sama Mbak ini? Ngaku aja, Om!" celetuk Lani membuat wajah Fazril seketika memerah merasa malu tentu saja.


"Hah? A-apa? Su-suka? Hahahaha!"


'Masa iya saya suka sama gadis ini? Tidak, itu tidak mungkin. Ingat Fazril, dia itu hanya seorang asisten rumah tangga. Jauh sekali dari kriteria istri idaman kamu,' batin Fazril melakukan penolakan akan perasaannya sendiri.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2