
"Sayang ... Kamu--" Alena menahan ucapannya.
"Gak apa, Lena. Saya baik-baik saja ko, wajar saja kalau Lian masih belum menerima saya. Eu ... Saya pulang duluan, kamu hati-hati di jalan. Lian, Lani Om pulang dulu ya," ucap Alvin tidak ingin Lian semakin marah jika dirinya masih berada di tengah-tengah mereka.
Laki-laki itu perlahan mulai menurunkan tubuh Lani pelan dan sangat hati-hati sampai gadis kecil itu berdiri tegak kini. Dia bahkan masih menyempatkan untuk mengusap kepala Lian lembut meskipun anak itu memasang wajah masam.
"Mas hati-hati ya, nanti aku hubungi Mas lagi," ujar Alena merasa kecewa dengan sikap sang putra sebenarnya.
"Saya pergi dulu."
Alena dan sang kakak yang juga berada di sana menganggukkan kepalanya seraya menatap wajah Alvin juga tersenyum kecil. Laki-laki itu perlahan berjalan ke arah mobil lalu masuk ke dalamnya kemudian. Mesin mobil pun di nyalakan dan mulai meninggalkan area parkir lalu melesat di jalanan.
"Hati-hati Om ganteng!" Teriak Lani melambaikan tangannya seraya tersenyum lebar.
.
Alvin sampai di kediamannya. Dia pun masuk ke dalam rumah yang telah dia huni sedari dirinya kecil. Sang ayah nampak sedang duduk bersama istrinya alias ibu tiri Alvin.
"Kamu sudah pulang, Vin?" tanya Tuan Irawan sang ayah.
"Iya, Dad," jawab Alvin menyalami kedua orang tuanya ramah.
"O iya, Vin. Kapan kamu akan menikah? Usia kamu sudah 32 tahun lho," tanya sang ayah membuat Alvin yang hendak berjalan menuju kamar seketika menghentikan langkah kakinya.
"Betul, Alvin. Kalau kamu belum memiliki calon istri, biar Mommy yang mencarikan jodoh untuk kamu, bagaimana?"
Alvin seketika memejamkan kedua matanya. Dia menoleh dan menatap wajah sang ibu tiri seraya tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Dijodohkan, begitu maksudnya? Maaf, Mom. Saya sudah memiliki calon istri, saya akan mengenalkan kepada kalian secepatnya," jawab Alvin hendak pergi.
"Tunggu, Alvin. Astaga anak ini. Kalau orang tua sedang bicara itu duduk, jangan menjawab sambil berdiri dan pergi begitu saja. Itu namanya gak sopan," tegur sang ayah merasa tidak suka dengan sikap sang putra.
Alvin menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara kasar sebelum akhirnya duduk bersama kedua orang tuanya.
"Katakan seperti apa calon istri kamu itu? Bibit, bebet dan bobotnya harus jelas ya. Jangan sampai kamu menikah dengan wanita sembarangan," tanya ayah kemudian.
"Daddy jangan khawatir, calon istri saya adalah calon Dokter. Dia salah satu mahasiswi saya di kampus, dia juga anak dari seorang pengusaha, jadi Daddy sama Mommy tidak perlu mengkhawatirkan masalah itu."
"Hmm! Syukurlah kalau begitu, bawa dia kemari, kenalkan pacar kamu sama kami."
"Pasti, saya akan mengenalkan dia secepatnya sama kalian. Saya lelah, saya mau istirahat dulu," pamit Alvin, dia bangkit dan berdiri lalu berjalan menuju kamar dan masuk ke dalamnya kemudian.
"Apa-apaan ini, sejak kapan mereka peduli dengan saya? Bukankah selama ini Daddy hanya memperdulikan istrinya?" gumam Alvin, menyandarkan punggungnya di pintu seraya memejamkan kedua matanya.
.
Alena benar-benar di buat bingung. Lian tidak ingin di tinggal sementara hari sudah semakin siang, dia pasti terlambat untuk datang ke kampus. Anak itu terus saja merengek minta untuk ikut kemanapun dia pergi. Putra bungsunya itu sedang menguji kesabarannya sebagai seorang ibu yang juga ingin mengejar cita-citanya sebagai seorang Dokter.
"Sayang, sama Eyang ya. Mommy sekolah dulu, nanti Mommy terlambat lho," lembut sang nenek berusaha untuk membujuk.
"Gak mau, pokoknya aku mau ikut kemana pun Mommy pergi. Aku tidak mau di tanggal lagi, Eyang," jawab Lian semakin merekatkan lingkaran tangannya di dalam gendongan sang ibu.
"Dede, main sama kaka yu. Mommy gak bisa belajar kalau kamu ikut," ujar Lani yang juga mencoba untuk membujuk adiknya.
"Nggak mau, sekali tidak tetap tidak, aku mau ikut Mommy kemana pun Mommy pergi, titik!"
__ADS_1
Alena hanya bisa menghela napas panjang. Dirinya tidak punya pilihan lain lagi selain membawa serta Lian ke kampus. Semoga saja putranya itu tidak rewel nanti.
"Gak apa-apa, bu. Biar aku bawa Lian ke kampus. Gak mungkin juga kalau aku bolos kuliah. Aku sudah bolos selama 1 minggu saat Lian sakit, sudah banyak pelajaran yang aku tinggalkan," jawab Alena akhirnya membuat keputusan.
"Apa kamu baik-baik saja membawa Lian? Kalau Lian rewel gimana? Apa ibu ikut saja kamu ke kampus? Biar ibu yang menjaga Lian nanti."
"Gak akan, Lian gak akan rewel asalkan dia bersama aku terus."
"Ikh, Dede apaan sih. Awas saja ya, Dede jangan rewel di sekolahnya Mommy!"
"Iya Kaka. Aku gak akan rewel. Kaka gak ikut?"
"Nggak, aku mau di sini saja sama Eyang, kasihan Momny nanti gak bisa belajar kalau aku ikut juga. Kalau Mommy gak belajar nanti Mommy gak bisa jadi Dokter!"
"Pintarnya cucu Eyang. Kita main di belakang ya."
Lani menganggukkan kepalanya memasang wajah ceria.
"Kamu hati-hati di jalan, Lena. Lian sayang, ingat pesan Eyang kamu jangan rewel di sekolah, janji?"
"Iya Eyang aku janji gak akan rewel," jawab Lian tersenyum lebar.
"Aku pamit, bu."
Sang ibu menganggukan kepalanya seraya menatap kepergian Alena sang putri. Hati wanita paruh baya itu merasa terhenyak sekaligus bangga dengan perjuangan putrinya itu. Alena harus berperan sebagai ibu yang baik juga mencoba untuk mengejar cita-citanya meskipun terhalang oleh Lian sang cucu, tapi hal itu tidak membuat Alena menyerah begitu saja.
'Ibu doakan semoga kamu bisa terus bersabar dalam menghadapi segala cobaan hidup kamu, Len. Ibu juga berdoa semoga apa yang kamu cita-citakan tercapai, menjadi Dokter yang hebat suatu saat nanti,' batin ibu tanpa sadar kedua matanya mulai berkaca-kaca merasa haru.
__ADS_1
BERSAMBUNG
...****************...