
"Maaf, karena saya mengatakan ini di waktu yang tidak tepat. Seharusnya saya lebih bisa menahan diri, tapi saya benar-benar sudah tidak tahan lagi, Len. Melihat kamu tersakiti dan terpuruk seperti ini membuat hati saya benar-benar merasa terluka," ujar Alvin meringkuk saling berhadapan dengan Alena kini.
Alena hanya tersenyum kecil. Dia menatap wajah Alvin lekat begitu pun sebaliknya. Keduanya benar-benar saling menatap satu sama lain, saling melemparkan senyuman juga saling memancarkan tatapan penuh rasa cinta.
Akan tetapi, Alena tetap merasa bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk dia memikirkan perasaan pribadinya. Dirinya hanya ingin fokus dalam menghadapi masalah besar yang sedang dia hadapi saat ini. Dia pun tidak akan menjawab pernyataan cinta laki-laki ini meskipun wanita yang tahun ini genap berusia 24 tahun itu pun merasakan hal yang sama sebenarnya.
"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, Len. Cinta itu tidak perlu di ucapkan, untuk saat ini kamu cukup tahu saja perasaan saya."
'Meskipun saya tahu, kamu juga memiliki perasaan yang sama seperti saya,' batin Alvin tersenyum kecil.
"Aku akan tetap menjawabnya, Mas. Namun, bukan sekarang, untuk saat ini aku hanya ingin fokus dengan masalah anak-anak. Mereka adalah prioritas utamaku sekarang. Kamu ada di dekatku saja, aku sudah sangat bersyukur, Mas Alvin."
'Kamu seperti matahari pagi yang memberikan kehangatan, setelah aku melewati malam yang begitu dingin dan sangat mencekam,' batin Alena balas tersenyum begitu manisnya.
"Saya berjanji akan selalu ada di samping kamu, Len. Kamu tidak akan sendirian, saya akan menemani kamu dalam melewati masa-masa sulit ini. Sekarang kamu tidur, saya akan bangunkan kamu besok pagi."
Alena menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil. Hatinya mulai merasa tenang. Akhirnya dia kembali mendapatkan kekuatan, dirinya tidak akan takut dalam menghadapi mantan suaminya. Satu lagi, sampai kapan pun Alena Dwi Pratiwi tidak akan pernah sudi kembali rujuk dengan mantan suaminya apalagi dengan alasan demi kebahagiaan anak-anak. Perlahan, kedua mata Alena mulai terpejam.
'Terima kasih, Mas Alvin,' batin Alena sebelum dia benar-benar terlelap.
* * *
Keesokan harinya.
__ADS_1
"Bangun, Len. Sudah pagi," lembut Alvin mengusap kepala Alena penuh kasih sayang.
"Sekarang jam berapa, Mas?" tanya Alena mengedipkan pelupuk matanya pelan.
"Jam 5 pagi, Len. Kita pulang ke kota sekarang ya."
Alena menganggukkan kepalanya. Dia pun bangkit lalu duduk tegak di atas ranjang. Kedua tangannya bergerak mengusap kelopak matanya kini.
"Aku mandi dulu sebentar, Mas," ucapnya kemudian dan hanya di jawab dengan anggukan oleh laki-laki bernama Alvin.
Alena turun dari atas ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi dan masuk ke dalamnya. 20 menit kemudian dia pun kembali dengan memakai pakaian yang sama. Namun, wajahnya terlihat lebih segar, rambut panjangnya pun nampak terurai basah memenuhi punggung. Kecantikan yang terpancar dari wajahnya kian memukau tanpa polesan make up sedikit pun.
Tanpa sadar, Alvin hanya diam mematung menatap wajah Alena kini. Hal itu tentu saja membuat Alena seketika merasa salah tingkah. Dia yang saat ini berjalan menghampiri memalingkan wajahnya, menatap ke arah lain.
"Pagi ini kamu cantik sekali, Alena," ujar Alvin masih menatap wajah Alena kian lekat kini.
"Dasar gombal, jadi pagi ini aku cantik, semalam, sama kemarin-kemarin gak cantik, begitu?"
"Hah? Kata siapa?"
"Kata kamu 'lah, 'kan Mas sendiri yang bilang barusan."
"Nggak ko. Saya tidak bermaksud berkata seperti itu. Setiap hari kamu cantik ko, saya bahkan jatuh cinta pada padangan pertama lho."
__ADS_1
"Sama siapa?"
"Sama kamu 'lah, masa sama kucing."
Hati seorang Alena merasa berbunga-bunga entah mengapa, rasa yang sudah sejak lama tidak dia rasakan dari semenjak dirinya jatuh cinta kepada mantan suaminya kala itu. Lagi-lagi, Alena mencoba untuk menahan senyuman di bibir mungilnya itu.
"Sudah cukup, kita pulang sekarang. Nanti keburu siang, panas di jalannya," ucap Alena hendak membuka pintu kamar hotel.
"Tunggu, Alena." Pinta Alvin membuat Alena seketika menghentikan langkah kakinya dan menoleh menatap wajah laki-laki itu.
Tiba-tiba saja, Alvin berjalan mendekati Alena seraya menatap wajahnya penuh arti. Alena hanya bisa mengerutkan kening. Dia balas menatap wajah Alvin.
Sedetik kemudian.
"I love you, Alena."
Cup!
Satu kecupan pun mendarat di bibir Alena secara tiba-tiba membuat wanita itu seketika membulatkan bola matanya merasa terkejut tentu saja. Meskipun begitu, dia seketika memejamkan kedua matanya, merasakan betapa kenyalnya bibir laki-laki bernama Alvin saat menyatu dengan bibirnya kini.
BERSAMBUNG
...****************...
__ADS_1