Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Rumah Sakit


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


Ceklek!


Suara ketukan di pintu dan di buka membuat Alena dan juga mantan suaminya seketika menyudahi percakapan mereka. Keduanya sontak menoleh ke arah pintu dan menatap dengan seksama orang yang datang. Alena sontak membulatkan bola matanya. Yang datang ternyata Dosen yang baru saja dia bicarakan.


'Pak Alvin? Ya Tuhan, semoga saja dia tidak mendengar apa yang baru saja aku ucapkan. Aku mengatakan hal itu hanya untuk membungkam mulut Mas Vian. Aku tidak bersungguh-sungguh saat mengucapkannya,' batin Alena seketika dilanda rasa gundah.


"Mas Alvin," sapa Alena gugup.


"Eu ... Apa saya mengganggu kalian?" tanya Alvin menatap wajah Alena dan juga mantan suaminya secara bergantian.


"Tidak, ko. Eu ... Silahkan masuk," pinta Alena.


Alviano seketika mengepalkan kedua tangannya. Dia menatap tajam wajah laki-laki itu merasa kesal. Rasa cemburu itu kembali memenuhi hatinya. Kali ini lebih panas dan kian menyiksa batinnya.


"Saya lapar, saya mau cari makanan dulu," ujar Alviano berjalan keluar dari dalam kamar dengan wajah masam. Bahunya bahkan dengan sengaja menyentuh bahu Alvin lengkap dengan tatapan sinis saat dia melintas di samping laki-laki itu.


Alvin hanya menanggapinya dengan santai. Dia mengerti bagaimana rasanya mendapatkan penolakan. Dirinya berjalan menghampiri Alena dan berdiri tepat di samping Alena kini.


"Bagaimana kabar Lian? Dia sakit apa?" tanya Alvin kemudian.


"Lian demam. Sepertinya dia masih belum menerima perpisahan kami. Padahal 4 bulan sudah berlalu," jawab Alena menatap wajah sang putra dengan tatapan mata sayu.


"Kamu yang sabar, Lian masih terlalu kecil untuk mengerti urusan orang tuanya. Semoga dia cepat sembuh, dan tersenyum ceria lagi."


"Semoga saja, hatiku sakit sekali melihat Lian seperti ini. Salahku tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk dia."


"Hey ... Jangan bilang seperti itu. Kamu adalah wanita yang hebat, Lena. Putra kamu ini hanya membutuhkan waktu untuk berdamai dengan keadaan, lambat laun dia juga akan terbiasa dengan keadaan ini."


Alena hanya tersenyum kecil. Dia menoleh dan menatap wajah Alvin sekejap lalu kembali menatap wajah Lian putra bungsunya. Jujur, apa yang baru saja diucapkan oleh laki-laki ini membuat hati seorang Alena sedikit merasa terhibur. Dia pun mengerti betul bahwa butuh waktu bagi putranya itu untuk menerima keadaan yang menyakitkan hatinya ini.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Alvin membuat Alena menyudahi lamunan panjangnya.


"Eu ... Sudah ko, aku sudah makan," jawab Alena berbohong tentu saja, karena nyatanya di saat bersamaan tiba-tiba saja terdengar bunyi aneh yang berasal dari perutnya.

__ADS_1


'Duh, nih perut gak bisa di ajak kompromi banget sih? Malah bunyi lagi, malu-maluin aja,' batin Alena seketika mengusap perut datarnya.


"Sayangnya perut kamu gak bisa bohong, Lena," ujar Alvin tersenyum cengengesan.


"Ketahuan juga, hehehehe!" Alena pun tersenyum cengengesan merasa malu.


Ceklek!


Pintu ruangan pun di buka, Fazril masuk ke dalam ruangan menatap wajah Alena dan juga Alvin secara bergantian. Dia berjalan menghampiri seraya tersenyum menggoda mereka berdua.


"Duh, calon adik ipar. Gercep banget sih, udah ada di sana aja," goda Fazril.


"Abang apaan sih, garing banget," ketus Alena mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa.


"Kebetulan kamu datang. Adik kamu yang cantik ini sepertinya belum makan dari pagi, saya mau mengajak dia makan di luar, boleh?" tanya Alvin kemudian.


"Tentu saja boleh. Jangankan di ajak makan, di ajak nikah juga boleh."


"Abaaaaaang!" Alena dengan nada suara manja.


"Hehehehe! Ya udah, sana makan dulu. Lian biar Abang yang jaga. Ingat, kamu juga harus jaga kesehatan, gak boleh telat makan, oke?" Pesan Fazril dan hanya di jawab dengan anggukan kecil oleh adik kesayangannya itu.


"Tunggu, Mas Alvin 'kan gak nanya sama aku, apa aku mau di ajak makan apa nggak? Main keluar-keluar aja," decak Alena tersenyum kecil.


"Cie-cie ... Udah main Mas-Masan segala nie, uhuk!" Fazril kembali menggoda.


"Abaaaaaang!"


"Udah-udah, buruan sana ajak Mas Alvin-mu makan, astaga ... nih anak."


Alena mengepalkan tangannya seraya mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa, dia pun berjalan keluar dari dalam ruangan diikuti oleh Alvin di belakangnya. Fazril hanya tersenyum cengengesan menatap kepergian mereka berdua.


'Mudah-mudahan kalian benar-benar berjodoh, saya tahu laki-laki seperti apa Alvin itu,' batin Fazril tulus mendoakan mereka berdua.


* * *

__ADS_1


Alvin dan Alena berada di kantin Rumah Sakit. Satu piring makanan pun berada di atas meja. Baik Alena maupun Alvin merasa gugup entah mengapa. Keduanya fokus dalam menyantap makanan masing-masing tanpa mengatakan sepatah kata pun, sampai piring mereka benar-benar kosong tidak bersisa.


"Kamu harus jaga kesehatan, Len. Urusan materi kuliah biar saya rangkum semuanya nanti, kamu tinggal mempelajarinya di rumah," ucap Alvin memecah keheningan.


"Terima kasih, Mas Alvin. Sepertinya untuk beberapa hari ke depan aku gak bisa masuk kuliah," jawab Alena dengan wajah datar.


"Iya, saya maklumi ko. Kamu tenang saja. Eu ... Len, boleh saya bertanya sesuatu?"


'Duh, jangan-jangan Mas Alvin mau nanyain masalah tadi lagi? Gimana ini?' batin Alena semakin merasa gugup saja kini.


"Mas Alvin mau bertanya apa? Katakan saja?"


"Apa yang saya dengar tadi itu benar?"


"Hah? Memangnya Mas Alvin mendengar apa tadi?"


'Tuh 'kan bener? Duh, apa yang harus aku katakan sekarang?' batin Alena.


"Saya dengar kamu tadi mengatakan bahwa kamu--"


"Jadi begini kelakuan kamu, Len? Putra kita lagi sakit kamu malah enak-enakan pacaran di sini?" Tiba-tiba saja terdengar suara Alviano berjalan menghampiri dengan wajah kesal.


"Mas Vian?"


"Apa? Putra kita sedang sekarat? Kamu malah pacaran di sini? Bagus ya!" Alviano semakin menaikan suaranya yang sukses menarik perhatian para pengunjung yang sedang menyantap makanan di sana, semua yang ada di sana sontak menoleh dan menatap wajah mereka bertiga.


"Tunggu, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Kami hanya makan, Alena belum makan dari pagi asal kamu tahu," jawab Alvin sontak berdiri tepat di depan Alviano kini.


"Diam kamu, saya tidak ada urusan dengan kamu!"


"Tentu saja ini menjadi urusan saya. Apa yang kamu katakan itu tidak benar!"


"Cukup! Kalian berdua cukup aku bilang!" teriak Alena tidak ingin terjadi hal yang tidak terduga. Dia pun berdiri tepat di tengah-tengah mereka berdua.


"Dengarkan saya, Alena. Saya akan segera mengajukan gugatan hak asuh atas anak-anak. Kamu sibuk dengan kuliah kamu, sibuk dengan pacar kamu ini. Saya pastikan anak-anak akan ikut dengan saya, paham?!" Teriak Alviano. Rasa cemburu telah membutakan hati nuraninya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


...****************...


__ADS_2