Perselingkuhan Suamiku

Perselingkuhan Suamiku
Bucin


__ADS_3

Wajah Alvin memerah, rasa senang pun terselip di dalam lubuk hatinya kini. Alena sangat mencintai dirinya, akan tetapi dia masih menolak untuk menikah dalam waktu dekat. Alvin sedikit kecewa akan hal itu, tapi dirinya akan mencoba untuk sabar menunggu.


Semoga kedua orang tuannya tidak mendesak dirinya untuk cepat menikah. Semoga juga mereka tidak berpikir untuk menjodohkan dirinya dengan wanita lain karena dia akan menolak di jodohkan dengan wanita manapun pilihan mereka.


"Syukurlah, Tante. Saya juga sangat mencintai putri Tante yang cantik ini, tapi sebenarnya saya sedikit ada masalah, Tante," ujar Alvin kemudian.


"Masalah?"


"Kedua orang tua saya terus saja mendesak saya untuk menikah, mereka akan menjodohkan saya dengan wanita lain jika saya tidak segera mengenalkan Alena."


"Apa?" Alena membulatkan bola matanya merasa terkejut tentu saja.


"Di jodohkan?" Nyonya Inggrid pun sama terkejutnya dengan sang putri.


"Betul, Tante. Eu ... Tante tidak usah khawatir, saya akan menolak untuk dijodohkan dengan wanita manapun karena saya hanya mencintai putri Tante."


'Kalau Mas Alvin dijodohkan dengan wanita lain, bagaimana dengan aku?' batin Alena mulai merasa resah.


"Eu, Mas. Kapan Mas akan mengenalkan aku dengan orang tuanya Mas Alvin?"


"Hah? Ka-kamu mau dikenakan dengan mereka?"


Alena mengangguk pelan. Diam-diam dia mulai merasa khawatir kalau kekasihnya ini benar-benar dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Kalau ternyata wanita itu lebih cantik dan lebih menarik darinya dan Alvin tergoda dengan wanita itu, dirinya pasti akan merana seumur hidupnya.


"Syukurlah, saya akan segera mencari waktu yang tepat untuk membawa kamu ke rumah. Eu ... Len. Untuk lamaran itu, bagaimana? Apa kamu juga bersedia di lamar dalam waktu dekat?"


"Iya, aku mau, Mas. Kapan waktunya terserah kamu saja."


Alvin semakin merasa senang saja kini. Bibirnya tersenyum begitu lebar, perasaanya bahagia bukan kepalang. Jika Alena bersedia untuk di lamar dalam waktu dekat, itu artinya mereka pun akan segera menikah. Alvin benar-benar merasa tidak sabar.


"Kamu yakin mau di lamar dalam waktu dekat ini? Tadi katanya kamu masih belum siap, Lena?" tanya sang ibu mengerutkan kening.


"Aku takut Mas Alvin akan dijodohkan dengan wanita lain, bu. Nasibku gimana nanti?" jawab Alena menundukkan kepalanya.


"Hah? Jadi karena itu? Hahahaha! Alena sayang, saya tidak akan mau dijodohkan dengan wanita manapun. Hanya kamu wanita yang cintai." Alvin seketika tertawa nyaring.

__ADS_1


"Mas Alvin menertawakan aku?"


"Tidak, saya tidak bermaksud untuk menertawakan kamu, saya hanya merasa senang aja karena akhirnya kamu bersedia untuk saya lamar. Saya janji tidak akan pernah mengecewakan kamu, Alena."


'Duh, kenapa aku harus bilang kayak gitu sih? Mas Alvin jadi tahu dong kalau aku benar-benar bucin akut sama dia,' batin Alena seketika merasa malu.


"Iya, Mas. Aku percaya sama kamu."


"Baiklah, saya pamit dulu, Len, Tante. Saya akan mengatakan kabar gembira ini sama kedua orang tua saya," pamit Alvin.


"Tante titip salam sama mereka ya, Vin."


"Baik, Tante," jawab Alvin menyalami calon ibu mertuanya ramah dan sopan.


Setelah itu dia pun berjalan keluar dari dalam rumah diikuti oleh Alena yang akan mengantarkan kepergian kekasihnya. Dia mendadak salah tingkah, wanita itu pun tiba-tiba saja merasa gugup tanpa sebab. Ternyata jatuh cinta itu berjuta rasanya. Manis, asam, asin, rasanya campur aduk sulit di ungkapkan dengan kata-kata.


"Saya pulang dulu, Alena," pamit Alvin sesaat setelah mereka tiba di teras rumah.


"Mas Alvin hati-hati di jalan. Sampaikan salam aku kepada orang tuanya, Mas," jawab Alena tersenyum manis.


Dia pun mulai berjalan menuju mobil miliknya yang memang di parkir di halaman. Pintu mobil di buka dan kembali di tutup setelah Alvin masuk ke dalamnya. Laki-laki itu melambaikan tangannya sebelum akhirnya menyalakan mesin mobil dan perlahan meninggalkan halaman sampai akhirnya melesat di jalanan.


.


Satu minggu kemudian.


Akhirnya hari itu pun tiba. Hari di mana Alvin akan mengenalkan sang kekasih kepada kedua orang tuanya. Alena dan Alvin baru saja sampai di kediaman orang tuanya. Rumah dengan cat berwarna coklat muda, rumah tersebut terlihat lebih besar dan lebih mewah dari rumah milik orang tua Alena.


Alena nampak begitu cantik mengenakan dress berwarna merah marun, rambutnya pun dibiarkan tergerai panjang memenuhi punggungnya kini. Wanita itu terlihat semakin cantik memukau, dia sengaja memoles wajahnya dengan make up tipis lengkap dengan lipstik berwarna merah menyala yang mewarnai bibir mungilnya itu, kecantikan seorang Alena benar sempurna.


"Apa kamu gugup?" Tanya Alvin menoleh dan menatap wajah Alena yang saat ini duduk tepat di sampingnya di dalam mobil.


"Lumayan," jawab Alena singkat.


Cup!

__ADS_1


Alvin tiba-tiba mengecup mesra kening Alena, wanita itu pun seketika memejamkan kedua matanya, merasakan betapa damainya saat bibir sang kekasih terasa lembut menyentuh keningnya kini.


"Sekarang masih gugup?" tanya Alvin sesaat setelah dia melepaskan kecupannya.


"Tidak, aku tidak gugup lagi."


"Kita keluar sekarang?"


Alena menganggukkan kepalanya. Keduanya pun membuka pintu mobil secara bersamaan lalu keluar dari dalamnya kemudian. Alvin mengulurkan pergelangan tangannya dan segera di sambut oleh Alena tentu saja. Mereka pun masuk ke dalam rumah dengan bergandengan tangan.


.


Di dalam rumah.


Alena merasa gugup, bahkan sangat gugup. Meskipun Tuan Irawan dan ibu tiri dari kekasihnya itu memasang wajah ramah kepadanya kini. Dia duduk dengan perasaan gelisah di ruang tamu bersama Alvin tentu saja.


"Jadi kamu salah satu mahasiswi kedokteran di kampus Alvin? Wah! Om senang sekali bisa memiliki menantu seorang Dokter," ujar Tuan Irawan tersenyum lebar.


"Iya, Om. Saya adalah salah satu mahasiswi semester pertama di kampusnya Mas Alvin," jawab Alena, telapak tangannya mulai berkeringat dingin.


"Semester pertama? Bukannya usia kamu sudah 24 tahun? Eu ... Apa kamu sempat cuti kuliah dulu?"


"Tidak, Om. Saya memang baru masuk kuliah tahun ini, saya--"


"Alena terpaksa menunda keinginannya untuk berkuliah karena dia lebih memilih untuk menikah muda dulu, Dad," sela Alvin, dia tahu betul bahwa kekasihnya ini benar-benar merasa gugup.


"Apa? Tunggu! Apa maksud kamu, Alvin? Jadi--" Tuan Irawan menahan ucapannya.


"Saya seorang janda, Om."


Tuan Irawan dan istrinya seketika membulatkan bola matanya merasa terkejut tentu saja.


"Apa? Jan-janda?"


BERSAMBUNG

__ADS_1


...****************...


__ADS_2